TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 41


__ADS_3

"Yang Mulia, menurut pendapat hamba perintah penangkapan Komandan Haala harus diubah."


"Hamba setuju, Yang Mulia. Semua bukti sudah jelas. Jadi bukankah tidak penting lagi jika Komandan Haala ditangkap dalam keadaan hidup ataupun mati?"


"Tapi bagaimana jika bukan Komandan Haala pelakunya?"


"Itu benar. Kita tidak boleh terburu-buru. Lagipula saksi yang mengaku melihat Komandan Haala saat kejadian juga terus mengubah kesaksiannya. Bukan begitu, kepala penyidik?"


"Bagaimana menurut pendapat anda, Yang Mulia?"


Tak ada jawaban. Braheim masih setia mempertahankan sikap diam sempurnanya, memikirkan sesuatu yang entah apa. Tak ada pula yang berani menegur, atau bahkan sekadar berdeham halus. Sungguh, tak ada seorang pun yang berani mengusik kebisuan sang penguasa Kumari Kandam itu, meski hanya dalam angan.


Pikiran Braheim masih terpatri pada insiden ketika Gaana* tiba-tiba muncul di istana tenggara* dan mengubur bangunan lima puluh lantai itu. Ada begitu banyak tanya yang mengusik. Tanya tentang siapa yang telah mengundang Gaana, serta siapa yang mengetahui jalan rahasia di tiap-tiap istana selain penerus tahta.


Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


*FLASHBACK ON*


Lutut Braheim gemetar menyaksikan pemandangan di depan matanya. Abu yang seakan menyentuh langit-langit angkasa itu adalah bukti nyata jika Gaana kembali mengalahkannya telak.


Ribuan orang yang tengah terlelap di istana tenggara telah dijadikan santapan malam Gaana. Jiwa mereka telah dilahap tanpa sisa, dan bangkai mereka, telah diubah menjadi abu berbau busuk.


Rasa teramat sesak yang bercampur hasrat menuntut balas membutakan mata hati Braheim. Daripada nyawa tak tahu apa-apa terus berjatuhan, akan lebih baik jika nyawanya seorang yang ditumbalkan bukan?


"Yang Mulia, semua penghuni istana tenggara masih hidup. Mereka ada di istana utara*," ujar seorang pengawal.


Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.


"Apa? Bagaimana mereka bisa ada di sana? Lalu abu apa itu?"


Braheim tak menghiraukan tanya Murat, dan memilih bergegas menuju istana utara. Para calon selir langsung berhambur memeluk Braheim, saat alas kakinya bahkan belum menginjak gerbang istana utara. Braheim tak menolak pelukan itu, pun membalasnya. Braheim hanya mendengar luapan ketakutan mereka atas dasar rasa bersalah.


"Yang Mulia, hamba takut sekali. Makhluk itu benar-benar mengerikan."


"Tolong pulangkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bisa berada lebih lama lagi di sini."


"Jika anda tidak mengizinkan, setidaknya perbolehkan kami bermalam di istana selatan*."


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


"Benar, Yang Mulia. Jika berada di sana barulah kami akan merasa aman."


"Panjang umur dan terbekatilah se--"


"Langsung saja. Apakah ada korban jiwa?" sela Braheim pada wakil komandan perang Kumari Kandam, Aswin Nadeem.


"Tidak ada korban jiwa, Yang Mulia. Tapi ada dua belas orang yang harus mendapatkan pengobatan termasuk Yang Mulia Ratu."


Braheim mengangguk-angguk. "Seberapa parah luka mereka?"


"Sebagian mendapat luka ringan. Sebagian lagi tidak terluka tapi jatuh pingsan karena terkejut. Lalu salah satu pelayan Yang Mulia Ratu mendapat luka serius di kepalanya setelah menghindari serangan Gaana."


"Pastikan mereka mendapatkan perawatan yang terbaik."


"Sesuai perintah anda, Yang Mulia."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan saksi yang melihat Komandan Haala saat kejadian?"


"Kepala penyidik kerajaan sedang menginterogasinya, Yang Mulia."


"Kalian sudah bekerja keras. Lalu di mana orang yang sudah menyelamatkan orang-orangku?"


"Apa yang anda bicarakan, Yang Mulia? Orang itu ada di sini."


"Orang itu adalah wakil komandan perang kita." Selir lain menimpali sambil menunjuk wajah Aswin.


*FLASHBACK OFF*


Setelah puas mengingat kembali bencana yang menimpa istana tenggara beberapa waktu silam, Braheim tiba-tiba saja bangkit dari singgasana megahnya. Perlahan keheningan pun sirna bersamaan dengan sebuah pertanyaan yang memiliki kuasa membuat siapa pun diseret ke hadapan Tamaasha*.


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


"Kudengar kau menuntun semua penghuni istana tenggara menuju jalan rahasia bawah tanah? Bagaimana kau tahu? Bagaimana kau tahu sesuatu yang hanya aku yang boleh mengetahuinya, Aswin?"


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Sekutu iblis itu lari ke arah sana."


"Ayo kejar. Jangan sampai lolos."


"Dan jangan sampai mati. Yang Mulia Raja menginginkan kita menangkap sekutu iblis itu hidup-hidup."


Sekelompok pria dengan beragam senjata itu pun berpencar sesaat setelah menyatukan semangat untuk menangkap si sekutu iblis, Haala. Terlihat Haala tengah bersembunyi di kandang kuda milik salah seorang pedagang kaya raya. Haala kehabisan tenaga karena selama dua hari penuh hanya terus berlari tanpa makan, minum, dan tidur.


