TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 57


__ADS_3

Sejak berita tentang Gaana yang masih hidup sampai ke telinga para raja dan rakyat, situasi di delapan benua menjadi genting. Diketahui Gaana tidak mati meski sudah ditelan hidup-hidup oleh Ghinauna*. Bahkan sebaliknya, Gaanalah yang membuat hewan keramat itu mati dengan cara memakan sedikit demi sedikit jiwanya yang ternyata setara dengan tujuh ribu jiwa suci.


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


Rapat darurat pun digelar secera serentak meski di tempat yang berbeda. Tidak hanya raja, penasihat, serta para menteri saja yang sibuk melainkan juga burung-burung pengantar pesan. Mengingat Gaana yang bisa kembali muncul dan menyerang kapan saja, rapat pun dipaksa terus berjalan tanpa bisa membuat siapa pun beristirahat. Tanpa terkecuali.


Dan sesuai kesepakatan kedelapan raja, didapatkanlah tiga buah hasil. Pertama, rakyat akan disembunyikan ke tempat aman yakni bekas tempat tinggal suku pengembara. Karena tempat itu terbukti tidak didekati Gaana. Awalnya Braheim menyarankan untuk mengirim rakyat dari benua lain ke Kumari Kandam mengingat tempat aman seperti itu hanya ada di sana. Namun.


"Itu tidak perlu, Yang Mulia."


Braheim memutar kursinya, menghadap pengawal bayangannya yang hanya bisa dilihat oleh penerus tahta yang sah. "Apa maksudmu?"


"Suku pengembara tidak hanya menjelajahi Kumari Kandam tapi juga Chamakaadar, Garjan, Hathelee, Jvaala, Lagaam, Padachihn, dan Shushk."


"Begitu. Jadi ada tempat aman di setiap benua."


"Benar, Yang Mulia," jawab pengawal bayangan Braheim bersamaan.


"Lalu apa semua tempat aman terletak di dalam air terjun seperti di sini?"


"Tidak, Yang Mulia. Beberapa terletak di bawah tanah, di puncak gunung, dan di dalam batu."


"Petunjuk untuk menemukan tempat aman adalah kupu-kupu hitam," timpal pengawal bayangan Braheim yang lain.


Braheim mengangguk-angguk seraya kembali memutar kursinya menghadap meja rapat darurat. "Kirim pesan ke tujuh benua. Minta mereka untuk segera menyembunyikan rakyatnya ke tempat yang terdapat kupu-kupu hitam."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Kedua, komandan perang dan empat puluh ribu prajurit ditugaskan menjaga tiap-tiap danau yang merupakan rumah Ghinauna. Mereka juga harus menaburkan Gandh* setiap satu jam sekali untuk memastikan jika Ghinauna yang sedang mereka jaga adalah Ghinauna asli. Ketiga, setiap benua diwajibkan mengirim sepuluh ribu prajurit dan senjata sebagai bentuk kerja sama.


Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


"Yang Mulia, menurut hamba kita tidak perlu lagi mengirim Gandh ke tujuh benua," pungkas Murat pada Braheim.

__ADS_1


"Alasannya?"


"Pertama, pihak kuil mengaku kelelahan, Yang Mulia. Dan terakhir, kitalah yang harus memiliki Gandh lebih banyak dari siapa pun. Karena Kumari Kandamlah yang akan diserang Gaana lebih dulu."


Braheim menghentikan gerak sibuk tangannya mencoret laporan. "Lalu bagaimana jika Chamakaadar yang diserang lebih dulu? Atau Garjan? Atau Hathelee? Atau Jvaala? Atau Lagaam? Atau Padachihn? Dan atau Shushk? Kau bersedia bertanggung jawab?"


"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."


"Kita tidak tahu benua mana yang akan diserang Gaana lebih dulu. Untuk itulah kita berjaga-jaga, Murat."


Dan terakhir, raja di tiap-tiap benua ditemani wakil komandan perang berikut lima puluh ribu pasukan tempurnya, akan menjaga gerbang utama setiap hari. Tak peduli meski terik mengelupas kulit, dingin mencabik tulang, dan rasa bosan memprovokasi kantuk, para raja dengan zirah dan senjata lengkap yang duduk di atas kuda-kudanya yang gagah tetap setia menyambut sang malapetaka.


