TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 21


__ADS_3

Haala memandang ke luar jendela, di mana terlihat sosok Daxraj yang kini tengah berlari menuju ruangan pribadinya di istana tenggara*. Tanpa sadar Haala tersenyum, sebab tidak sekali pun pernah menyangka jika akan ada hari di mana dirinya bisa melihat sosok pemimpin suku pengembara yang kehilangan wibawanya hanya karena tak sabar membuka kotak makan siang.


*Istana tenggara* dulunya disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam*.


"Apa menu makan siang kita hari ini?"


Haala tak menjawab Daxraj, hanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya. Meski terkejut dengan sikap Haala yang tidak biasa, Daxraj tetap membalas pelukan itu. Entah sebab buku aneh yang sering dibaca Haala atau gangguan Jihan yang kian hari kian menjadi, Daxraj lebih senang merasakan debaran jantung Haala daripada diberondongi pertanyaan yang sama sekali tidak dirinya mengerti.


"Apa ada masalah?" tanya Daxraj lagi.


"Aku bertemu Yang Mulia Raja hari ini."


Daxraj mengangguk menanggapi Haala. "Lalu?"


"Beliau mengatakan sesuatu yang membuat hatiku hampir goyah."


"Itu adalah ujian bagi para pasangan yang hendak menikah," balas Daxraj.


"Bukan itu."


Daxraj melepas pelukannya. "Bukan itu?"


"Cukup maafkan hati ini yang hampir saja goyah karena Yang Mulia Raja. Dan maaf karena sepertinya akan butuh waktu lama untukku memberikan hati ini padamu."


Kini berganti Daxraj yang mengunci mulut, mengabaikan apa yang baru saja dikatakan Haala. Perlahan Haala pun mendongak, membalas tatapan Daxraj yang terasa begitu hangat. Aktivitas tatap-menatap itu berlangsung cukup lama, hingga entah bagaimana bisa berakhir dengan kecupan, ciuman, hingga sentuhan-sentuhan yang merusak pakaian satu sama lain.


Namun aksi penuh berahi itu terjeda di saat Daxraj menanggalkan jubahnya. Tampak bagian atas tubuh Daxraj sampai batas pergelangan kedua tangannya dipenuhi semacam tanda bertuliskan bahasa Videsh*. Daxraj yang paham dengan kerut penuh tanda tanya di wajah Haala, mengelabui berahinya, dan mulai menjelaskan jika tanda itu sudah ada sejak dirinya lahir.


*Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit*.


Haala hendak mengangguk mengerti, tetapi diurungkannya sebab matanya baru saja menangkap sebaris kalimat yang tidak asing. Spontan Haala membenahi Saree*nya, lalu menggandeng Daxraj menuju jendela. Haala berniat menyinari tubuh penuh tinta hitam pegam itu dengan sisa terik sang surya, demi memastikan sebaris kalimat yang meski sesaat, cukup membuatnya bergidik.


*Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya*.


"Ada apa?"


"Ada satu kalimat yang kutahu," jawab Haala dengan tetap menyibukkan diri memandangi tubuh Daxraj.


"Dunia akan binasa karena penerus sumpah setia Yusef Bahadir memberikan hatinya pada orang yang salah."


Spontan Haala menghentikan kesibukannya. "Kau tahu tentang itu?"


"Tentu saja. Awalnya aku tidak percaya. Tapi tiba-tiba kau datang menemuiku dan mengajakku menikah demi mencegah kebinasaan dunia."


"Apa?"


Daxraj menunjukkan letak tulisan yang dicari Haala secara acak sambil mengulang ucapannya. "Dunia akan binasa ... orang yang salah. Itu adalah ramalan leluhurku. Dan entah bagaimana kau bisa mengetahuinya meski selama ini aku tidak pernah memberitahukannya pada siapa pun."


"Tunggu, lelulurmu? Mungkinkah, suku pengembara?" tanya Haala ragu.


