TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 89


__ADS_3

Sepasang pengantin baru datang untuk berbulan madu ke salah satu desa yang mendapat julukan negeri dongeng, Pahaad. Bahkan rumornya Raja dan Ratu Kumari Kandam terdahulu pun sering datang ke Pahaad untuk melepas penat. Pohon serupa maple berdaun warna-warni, sungai berarus tenang dengan kerikil berkilau bak berlian, serta langit yang selalu dihiasi warna jingga. Siapa yang tidak akan membulatkan mulutnya ketika disuguhi pemandangan seperti itu?


"Sayang, aku ingin tinggal di sini."


"Hm? Itu keinginanmu atau anak kita?"


"Tentu saja itu keinginan kami berdua."


Si pengantin pria tertawa. "Baiklah-baiklah. Aku akan bertanya pada penduduk besok."


"Aku suka pondok ini."


"Pondok ini? Hmm ya, tidak masalah. Kurasa seratus karung garam cukup. Aku akan bekerja lebih keras. Ayo katakan lagi apa yang kau inginkan."


"Kau dan anak kita. Aku ingin kalian menjadi milikku selamanya." Si pengantin wanita memeluk pengantin prianya yang sedang sibuk membongkar isi tas.


"Hamba sudah menjadi milik Anda, Yang Mulia."


"Cih. Lagi-lagi memanggilku begitu. Sudah kubilang aku tidak menyukainya karena hanya akan mengingatkanku pada masa lalu yang menyebalkan."


"Oh ayolah, Yang Mulia. Anda tahu hamba tidak bermaksud seperti itu. Masa ketika Anda menjadi Ratu Kumari Kandam adalah masa di mana kita akhirnya bisa bertemu kembali, bukan? Bagaimana bisa Anda menganggap itu menyebalkan."


"Lalu haruskah aku memanggilmu budak dari Svarg*?"


Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.


Si pengantin pria kembali tertawa. "Jika itu yang Anda inginkan, Yang Mulia."


HOSH HOSH HOSH


Mimpi. Ternyata semua kebahagian itu benar hanya mimpi. Jihan sudah menduganya, sebab mimpi itu adalah yang kesembilan kalinya. Air mata Jihan menetes membahasi kedua pipinya yang semakin hari semakin kehilangan ronanya. Dan persis seperti malam-malam kemarin, Jihan kembali menjadi orang tak waras. Jihan akan melompat dari ranjangnya, dan berlari menuju bekas kamar Sanjeev Rajak, berharap bisa menemukan sisa ramuan itu, Vakr*, meski hanya setengah tetes.


Vakr* merupakan ramuan yang bisa membuat mata batin seseorang terbuka.


Jika benar masih tersisa ramuan Vakr, Jihan berencana kembali ke Benua Lagaam untuk menemui Gaana yang mendapat titipan pesan dari sang kekasih. Mungkin masih ada pesan yang lain, begitu pikir Jihan meski ragu. Namun kamar beraroma perkakas baru itu kosong, bahkan tata letaknya sudah diubah total. Jihan pun terpaksa menerima, karena perintahnya sebelum pergi ke Lagaam memang untuk membersihkan kamar yang dianggapnya terkutuk itu.


"Berangkat."


"Baik, Tuan Putri." Kusir itu langsung bergerak menuju tenggara tanpa bertanya ke mana tujuan yang dikehendaki Jihan. Sebab sudah yang kesemblian kali, si kusir mengantar Jihan ke tempat itu, tepatnya ke pusara sang kekasih, Firdoos Shyamali.


"Kita sudah sampai, Tuan Putri."


"Kembalilah ke Sitaara," balas Jihan sembari berjalan keluar dari kereta kuda.


"Maaf? Lalu bagaimana dengan Anda, Tuan Putri?"

__ADS_1


"Aku akan bercinta dengannya sampai fajar."


