
Vinder masih tampak rakus menguras botol susunya meski itu sudah botol yang ketiga. Pun Haala yang masih tampak bersemangat mengayunkan Vinder dalam pangkuannya. Keduanya juga masih tampak saling menatap dalam dan merespon sentuhan satu sama lain. Namun meski hanya saling menatap tanpa kata dan senyum, entah bagaimana rasa jenuh tak kunjung datang menghampiri.
Saat surat darurat dari Murat datang, Haala masih berada di Benua Jvaala. Sebab di sanalah kabarnya Daxraj Natesh muncul. Haala baru tiba dua hari kemudian di Kumari Kandam setelah menempuh perjalanan darat tanpa tidur sedetik pun. Jangankan tidur, untuk bernapas saja rasanya sesak jika kembali teringat wajah Vinder yang menangis penuh teka-teki.
Meski tangis Vinder membuat hati Haala seperti dicabik, tidak berada di samping sang putra saat dibutuhkan malah membuat Haala seperti menapaki bumi tanpa jiwa. Haala mengalihkan tatapannya ke pakaian tidur Vinder yang terlihat mulai cingkrang, pun ke setiap bagian tubuh Vinder yang sudah membesar di usianya yang baru menginjak tiga puluh tujuh hari.
"Ini pertama kalinya aku melihat kau begitu menyesal. Saat pembuat busur yang kau rekomendasikan padaku membuat Kumari Kandam mengalami kerugian besar, aku ingat kau tetap mendongak."
"Bagaimana bisa Anda menyamakan seorang bayi dengan busur, Yang Mulia." Haala beranjak dan membungkuk pada Braheim.
"Sungguh? Kau sebut si cengeng ini bayi?"
Spontan Vinder melepas botol susunya dan tersenyum ke arah Braheim.
"Hentikan senyum itu. Ibumu bisa salah paham lagi mengira aku mencintai Ayahmu." Braheim menoleh pada Haala. "Kau tidak bisa keluar dari istana baru* jika tidak ingin kejadian seperti kemarin kembali terulang."
Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Kau harus terus berada di samping si cengeng ini sampai dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau juga harus memantau perkembangan, pendidikan serta pelatihannya," imbuh Braheim.
Haala tak menjawab, sibuk memandangi Vinder yang kini tengah memandangi Braheim yang memandangnya.
"Jangan salah paham. Aku berbicara seperti ini bukan untuk memintamu menjadi Ratu Kumari Kandam atau memintamu menyerahkan lencanamu pada Laasya."
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Tapi tetap saja hamba tidak bisa menjadi Ratu Kumari Kandam, atau memaksa Laasya menggantikan hamba. Hamba harus tetap menyimpan lencana hamba sampai hamba memiliki penerus yang secara sukarela mau menggantikan hamba menyimpannya."
Braheim berganti membisu, merasakan jantungnya yang berdebar tak wajar sebab mulai mencium aroma penolakan.
"Meski Anda menganggap Vinder seperti putra Anda sendiri, takdirnya tetaplah menggantikan Daxraj Natesh, Yang Mulia. Anda harus memiliki penerus Anda sendiri." Haala diam sesaat. "Hamba pun harus memiliki penerus hamba sendiri."
Braheim masih membisu, debaran jantungnya semakin tak wajar karena telah selesai memproses kata-kata Haala sebagai penolakan.
"Jadi Vinder harus memiliki dua orang adik yang kelak akan menjadi penerus Raja Kumari Kandam dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir," tambah Haala.
Braheim tak henti membisu, namun kali ini debaran jantungnya mulai kembali normal.
"Jadi bagaimana menurut Anda, Yang Mulia?" Haala menoleh pada Braheim.
"Apa?"
"Kita harus memiliki dua orang anak, Yang Mulia. Bagaimana menurut Anda?" tanya Haala lagi.
Braheim kembali membisu. Itu ajakan untuk menikah, bukan? Sebaris tanya itu terus berlalu-lalang dalam benak Braheim. Ada yang salah, dan sepertinya kesalahan itu ada pada Braheim. Mungkin apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi indah Braheim yang terhasut alam bawah sadarnya. Saat tahu Haala sudah tiba di Kumari Kandam, Braheim langsung bergegas ke istana baru.
