
"Padahal aku berniat menggunakannya sebagai kartu terakhir. Sialan. Semua karena Salmalin Josha," gumam Gaana.
Ayah Haala, Salmalin Josha, bukan tidak berhasil mengalahkan Gaana. Hanya saja Gaana kembali membuat hatinya lemah. Gaana yang kehabisan tenaga melawan ayah Haala yang tidak bisa mati, terpaksa menggunakan kartu terakhirnya. Gaana memberitahu ayah Haala jika jasad putri bungsunya, Laasya, ada di dasar danau bekas tempat tinggal Namakeen*.
Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.
Ayah Haala pun keluar dari duel. Tanpa peduli pada rajanya, pada pasukan tempurnya, juga pada tanah kelahirannya. Persis seperti saat itu, saat dirinya menyelamatkan Laasya dari cengkeraman Gaana yang kelaparan. Untuk sementara waktu, Gaana bisa bernapas lega. Gaana pun langsung menyusul Braheim ke tenggara, berniat secepat mungkin menuntaskan dendamnya.
Gaana masih bergumam, "Aku harus cepat. Sebelum si sialan Salmalin Josha itu kembali dan menguras tenagaku lagi."
"Tunggu. Sungguh, aku tidak memiliki maksud jahat. Jangan pergi ke sana. Itu berbahaya un--"
"Pergi! Jangan ikuti kami!" seru si istri seraya melempari Jihan dengan batu.
"Tinggalkan kami! Dasar iblis!" Si suami ikut memungut batu.
"Ah, sepertinya ada yang lain yang harus kubereskan sebelum Braheim Bhaavesh." Gaana menyeringai.
Gaana berniat menolong Jihan, untuk setelahnya dicekik sampai mati. Namun Braheim datang lebih dulu dan mengacaukan niat liciknya itu. Meski begitu Gaana tidak kesal. Malah sebaliknya, dirinya bisa melempar batu pada dua burung sekaligus. Gaana pun muncul, memotong nasihat bijak Braheim pada rakyatnya yang tampak ketakutan.
" ... Kembalilah ke tempat aman. Bawa serta juga yang lain. Aku akan menentukan hukuman untuk kalian se--"
"Aku khawatir mereka tidak akan pernah mendapat hukuman karena yang akan menghukum mereka, mendapat hukuman dariku lebih dulu," sela Gaana pada Braheim.
Braheim berbalik, menghadap Gaana. "Pergilah dengan mereka ke tempat aman."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memanggil prajurit," balas Jihan.
Spontan Gaana tertawa. "Ide bagus. Bawa saja semua prajurit yang kalian punya ke hadapanku. Kebetulan sekali perut ini sudah mulai memberontak."
Jihan tampak kesal. Ingin rasanya Jihan menyiram wajah Gaana dengan air suci seperti waktu itu. Namun tatapan Braheim yang mengisyaratkan perintah agar segera pergi membuat Jihan akhirnya hanya bisa menelan kekesalannya. Kini hanya ada Braheim dan Gaana. Rasa lelah, kehabisan siasat licik, serta diburu-burui waktu membuat musuh bebuyutan itu tidak lagi berbasa-basi.
Keduanya langsung saling menyerang, fokus mengincar bagian tubuh mana pun dari lawannya. Duel itu seri, tetapi perlahan mulai terlihat siapa yang lebih unggul. Manusia melawan iblis? Mustahil. Karena itulah akhirnya Braheim tumbang, setelah tertusuk pedangya sendiri. Namun ketika Gaana hendak meraih leher Braheim, ada yang tiba-tiba menyiramkan Gandh* padanya.
Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Sialan!" seru Gaana.
Orang yang mencari mati itu, Jihan, terpental, setelah Gaana secara spontan mendorongnya. Jihan menabrak sebuah pohon, dan seketika sekarat. Gaana terbahak, meski rasa terbakar mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Kini Gaana yakin, tidak ada lagi manusia-manusia sialan lain yang akan menghalanginya untuk mencekik penguasa Kumari Kandam itu.
