TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 110


__ADS_3

"Sudah kuduga kau hanyalah iblis! Tak peduli seberapa besar kekuatan yang kau miliki, akhir yang kau dapatkan tidak akan berbeda dengan Sannidhi Hessa! Terkutuk! Ka–"


"Kata-kata terakhir termenyebalkan yang kudengar sejauh ini." Sosok raksasa dengan pakaian berikut serban berwarna senada itu menyesap habis jiwa seorang pria.


Perlahan pria itu pun berubah menjadi abu, abu yang lambat laun sirna dilum*t lebatnya hujan. Sosok serupa Daxraj Natesh yang kini dilabeli semua orang sebagai iblis penjiplak itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya, kemudian berputar merasakan guyuran hujan, pun merasakan kekuatannya yang bertambah setelah berhasil memenuhi perutnya dengan ratusan jiwa suci manusia. Iblis penjiplak yang tak lain adalah Sanjeev Rajak itu terlihat sangat amat puas.


"Tidak. Masih belum cukup. Lawanku masih terlalu kuat. Lalu, siapa selanjutnya? Pelindung lima benua? Atau, Ghinauna*?" tanya Sanjeev pada dirinya sendiri sembari memamerkan seringai angker.


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


Setelah sempat dihinggapi dilema, Sanjeev pun memutuskan melanjutkan perburuannya ke tenggara Kumari Kandam. Semua orang tahu ada apa di tenggara, baik itu di tenggara Kumari Kandam maupun di tenggara tujuh benua. Ya, Ghinauna, ikan raksasa yang sangat pemilih. Baru-baru ini diketahui jika jiiwa suci Ghinauna setara dengan tujuh ribu jiwa suci manusia. Dilihat dari sifat berlebihan Sanjeev Rajak, sepertinya satu Ghinauna saja tidak akan cukup.


Sanjeev pun pergi menuju Baadal*, namun langkahnya mulai melambat. Tidak tercium aroma jiwa suci Ghinauna di danau yang dianggap sebagian orang sebagai danau terkutuk itu. Sebaliknya, hanya ada aroma yang membuat bulu roma Sanjeev meremang. Langkah Sanjeev semakin melambat, sebab mulai terasa sensasi terbakar di telapak kakinya. Sanjeev pun mengudara, dan memasuki Hutan Mook tanpa perlu berurusan dengan jebakan murahan Braheim Bhaavesh.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


Namun, tetap tak tercium aroma jiwa suci Ghinauna meski kini Sanjeev sudah berada di pinggir Danau Baadal. Sanjeev berpikir mungkin saja aroma jiwa suci Ghinauna tertutupi oleh jebakan Braheim. Nyatanya tidak. Ghinauna memang tidak ada di dalam sana. Padahal ikan yang memiliki sirip serupa tirai sutra yang indah itu akan langsung menampakkan diri jika ada makhluk apapun itu yang memasuki wilayah kekuasaannya. Terpaksa Sanjeev pun masuk ke dalam Baadal.


"Braheim Bhaavesh Sialan!" Sanjeev melesat ke udara, tanpa jerit kesakitan, hanya umpatan, meski rasa terbakar mulai menggerayang di sekujur tubuhnya. "Sialan. Aku jadi ingin mengumpatnya langsung. Haruskah kutemui si tanpa celah itu? Ya, ide bagus. Mungkin suasana hatiku akan membaik."


Sayangnya suasana hati Sanjeev malah kian tak karuan. Pelindung yang menyelimuti hampir seluruh Kumari Kandam itu tampak semakin tebal. Jika tempo hari telunjuk Sanjeev hanya terbakar atau berubah menjadi abu, kali ini telunjuknya tetap utuh, utuh tanpa bisa digunakan. Sanjeev terbahak di balik serban hitamnya, menyadari fakta jika ternyata tidak hanya dirinya saja yang bertambah kuat tetapi juga musuhnya yang masih mengenakan popok itu.


"Ini benar-benar penghinaan." Sanjeev kembali terbahak. "Ternyata Sannidhi Hessa jauh lebih dihormati daripada aku."


Sementara Sanjeev masih asyik menikmati tawa terbahaknya di balik serban, Braheim dengan diekori Murat, Aswin beserta setengah pasukan tempur Kumari Kandam, sedang bersama-sama menghampirinya. Sanjeev yang menyadari kedatangan Braheim pun langsung membungkuk memberi salam. Sebuah keyakinan mendadak memenuhi benak Sanjeev. Sanjeev yakin, suasana hatinya akan langsung melejit ke langit setelah melihat keterkejutan Braheim. Namun.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Braheim tiba-tiba membuang pandangannya, menahan tawa. Membuat semua orang termasuk Sanjeev sendiri mempertanyakan hal yang sama dalam hati. Memang di mana bagian yang lucu?


"Si tukang pamer itu benar-benar akan bangkit dari kubur jika wujudnya dijadikan bahan tertawaan seperti ini," sahut Braheim pada Sanjeev.


