TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 102


__ADS_3

Rembulan malam ini tampak tak bersemangat menjalankan tugasnya, hingga enggan peduli meski penghuni langit malam lain berlomba merebut posisinya. Jelas saja. Sebab hanya sinar sang rembulan yang mampu menangkap pemandangan mengerikan di bawah sana, tepatnya di dalam portal tempat tinggal suku pengembara. Sebuah liang lahad telah dibongkar.


Tak berselang lama, teriakan seorang wanita menggema dari dalam liang lahad. Wanita itu, siapa lagi jika bukan mantan Ratu Kumari Kandam, Jihan Joozher. Tampak Jihan bersusah payah merangkak keluar dari liang lahad, setelah melempar sekop yang digenggamnya. Jihan menggeleng berulang kali, seperti menolak memercayai apa yang tengah dilihatnya di bawah sana.


"Konyol," gumam Jihan seraya berlari meninggalkan area pemakaman. "Jadi pemimpin suku pengembara benar-benar bangkit dari kubur? Konyol sekali."


Siapa pun yang ada di posisi Jihan pasti akan mengambil kesimpulan yang sama. Sebab liang lahad yang akhirnya berhasil dibongkar Jihan itu berisi peti yang bukan berisi jasad Daxraj Natesh melainkan jasad orang lain seukuran bayi. Tentu saja Jihan terkejut, namun yang lebih membuatnya terkejut adalah fakta bahwa peti itu tidak berisi abu kremasi tetapi tulang-belulang beraroma aneh.


"Aku bersumpah di nisan tertulis pemimpin suku pengembara." Jihan mulai memperlambat langkahnya yang dipenuhi ketakutan. "Mungkinkah Sanjeev Rajak berhasil masuk ke sini dan menukarnya dengan jasad orang lain? Tidak. Itu lebih konyol."


Jihan larut dalam terkaannya, tetapi masih berpegang pada tujuannya. Cahaya portal yang mulai terlihat, membuat Jihan kembali berlari. Jihan harus segera menyampaikan informasi perihal liang lahad Daxraj Natesh yang berisi tulang-belulang orang lain. Jihan berharap Murat, pelayannya, atau siapa pun itu akan muncul dari mulut pintu Hutan Mook. Namun waktu terus berlalu, dan Jihan sudah terlalu menunggu.


"Tidak ada cara lain." Jihan keluar dari portal.


Jihan berlari dengan sisa ketakutan dan rasa tidak percaya. Tetapi lagi-lagi ada saja yang membuat langkah Jihan terhenti. Ada orang lain di dalam hutan angker itu. Jihan melihat bergantian ke arah puncak Kerajaan Kumari Kandam dan ke arah asal suara yang kemungkinan besar datang dari Badaal*. Jihan pun memutar arah, setelah menyerah mendengar rengekan rasa penasarannya.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


"Apa yang sedang mereka lakukan di sana?" tanya Jihan dalam hati sembari memandangi para bawahan Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin.

__ADS_1


Rasa penasaran Jihan semakin lancang, hingga membuatnya tanpa sadar berjalan semakin mendekat. Jihan bersembunyi di balik pohon oak, menyelipkan rambutnya yang menutupi telinga, dan bergabung dalam pembicaraan bawahan Ghanzafer, diam-diam. Ada yang tidak beres. Itu terbukti dari mimik wajah putus asa bawahan Ghanzafer juga obrolan di luar strategi pertahanan.


" ... Mereka jelas sudah kehilangan akalnya. Mereka pikir hanya karena mereka berasal dari suku pengembara lalu Ghinauna akan melunak? Bahkan Raja Kumari Kandam terdahulu dan Yang Mulia Braheim saja hampir mati karena ditolak oleh Ghinauna."


Jihan membekap mulutnya mendengar perkataan satu dari sekian belas bawahan Ghanzafer.


"Kurasa mereka ingin menyucikan diri setelah kabar tentang kebangkitan pemimpin suku pengembara sampai ke telinga mereka."


"Benar. Itu masuk akal. Pemimpin mereka bangkit setelah mereka mencoba membunuh penerusnya, sudah tentu mereka ketakutan setengah mati, bukan?"


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Mereka akan mati jika dibiarkan berendam di Baadal. Begitu pun dengan kita jika kembali tanpa membawa jawaban yang diinginkan Tuan Ghanzafer."


"Aku lebih memilih menghadap Tuan Ghanzafer dengan hukuman skors dan penyitaan lencana daripada menghadap beliau dengan hanya tinggal nama."


"Aku setuju. Ada satu solusi. Mmm bagaimana jika kita menyampaikan jawaban yang diinginkan Tuan Ghanzafer?"


"Apa? Maksudmu, kau ingin kita membohongi beliau? Itu sama saja dengan menghadap beliau dengan hanya tinggal nama."


"Bukan begitu. Maksudku saat itu suku pengembara diam saja, bukan? Bukankah orang bilang diam sama artinya dengan setuju?"

__ADS_1


"Mereka memang diam, tapi raut wajah mereka tidak setuju. Apa kau tidak melihatnya? Padahal terlihat jelas sekali."


"Jelas saja. Memang siapa yang mau menerima tawaran bunuh diri? Tuan Ghanzafer hanya memberikan bantuan untuk menyingkirkan penerus pemimpin suku pengembara tanpa memberikan jaminan keselamatan. Jika aku jadi mereka pun aku tidak akan setuju me--"


"Aaakkk." Jihan buru-buru kembali membekap mulutnya, setelah tak sengaja berteriak.


"Siapa di sana?"


Terdengar bawahan Ghanzafer turun dari kudanya masing-masing, dan berjalan mendekati salah satu pohon oak. Meski begitu, jihan yang bersembunyi di balik pohon itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab seeokor kobra berukuran tak lazim tiba-tiba muncul dan memaksa Jihan bergeming. Suara dedaunan kering yang terinjak semakin jelas terdengar, pun suara belasan pedang yang dikeluarkan dari sarungnya.


"Sialan. Tidak ada jalan keluar. Tidak-tidak. Jika ada jalan untuk masuk, maka pasti ada jalan untuk keluar. Jadi tenang dan berpikirlah Jihan Joozher." Jihan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Sementara Jihan sibuk memaksa otaknya untuk berpikir, teriakan lain menggema dari dalam Baadal. Spontan bawahan Ghanzafer balik kanan, pun sang kobra. Terlihat bawahan Ghanzafer masuk ke dalam Baadal. Jihan pun menggunakan kesempatan emas itu untuk melarikan diri. Dan tinggal sedikit lagi sampai tangan Jihan bisa meraih portal tempat tinggal suku pengembara. Namun.


BRUK


Jihan terpental keras. Portal yang melindungi tempat suci itu tidak lagi menerima Jihan. Seperti menabrak balon raksasa yang dialiri listrik bertegangan tinggi, begitulah kira-kira gambaran sensasi ditolak oleh portal suci. Rasa terbakar misterius yang muncul di bagian tubuh yang menyentuh portal tidak sebanding dengan rasa tulang punggung yang remuk setelah menabrak pohon oak dengan sangat keras.


Jihan terbatuk seraya berusaha berdiri. "Ya ya ya jelas saja kau menolakku. Malah aneh jika kau masih menerimaku setelah aku menggali liang lahad Daxraj Natesh dan bahkan, melempar kepalanya dengan sekop."

__ADS_1


__ADS_2