TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 60


__ADS_3

"Apakah aku akan diseret ke sana? Tanpa riasan serta pakaian tahanan? Dan lagi, disaksikan oleh rakyat jelata?" Selir Ghaaliya menunjuk Tamaasha* dari kejauhan.


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


"Tidak. Aku tidak mau. Kembalikan aku ke Jvaala. Utusan, lakukanlah sesuatu."


Utusan pendamping Selir Jasoda menggeleng menanggapinya. "Tidak ada yang bisa dilakukan. Anda adalah terdakwa yang hukumannya ditangguhkan karena Kumari Kandam tengah bersiaga perang."


"Bukankah setiap masalah memiliki setidaknya satu jalan keluar?"


"Itu benar. Tapi Yang Mulia Raja sudah mengambil keputusan. Jadi kita hanya bisa berpasrah," balas utusan pendamping Selir Praveena.


Selir Hameeda menggeleng-geleng. "Aku tidak mau mati dengan cara hina seperti itu. Aku akan kabur. Ya."


"Hukuman untuk Anda belum diputuskan, jadi tenanglah da--."


"Apa kau juga bisa tenang menanti hukuman yang sudah jelas-jelas adalah hukuman penggal? Hah?" sela Selir Hameeda pada utusan pendampingnya.


"Di Jvaala sekali pun, yang mengganggu orang berstatus tinggi akan dilempari batu sampai mati. Lalu apa bedanya? Di mana pun itu, Di Kumari Kandam pun Jvaala, kami akan tetap mati."

__ADS_1


"Kalian para utusan bisa bersikap tenang karena bukan kalian yang akan diadili," timpal Selir Praveena pada Selir Ghaaliya.


"Sebenarnya masih ada harapan."


Selir Hameeda menoleh pada utusannya. "Apa? Mengirim hadiah lebih banyak untuk mengemis perdamaian pada ****** itu, begitu?"


"Tidak. Dia tidak akan tergoda meskipun Anda mengiriminya segunung perhiasan. Akui kesalahan kalian. Minta maaflah dengan tulus. Bahkan jika perlu, bersujudlah di ka--"


"Sialan! Kau anggap aku rendahan sama sepertimu! Minta maaf? Bersujud? Lebih baik aku mati!" seru Selir Hameeda.


Utusan pendamping Selir Hameeda berdeham, "Kalau begitu kirimlah pesan pada Yang Mulia Raja dan beritahu beliau masalah yang Anda sebabkan."


"Apa? Sebenarnya yang kau pikirkan sejak tadi itu jalan keluar atau metode hukuman mati yang baru, hah?"


Selir Jasoda mengangguk-angguk. "Masuk akal. Jika memberitahu Yang Mulia Raja, kemungkinan kita tetap hidup cukup besar. Karena kita adalah harta sekaligus alat yang bisa menyejahterakan tiap-tiap benua dengan beragam pertukaran."


"Bagaimana dengan konsekuensinya?"


"Kita akan kembali bekerja sama dengan Kumari Kandam dalam perang," balas utusan pendamping Selir Ghaaliya.

__ADS_1


"Sebagai ganti atas nyawa kami?"


Utusan Selir Praveena mengangguk. "Benar."


"Lebih baik kita mati semua saja. Aku berharap Gaana segera datang dan meluluhlantakkan semua benua. Setidaknya dengan begitu, si ****** itu juga akan mati, bukan?"


Apa yang baru saja diharapkan Selir Hameeda itu langsung dikabulkan Dewa, sesuai suratan takdir. Si makhluk yang lolos dari jahanam, Gaana, terlihat keluar dari dalam sebuah laut. Sambil menyenandungkan irama yang membuat bulu kuduk berdiri, Gaana berjalan dengan anggun menuju selatan, tepatnya menuju sarang makhluk jahanam lainnya, Chhota*.


Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.


"Ah, senang sekali rasanya disambut makhluk-makhluk tampan."


Ribuan Chhota yang sudah mencium aroma Gaana itu berdiri menghalangi pintu masuk sarangnya, dengan tatapan siap memuntahkan amarah kapan saja. Chhota adalah makhluk yang tertutup. Mereka tinggal di dalam gua-gua yang disamarkan. Mereka juga tidak banyak berbicara. Hanya berburu, bercumbu, dan memuaskan dahaganya dengan air laut.


"Kalian tidak sabar sekali. Baiklah-baiklah. Apa kalian mau bekerja sama denganku? Bayarannya adalah kebebasan," imbuh Gaana.


"Kebebasan?"


Gaana mengangguk, sembari berjalan mendekati para Chhota. "Bukankah singa raksasa milik Daxraj Natesh adalah tuan yang sangat kalian takuti?"

__ADS_1


"Lalu?"


"Lalu bagaimana jika bayarannya adalah kematian tuan kalian itu?" Gaana menyeringai.


__ADS_2