"Mungkin."


"Apa maksudmu dengan mungkin?" tanya Haala lagi.


"Kupikir selain aku dan kau, hanya bayi-bayi yang memercayai jika suku pengembara benar-benar ada di dunia ini."


Dan, lagi. Perubahan baru di masa lalu yang terasa seperti masa depan, lagi-lagi datang sesuka hati. Bagaimana mungkin pemimpin suku pengembara tidak memercayai kebenaran eksistensi sukunya sendiri. Haala kembali berpikir keras, untuk menemukan setidaknya salah satu jawaban dari penyebab penyakit sang adik, keberadaan Murat Iskender, atau jujur tidaknya sikap Daxraj selama ini.


"Seharusnya aku tidak perlu membingungkan apapun dan fokus saja pada janjiku untuk berusaha mencintaimu."


Daxraj memeluk Haala. "Tidak perlu terburu-buru. Berusaha sewajarnya saja. Pernikahan tetap bisa berjalan meski satu dari dua hati tidak sejalan. Pernikahan tetap akan sah karena perasaan bisa kapan saja berubah."


Haala menyambut pelukan Daxraj. "Ya, kau benar."


"Daripada itu, kupikir aku terlalu percaya diri tentang diriku yang adalah pemimpin suku pengembara. Bagaimana jika aku hanyalah seorang bawahan? Dan jika pun harus menikah, bukankah seharusnya aku menikahi ayahmu yang saat ini merupakan penerus sumpah setia Yusef Bahadir?"

__ADS_1


Spontan Haala tertawa. "Kurasa kali ini kau yang membaca buku aneh."


Daxraj ikut tertawa. "Maaf tapi aku hanya tertarik membaca buku erotis."


...¤○●¤○●¤○●¤...


HOSH.. HOSH.. HOSH..


Terlihat peluh demi peluh di wajah Braheim menetes semakin deras membasahi bantal tidur sutranya. Napas Braheim pun terdengar tersengal, seakan saat ini dirinya tengah dikejar oleh sesuatu yang paling menakutkan. Dan teriakan pilu Braheim, seketika membuat puluhan prajurit bersenjata mendobrak pintu kamar tidurnya.


Kepala pengurus istana raja langsung menuangkan segelas air demi menyadarkan Braheim bahwa apa yang baru saja dialaminya hanya mimpi belaka. Namun bagi Braheim itu bukan sekadar mimpi. Karena terasa terlampau nyata, seakan memang pernah terjadi tetapi Braheim melupakannya, atau mungkin, ada yang sengaja membuatnya lupa.


Setelah merasa sedikit tenang, Braheim pun membubarkan lautan orang yang ada di dalam kamar tidur megahnya tersebut. Braheim lalu beranjak menuju balkon, berniat mencari ketenangan lewat penghuni langit malam. Tetapi bukan ketenangan yang pada akhirnya Braheim dapatkan, melainkan kilas balik mimpinya beberapa menit lalu.


*FLASHBACK ON*


“Tolong jangan melakukan tindakan seperti tadi lagi di lain waktu, Yang Mulia.”


Braheim tersenyum menanggapi Haala. “Aku hanya menyelamatkan harga diriku sebagai seorang pria.”


“Anda bukan hanya seorang pria tetapi raja.”


“Aku raja yang berhati,” sahut Braheim.


“Berikan hati Anda pada yang pantas.”


Braheim kembali tersenyum. “Menurutmu siapa yang paling pantas mendapatkan hatiku?”


Haala terdiam cukup lama. “Hamba,” gumam Haala akhirnya.


*FLASHBACK OFF*


"Apa benar itu hanya mimpi? Atau kami memang pernah mengalaminya? Jika iya, berarti dia pernah menaruh hati padaku, begitu?" tanya Braheim dalam hati.


