
"Sudah kuduga selama ini kau bersembunyi. Dasar pecundang."
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat," jawab Ayah Haala, Salmalin Josha.
Gaana mendecak, "Merepotkan sekali. Minggir. Duduk dan tunggulah giliranmu."
"Yang Mulia, Anda bisa pergi. Serahkan Gaana pada hamba."
Braheim hanya mengangguk, dan buru-buru memacu kudanya menuju tenggara. Di luar dugaan, Gaana membiarkan Braheim pergi begitu saja. Karena lagi-lagi benak Gaana disesaki tanya ini dan itu. Di mana Salmalin Josha bersembunyi selama ini? Kenapa Gaana tidak bisa merasakan keberadaannya? Apa yang salah? Mungkinkah Daxraj Natesh kembali ikut campur?
"Jika benar si sialan Daxraj Natesh itu ikut campur, maka semua tanyaku sudah terjawab. Selama ini Daxraj Nateshlah yang menyembunyikanmu, bukan? Itulah kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaanmu."
Salmalin Josha menggeleng. "Dia tidak ikut serta dalam perang ini."
"Benarkah? Itu bagus. Lalu? Di mana kau selama ini? Mustahil aku tidak bisa merasakan keberadaanmu sementara aku bisa merasakan keberadaan si ja**ng itu sekali pun aku berada di luar Kumari Kandam."
"Anggap saja Dewa Krpaya* sudah mengulurkan pertolongannya padaku."
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Gaana tersenyum sinis. "Daripada itu, sepertinya selama ini kau hanya bisa bergentayangan karena Dewa Krpayamu itu belum juga membukakan gerbang Daraar*."
Daraar* dipercaya sebagai alam roh.
"Kau benar. Gerbang Daraar tidak akan terbuka sampai aku membawamu."
__ADS_1
"Maka terima saja tawaranku waktu itu. Jadilah bawahanku lagi, dan aku akan dengan senang hati ikut bersamamu ke sana."
"Maaf tapi aku lebih senang memaksa."
"Maka bergentayanganlah selamanya, Salmalin Josha."
Sementara Gaana dan Salmalin Josha berduel sengit, Braheim yang baru saja tiba di tenggara tepatnya di Danau Baadal* terkejut setelah mendapati banyak prajuritnya yang gugur. Jelas saja. Bahkan komandan perang Kumari Kandam dan pasukan tempurnya sekali pun bukanlah tandingan pelindung lima benua. Braheim menenangkan hatinya, dan melanjutkan perjalanannya. Namun.
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
Spontan Braheim melompat dari kudanya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Yang Mulia, cepat tinggalkan tempat ini. Ada iblis lain yang sama berbahayanya dengan Gaana," balas seorang penduduk.
"Aku tahu. Bukan itu yang kutanyakan. Kenapa kau bisa keluar dari tempat aman? Bukankah sudah kuperintahkan untuk tetap di sana apapun yang terjadi?"
"Lalu di mana yang lain?"
Penduduk itu menunjuk ke belakang Braheim. "Kau bisa berdiri?" tanya Braheim lagi.
"Ya, Yang Mulia."
"Bersembunyilah. Lalu jika memungkinkan, kembalilalh ke tempat aman. Aku akan mengejar yang lain."
"Semoga perlindungan Dewa Krpaya selalu menyertai matahari Kumari Kandam."
__ADS_1
Braheim pun bergegas menuju barat. Hati Braheim kembali tidak tenang, karena bumi yang dipenuhi jasad prajurit serta rakyatnya yang tidak berdosa. Beruntungnya masih ada rakyat lain yang juga berhasil selamat. Meski begitu, jumlah rakyat kabur yang belum ditemukan jauh lebih banyak. Bahkan ada beberapa dari mereka yang tersesat di jalan pintas rahasia menuju Pahaad*.
Pahaad* merupakan salah satu desa di Kumari Kandam yang diasingkan setelah diserang wabah bernama Rahasyamay. Namun kini Pahaad dialihfungsikan menjadi tempat pengasingan untuk ratu, selir, atau kekasih raja yang berkhianat.
"Itu. Itu, Yang Mulia Ratu. Lari."
Spontan Jihan ikut berlari. "Hei, tunggu. Jelaskan dulu apa yang terjadi? Bukankah seharusnya kalian ada di tempat aman?"
Sepasang suami istri itu saling bertatapan. "Kumari Kandam telah dikalahkan."
"Apa?"
"Muncul iblis selain Gaana yang sangat kuat yang membantunya. Suara mereka bahkan terdengar sampai ke tempat aman. Kami ketakutan dan akhirnya memutuskan kabur dari sana," terang si suami.
Si istri menyikut suaminya seraya berbisik, "Untuk apa dijelaskan? Kita seharusnya lari. Bukankah Yang Mulia Ratu pernah menjadi bawahan Gaana?"
"Jangan takut. Aku tidak memiliki maksud jahat. Aku tahu tempat aman yang lain. Aku akan menunjukkan jalannya. Kalian akan aman di sana. Tapi apa hanya kalian? Di mana yang lain?"
"Kenapa kami harus percaya pada Anda? Bagaimama jika Anda malah mengantar kami pada Gaana untuk dijadikan makanan?"
Si suami mengangguk-angguk menanggapi istrinya. "Benar sekali. Bawahan iblis tetaplah bawahan iblis. Memercayai bawahan iblis sama saja dengan menistakan Dewa Krpaya. Ayo pergi."
"Tunggu. Sungguh, aku tidak memiliki maksud jahat. Jangan pergi ke sana. Itu berbahaya un--"
"Pergi! Jangan ikuti kami!" seru si istri seraya melempari Jihan dengan batu.
__ADS_1
"Tinggalkan kami! Dasar iblis!" Si suami ikut memungut batu.
"Hentikan!"