Murat mendekati Braheim, berbisik, "Yang Mulia, kita belum siap untuk berperang. Masih ada miliaran jiwa di luar pelindung jadi tolong jangan melempar umpan se–"


Braheim menunjuk wajah Sanjeev. "Dia yang memulainya. Kau lihat tadi? Maksudku caranya berjalan? Itu lebih gemulai dari kekasihmu, bukan?"


Sorot mata Sanjeev yang semula berbinar itu berubah, berubah sejadinya seperti ingin mengubur Braheim ke tanah hidup-hidup, detik itu juga.


"Dan lagi, si tukang pamer itu tidak pernah memberi salam padaku, apalagi membungkukkan badannya yang seperti penyangga. Kau lihat caranya membungkuk? Itu pun sangat gemulai, bukan?" Tawa Braheim akhirnya lolos. "Aku yakin akhir-akhir ini si tukang pamer itu sering mengumpat."


"Yang Mulia," bisik Murat.


Braheim tak menghiraukan Murat dan masih tertawa.


"Yang Mulia, di–"


"Berhenti membacakanku puisi, Murat. Demi Dewa Krpaya*, kau hanya berbakat di ranjang," sela Braheim.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.

__ADS_1


Andai Braheim tahu jika saat ini Sanjeev tengah mati-matian menahan amarah. Braheim memang tanpa celah. Tidak, semua Raja Kumari Kandam memang terkenal tak bercelah. Sanjeev menduga Braheim akan terkejut mendapati sosok yang dikenalnya bangkit dari kubur, namun di luar dugaan, Sanjeev malah berakhir menjadi bahan tertawaannya. Sanjeev harus pergi, menyusun rencana b jauh lebih bijak daripada menghadapi Braheim dengan tangan kosong.


"Hei, tunggu."


Spontan Sanjeev menghentikan langkahnya.


"Aku belum menyambutmu," imbuh Braheim.


Perlahan Sanjeev berbalik dan bersamaan dengan itu, sekantong kecil Gandh* mendarat keras layaknya tamparan tepat di wajahnya.


Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


"Sialan kau, Braheim Bhaavesh!" seru Sanjeev seraya berlari penuh amarah mendekati pelindung, namun berakhir terpental sangat jauh.


Braheim kembali tertawa. "Kalian lihat itu? Bagaimana dia bisa tetap gemulai meski terpental?"


Murat menggeleng-geleng sambil menutup wajahnya yang merah padam merasakan wibawa Braheim yang hilang entah ke mana. Sementara Aswin dan pasukan tempurnya, setuju dengan Braheim. Daxraj Natesh palsu itu memang gemulai. Benar-benar lebih gemulai dari Putri Chadna, kekasih Murat Iskender.


...•▪•▪•▪•▪•...


Terlihat seorang pria sedang sibuk mengacak-acak sebuah desa bernama Buraee, satu dari enam belas desa di pedalaman Kumari Kandam yang baru saja diserang pemimpin suku pengembara yang bangkit dari kubur. Wajah pria itu tertutup kain, namun perawakannya tampak masih sangat muda. Pria itu terlihat fokus memandangi tanah, sesekali bahkan menendang segala perkakas rumah tangga yang berserakan di sana-sini, seperti sedang mencari sesuatu yang penting.


Perlahan netra pria itu memancarkan semburat senyum, ketika akhirnya menemukan yang sedari tadi dicarinya. Tampak di bawah sebuah piring perak, ada gundukan kecil abu. Pria itu pun langsung menyerok abu tersebut, lalu buru-buru memasukkannya ke dalam wadah bambu berukuran sedang yang menggantung di punggungnya. Pria itu semakin bersemangat menendang, mencari yang serupa. Namun kesibukan pria itu terhenti, saat mendengar suara rombongan langkah kaki kuda mendekat.


"Hei, siapa di sana?"


Spontan pria itu berlari tunggang langgang, ketika teriakan menggelegar Menteri Pertahanan Kumari Kandam, Ghanzafer El-Amin, menggema mengalahkan derasnya hujan.


Menteri Keamanan melompat dari kuda. "Ya Dewa, apa yang terjadi di sini?"


Ghanzafer ikut melompat dari kudanya. "Apalagi? Buraee jelas telah diserang."


"Tapi aku tidak melihat satu pun jasad."


"Mungkin mereka tertimpa reruntuhan. Ayo kita periksa." Ghanzafer memberi kode pada prajurit yang lain untuk memeriksa.


"Benar. Ini penyerangan. Terbukti mereka sempat melakukan perlawanan." Menteri Keamanan menunjukkan sobekan tirai pada Ghanzafer.


"Tidak banyak yang tahu desa-desa di pedalaman Kumari Kandam. Ini memudahkan kita dalam mencari pelaku ya–"


"Ghanzafer." Menteri Keamanan menutupi sesuatu dengan kedua tangannya, dan membukanya ketika Ghanzafer mendekat dan ikut berjongkok.


"Abu? Ini bukan sisa api unggun." Ghanzafer mengendus abu itu. "Ini seperti aroma daging yang dibakar."


