
Sepoi angin sore berhembus kasar mengusik puluhan permata merah delima yang menghiasi mahkota serta pakaian Braheim. Rambut ikal hitamnya pun tak luput dari sepoi kasar angin sore itu, namun Braheim sama sekali tidak keberatan, selama wanita berkepang satu yang tengah sibuk berlatih memanah di bawah sana masih bisa dijangkau kedua matanya.
"Yang Mulia, sudah dua menit."
Braheim menghela napas menanggapi Murat. "Hah, waktu memang kejam."
Murat berdeham, "Para menteri, tabib kerajaan, dan kepala penyidik kerajaan sudah menunggu, Yang Mulia. Siapa yang ingin Anda temui terlebih dahulu?"
"Tabib kerajaan."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Murat mengekori Braheim meninggalkan puncak istana raja.
Setelah menenangkan pikiran selama dua menit di tempat favoritnya, Braheim pun kembali bergelut dengan atmosfer ruang kerjanya yang mencekik. Terlihat sudah banyak sekali orang-orang penting yang menyesaki ruang tunggu, menanti giliran menghadap Braheim untuk menyampaikan apapun yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat Kumari Kandam.
"Tabib kerajaan tiba-tiba memiliki urusan lain yang lebih mendesak, Yang Mulia. Beliau menitipkan ini." Murat memberikan gulungan kertas pada Braheim.
"Dia tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak, Yang Mulia," balas Murat.
Braheim diam sesaat. "Ada sembilan puluh satu calon selir yang kembali harus dipulangkan, tapi jangan umumkan sampai aku selesai memilah. Karena aku tidak hanya membutuhkan selir yang cerdas dan mandul, tapi juga yang menguntungkan untuk rakyatku."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Braheim memberikan gulungan pada Murat. "Periksa lagi latar belakang keluarga mereka. Pertahankan yang memiliki Chhed*, prajurit terlatih, serta senjata perang terbanyak. Sisanya langsung pulangkan bersama sembilan puluh satu yang lain. Selanjutnya, izinkan kepala penyidik kerajaan masuk."
*Chhed* adalah sumur yang memiliki air sangat jernih, tidak surut meski di musim kemarau, dan bisa menyimpan makanan serta minuman selama belasan tahun tanpa membuatnya basi*.
Murat hanya membungkuk mengiyakan perintah Braheim, dan berjalan cepat meninggalkan ruang kerja misterius itu untuk memanggil kepala penyidik kerajaan. Sambil terus menambah kecepatan langkahnya, Murat tak henti memuji kecerdasan dan kejelian Braheim dalam segala hal. Tidak dapat dipungkiri lagi, Braheim memang teladan raja yang sejati.
"Menurut pengakuannya, Gaana* sangat kuat, Yang Mulia. Sejak menjadi kaki tangannya, dia tidak menemukan satu pun cara yang bisa benar-benar membunuh Gaana."
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
Braheim hanya mengangguk-angguk mendengarkan laporan dari kepala penyidik kerajaan. "Hamba rasa, membuat Gaana kelaparan adalah satu-satunya cara untuk saat ini, Yang Mulia," imbuh kepala penyidik kerajaan.
"Kau benar. Lalu apa lagi yang dikatakannya?"
Kepala penyidik kerajaan membalik buku catatannya. "Cara Gaana mengendalikan korbannya, Yang Mulia. Kadang Gaana mengendalikan lewat suara, tapi tak jarang Gaana juga merasuki raga korbannya."
"Apa ada alasan khusus makhluk terkutuk itu memilih mengendalikan lewat suara alih-alih merasuki raga korbannya?"
"Hamba tidak yakin bisa menjawabnya, Yang Mulia. Karena dia pun hanya berpendapat," jawab kepala penyidik kerajaan ragu.
Braheim mengubah posisi duduknya. "Biarkan aku mendengarnya."
"Jika itu yang Anda inginkan, Yang Mulia."
Kepala penyidik kerajaan pun membacakan hasil interogasinya dengan ayah Haala. Menurut pengakuan ayah Haala, Gaana hanya akan mengendalikan lewat suara jika korbannya termasuk orang-orang istimewa seperti petapa yang mengembara, cenayang, Mausam*, dan yang lain yang serupa. Tapi jika korbannya lemah, Gaana bisa langsung merasuki raganya dalam sekedipan mata.
*Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim*.
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Kepala penyidik kerajaan membungkuk pada Braheim. "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
"Murat, izinkan para menteri masuk."
Sesuai perintah Braheim, kini para menteri sudah berbaris rapi di hadapannya. Sejak perintah untuk mencari cara memanggil suku pengembara diturunkan, para menteri rajin menghadap Braheim untuk menyampaikam hasil pencariannya masing-masing. Namun sampai hari ini, tidak ada satu pun dari hasil pencarian para menteri yang disetujui Braheim karena dianggap sangat konyol.
"Jadi, bagaimana cara memanggil suku pengembara selain dengan seribu ekor domba panggang, seribu wanita telanjang, dan seribu peti perhiasan?"
"Ada satu cara terakhir, Yang Mulia," balas menteri keamanan pada Braheim.
__ADS_1
"Katakanlah. Aku sudah sangat tidak sabar untuk mengumpat."
Menteri pertahanan berdeham, "Dalam dongeng disebutkan jika suku pengembara hanya datang atas kemauan mereka, Yang Mulia. Itu artinya mereka tidak memenuhi panggilan siapa pun."
"Benar, Yang Mulia. Kecuali untuk mereka yang sakit parah," timpal menteri keamanan.
"Ada satu tempat di dalam dongeng yang dikatakan menjadi tempat suku pengembara muncul. Kita hanya perlu ke sana dan membawa mereka yang sakit la--"
"Apa kalian menghadapku tanpa membawa isi kepala? Kalian ingin mengirim mereka yang sakit ke tempat yang menempuh empat hari perjalanan dan dihuni ribuan burung pemakan bangkai?" sela Braheim pada menteri pertahanan.
"Tapi kita tidak mungkin bertahan hanya dengan membuat Gaana kelaparan, Yang Mulia. Kita harus mencoba segala cara demi meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Kita harus segera membunuh Gaana."
Menteri keamanan mengangguk menimpali menteri pertahanan. "Mereka yang sakit pun sudah bersedia dikirim ke sana, Yang Mulia. Mereka ingin membantu Anda menyudahi kesakitan di tanah Kumari Kandam ini."
...¤○●¤○●¤○●¤...
"Kakek, ada apa? Kenapa datang tanpa memberitahuku sebelumnya?"
"Laasya menghilang," balas kakek Haala pada Haala.
Haala tampak terkejut. "Laasya terakhir kali terlihat saat bergabung makan malam dengan kami," imbuh kakek Haala.
"Makan malam? Tapi, Laasya tidak suka makan malam."
Kakek Haala beranjak. "Maka dari itu. Sikapnya aneh sejak beberapa hari lalu."
Haala kembali diam, enggan bertanya ini dan itu karena takut mendengar jawaban sang kakek. Dengan nada suara cemas, kakek Haala berkata jika Laasya tidak hanya sering bergabung makan malam bersama keluarga, tetapi juga sering menyenandungkan lagu-lagu asing, dan bahkan sering berhias serta memakai banyak wewangian.
"Mungkinkah, Laasya telah dikendalikan?"
Kakek Haala menoleh pada Haala. "Apa maksudmu? Laasya telah dikendalikan? Oleh siapa?"
*FLASHBACK ON*
"Gaana. Anda telah dikendalikan oleh Gaana."
"Ya, kau benar. Di masa depan pun, dia berhasil mengendalikan adikmu," sahut Putri Gaurika.
"Apa? Laasya?"
Putri Gaurika mengangguk. "Bahkan pada akhirnya raga adikmu menyatu dengan Gaana. Itulah tujuan sebenarnya Daxraj Natesh memutar waktu. Karena dia tidak bisa membunuh Gaana yang bersemayam di tubuh adikmu."
*FLASHBACK OFF*
"Gaana."