Sejak mimpi anehnya malam itu, pikiran Braheim terus terusik. Hatinya mendadak seperti dihunjam ketika melihat sosok Haala, dan hunjaman tersebut terasa semakin dalam saat wanita berambut emas itu tertawa bersama pria yang tidak lain adalah penasihatnya sendiri. Mulanya Braheim mengacuhkan, namun mimpi aneh itu tak lelah menyambanginya.


HOSH.. HOSH.. HOSH..


*FLASHBACK ON*


"Beri hamba waktu untuk menjawabnya, Yang Mulia."


"Aku sudah memberimu satu pekan," balas Braheim.


"Hamba masih berusaha mencari jawabannya."


Braheim meraih kedua tangan Haala. "Maka ikut sertakan aku dalam usahamu."


Haala terdiam. "Apa aku salah mengartikan ciuman kita malam itu?" imbuh Braheim.


Haala masih diam, sudut-sudut matanya mulai terasa digelitik. "Bagiku itu bukan sekadar ciuman. Karena melalui ciuman itu aku memberikan hatiku padamu. Apa kau juga demikian?" imbuh Braheim lagi.


"Ya, Yang Mulia."


Braheim tersenyum sembari menghela napas lega. "Syukurlah. Aku tak peduli pada perubahan sikapmu dan apa yang dikatakan siluman itu. Aku sudah cukup dengan fakta bahwa kau juga telah memberikan hatimu."


"Hamba berharap bisa memberikan diri ini sepenuhnya hanya pada Anda, Yang Mulia."


Spontan Braheim memeluk Haala. "Maka berikanlah hanya padaku. Apapun rintangan di depan sana, ayo hadapi bersama."


*FLASHBACK OFF*


Kejadian beberapa malam lalu kembali terulang, di mana kamar tidur Braheim yang lagi-lagi disesaki puluhan prajurit bersenjata lengkap dengan sikap siap bertempur. Meski kepala pengurus istana raja sudah menyemprotkan beragam wewangian relaksasi, nyatanya mimpi yang mengganggu Braheim tidak jera hanya dengan wewangian mewah.


Braheim terus mengingat potongan mimpinya, dan yakin akan satu hal, bahwa putri tertua komandan perang Kumari Kandam memiliki sangkut paut dengan hatinya. Braheim yang kian hari kian terusik itu pun memutuskan untuk mencari pertolongan lewat tabib kerajaan, Sanjeev Rajak, yang terkenal dengan berjuta ramuan duniawinya.

__ADS_1


"Ramuan untuk memulihkan ingatan yang hilang?"


"Ya. Aku membutuhkan ramuan seperti itu secepatnya," jawab Braheim pada Sanjeev.


"Hamba tidak bisa menjanjikan perihal waktu, Yang Mulia. Tapi sepertinya hamba memiliki ramuan yang mirip."


Braheim menghela napas. "Berikan apa saja yang kau punya. Mendapatkan yang kuinginkan sekarang rasanya lebih baik daripada menghancurkan pesta pernikahan seseorang."


"Hamba harap ini menyangkut wanita." Sanjeev meletakkan sebotol ramuan kecil di hadapan Braheim.


"Ingin rasanya aku menjawab tidak."


"Ini adalah Smrti, terbuat dari air mata peri. Smrti hanya bisa dikonsumsi saat siang hari, karena salah satu hasilnya membutuhkan bantuan awan cerah. Cukup minum satu tetes sebelum Anda memejamkan mata, dan jangan lupa, sebut nama orang yang ingin Anda ingat," terang Sanjeev.


Braheim hanya mengangguk mengerti. "Jika saat Anda terbangun turun hujan, ingatan bersama orang itu hanyalah bunga tidur belaka. Tapi jika saat Anda terbangun muncul pelangi, itu adalah ingatan Anda yang terlupakan bersama orang itu," tambah Sanjeev.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Braheim memandangi botol Smrti yang sedari tadi digenggamnya. Meski sudah meminta ramuan tersebut dari Sanjeev sejak dua hari yang lalu, Braheim tak kunjung bernyali untuk menenggaknya. Sebab Braheim ragu untuk merealisasikan rencananya jika nantinya pelangi yang akan muncul, dan Braheim pun belum siap untuk kecewa jika nantinya guyuran hujanlah yang akan menjadi jawaban.


