
BRUK!
Jihan langsung jatuh terduduk, sesaat setelah mendapati Gaana* yang sudah berada di dalam kamar tidurnya entah sejak kapan. Sosok Gaana yang kini tengah menghampiri Jihan bukanlah sosok wanita muda dengan tatapan tokoh protagonis yang terakhir kali dilihatnya, melainkan sosok wanita telanjang berlumuran darah dengan kepala lintah.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
Seiring dengan Gaana yang terus melahap jarak, ketakutan mulai menjalar di sekujur tubuh Jihan. Tidak perlu ditanya apa tujuan Gaana mendatangi Jihan, apalagi jika bukan untuk menjadikan Jihan korbannya yang baru. Jihan pun hanya bisa berserah, sebab menyadari konsekuensi yang didapatnya saat mengiyakan bersekutu dengan iblis.
Namun di luar dugaan. Ternyata Gaana datang sebagai teman yang rindu bertegur sapa dengan Jihan, bukan sebagai tuan yang hendak menghukum bawahannya yang tolol. Meski selamat, entah kenapa laju napas Jihan malah terdengar semakin berat. Sebab Jihan tahu, cepat atau lambat persekutuannya tetap harus dibayar dengan nyawa.
"Kau menyakitiku dengan tatapan itu. Padahal aku tidak datang untuk melakukan sesuatu yang buruk."
Jihan buru-buru beranjak. "Semua orang akan memberikan tatapan yang sama jika melihat sosok aslimu."
"Aku terpaksa. Karena sudah lima hari aku tidak makan."
Jihan berjalan setengah berlari menutup tirai jendela. "Sejak Braheim meresmikan undang-undang pernikahan dini, sulit untuk mendapatkan makanan untukmu."
"Aku tahu. Semua Raja Kumari Kandam memang terlalu lurus. Membosankan."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Jihan seraya memastikan pintu kamarnya terkunci.
"Haala Anandmayee."
"Kenapa?" tanya Jihan lagi.
"Karena dia wadah yang paling pas untuk menghancurkan tubuh juga hatinya."
Jihan bersandar di pintu masuk kamarnya. "Dia siapa yang kau maksud?"
Gaana menoleh pada Jihan. "Siapa lagi? Tentu saja Braheim Bhaavesh."
"Kupikir dendammu itu untuk Haala. Memang apa yang sudah Braheim lakukan padamu?"
Gaana diam sesaat. "Bukan dia, tapi Ashima Devasree."
Sebuah nama yang tidak asing. Jihan tampak berpikir serius, hingga sedetik kemudian urat-urat serius di wajahnya itu meluruh. Ashima Devasree adalah ibu Braheim, yang meninggal saat Braheim masih berusia empat bulan. Samar-samar Jihan bisa menebak penyebab dendam di antara Gaana dan ibu Braheim. Sudah tentu karena tahta, atau, cinta.
"Aku tidak ingin hanya menjadi selir favorit yang dikunjunginya di malam kesebelas, tetapi ratu yang akan bersamanya sampai akhir hayat. Aku ingin menjadi satu-satunya," imbuh Gaana.
Jihan tak menjawab, hanya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa berbulu beruang, menyilangkan sebelah kakinya yang cantik, dan memasang wajah pendengar yang sangat penasaran. Gaana pun mulai berkisah tentang masa lalunya yang penuh air mata kecemburuan. Dahulu Gaana hanyalah wanita yang menikahi ayah Braheim demi kepentingan politik.
Hingga Gaana dibuat jatuh hati dengan ketampanan, kecerdasan, serta keperkasaan ayah Braheim di setiap pertemuan mereka. Gaana yang lugu mencoba menarik perhatian ayah Braheim dengan menjadi seperti ibu Braheim, tetapi sia-sia. Sebab tak peduli meski di alam mimpi pun di tengah puncak berahi, hanya nama ibu Braheim yang terucap.
"... Padahal wanita itu tidak mencintainya."
Jihan tampak terkejut. "Apa? Jadi mendiang Yang Mulia Ratu tidak mencintai Raja Khair*?"
*Raja Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim*.
Gaana tersenyum paksa. "Tapi dia sangat mencintainya, hingga tidak memercayai satu pun perkataanku tentang wanita itu. Aku sangat membencinya. Sampai hari ini pun aku masih sangat membencinya."
