TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 38


__ADS_3

Tampak dari gerbang latihan memanah prajurit Kumari Kandam, para calon selir tengah sibuk membuat kegaduhan. Bukan karena ingin melihat langsung wanita yang digosipkan sangat disayangi Braheim melebihi ratu palsunya, melainkan karena ingin menjadi yang pertama memberikan kotak makan siang untuk Haala yang sangat mereka idolakan.



SYUT!


JLEB!


"Lihat. Tepat sasaran. Komandan Haala memang yang terbaik." Salah seorang calon selir berteriak kegirangan.


"Bagaimana bisa Komandan Haala tetap terlihat cantik meski sedang tidak tersenyum. Ya Dewa, tolong jadikan hamba seperti Komandan Haala di kehidupan kedua nanti." Calon selir lain menimpali tak kalah girang.


"Jika memang ada kehidupan kedua, aku lebih ingin menjadikan Komandan Haala saudara perempuanku. Komandan Haala, tolong lihat ke sini. Aku di sini." Calon selir lainnya berteriak sambil melompat-lompat.


Dan begitulah awal mula pergantian suasana di tempat latihan prajurit Kumari Kandam. Suasana latihan yang biasanya monoton, kini menjadi segaduh rumah bordil pada malam kesebelas. Awalnya hanya seorang calon selir saja yang mengunjungi tempat latihan. Calon selir berlesung pipi yang tidak sengaja mengobrol dengan Haala di Milaan* beberapa malam lalu, Chitrali.


*Milaan* adalah sebuah taman yang ditumbuhi ratusan bunga mawar liar berwarna hijau*.


Namun entah bagaimana setiap harinya selalu bertambah calon selir lain yang juga berkunjung untuk memberikan Haala semangat. Mereka tidak mengidolakan Haala karena kecantikannya yang tidak terkikis meski setiap detik bergelut dengan lumpur, darah, dan kotoran. Mereka mengidolakan Haala karena berani menolak kodrat sebagai wanita.


Sejak kecil mereka hanya diajari cara merias diri, merajut, dan mengelola keuangan. Pendidikan yang mereka dapatkan pun hanya seputar pengetahuan umum, tata krama bangsawan, dan agama. Sangat berbeda dengan Haala yang sejak kecil hanya diajari cara menumbangkan musuh meski dengan berbekal sebuah ranting rapuh.


"Komandan, apa Idli* buatanku enak?" tanya calon selir keempat.


*Idli* bentuk idli ini menyerupai pancake atau mirip dengan serabi ala Indonesia. Idli terbuat dari fermentasi lentil dan beras yang dikukus dan biasanya dimakan bersama dengan kari sayuran pedas*.


Chitrali mendecak, "Benarkah kau membuatnya sendiri? Kurasa ada campur tangan yang sangat besar dari juru masak pribadimu."


"Aku sungguh membuatnya sendiri."


"Tidak bisa dipercaya. Kalau begitu akan kucicipi, dan seharusnya rasanya sangat tidak enak," balas Chitrali pada calon selir keempat.


Calon selir kelima tertawa. "Bicaramu menyakitkan sekali seperti Yang Mulia Raja."


Calon selir keenam ikut tertawa. "Kau benar. Kata-kata Yang Mulia Raja seolah sudah ditakdirkan untuk menusuk hati siapa pun sampai berdarah."


Haala berdeham, "Mungkin karena kalian membuat kesalahan."


"Tidak, komandan. Sepertinya Yang Mulia Raja memang sangat-sangat pemarah. Lalu yang paling menyebalkan adalah, apapun yang Beliau tanyakan sangat sulit dipahami. Benar-benar pria yang penuh teka-teki."


Calon selir kedelapan mengangguk-angguk menimpali calon selir ketujuh. "Kurasa hanya Penasihat Murat yang bisa menjawab pertayaan Yang Mulia Raja."


Haala kembali berdeham, "Memang apa yang Beliau tanyakan?"


"Pertanyaan yang kuberitahukan padamu malam itu," jawab Chitrali.


Calon selir kesembilan tiba-tiba beranjak, mengikuti gerak dan suara Braheim. "Aku bukan ahli pedang, selalu kalah saat berduel, dan akan selamanya meminta dilindungi. Tapi meski begitu, maukah kau menerimaku?"


Para calon selir tertawa bersamaan, kecuali Haala yang lagi-lagi merasakan gemuruh di hatinya. Tanpa bermaksud terlalu percaya diri, Haala hanya meyakini jika sebuah pertanyaan yang dijadikan Braheim sebagai ujian tahap pertama itu menyindir dirinya yang mencampakkan Braheim karena tidak memiliki kekuatan pemimpin suku pengembara.

