
"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Para prajurit akan melindungi Anda sampai situasi kembali aman. Kalau begitu hamba mohon undur diri." Firdoos membungkuk pada Jihan.
"Tidak bisakah kau tetap tinggal?"
"Hamba harus pergi, Yang Mulia. Hamba harus bergabung dengan pasukan tempur Kumari Kamdam."
Jihan diam, tampak kecewa. "Mungkinkah Anda ingin ikut serta? Karena meskipun hanya satu orang, itu akan sangat membantu dalam memenangkan peperangan," imbuh Firdoos.
Jihan masih diam, masih kecewa. "Kalau begitu tetaplah di sini, Yang Mulia. Ini juga adalah tempat yang aman. Tapi jika Anda mendapati hujan mulai turun, pergilah ke tempat itu."
"Aku mengerti. Kembalilah dengan selamat. Aku akan menunggumu di mana pun itu."
Firdoos tersenyum, lalu kembali membungkuk. "Panjang umur, dan terberkatilah selalu bulan Kumari Kandam."
Jihan masih memandang jauh ke arah sana, ke arah di mana kereta kuda Firdoos hilang ditelan kabut fajar. Perlahan air mata Jihan menetes, karena berhasil diprovokasi sebuah firasat buruk. Firasat buruk tentang Firdoos yang tidak akan pernah kembali dengan selamat. Air mata Jihan pun kian deras menetes, ketika firasat buruknya perlahan mulai digantikan kenangan indah beberapa hari yang lalu.
*FLASHBACK ON*
"Wah, mengejutkan sekali, Yang Mulia. Dengan siapa Anda belajar hal-hal semacam ini?"
Jihan tertawa menanggapi Firdoos. "Berhenti berbicara formal padaku. Itu terdengar menggelikan."
Firdoos ikut tertawa. "Apa kau akan percaya jika saat itu aku mengatakan kau adalah pelanggan pertama dan terakhir selama aku bekerja di Svarg*?"
Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.
Jihan kembali tertawa. "Yang benar saja."
"Sudah kuduga. Tapi itulah kenyataannya. Setiap hari aku terus beralasan menunggumu. Sampai akhirnya aku dipecat dan menjadi gelandangan."
__ADS_1
Jihan mendongak menatap Firdoos. "Lalu?"
"Lalu aku pergi mencarimu untuk meminta sedikit makanan."
"Dasar. Jawab dengan benar."
"Aku benar-benar pergi mencarimu. Tapi bagaimana mungkin tunawisma sepertiku menemui ratu benua ini? Masalahnya bagiku kau bukanlah ratu. Kau adalah kau. Gadis sembrono yang hanya membawa tiga puluh dua keping koin emas untuk bercinta denganku."
"Kau bilang kau seorang Jyostishee*. Apa itu artinya kau juga sudah tahu jika aku hanyalah ratu palsu?"
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
Firdoos menunduk, membalas tatapan Jihan. "Ya. Saat bertemu denganmu pertama kali, aku sudah tahu semuanya."
"Lantas kenapa tidak menyelamatkanku?"
"Sedang kulakukan, bukan?"
"Takdir kami memang dibuat seperti itu. Saat itu aku sekarat setelah ditabrak kereta kuda. Lalu dia mendatangiku dan menawarkan kesepakatan. Aku meminjamkan tubuhku untuk keperluannya, dia meminjamkan kekuatannya untuk keperluanku."
"Keperluanmu?"
Firdoos mengangguk. "Kekuatannya bisa membuatku pulih, dan aku harus tetap pulih sampai tugasku selesai."
"Tugas seperti apa?"
"Tugas untuk membantu Yang Mulia Raja dan untuk menyelamatkanmu."
Jihan diam. Hatinya mulai terasa seperti digelitik. "Jihan?"
__ADS_1
Spontan Jihan kembali mendongak, karena itu pertama kalinya Firdoos menyebut namanya. "Kau bisa menebus semua dosamu melalui perang ini," tambah Firdoos.
*FLASHBACK OFF*
"Ya. Aku akan menebusnya. Jika pun firasat buruk itu benar, setidaknya kita akan mati bersama," gumam Jihan.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Beberapa hari terakhir suasana di Kumari Kandam terasa begitu ganjil. Keganjilan itu jelas merupakan pertanda akan terjadinya sesuatu. Entah itu sesuatu yang baik atau sebaliknya. Namun dilihat dari petunjuk yang diberikan alam melalui langit yang murung, angin yang tenang, dan kawanan burung gagak yang tak absen berlalu-lalang, bukankah itu jelas pertanda untuk sesuatu yang buruk?
Rakyat yang disembunyikan di tempat aman tidak pernah sedetik pun berhenti memanjatkan doa ini dan itu. Pun Haala yang tak pernah sesaat pun bosan menatap angkasa, menanti datangnya pesan akan kemenangan Kumari Kandam. Semua orang merasa takut, juga tak sabar. Mereka takut jika perang benar-benar terjadi, tetapi mereka juga tak sabar melihat Gaana dieksekusi.
Dan hari itu, rasa takut mereka sampai pada puncaknya. Akhirnya Gaana menunjukkan batang hidungnya, dengan ditemani jutaan makhluk supernatural yang terlihat sangat mustahil untuk ditumbangkan. Tiga buah kembang api buru-buru ditembakkan ke udara, ketika Braheim mengenakan kembali penutup kepalanya. Perang akan dimulai, setelah kedua komandan berbasa-basi memberi salam.
"Ke mana matamu melihat, Nak?"
"Entahlah. Haruskah kuminta selir-selirku untuk meminjamkanmu pakaian? Atau, haruskah aku ikut bertelanjang?" balas Braheim pada Gaana.
Gaana tertawa. "Benar-benar memikat. Sama seperti ayahmu."
"Bagaimana bisa kau berkata begitu sebelum melihatku bertelanjang?"
Gaana kembali tertawa. "Daripada itu, aku sangat kecewa. Tampaknya kau sangat meremehkanku. Jika hanya itu pasukan yang kau miliki, aku tidak perlu bersusah payah mengajak mereka bekerja sama. Ka--"
"Tidak hanya itu," sela Braheim.
"Apa?"
"Ah, sepertinya hanya aku yang bisa melihat mereka."
__ADS_1
"Omong kosong apa yang sedang ka--"
"Haruskah kuperlihatkan mereka agar kau menarik kata-katamu?" sela Braheim lagi.