Braheim meletakkan kembali botol Smrti, seraya menghela napas kasar. Sepoi angin sore itu sedikit menenangkan Braheim meski hanya setengah detik. Braheim beranjak menuju tempat favoritnya, balkon. Di mana tak disangka di tempat favorit Braheim itu terlihat wanita yang kemungkinan besar juga pernah menjadi favoritnya di masa yang samar.


Wanita berambut emas yang tengah sibuk menyiapkan makan siang di bawah pohon apel itu terlihat menawan dengan lilitan Saree. Braheim masih mencuri pandang, hingga sepoi angin sore mempertemukan mata mereka. Meski sesaat, Braheim yakin jika dirinya baru saja menangkap mimik wajah bersalah Haala. Keyakinan itulah yang akhirnya mengumpulkan nyali Braheim.


"Haala Anandmayee," gumam Braheim sembari meminum Smrti.


*FLASHBACK ON*


"Beritahu hamba satu rahasia Anda, Yang Mulia."


Braheim mendecak menanggapi Haala. "Kau memang keras kepala."


Haala tak menjawab. "Dan sangat kaku," imbuh Braheim.


"Hamba tidak bisa berbicara tidak sopan. Akan berbahaya jika hamba menjadi terbiasa di depan umum nantinya."


Braheim mengangguk. "Ya, kau ada benarnya. Aku memang selalu menjadi bodoh saat berada di dekatmu."


"Jadi apa rahasia Anda?"


"Itu ciuman pertamaku," jawab Braheim.


"Apa kepala hamba masih akan ada di tempatnya meski hamba tidak memercayai ucapan Anda?"


Braheim tertawa. "Belum saatnya untuk menjelaskan apapun padamu, jadi bersabarlah dan percaya saja padaku. Aku harus pergi."


Haala mengangguk. "Ah, satu lagi. Tidak perlu khawatir pada makanan, minuman, atau pun air di bak mandimu. Kau aman karena aku selalu melindungimu," tambah Braheim.


"Yang Mulia."


Braheim menoleh pada Haala. "Sejujurnya yang tadi itu bukan ciuman pertama hamba," imbuh Haala.


"Apa? Jangan katakan padaku jika si Siluman itulah yang pertama ka--"


"Itu ciuman kesekian hamba jika dihitung dengan ciuman hamba dengan Anda di dalam mimpi," sela Haala.


"Apa kau sedang menggodaku? Jika iya jangan coba-coba melakukannya pada selain aku. Mengerti? Aku pergi. Jangan memanggilku lagi karena aku tidak akan menahan diri untuk panggilan yang kedua."


"Yang Mulia."


Braheim mendecak, seraya berjalan menghampiri Haala. "Hah, Kumari Kandam bisa dalam bahaya jika ratunya mahir menggoda seperti ini."


*FLASHBACK OFF*


Braheim membuka matanya bukan karena terkejut dengan mimpinya yang berbau erotis, melainkan karena suara gaduh yang berasal dari luar. Tampak awan yang sebelumnya cerah berubah kelabu, bahkan tak lama menghitam. Sudah pasti hujan deras akan menggenangi tanah Kumari Kandam yang retak. Namun dalam sekejap awan kelabu menghilang, digantikan hamparan pelangi.

__ADS_1


"Akhirnya aku benar-benar akan menjadi penghancur pernikahan. Tentu saja. Pria idiot mana yang akan berdiam melihat wanitanya dirampas dengan cara yang kejam?" gumam Braheim sambil memandangi pelangi.


__ADS_2