"Sepertinya hari ini pun tidak ada yang perlu kita sambut," ujar Braheim sembari melepas penutup kepalanya.


Sayangnya tidak hanya hari itu. Tapi juga esoknya, lusanya, sepekan kemudian, sebulan kemudian, dan seterusnya. Gaana kembali menjadi teror, seakan itulah tujuannya. Situasi genting yang hambar itu kemudian dijadikan celah untuk mengadakan pertemuan rahasia antar raja. Untuk pertama kali, Rona* dijadikan tempat membahas hal yang tidak berkaitan dengan hukuman mati.


Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.


"Apa boleh buat. Ratuku mandul. Padahal dia sangat sempurna," balas Raja Garjan pada Raja Hathelee.


"Ratuku lebih parah dari itu. Jangankan membuat penerus, bersandar di ranjang pun dia kesulitan. Penyakit aneh menggerogoti tubuhnya sejak empat tahun lalu."


"Aku turut prihatin. Semoga Tuhan segera mengangkat penyakitnya. Lalu bagaimana? Kau melampiaskan itu pada selirmu?" Raja Jvaala menunjuk ******** Raja Shushk dengan matanya.


"Pada siapa lagi. Hah, berahi selir-selir itu sungguh bukan main."


Raja Padachihn tertawa. "Bagaimana dengan Ratu Lagaam?"


"Ratuku mengalami depresi setelah kehilangan anak pertama kami dalam kecelakaan. Sejak saat itu dia mengasingkan diri ke istana lain dan menolak bertemu denganku."


"Aku baru mendengar kabar itu. Pasti sangat sulit. Semoga hubungan kalian bisa kembali seperti sedia kala," sahut Raja Chamakadaar.


"Bagaimana dengan Ratu Chamakadaar sendiri?"

__ADS_1


Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir, mendengus, "Dia wanita yang sangat jahat. Aku sampai bertanya-tanya bagaimana bisa dulu aku memilihnya?"


"Itu masalah yang lebih serius dibandingkan masalah yang menimpa ratu-ratu kami."


Raja Garjan mengangguk menimpali Raja Shushk. "Daripada itu, intinya kita tidak memiliki penerus. Itu adalah kejahatan serius seorang raja. Karena kursi penerus harus terus terisi."


"Tetapi tetap saja yang mengisi kursi itu haruslah yang lahir dari rahim wanita baik-baik. Karena rakyat akan sama menderitanya antara tidak memiliki pemimpin atau dipimpin oleh raja yang jahat."


Raja Padachihn ikut mengangguk menanggapi Raja Hathelee. "Aku setuju. Bagaimana menurutmu Raja Braheim?"


"Aku juga setuju," sahut braheim.


Raja Lagaam berdeham, "Lalu bagaimana dengan Ratu Kumari Kandam?"


"Sebelas dua belas dengan Gaana. Daripada itu, aku sudah memutuskan siapa penerusku."


Ketujuh raja diam. "Aku akan memberikan kursi penerus Kumari Kandam pada keturunan pemimpin suku pengembara, Daxraj Natesh," imbuh Braheim.


Ketujuh raja masih diam. "Aku tahu akan sulit untuk kalian memercayainya."


"Aku percaya. Aku hanya terkejut karena ternyata pemimpin suku pengembara memiliki nama."


"Jujur saja selama ini aku menggunakan banyak cara konyol untuk memanggil pemimpin suku pengembara. Aku ingin memohon ramuan untuk ratuku," timpal Raja Lagaam pada Raja Shushk.


"Mengejutkan sekali aku memiliki sekutu sebanyak ini. Bagaimana dengan yang lain?" Raja Arshaq melihat bergantian ke arah Raja Garjan, Raja Hathelee, Raja Jvaala, dan Raja Padachihn.


Raja Padachihn berdeham, "Pemimpin suku pengembara? Bukankah itu hanya dongeng?"


Raja Hathelee ikut berdeham, "Kupikir hanya anak-anak yang tidak bisa hidup tanpa botol susu yang akan memercayainya."


"Ini mengkhawatirkan. Apa Garjan sedang dipermainkan?"


"Tidak hanya Garjan yang dipermainkan di sini." Raja Jvaala menimpali.

__ADS_1


__ADS_2