Braheim pasti terpeleset di suatu tempat karena berjalan terlalu bersemangat dan berakhir pingsan, atau saat ini dirinya tengah tertidur dalam rapat harian yang membosankan dan tidak ada seorang pun yang bernyali membangunkannya. Entah yang mana pun itu, yang pasti saat ini Braheim sedang tidak sadarkan diri. Sebab mustahil keluar kata-kata bersatu dari mulut Haala.
" ... Hamba ingin pesta pernikahan yang sederhana, tapi rasanya mustahil karena pria yang akan hamba nikahi adalah orang nomor satu di Kumari Kandam. Lalu me--"
Braheim buru-buru beranjak. "Sepertinya rohku sudah berkeliaran terlalu jauh. Aku harus kembali."
"Tapi hamba be--"
"Suruh si cengeng itu tidur. Jika dia terus terjaga aku benar-benar akan memberikannya tugas kerajaan," sela Braheim lagi, seraya berjalan cepat meninggalkan balkon kamar tidur Haala.
Spontan Haala tertawa, pun Braheim yang pada akhirnya sadar jika itu bukan mimpi indah yang disebabkan oleh dirinya yang pingsan terpeleset atau tertidur di tengah rapat.
__ADS_1
"Ah, kau tersenyum. Apa kau juga senang?"
Vinder kembali tersenyum.
"Terima kasih, Putraku," imbuh Haala sembari memeluk Vinder.
...•▪•▪•▪•▪•...
Suasana di ruang rapat itu hening. Tidak. Sejak awal Braheim memanggil para menteri ke ruang rapat, suasananya memang sudah sangat hening. Mereka yakin tidak ada jadwal rapat hari ini, terlebih di jam-jam menjelang makan malam. Bahkan rapat darurat sekali pun tidak pernah digelar sebelum jam makan malam berakhir. Mereka harus mengisi perutnya sebanyak mungkin, sebab saat rapat dimulai, tidak akan ada waktu bahkan untuk sekadar menyeka peluh.
Semua orang yang ada di ruang rapat itu benar-benar dibuat penasaran setengah mati. Namun sejak Braheim duduk di hadapan mereka, belum terdengar sepatah kata pun dari mulut yang kadang meloloskan kata-kata tak bermoral itu. Tidak tampak keraguan atau kebingungan di wajah Braheim. Jadi bukankah kebisuannya tidak beralasan? Braheim juga tidak terlihat sedang berpikir keras. Raut wajahnya benar-benar biasa saja, seperti orang yang bebas dari beban.
Murat yang di sini sama penasarannya malah menjadi bahan pelototan para menteri. Padahal Murat tidak tahu apa-apa. Murat pun tiba-tiba dipanggil ke ruang rapat saat pergelutannya dengan Putri Chadna bahkan belum sampai di tahap pemanasan. Tidak ada yang berani meminta izin untuk berbicara, karena si penguasa rapat belum membuka rapatnya. Hingga akhirnya rapat pun dimulai, sesaat setelah Braheim menguap untuk yang keenam kalinya.
"Aku akan menikah. Dengan Komandan Haala, dan dengan pesta yang sederhana," ujar Braheim akhirnya.
Para menteri tidak tampak terkejut, pun Murat. Mereka sudah memprediksi tentang ini dari jauh hari. Kali ini tidak ada kubu pro, kontra ataupun netral. Sebab mereka semua sepakat untuk menentang. Dan perdebatan pun dimulai.
"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
"Aku memberi izin berbicara untuk semua yang hadir di sini," balas Braheim pada Menteri Agama.
"Hamba hidup dengan hanya mengamati sejarah Kumari Kandam, dan selama itu, Raja Kumari Kandam tidak pernah menikahi wanita yang bukan hasil dari seleksi calon pemilihan ratu yang sah, Yang Mulia."
"Begitu pula dengan Komandan Perang Kumari Kandam sendiri, Yang Mulia. Kebanyakan dari mereka menikahi wanita biasa. Bahkan ada yang menikah dengan wanita yang buta huruf."
"Itu memang bukan tradisi, Yang Mulia. Tetapi jika selama Kumari Kandam ini berdiri hingga masa kepemimpinan mendiang Raja Khair* terus berjalan seperti itu, bukankah tidak ada bedanya dengan tradisi?" Menteri Hukum menimpali Menteri Sosial.
Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim.
"Apakah kalian sedang menghina Ayahku dan Raja-raja Kumari Kandam terdahulu?"
"Kau pikir mereka penyuka sesama jenis?" imbuh Braheim.
Spontan Murat menunduk menahan tawa, sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan Braheim. Itu benar-benar serangan balasan yang telak.