__ADS_1
Ya. Gaana sangat membenci ibu Braheim hingga tidak segan menerima uluran tangan iblis di detik-detik nyawanya dicabut kasar oleh malaikat maut. Sejak tahu cinta ayah Braheim hanya untuk ibu Braheim, Gaana yang semula hanya selir biasa dipilih menjadi selir favorit karena memiliki kemampuan menyelesaikan tugas kerajaan setara dengan ibu Braheim.
Tetapi bukan tanpa alasan Gaana menyejajarkan dirinya. Gaana memiliki tujuan. Tujuan keji yang tentu saja ditujukan pada ibu Braheim yang terkenal tenang. Hingga pada suatu hari tujuan keji itu menuai sukses. Kandungan ibu Braheim yang kala itu masih berusia dua puluh empat hari, mati karena racun mematikan yang diberikan oleh Gaana.
"... Aku pun diasingkan. Sampai mati. Tapi aku belum puas. Aku ingin mempertemukan Braheim Bhaavesh dengan kakaknya."
Spontan Jihan beranjak. "Tidak akan kubiarkan."
Gaana kembali menoleh pada Jihan. "Kalau begitu kita bukan lagi sekutu."
"Benar. Jadi cepat lakukan jika kau ingin membunuhku atau mengendalikanku sesuka hatimu."
Gaana menggeleng-geleng. "Aku tidak suka memberi kematian yang cepat. Biar kupikirkan. Bagaimana jika aku memutar waktu dan mengembalikanmu menjadi putri peternak susu?"
Jihan tidak tampak terkejut, karena tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang dilewatkan Jihan karena ketakutan yang kala itu merajai. Sesuatu tentang sang waktu yang ternyata tidak ditundukkan oleh Gaana. Jihan memutar kenangannya kembali ke beberapa hari lalu, saat dirinya diam-diam mendengarkan pembicaraan Haala dan Putri Gaurika di penjara bawah tanah.
*FLASHBACK ON*
Putri Gaurika mengangguk. "Bahkan pada akhirnya raga adikmu menyatu dengan Gaana. Itulah tujuan sebenarnya Daxraj Natesh memutar waktu. Karena dia tidak bisa membunuh Gaana yang bersemayam di tubuh adikmu."
*FLASHBACK OFF*
Jihan beranjak, menghampiri Gaana. "Apa kau bisa memutar waktu dengan tubuh selemah itu? Ah, bukan. Maksudku, apa kau yakin bahwa kaulah yang selama ini memutar waktu?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
Terlihat di tengah-tengah tanah lapang yang retak, dua pasukan tempur dengan jumlah seimbang saling beradu tameng. Dari arah jam tiga, ada pasukan tempur dengan bendera ular derik milik Kerajaan Narak. Sementara dari arah jam sembilan, ada pasukan tempur dengan bendera burung phoenix milik Kerajaan Kumari Kandam.
Alih-alih ikut mengudarakan pedangnya, Haala malah berjalan seorang diri menghampiri komandan perang Narak. Semua calon bangkai yang ada di medan pertempuran itu tahu perang tidak akan bisa terjadi jika hanya satu pedang saja yang diangkat. Komandan perang Narak pun menurunkan pedang, ketika Haala memberikan sepotong kain padanya.
"Di hari terakhir kunjunganku, Putri Gaurika memberikan ini."
Komandan perang Narak menerima kain tersebut seraya bergumam, "Saty*."
*Saty* adalah metode untuk mendengar langsung pesan terakhir dari orang mati. Saty diawali dengan seseorang yang merobek pakaiannya yang ternoda darahnya sendiri di menit sebelum mati. Orang yang masih hidup hanya perlu menempelkan kain itu pada kedua matanya*.
"Aku bersumpah demi Tuhan yang kusembah, demi ibu yang mengandungku selama sembilan bulan, dan demi leluhurku yang agung, aku hanya memberi Putri Gaurika sepotong roti gandum dan ramuan penghilang rasa sakit."
Komandan perang Narak terdiam. "Jika upaya terakhirku membela diri lewat kain pemberian Putri Gaurika ini masih tidak membuatmu percaya, maka mari kita berperang sampai mati," imbuh Haala.