"Kau tahu? Sejujurnya dia bawahan yang lebih kompeten dari Salmalin Josha."
"Dia cerdas, memiliki ambisi, dan tidak berpikir dua kali. Dia bahkan menyadari jika selama ini Daxraj Nateshlah yang sebenarnya memutar waktu," imbuh Gaana.
Braheim mengerang, bukan untuk menanggapi Gaana, tetapi untuk mengurangi rasa sakit dari pedang yang mulai ditariknya.
"Aku bahkan tidak menyadarinya sedikit pun. Sejak awal Daxraj Nateshlah yang membuat sandiwara di masa lalu. Dia mengincar ekorku, dengan membuat semuanya seolah berjalan seperti rencanaku."
Erangan Braheim kian menjadi, ketika akhirnya pedang yang menancap di selangka kirinya itu jatuh ke tanah.
"Jadi kau dikelabui olehnya? Bagaimana perasaanmu?" jawab Braheim akhirnya.
__ADS_1
"Ternyata tidak semenjengkelkan itu. Lagipula pada akhirnya aku kembali menjadi pemenang. Jadi sia-sia saja dia mengelabuiku."
"Tapi sepertinya kali ini merekalah yang akan menjadi pemenang." Braheim menunjuk sesuatu di belakang Gaana dengan pedangnya.
Perlahan, dengan perasaan enggan, Gaana pun menoleh ke belakang. Di sana, di mulut pintu danau, sudah berdiri tujuh raja dari tujuh benua dengan pasukan yang mustahil diterka jumlahnya. Tentu saja Gaana kesal, tetapi tak sekesal jika yang dihadapinya adalah Daxraj Natesh dan singa raksasa peliharaannya. Sedikit lagi. Gaana terpaksa menunda balas dendamnya sedikit lagi.
"Maaf terlambat, Raja Braheim. Ternyata cukup sulit mengenakan zirah tanpa bantuan para pelayan," ujar Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir.
"Itu akan menjadi kenangan yang berkesan untuk pakaian terakhir yang kau kenakan."
Raja Lagaam menahan tawanya. "Aku tahu, Raja Arshaq, aku tahu. Kau ingin mengatakan hal yang sama tapi bingung karena dia telanjang bulat, bukan?"
"Ya. Bersenda guraulah selagi bisa. Daripada itu, aku sempat memprediksi situasi seperti ini. Tapi tak kusangka akan benar-benar terjadi. Jadi kalian meninggalkan rakyat kalian? Sungguh, raja-raja yang zalim."
"Rakyat yang berada di bawah pimpinan raja yang zalim memiliki motivasi bertahan hidup yang kuat. Jadi simpan saja kekhawatiranmu," balas Raja Shushk pada Gaana.
"Itu benar. Tapi apakah mereka masih bisa bertahan jika yang dihadapi bukan manusia?"
"Semua yang bukan manusia ada di sini. Jika pun masih ada yang bukan manusia di luar sana, itu pasti pemimpin suku pengembara dan pasukannya."
Gaana diam, menatap Raja Garjan dengan mimik wajah yang seketika berubah dingin.
"Sepertinya Raja Garjan membuatnya takut."
"Benar. Lihat saja dia sampai tidak bisa berkata-kata," timpal Raja Hathelee pada Raja Padachihn.
__ADS_1
Takut? Bagaimana mungkin iblis nomor satu sejagad takut hanya karena omong kosong? Gaana marah pada para pengganggu yang terus bermunculan menjeda kematian Braheim. Tidak cukup dengan Salmalin Josha dan Ratu Kumari Kandam, kini para raja dari tujuh benua pun ikut mengganggunya. Mantra kembali dirapalkan, tambur kembali ditabuh, perang berdarah kembali pecah.
"Allahu Akbar," teriak Raja Jvaala seraya maju bersama pasukannya.