Kecemasan di wajah kakek Haala seketika digantikan ketakutan, sesaat setelah mendengar jawaban singkat dari Haala. Jiwa suci Laasya jelas telah dilahap habis oleh Gaana, dan raganya, diambil alih Gaana untuk melakukan sesuatu yang keji. Haala mengajak sang kakek untuk ikut serta mencari Laasya dan sesegera mungkin menyembuhkannya, namun.
Kakek Haala menggeleng. "Bukan disembuhkan. Tapi dibunuh."
"Bagaimana bisa kakek melakukan hal semengerikan itu pada cucu kakek sendiri?"
"Saat jiwa seseorang dimakan sebagian oleh Gaana, dia menjadi bisu. Saat jiwa seseorang dimakan habis oleh Gaana, dia menjadi abu. Tapi saat seseorang dirasuki oleh Gaana, dia hanya tinggal cangkang," jawab kakek Haala.
Haala beranjak. "Tidak. Laasya belum mati. Kita hanya perlu mengeluarkan Gaana dari tubuhnya. Lalu setelah itu aku akan mencari ramuan untuk menyembuhkannya."
"Memang ada banyak ramuan untuk menjeda kematian, tetapi tidak ada ramuan untuk menghidupkan kembali orang mati. Bahkan sekali pun kau memintanya pada suku pengembara. Mereka tidak akan bisa meramunya."
Haala mengusap air matanya kasar. "Suku pengembara adalah suku terhebat di dunia. Aku yakin mereka memiliki ramuan apapun. Dan lagi, dari mana kakek tahu mereka tidak bisa meramu ramuan tertentu tanpa memastikannya?"
"Karena mereka bukan Tuhan, Haala."
Haala tersentak, dan seketika membisu. Air matanya tak henti tumpah, rasa sesak di lorong hatinya terus bertambah, dan fakta bahwa hanya ada satu Tuhan di dunia ini membuat pijakannya kian melemah. Laasya memang sudah mati, sejak sikapnya berubah beberapa hari lalu. Haala paham betul perihal itu, namun tetap tidak sanggup menerimanya.
__ADS_1
Kini terlaksana sudah ucapan terakhir mendiang Putri Gaurika Chander dari Narak. Gaana berhasil mengendalikan Laasya, baik di masa ini pun di masa depan. Niat mantap sang kakek untuk membunuh Laasya bukanlah kekejaman, tetapi keharusan. Sebab Gaana memang harus segera dibunuh sebelum kembali merenggut jiwa-jiwa tak berdosa.
Namun bagaimana mungkin Haala sanggup melukai tubuh adik semata wayangnya itu. Rasa marah dan tidak ikhlas mendadak bersatu mengambil kendali nurani Haala. Haala bertekad untuk melindungi Laasya sampai dirinya bisa bertemu Daxraj dan bertanya langsung tentang ada tidaknya ramuan yang bisa menghidupkan kembali orang mati.
"Aku akan melindungi Laasya sampai aku berhasil memastikan jika ramuan itu memang tidak ada di dunia ini."
"Dengan mengorbankan lebih banyak jiwa-jiwa orang tak berdosa?" tanya kakek Haala.
"Aku akan berusaha mencegahnya mendapat makanan."
Kakek Haala kembali menggeleng. "Justru sebaliknya, Haala. Kau memberinya kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak makanan."
"Sudah kukatakan aku akan berusaha mencegahnya mendapat makanan!"
"Maka habislah Kumari Kandam karena usaha sia-siamu itu." Kakek Haala meninggalkan ruang tunggu istana prajurit.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Helaan napas enggan terdengar nyaring saling bersahutan dengan decakan kesal. Di sekitar kolam kura-kura bercangkang emas, beberapa orang calon selir tengah mencari kesibukan. Mereka bosan menunggu hasil ujian pemilihan tahap kedua yang hampir dua pekan tidak kunjung ada tanda-tanda akan diumumkan.
Kumari Kandam yang disokong banyak aturan ketat pun semakin menambah kebosanan wanita-wanita berparas menawan itu. Apa yang mereka inginkan memang selalu terpenuhi, tetapi tetap saja rasa bosan terus membuntuti. Hingga salah seorang calon selir iseng membahas gosip-gosip yang tersohor tak kunjung dingin.