Si kusir bingung harus merespon apa. Biasanya Jihan hanya akan memandangi pusara Firdoos Shyamali sesaat, meludahinya berulang kali, dan kemudian kembali ke Sitaara. Tetapi kali ini benar-benar yang pertama, bukan yang kesembilan. Akhirnya si kusir memilih melanggar perintah dan bergelut dengan serangga malam, daripada harus meninggalkan orang tak waras mati kedinginan seorang diri. Namun saat Jihan kembali keesokan harinya.


"Jelaskan situasinya," ujar Jihan pada seorang pelayan.


"Mereka datang tak lama setelah Anda, dan mengatakan ingin melakukan interogasi. Mereka juga membawa tiga buah surat perintah berstempel, Putri."


"Tapi apa-apaan itu? Bukan hanya Kepala Penyidik Kumari Kandam tetapi juga Kepala Penyidik Chamakadaar dan Jvaala? Bukankah seharusnya Kepala Penyidik Lagaam yang datang? Hah, merepotkan sekali sekumpulan idiot itu. Bawakan aku Shisha*."


Shisha* merupakan metode merokok asal Timur Tengah menggunakan tabung berisi air, mangkuk, pipa, dan selang. Di dalam tabung tersebut terdapat tembakau khusus yang dipanaskan dan ditambahkan perasa atau aroma, misalnya buah-buahan.


"Anda terlihat sangat berantakan, Putri."


Jihan tak menjawab, hanya menghembuskan asap Shisha ke langit-langit.


"Mungkinkah telah terjadi sesuatu, Putri?" Kepala Penyidik Kumari Kandam kembali bertanya.


"Tenang saja. Penampilan wanita yang baru saja diperkosa jauh lebih buruk dari ini."


Ketiga Kepala Penyidik itu spontan berdeham bersamaan, salah tingkah.


"Katakan intinya. Kenapa kalian datang di waktu yang sangat tidak sopan," imbuh Jihan.


"Sebelumnya mohon maklumi ketidaksopanan kami, Putri. Situasinya sangat mendesak, jadi kami tidak memiliki pilihan lain."


"Kami mendapat perintah dari Raja kami, Raja Arshaq Zamir, Raja Braheim Bhaavesh, dan Raja Jvaala untuk melakukan interogasi pada Anda terkait kasus kaburnya Sanjeev Rajak dari penjara Chamakadaar."


"Aku tidak mengerti," balas Jihan pada Kepala Penyidik Chamakadaar.


"Berdasarkan hasil penyelidikan di tempat kejadian yakni jejak lubang terakhir yang digali Sanjeev Rajak, serta pengakuan para saksi yakni mantan pekerja rumah bordil dan penduduk Desa Raseela, Anda ditetapkan sebagai satu-satunya orang yang paling mungkin menyembunyikan Sanjeev Rajak."


"Apa? Dia meloloskan diri dari penjara Chamakadaar dengan cara menggali tanah? Dasar gila." Jihan menyesap Shishanya, lalu menoleh pada Kepala Penyidik Jvaala. "Sayang sekali tapi aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan tua bangka itu."


"Mohon kerja sama Anda, Putri." Kepala Penyidik Jvaala meletakkan surat perintah interogasi, penggeledahan, dan penahanan di atas meja.


Jihan melihat tiga buah surat itu bergantian seraya memainkan asap Shishanya. "Kuakui aku memang bertemu dengannya hari itu. Tapi tujuan kami berbeda, dan kami berpisah. Hanya itu."


Ketiga Kepala Penyidik itu saling menatap satu sama lain. Jihan mengerti betul arti dari tatapan itu. Benar, tatapan tidak percaya. Akhirnya Jihan mengizinkan mereka untuk menggeledah, hanya sampai Shisha yang disesapnya habis. Namun ketiga Kepala Penyidik berikut orang-orangnya itu pamit undur diri, padahal tabung Shisha beraroma kayu manis itu terlihat masih setengah. Sebab mereka tidak berhasil mendapatkan bukti, atau barang bukti itu memang sudah dilenyapkan. Entahlah.


Jihan memandangi kereta kuda ketiga Kepala Penyidik yang mulai menjauh dari Sitaara. "Apakah kalian yang bertanggung jawab membersihkan kamar tua bangka itu?"