"Kudengar dari Menteri Desa, penduduk Buraee tidak mengonsumsi daging. Lalu sisa abu apa ini?"


Di tengah fokus Menteri Keamanan dan Ghanzafer, seorang prajurit tampak tergopoh mendatangi keduanya.


"Lapor, Tuan. Kami menemukan gundukan abu di bawah reruntuhan langit-langit rumah."

__ADS_1


Ghanzafer menunjuk tanah. "Seperti ini?"


"Tidak, Tuan. Ukurannya jauh lebih besar," jawab si prajurit.


Ghanzafer dan Menteri Pertahanan langsung beranjak mengekori si prajurit. Ternyata benar. Di sana, tepatnya di bawah reruntuhan langit-langit rumah, ada gundukan abu berukuran besar yang perlahan mulai menebarkan aroma busuk.


"Tidak salah lagi. Gaanalah yang menyerang Buraee."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita harus bergegas menyelamatkan desa yang tersisa," timpal Ghazafer pada Menteri Keamanan.


"Kau benar. Tapi sebelum itu kita harus mengamankan barang bukti ini terlebih dahulu untuk kita tunjukkan pada Yang Mulia Braheim." Menteri Keamanan menunjuk abu.


Ghanzafer menoleh pada semua prajurit. "Amankan ini. Lalu bantu yang lain mengejar orang misterius itu. Setelahnya segera menyusul ke Syaahee."


"Sesuai perintah Anda, Tuan."


...•▪•▪•▪•▪•...


Ghanzafer dan Menteri Keamanan memacu kudanya seakan tengah berlomba dengan sang waktu. Meski guyuran hujan itu menghalangi pandangan, keduanya tetap berdiri tegak. Mereka tak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi Gaana, sebab sudah terlihat siapa pemenangnya. Dengan jumlah prajurit yang tak seberapa serta kemampuan berpedang yang hanya bisa menumbangkan manusia, mereka sudah menyiapkan diri untuk mati dalam syahid.


Jarak Desa Buraee dan dua desa yang lain tidak terlalu jauh. Sehingga dalam waktu kurang dari dua puluh menit, Ghanzafer berikut Menteri Keamanan dan rombongan sudah tiba di desa kedua, Desa Syaahee. Beruntung masih ada cahaya kehidupan di Syaahee. Ghanzafer dan Menteri Keamanan pun langsung memerintahkan para prajurit untuk mengevakuasi penduduk yang sedikit memberontak karena tiba-tiba dimasukkan ke dalam kereta kuda tanpa penjelasan.


"Ada apa ini, Tuan?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Percayalah, ini jugalah yang dikehendaki Raja Kumari Kandam." Ghanzafer menutup pintu kereta kuda.


"Sepertinya kita membutuhkan lebih banyak kereta kuda untuk mengangkut mereka, Ghanzafer. Aku akan mengirim tanda pada Yang Mulia Braheim."


Ghanzafer mengangguk menanggapi Menteri Keamanan. "Jika Desa Syaahee belum didatangi makhluk terkutuk itu, kemungkinan besar desa yang lain pun belum."


"Kau benar."


Namun, fakta berkata lain. Dari enam belas desa di pedalaman yang tersebar di luar pelindung, hanya Desa Syaahee yang selamat. Gaana berkedok Daxraj Natesh palsu itu benar-benar sudah memorak-porandakan semua desa. Semua orang bersedih, tanpa terkecuali, penduduk Desa Syaahee yang mengintip dari celah kereta kuda. Mereka pun bergegas ke Kerajaan Kumari Kandam, dengan kesedihan yang semakin bertambah setiap kali mereka melewati tiap-tiap desa.


"Lapor, Tuan."


Ghanzafer memperlambat laju kudanya ketika seorang prajurit tiba-tiba muncul dari sisi kanannya.


"Mohon ampuni kekurangan kami, Tuan. Kami tidak berhasil mengejar orang misterius itu. Tapi kami berhasil melepaskan kain yang menutupi wajahnya." Prajurit itu menunjukkan kain pada Ghanzafer.


"Kau mengenalnya?"


"Ya, Tuan. Dia Ejlaal, kusir tambahan selama proses persiapan pernikahan Yang Mulia Braheim dan Komandan Haala," jawab si prajurit.


"Ejlaal? Siapa dia?"


"Yang hamba tahu dia putra Sanjeev Rajak, Tuan."


Ghanzafer dan Menteri Keamanan terlihat sangat terkejut. Bagaimana tidak? Sanjeev diketahui tidak pernah terlibat dengan wanita mana pun setelah ditinggal mati mendiang istrinya saat proses melahirkan. Dan lagi, yang semua orang tahu, anak Sanjeev Rajak pun ikut meregang nyawa bersama sang istri.

__ADS_1


"Hamba kurang yakin dengan cerita detailnya, Tuan. Karena hamba hanya mendengarnya dari para pelayan Kumari Kandam. Tapi jika dilihat sekilas, wajahnya memang sangat mirip dengan Sanjeev Rajak," imbuh si prajurit.


__ADS_2