__ADS_1


"Lalu, apa jawaban yang kalian berikan pada Yang Mulia Raja?"


"Bagaimana bisa kami memberi jawaban pada pertanyaan yang tidak terdengar seperti pertanyaan? Bahkan Beliau hanya memberi waktu sembilan detik untuk menjawab," sahut calon selir kesepuluh pada Haala.


"Aku menjawab akan menerima segala kekurangan Beliau dan memberi Beliau pengawal pribadi terbaik."


Calon selir kedua belas menoleh pada calon selir kesebelas. "Aku juga menjawab seperti itu."


"Aku tidak sempat menjawab karena Beliau terus memelototiku."


"Kudengar memang banyak yang tidak sempat menjawab dan sudah bersiap mengemasi barang-barangnya. Kau sudah melakukan yang terbaik." Calon selir keempat belas mengusap punggung calon selir ketiga belas.


Haala tiba-tiba beranjak. "Bukan itu jawaban yang Beliau inginkan."


Ya. Bukan itu. Bukan satu pun dari itu, dan hanya Haala seorang yang tahu cara menjawab pertanyaan penuh misteri itu. Lewat pertanyaan tersebut Braheim tidak hanya membocorkan kelemahannya tetapi juga rasa sakitnya karena kembali dicampakkan oleh wanita yang sangat diinginkannya di masa ini pun di masa depan, hanya karena lemah.


"Hamba tidak bisa menerima Anda, Yang Mulia. Karena bukan Anda yang memikul rasa bersalah seumur hidup jika kelak perang kebinasaan benar-benar meratakan dunia dan seisinya. Seharusnya kalian menjawab seperti itu," lirih Haala.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Ruang megah dengan langit-langit berhias emas murni yang biasa digunakan untuk mengadakan acara-acara akbar seperti ulang tahun Raja dan Ratu Kumari Kandam, kini disulap menjadi ruang pengumuman ujian pemilihan calon selir. Dan hari ini, adalah hari pengumuman ujian pemilihan tahap pertama.


Para calon selir sudah menyesaki ruang pengumuman, menanti Murat Iskender membacakan hasil ujian pemilihan tahap pertama. Mendadak suasana di ruang pengumuman pun menjadi hening, ketika akhirnya penasihat raja Kumari Kandam yang sudah sangat dinanti muncul dari balik tirai.


Murat pun langsung membacakan hasil pengumuman. Dengan suara lantang Murat mengumumkan jika seribu enam ratus calon selir gagal melewati ujian pemilihan tahap pertama. Tersisa sembilan ratus calon selir, dan mereka akan langsung mengikuti ujian pemilihan tahap kedua.


Murat menggulung kertas pengumuman. "Silakan jika ada yang ingin ditanyakan."


"Benar," jawab Murat pada salah seorang calon selir.


"Benarkah hanya kesehatan kami saja yang akan diperiksa? Bukankah Yang Mulia Raja ingin memeriksa kesucian kami? Padahal Beliau saja sudah tidak suci. Pilih-pilih sekali."


"Tolong jangan berpikiran buruk. Yang Mulia Raja hanya menginginkan selir sesempurna Ratu Kumari Kandam. Jika tidak ada lagi pertanyaan, pengawal akan mengantar kalian menuju istana utara*." Murat meninggalkan ruang pengumuman.


*Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi*.


Sembilan ratus calon selir yang bertahan, tertib mengikuti ujian pemilihan tahap kedua. Mereka kompak meyakini jika ujian tersebut dibuat Braheim untuk memeriksa kesehatan rahim mereka. Padahal maksud sebenarnya ujian itu dibuat adalah untuk memulangkan para calon selir yang masih suci agar tidak menjadi incaran Gaana*.


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


Ujian pemilihan tahap kedua selesai dalam empat hari dengan ramuan tanpa nama buatan tabib kerajaan. Hanya dengan satu tetes ramuan tanpa nama, siapa pun bisa mengetahui suci tidaknya seseorang. Ramuan tanpa nama hanya perlu diteteskan pada telapak tangan, dan hasilnya akan langsung terlihat.


Warna putih untuk seseorang yang sudah kehilangan kesuciannya, dan warna merah untuk seseorang yang masih menjaga kesuciannya. Berkat ramuan tanpa nama itu, sebanyak tujuh ratus calon selir gugur dan dipulangkan ke kerajaannya masing-masing dengan membawa serta kekhawatiran salah kaprah.