"Benar, Tuan Putri."


"Lalu ke mana kalian membuang mayat-mayat yang dijadikan kelinci percobaan olehnya?" tanya Jihan lagi.

__ADS_1


"Kami membuangnya sebagian ke Maan* dan sebagian yang lain ke tempat tinggal Daant*."


Maan* merupakan pohon yang memiliki fungsi seperti pengawet. Di zaman pemerintahan Raja Kumari Kandam I, maan banyak dimanfaatkan untuk menyimpan daging hewan saat hari qurban umat muslim.


Daant* buaya yang biasanya menghuni sungai yang masih belum terjamah manusia.


"Rupanya tidak cukup tua bangka itu saja yang gila tetapi kalian juga. Kenapa tidak kalian kuburkan kembali mereka ke liang lahadnya, hah?"


Belasan pelayan wanita itu buru-buru bersujud di hadapan Jihan.


"Ambil kembali jasad mereka, lalu kuburkan di liang lahad mana pun yang kosong. Sekarang!" seru Jihan.


Satu masalah selesai. Itu yang Jihan pikirkan sampai salah seorang pengawalnya datang menyampaikan kabar buruk, seburuk suasana hatinya selama sembilan hari belakangan.


" ... Kepala Penyidik Kumari Kandam, Chamakadaar dan Jvaala berikut orang-orangnya ternyata tidak benar-benar kembali. Mereka bersembunyi dan mengintai. Lalu saat para pelayan itu keluar dari Sitaara, ketiga Kepala Penyidik langsung menyergap arak-arakan kereta mereka dan membawanya pada Yang Mulia Braheim."


Jihan mendecak, "Cih. Rupanya mereka bukan sekumpulan idiot."


"Mohon beri perintah untuk menghabisi para pelayan itu sebelum mereka membuka mulut dan membahayakan keselamatan Anda, Putri."


"Keluarlah," sahut Jihan pada pengawalnya.


"Maaf?"


"Ternyata kaulah idiot yang sebenarnya. Kubilang keluar, sialan!"


Jihan mengatur napasnya sambil memandangi cermin kesayangannya yang kini menjadi kepingan tidak berguna. Suasana hati Jihan kian memburuk, menyadari harga bayaran dari persekongkolannya dengan Sanjeev Rajak. Para pelayan yang kini digiring ke hadapan Braheim berbeda dengan para pelayan yang meriasnya di Kumari Kandam setiap hari. Mereka adalah pelayan yang setia. Jihan yakin akan itu karena dirinya tumbuh bersama mereka.


"Siapkan pena dan kertas. Aku akan mengirim surat balasan untuk Yang Mulia Braheim."


"Silakan, Putri." Seorang pelayan dengan cekatan menyiapkan apa yang diminta Jihan. "Apakah Anda ingin menyelamatkan para pelayan itu, Putri?"


"Ya."


"Cepat atau lambat mereka pasti akan menyerah dan membuka mulutnya. Jadi menurut hamba tidak ada gunanya menyelamatkan mereka."


Jihan mulai menulis. "Mereka mirip dengan si cerewet itu dan, dia. Satu dari sedikit sekali orang yang bersedia berada di pihakku tanpa mengharap balasan apapun."


Pelayan itu terdiam, mulai meragukan penilainnya tentang Jihan. Ternyata masih ada iblis yang berhati, dan iblis itu kini ada di hadapannya, sedang menulis surat balasan tanpa memedulikan tubuh serta Saree*nya yang berlumur tanah merah pemakaman.


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.


"Antarkan surat ini pada Yang Mulia Braheim. Lalu segera siapkan kereta kuda dan semua yang kubutuhkan untuk satu pekan."


Si pelayan hanya menerima surat yang baru saja diberi stempel itu sembari berusaha mencerna maksud perkataan Jihan.

__ADS_1


"Entah kenapa aku merasa akan dipaksa tinggal lebih lama di sana," tambah Jihan.


__ADS_2