Sambil mengatur napasnya yang tak beraturan, Haala berpikir keras tentang alasan orang-orang memburu dan memberinya julukan sembarangan. Jelas ada sesuatu yang terjadi di Kerajaan Kumari Kandam selama Haala pergi mengawal rombongan selir. Sesuatu yang entah apa namun sudah pasti berkaitan dengan Gaana atau, Ratu Kumari Kandam.


Haala tak sanggup berpikir lagi. Fisik juga mentalnya telah sampai pada batas pertahanan terakhir. Sebentar saja. Haala berharap Dewa Krpaya* mengizinkannya untuk pergi ke alam mimpi. Tetapi tiba-tiba terdengar langkah kaki misterius. Haala kembali siaga, tangannya sudah siap menarik pedang dan mengayunkannya kapan saja.


"Sejak Yang Mulia Raja menurunkan perintah penangkapan Komandan Haala, semua desa masih sibuk bahkan meski hari sudah larut."


Seorang pekerja kandang kuda mengangguk pada teman seprofesinya. "Kau benar. Kacau sekali."


"Tapi sebenarnya berita mana yang benar?"


"Memang ada berapa banyak berita yang kau dengar?"


"Entahlah. Tapi berita yang paling masuk akal adalah Komandan Haala bersekutu dengan Gaana yang merasuki adik semata wayangnya dan masuk ke istana tenggara untuk memberinya makanan."


"Bukankah Komandan Haala terkenal sangat cerdas?"


"Apa maksudmu?"


"Kenapa Komandan Haala lebih mengusulkan tempat berbahaya seperti kerajaan jika ada tempat lain tanpa penjagaan dengan jumlah makanan yang lebih banyak?"


"Ah. Aku mengerti maksudmu. Rombongan selir yang dipulangkan, bukan?"


"Ya. Jika itu Komandan Haala, dia pasti akan menargetkan rombongan selir."


"Benar juga. Jadi mungkinkah Komandan Haala telah difitnah?"


"Mengingat ayahnya pernah bersekutu dengan Gaana, bukankah kemungkinan dia difitnah kecil?"


"Kau benar. Kudengar semua saksi mendengar langsung saat Gaana mengatakan jika Komandan Haalalah yang menuntunnya ke istana tenggara."

__ADS_1


"Dan ada juga saksi yang melihat Komandan Haala kabur bersama Gaana saat prajurit kerajaan mengepung."


"Berarti sudah jelas siapa pelakunya. Hah, sudahlah. Akhiri pembicaraan ini. Ada banyak kandang yang harus kita bersihkan."


"Benar juga. Padahal kita tidak sesenggang itu."


"Ya Dewa. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Haala dalam hati, sesaat sebelum jatuh tak sadarkan diri.


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Haala, minumlah."


Haala tersenyum. "Ayah."


Ayah Haala ikut tersenyum. "Ada gua yang dulunya dijadikan tempat persembunyian para prajurit saat perang. Kau akan aman di sana."


"Aku akan pergi, Ayah. Tapi biarkan aku tidur sebentar lagi."


"Tidurlah selama yang kau ingin, putriku. Ayah yang akan membawamu ke sana."


Haala membisu, kesadarannya kembali dirampas rasa lelah. Sejujurnya banyak sekali yang ingin Haala tanyakan pada sang ayah. Mulai dari bagaimana sang ayah bisa menemukannya, bagaimana sang ayah yang berstatus tahanan bisa bebas berkeliaran, dan bagaimana rupa sang ayah tampak begitu perkasa seperti saat masih menjabat sebagai komandan perang paling ditakuti di seluruh benua.


"Terima kasih, Ayah," gumam Haala, dalam tidurnya.


Haala pun terbangun, dan mendapati semuanya hanya mimpi. Haala memang ada di sebuah gua misterius dengan api unggun, selimut, serta aneka buah-buahan segar. Namun bukan dengan sang ayah, melainkan dengan sosok raksasa berpakaian serba hitam pegam dengan serban berwarna senada. Spontan Haala bangkit, menghampiri sosok yang tengah berdiri tepat di depan mulut gua itu.


"Dax--, kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Di mana ayahku?"


"Hamba diperintahkan untuk melindungi anda sampai Yang Mulia Raja berhasil menenangkan situasi," jawab pengawal bayangan Braheim.


"Apa?"


"Hamba diperintahkan untuk melindungi anda sampai Yang Mulia Raja berhasil menenangkan situasi."


"Lalu ayahku?"


"Hamba diperintahkan untuk melindungi anda sampai Yang Mulia Raja berhasil menenangkan situasi."


Haala menghela napas. "Aku mengerti. Sekarang jawab di mana ayahku?"


"Hamba diperintahkan un--"


"Demi Tuhan! Demi pemimpinmu yang bisa kapan saja kucampakkan dan demi masa depan dunia! Di mana ayahku?"


Pengawal bayangan Braheim diam cukup lama, lalu tiba-tiba menunjuk langit. "Di sana."


Spontan Haala mendongak. "Apa? Maksudmu ayahku ada di sana? Di Daraar*?"


Daraar* dipercaya sebagai alam roh.


Pengawal bayangan Braheim kembali diam. "Lalu yang berbicara padaku, memberiku minum, dan membawaku ke gua ini?" tanya Haala lagi.


"Roh."


"Apa?"


"Roh yang ditolak Dewa Krpaya karena masih memiliki urusan dengan dunia."

__ADS_1


"Apa katamu? Roh? Ayahku? Tidak. Maksudmu ayahku sudah mati?"


__ADS_2