Kini tersisa dua ratus calon selir. Meski lancang, tetapi para calon selir itu memang tampak sevulgar Ratu Kumari Kandam. Mereka bak tokoh antagonis, sulit didekati, memiliki tujuan jelas, dan tahu harus membungkuk dan menggigit siapa. Semua orang meragukan pilihan Braheim, kecuali Haala dan Murat.


"Tidak bisa tidur?"


Spontan Haala beranjak. "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."

__ADS_1


"Aku bisa merasakannya. Kau sedang senang."


"Benar, Yang Mulia," balas Haala pada Braheim.


"Senang karena aku memulangkan dua ribu tiga ratus sainganmu ke tempat asalnya masing-masing dalam waktu singkat?"


Haala menoleh pada Braheim. "Sama sekali tidak seperti itu, Yang Mulia."


"Aku tahu. Aku hanya bercanda. Kau memang wanita jahat, dan kaku."


Haala tersenyum. "Terima kasih telah menjauhkan mereka diam-diam dari Gaana, Yang Mulia."


"Beri aku ciuman."


Haala tampak terkejut. "Beri aku ciuman jika ingin berterima kasih."


Haala masih memasang wajah terkejut. "Lupakan. Anggap saja aku bercanda," imbuh Braheim.


Haala menahan tawa menanggapi Braheim. "Berikan tanganmu."


Haala menuruti pinta Braheim tanpa bertanya. Braheim meneteskan ramuan tanpa nama di telapak tangan Haala, dan tiba-tiba tersenyum senang saat setetes ramuan berwarna biru pekat itu berubah warna menjadi merah. Haala yang tidak mengerti dengan yang Braheim lakukan pun spontan bertanya.


"Apa yang sedang Anda lakukan, Yang Mulia?"


"Memastikan jika Daxraj Natesh bukan pria berengsek," jawab Braheim pada Haala.


"Ya?"


Braheim diam sesaat. "Menurutmu, siapa musuh Kumari Kandam di masa depan?"


Haala ikut diam. "Entahlah, Yang Mulia. Mungkin hanya Daxraj yang tahu jawabannya."


"Bagaimana jika aku?"


Haala kembali menoleh pada Braheim. "Itu tidak mungkin, Yang Mulia."


"Kenapa tidak? Bahkan di masa ini pun aku juga bisa menjadi musuh Kumari Kandam, bukan? Ketahuilah aku bisa berpihak pada Gaana kapan pun aku mau, daripada harus mengikhlaskanmu bersama Daxraj Natesh."


DEG! DEG! DEG!


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Tidak. Aku tidak boleh gegabah. Aku tidak boleh memancingnya membuat undang-undang konyol itu lagi," tutur Gaana dalam hati.


Terlihat Gaana, yang bersemayam di raga Laasya tengah memandangi keriuhan Kerajaan Kumari Kandam dari atas bukit. Meski dari jarak yang cukup jauh, Gaana bisa mencium ada banyak sekali makanan segar di dalam kerajaan berlambang burung phoenix itu. Namun Gaana tidak lagi berani bertindak gegabah, mengingat sifat tersembunyi Braheim yang sangat kejam.


Hanya dengan undang-undang pernikahan dini dan undang-undang penekanan angka kelahiran saja, Gaana hampir kembali ke neraka. Gaana tidak boleh membuat korbannya menjadi abu agar tidak meninggalkan kecurigaan yang bisa dibaca khususnya oleh Braheim yang sangat jeli. Ada satu cara. Meski merepotkan, hanya itu satu-satunya cara yang tersisa.


Agar para korbannya tidak berubah menjadi abu, Gaana hanya bisa memakan jiwa suci mereka sedikit demi sedikit. Dan ketika jiwa suci mereka telah dimakan Gaana seutuhnya, mereka akan mati dengan sendirinya tanpa menjadi abu. Gaana tersenyum menyetujui cara merepotkannya, sambil melenggang pergi mengikuti sesuatu.

__ADS_1


Sesuatu yang tidak lain adalah arak-arakan kereta kuda para calon selir yang dipulangkan Braheim karena gagal dalam ujian pemilihan tahap pertama dan kedua. Untuk sementara waktu, Gaana memutuskan akan berburu di luar Kumari Kandam. Setelah merasa siap, barulah Gaana akan kembali ke Kumari Kandam dan menuntut balas pada Braheim.


"Tapi sebelum itu aku akan mencoba memutar waktu. Akan kubuktikan jika ucapan jala*g itu hanya omong kosong. Selama ini akulah yang memutar waktu. Ya, aku." Gaana hilang dari balik semak-semak.


__ADS_2