Komandan perang Narak masih diam, sembari menggenggam erat kain milik Putri Gaurika. Perlahan penutup kepala komandan perang Narak dilepas, menampakkan wajah seorang pria yang masih sangat muda. Komandan perang Narak lalu menutup matanya dengan kain berwarna merah muda itu, dan tampak khidmat selama dua puluh empat detik.
"Salam. Semoga nikmat, berkah, karunia serta rahmat Dewa Saanp* selalu terlimpah untukmu," ujar komandan perang Narak sambil melepas kain dan membungkuk pada Haala.
*Dewa Saanp* merupakan Tuhan yang disembah orang Narak*.
Entah apa yang sudah terjadi di dua puluh empat detik ketika komandan perang Narak menutup kedua matanya dengan kain milik Putri Gaurika, Haala hanya merasa jika kini namanya sudah tidak lagi tercoreng. Haala pun ikut melepas penutup kepalanya, dan membalas salam dari komandan perang Narak dengan ikut membungkuk hormat.
"Althaff Morey."
Haala menerima uluran tangan Althaff, komandan perang dari Narak. "Haala Anandmayee."
__ADS_1
"Maaf karena sudah bertindak gegabah. Kami terlalu marah saat melihat jenazah Putri Gaurika."
"Aku memahami perasaan kalian. Sekali lagi aku turut berduka," balas Haala.
"Terima kasih, komandan."
Haala mengangguk. "Lalu, aku dan pasukanku berjanji akan ada di pihakmu saat perang yang sebenarnya terjadi," tambah Althaff.
"Perang yang sebenarnya?"
Althaff berganti mengangguk. "Di masa depan."
"Apa kau sedang membicarakan perang kebinasaan yang diramalkan leluhur suku pengembara?"
Althaff kembali mengangguk. "Tapi bukankah perang itu tidak akan terjadi jika aku menikahi Daxraj Natesh?" tanya Haala lagi.
"Kuharap kau tidak terlalu terpaku pada isi ramalan itu, komandan."
Haala tampak terkejut. "Apa maksudmu?"
Althaff memakai kembali menutup kepalanya. "Jika pun ramalan palsu itu benar, kau tidak mencintai orang yang salah. Putri Gaurika memintaku menyampaikan itu padamu."
"Tunggu. Aku tidak mengerti."
Althaff menarik tali kekang kudanya. "Menurut Putri Gaurika, di masa ini dan di masa depan kau sudah mencintai orang yang benar."
DEG! DEG! DEG!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Sejak mengirim Haala ke medan perang tiga hari yang lalu, perasaan resah dan gelisah tak henti meneror Braheim. Dan sialnya, tidak ada yang bisa diperbuat Braheim selain menunggu. Menunggu komandan perangnya kembali dengan kondisi luka parah, atau menunggu utusan dari Narak mengantar gulungan pesan berisi kekalahan pasukan tempur Kumari Kandam.
Ingin rasanya Braheim memerintahkan seseorang untuk melihat apa yang terjadi di medan perang. Namun apa daya, aturan perang turun-temurun membuat Braheim terpaksa tunduk. Selama dua kerajaan sedang berperang, gerbang utama kerajaan mereka hanya boleh dibuka untuk pasukan tempurnya atau seorang utusan lawan yang bertugas sebagai pembawa pesan duka.
Namun Braheim sudah muak hanya berdiam di atas puncak istananya seperti petapa pengecut yang hanya bisa memanjatkan doa keselamatan. Braheim yang telah hilang akal pun memerintahkan pengawal bayangannya untuk melihat situasi di medan perang. Tentu saja dua pengawal berpakaian serba hitam itu langsung bergegas, andai saja debu tebal tidak tampak dari kejauhan.
"Panjang umur da--"
"Aku tidak akan mengirimmu ke medan perang lagi. Tidak akan pernah," sela Braheim sembari memeluk Haala.
"Yang Mulia, ada banyak orang yang melihat."
"Akan kuseret mereka ke panggung Tamaasha* jika kau khawatir pada desas-desus," balas Braheim.
*Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat*.
"Bukan se--"
"Jadilah ratuku. Ini perintah," sela Braheim lagi, seraya mengecup bibir Haala.
Haala tampak sangat terkejut. "Kita bisa bersatu tanpa memecah perang kebinasaan di masa depan. Percayalah padaku," imbuh Braheim.
__ADS_1
DEG! DEG! DEG!