TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 47


__ADS_3

Satu per satu kursi kosong di ruang sidang mulai terisi. Tak ketinggalan para rakyat yang penasaran dengan hasil putusan hakim pun turut hadir meski hanya diizinkan sampai batas halamam utama Kerajaan Kumari Kandam. Hari ini adalah hari di mana komandan perang Kumari Kandam, Haala Anandmayee, akan diadili atas kasus pengkhianatan dan perusakan istana tenggara*.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


Saksi pembela Haala yang diundang secara resmi pun yang datang secara sukarela antara lain keluarga Haala, seorang nelayan, sebelas orang yang tinggal di desa-desa di sekitar pelabuhan, dan tiga puluh sembilan orang yang bekerja di pelabuhan. Sementara saksi pembela Haala yang datang secara sukarela adalah para calon selir yang gagal di tahap ujian pertama.


Saksi penuntut Haala yang juga hadir terdiri dari seorang pelayan wanita beserta semua orang yang menghuni istana tenggara saat insiden terjadi. Tak terasa waktu dimulainya sidang pun tiba. Suasana ruang sidang yang semula dipenuhi bisik-bisik, mulai hening ketika wewangian beraroma biji kopi perlahan menyebar menggelitik indra penciuman.


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Si pemilik aroma biji kopi, Braheim, hanya mengangguk. "Hari ini aku akan menjadi hakim untuk kasus pengkhianatan dan perusakan istana tenggara. Siapa pun pelakunya, aku berjanji akan menjatuhi hukuman yang setimpal atas nama Dewa Krpaya*. Sidang dimulai."


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Saksi pembela Haala, langsung bangun dari duduknya. "Perkenalkan hamba Chitrali, salah satu kandidat selir yang dipulangkan. Komandan Haala tidak bersalah, Yang Mulia. Karena beliau mengawal kami saat insiden istana tenggara terjadi."


Braheim menoleh pada saksi penuntut Haala. "Ada sanggahan?"


Kepala penyidik kerajaan beranjak. "Bisakah kesempatan bersaksi diberikan pada saksi pembela yang lain, Yang Mulia? Yang hamba tahu, Nona Chitrali dan semua nona yang duduk di barisan depan adalah penggemar Komandan Haala."


"Sanggahan diterima. Kecuali Nona Chitrali dan semua nona yang duduk di barisan depan, kalian diizinkan berbicara."


"Hamba bukan penggemar Komandan Haala. Tapi hamba bersumpah melihat Komandan Haala mengawal rombongan kami sampai perbatasan Kumari Kandam. Bahkan beliau membagikan ini pada kami." Kandidat selir yang lain menunjukkan sebotol air suci.


"Ada sanggahan?" tanya Braheim pada saksi penuntut Haala.


"Bisakah Anda memperlihatkan botol air suci itu? Lalu bisakah kita mengetahui keaslian isinya, serta kapan waktu pembuatannya, Yang Mulia?"


Braheim mengangguk pada menteri sosial. "Sanggahan diterima. Sanjeev, periksalah."

__ADS_1


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Tabib kerajaan, Sanjeev Rajak, langsung beranjak dan memeriksa.


"Bagaimana?"


"Air suci ini asli, Yang Mulia. Lalu dilihat dari warnanya yang mulai keruh, ini dibuat lebih dari satu bulan yang lalu," jawab Sanjeev pada Braheim.


Braheim kembali menoleh pada saksi penuntut. "Ada sanggahan?"


Menteri agama beranjak. "Ini aneh, Yang Mulia. Bukankah mustahil mendapatkan air suci dalam jumlah banyak dalam waktu singkat? Lalu bagaimana bisa Komandan Haala mendapatkannya?"


"Ada sanggahan?" tanya Braheim pada saksi pembela Haala.


Seorang penduduk beranjak. "Kami yang membantu Komandan Haala mendapatkan air suci itu, Yang Mulia. Komandan Haala mengirim pesan darurat ke kuil-kuil yang ada di desa sekitar pelabuhan lewat burung pengantar pesan...."