"Bagaimana bisa sesama laki-laki menikah? Kalian ingat hukum Shahad*? Itu hukum untuk orang-orang yang berani menghina mendiang keluarga kerajaan. Bukankah kalian yang menyarankannya padaku? Dengan alasan agar nama baik para Raja Kumari Kandam terdahulu tetap terjaga?"
Shahad* adalah metode hukuman yang dilakukan dengan cara meminumkan paksa Kadava, madu termanis di dunia. Efek yang akan timbul setelah meminum Kadava adalah serdawa berkepanjangan. Aroma serdawa inilah yang nantinya akan mengundang lebah terutama lebah beracun. Shahad diklaim sebagai hukuman tersadis yang pernah disahkan.
Spontan Menteri Agama, Menteri Sosial, dan Menteri Hukum beranjak dan membungkuk bersamaan.
"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."
Braheim hanya memberi kode pada ketiga menteri itu untuk kembali duduk dengan tenang. Wajah ketiganya benar-benar pucat bukan main. Padahal Braheim hanya mengingatkan dan belum mulai mengancam.
Menteri Perencanaan berdeham, "Lalu siapa yang akan mengantikan Komandan Haala, Yang Mulia?"
"Tidak ada. Dia akan tetap menjadi Komandan Perang sampai penerus pertama kami lahir dan menggantikannya."
"Maaf, Yang Mulia. Tapi bukankah penerus pertama seharusnya menggantikan Anda?"
Braheim menoleh pada Menteri Pendidikan. "Kau ingin Murat Iskender mati kelelahan di ruangannya yang dipenuh c*lana dala*m wanita itu? Tunggu." Braheim berganti menoleh pada Murat. "Sungguh kau membiarkan mereka pergi tanpa c*lana dala*m?"
Murat berdeham, "Maksud Yang Mulia adalah, jika penerus pertama menggantikan Komandan Haala, maka Komandan Haala bisa mulai menjalankan tugasnya sebagai Ratu Kumari Kandam. Tapi jika penerus pertama menggantikan Yang Mulia, maka Komandan Haala harus tetap menjalankan tugasnya sebagai Komandan Perang dan sampai penerus yang lain lahir, hambalah yang akan mengambil alih tugas Komandan Haala."
Semua orang di ruangan itu kini mulai paham. Ternyata Braheim sudah menyiapkan jalan keluar untuk tiap-tiap celah.
__ADS_1
"Ada lagi yang ingin menyampaikan pendapatnya?"
Tak ada jawaban. Tak ada celah lagi. Meski begitu di dalam benak semua orang kecuali Murat, mereka benar-benar menentang pernikahan itu, sampai sebelum Braheim mengakhiri rapat dengan kata-kata yang membuat trenyuh.
"Sampai hari ini aku terus berusaha menyejahterakan kalian, pun menjaga diriku. Aku tidak bermain wanita bukan karena tidak berkenan. Ada tanggung jawab besar yang harus kupikul, ada jutaan langkah yang harus kutuntun, dan ada janji yang harus kutepati pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan penerus tahta lahir dari rahim wanita yang masih haus akan urusan duniawi. Sekarang aku sudah menemukan wanita itu, jadi kuharap kalian mau memberikan restu."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sejak rapat di jam tak biasa beberapa waktu lalu berakhir, pandangan semua orang terhadap Braheim berubah total. Ternyata Braheim bukan pria yang terbutakan cinta hingga melupakan posisi. Sebaliknya, Braheim selalu ingat di mana posisinya serta siapa yang menjadi prioritasnya. Benar, rakyat. Jika bukan Braheim yang menduduki singgasana Raja Kumari Kandam, mungkin harem tidak hanya akan dipenuhi suara para penggosip tetapi juga canda tawa anak-anak yang lahir dengan status setengah pangeran.
Akhirnya semua orang menunjukkan persetujuannya dengan mempersiapkan pesta pernikahan megah untuk Braheim dan Haala. Namun kuil kesulitan menentukan hari baik. Hari baik itu benar-benar baru terlihat dua bulan kemudian, tepatnya empat hari sebelum festival akhir tahun dimulai. Sejujurnya itu tidak terhitung sebagai kendala, sebab persiapan pernikahan Braheim dan Haala memang membutuhkan waktu yang lama karena akan digelar selama sepuluh hari berturut-turut.