Mulai dari gosip tentang Raja Kumari Kandam yang diam-diam jatuh cinta pada komandan perangnya. Penasihat raja Kumari Kandam yang kabarnya sering mengunjungi istana ratu saat tengah malam. Dan rupa Ratu Kumari Kandam yang membuat penasaran para calon selir karena belum pernah sekali pun menampakkan batang hidungnya.
"Apa? Jadi Yang Mulia Braheim menyukai laki-laki?"
Calon selir keenam puluh menggeleng pada calon selir ketujuh puluh. "Komandan perang Kumari Kandam adalah wanita."
"Menarik. Tapi jika tidak ada bukti, bukankah kita sama saja hanya dihasut oleh gosip yang dibuat orang-orang yang gemar membaca buku erotis?"
Calon selir kesembilan puluh terbahak menanggapi calon selir kedelapan puluh. "Bahkan sekali pun benar-benar ada bukti yang jelas, aku tidak akan memercayainya sebelum mataku membuktikannya sendiri."
"Ya. Kau benar. Kurasa itu hanya gosip. Jika pun memang bukan gosip, Yang Mulia Braheim pasti hanya sedang bosan bercinta dengan ratunya. Karena di mana pun itu, cinta seorang raja hanya untuk rakyatnya."
Calon selir ketujuh puluh menoleh pada calon selir keenam puluh. "Kau lupa ada undang-undang di Kumari Kandam yang menyebutkan jika pria dan wanita yang berhubungan badan sebelum menikah akan dikirim ke Baadal*?"
*Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana*.
"Mengerikan. Ternyata Kumari Kandam adalah neraka."
"Tidak. Masih ada surga di Kumari Kandam. Lihatlah, di sana." Calon selir kedelapan puluh menunjuk sesuatu.
Ketiga calon selir yang lain pun spontan mengikuti telunjuk lentik calon selir kedelapan puluh menunjuk. Terlihat dari kejauhan, Braheim baru saja keluar dari istananya dengan diekori Murat. Mimik wajah bosan keempat calon selir itu pun seketika berubah berseri, saat melihat sosok Raja Kumari Kandam yang tampak luar biasa tampan dengan jubah kebesarannya.
"Aku bisa merasakannya, pertahanan Yang Mulia Braheim sangat kuat."
"Kau benar. Sepertinya menghancurkan pertahanan itu tidak cukup hanya dengan duduk di atas tubuhnya saja," sahut calon selir kesembilan puluh pada calon selir kedelapan puluh seraya terbahak.
"Penasihat Murat pun cukup tampan, bukan?"
"Pertahanan Penasihat Murat juga sepertinya tidak kalah kuat," balas calon selir keenam puluh pada calon selir ketujuh puluh.
"Kudengar Penasihat Murat memiliki hubungan istimewa dengan Yang Mulia Ratu. Ada yang pernah melihat Penasihat Murat mengunjungi istana ratu saat tengah malam."
Calon selir kesembilan puluh kembali terbahak. "Siapa pun yang membuat gosip ini, dia benar-benar penggemar buku erotis. Yang Mulia Braheim menyukai komandan perangnya. Sedangkan Penasihat Murat mengunjungi istana ratu saat malam. Lalu apa lagi? Mereka bercinta sampai fajar? Konyol."
Calon selir kedelapan puluh ikut terbahak. "Tapi aku penasaran dengan rupa Yang Mulia Ratu? Kenapa Beliau tidak pernah muncul?"
"Aku pernah melihat Yang Mulia Ratu secara tidak sengaja."
Ketiga calon selir menoleh pada calon selir ketujuh puluh, bersabar menanti jawaban atas rasa penasaran mereka tentang rupa Ratu Kumari Kandam. Saat itu calon selir ketujuh puluh sedang mencari pelayan pribadinya yang tak kunjung kembali dari dapur kerajaan. Dan saat itulah calon selir ketujuh puluh tidak sengaja berpapasan dengan Jihan.
"... Beliau sangat cantik, tapi juga sangat aneh. Padahal aku hanya ingin memberi salam, tapi Beliau langsung berlari. Beliau seperti orang yang ketakutan," tambah calon selir ketujuh puluh.
__ADS_1