Seorang penduduk desa ikut beranjak. " ... Ada tiga kuil di desa kami, dan kebetulan saat itu semua kuil memang sedang memproduksi air suci. Setelah mendapat kabar darurat, kami langsung membantu...."


Penduduk desa yang lain ikut angkat bicara. " ... Kami mengirim air suci itu ke pelabuhan seperti yang Komandan Haala tulis dalam pesannya."


"Ada sanggahan?"


"Hei menteri, apa kau sungguh seorang menteri? Apa kau akan memikirkan bayaran ketika mendapat pesan darurat? Dan lagi, bagaimana bisa kau meminta bayaran pada orang yang mempertaruhkan nyawanya di setiap perang demi keselamatanmu?"


"Benar sekali. Setelah mengantarkan air suci ke pelabuhan bahkan kami langsung pergi ke kuil untuk berdoa demi keselamatan Komandan Haala dan tanah kita," timpal pekerja pelabuhan lain pada rekannya.


Menteri keuangan berdeham, lalu kembali duduk dengan wajah merah padam. "Ada sanggahan?"


"Ini perihal jalan menuju pelabuhan, Yang Mulia. Yang hamba tahu, medannya sangat sulit sehingga kuda pun tidak bisa le--"


"Ya Dewa. Sungguh kau menanyakan itu, menteri? Kau bisa menyewa nelayan Kkam* sepertiku sehingga jarak tempuh ke pelabuhan yang rata-rata memakan waktu dua jam, bisa ditempuh hanya dalam dua puluh menit," sela seorang nelayan pada menteri hukum dengan nada suara setengah berteriak.

__ADS_1


Kam* sebuah jalan pintas di Kumari Kandam yang biasa digunakan para nelayan menuju pelabuhan.


"Hei tahan emosimu. Para menteri tidak pernah turun ke lapangan jadi jangan disalahkan. Mereka berbeda dengan Komandan Haala yang merakyat sehingga tahu cara menemukan nelayan Kkam sepertimu."


Braheim berdeham, "Cukup. Ada sanggahan?"


Para saksi penuntut diam, sembari berdeham dengan dibuat-buat. "Jika tidak ada sanggahan lagi, aku akan langsung bertanya pada saksi penuntut utama di sini. Ah, sebelumnya aku akan melewati keluarga terdakwa karena kesaksian mereka yang bisa saja bias. Ada sanggahan?" tanya Braheim lagi.


Keluarga Haala kompak menjawab," Tidak, Yang Mulia."


"Jadi, benarkah kau melihat terdakwa melarikan diri bersama Gaana saat insiden istana tenggara?"


Seorang pelayan wanita yang diketahui mengabdi pada Jihan beranjak dengan tubuh gemetar. "Itu. Hamba tidak yakin, Yang Mulia."


"Apa maksudmu dengan tidak yakin?"


"Itu. Itu. Hamba melihatnya samar-samar, Yang Mulia," jawab si pelayan.


"Melihat samar-samar? Saat penyelidikan kau mengaku melihat Komandan Haala dengan sangat jelas. Bahkan kau yakin sekali menyebutkan ke arah mana mereka melarikan diri."


Si pelayan menoleh ragu pada kepala penyidik kerajaan. "Itu, sebenarnya hamba memiliki penglihatan yang buruk."


"Aku memeriksa semua kondisi kesehatan para korban setelah insiden istana tenggara. Dan penglihatanmu itu justru sangat baik," ujar Sanjeev.


"Bicaralah yang sejujurnya maka akan kuringankan hukumanmu."


Spontan si pelayan berlari ke hadapan Braheim dan bersujud sambil menangis histeris. "Mohon ampuni hamba, Yang Mulia. Yang Mulia Ratu yang meminta hamba membuat pernyataan palsu. Beliau mengancam akan menyakiti keluarga hamba jika menolak."


Braheim menatap satu per satu saksi penuntut Haala. "Ada sanggahan?"

__ADS_1


"Tidak, Yang Mulia," balas semua saksi penuntut sambil membungkuk pada Braheim.


"Maka akan kuputuskan hukuman untuk semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam satu pekan dari sekarang. Sidang berakhir."


__ADS_2