Semua orang diundang tanpa syarat. Baik mereka yang berasal dari kalangan atas pun jelata. Tetapi demi menjaga harga diri dan kenyamanan tamu dari kalangan atas, akan disediakan tempat tersendiri untuk kalangan jelata. Meski begitu kalangan jelata tetap diizinkan mengucapkan selamat langsung pada pengantin, memanjatkan doa bahagia, memberi hadiah, dan bahkan bertemu dengan Vinder. Semua orang benar-benar bersuka cita meski kesibukan mereka bertambah berkali lipat, tanpa terkecuali.
"Maaf, Anda tidak boleh memikirkan hal selain pernikahan."
Spontan Haala menoleh pada wanita yang duduk di depannya. Wanita dari kuil yang bertugas mendampingi Haala selama menjalankan sebelas ritual wajib calon pengantin wanita.
"Aku tahu. Maafkan aku. Aku terbawa sesaat oleh pikiranku," balas Haala pada wanita itu.
Wanita itu hanya mengangguk, meski tahu Haala menyangkal.
"Aku ingat betul dia berubah menjadi pria tua, jadi mustahil liang lahadnya berisi jasad seukuran bayi. Putri Jihan pasti menggali liang lahad yang salah. Lalu hilang ke mana portal suci? Andai saja Sayee bisa segera sadar, dia pasti tahu jawabannya," batin Haala.
Wanita dari kuil itu hendak kembali menegur Haala karena tahu Haala tidak mengindahkan nasihatnya, namun seorang pengawal tiba-tiba memanggil Haala.
"Komandan, kusir mengatakan kita harus mencari jalan lain karena jembatan yang menjadi akses satu-satunya ke Kuil Baanjh rusak total. Lalu sepertinya penduduk di desa ini juga telah pindah."
Haala membuka sedikit tirai jendela. "Berhenti."
"Maaf, Anda tidak boleh menampakkan diri pada selain keluarga ya--"
"Aku akan membungkus wajahku," sela Haala pada wanita itu sambil menunjukkan selendang.
Salah satu desa di pedalaman Kumari Kandam itu hancur seperti baru saja diserang badai maha dahsyat. Namun penduduk di desa bermama Jaadoo itu tidak pindah melainkan telah diserang. Tapi oleh siapa dan dengan tujuan apa? Benda paling berharga di musim ini, kayu bakar, masih tertata rapi di halaman belakang. Lalu penyerangan pada umumnya selalu meninggalkan jasad, bukan? Atau paling tidak, ceceran darah. Dan jika tidak ada jejak? Itu artinya si penyerang bukan manusia atupun binatang.
"Ada air terjun di belakang desa ini, Komandan. Cuacanya pasti sangat dingin terutama di musim penghujan seperti sekarang. Sepertinya mereka benar-benar pindah."
Haala menggeleng menanggapi si pengawal. "Mereka diserang."
"Maaf, Komandan?"
"Meski masih butuh penyelidikan lebih lanjut, tetapi aku bisa memastikan penyerangnya bukan manusia ataupun binatang," jawab Haala sembari menyelisik sekitar.
"Mungkin serigala."
Haala berikut semua orang dalam rombongan itu menoleh ke asal suara. Seorang kusir baru saja melompat dari tempat duduknya, dan kini tengah berjalan menghampiri Haala.
"Serigala Jaadoo berbeda dengan serigala pada umumnya. Mereka tidak memangsa korbannnya di tempat demi menghindari menarik perhatian pemangsa di atas mereka. Apa Anda tahu julukan untuk Serigala Jaadoo, Komandan?"
Haala sengaja tak menjawab, bukan karena penasaran melainkan sibuk mengingat sosok si kusir yang sepertinya pernah dilihatnya di suatu tempat.
"Serigala hantu. Layaknya hantu yang tidak terlihat, tidak tersentuh dan tidak meninggalkan jejak. Begitu pun dengan Serigala Jaadoo," tambah si kusir.
"Komandan, sebaiknya kita kembali."
"Ide bagus, Tuan Pengawal. Serigala Jaadoo biasa muncul di jam-jam seperti sekarang ini. Jadi sekali pun Anda dan Komandan Haala terkenal sangat hebat, bekas hewan peliharaan pemimpin suku pengembara tetaplah bukan lawan kalian, bukan? Silakan, Komandan." Si kusir mempersilakan Haala memimpin jalan.
__ADS_1
"Aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?" tanya Haala dalam hati, seraya mengamati si kusir dan berlalu.