
"Kupikir hanya kabar burung, tetapi tampaknya Kumari Kandam memang sedang kacau sampai-sampai aku yang datang dari tempat paling jauh bisa tiba lebih dulu."
"Salam."
"Waalaikumussalam," balas Raja Jvaala pada Braheim.
"Aku tidak bermaksud mengelak, tetapi bukankah Chamakadaar jauh lebih kacau?"
Raja Jvaala tertawa. "Aku juga tidak bermaksud membela, tetapi permasalahan kasta adalah yang paling kacau, Raja Braheim."
"Aku kalah."
Raja Jvaala kembali tertawa. "Tapi bagaimana bisa, Raja Braheim?"
"Maksudmu hubungan terlarang antara Penasihatku dan calon Ratuku atau Ratu Chamakadaar yang mengandung entah anak siapa?"
Raja Jvaala tak henti tertawa. "Masya Allah. Panjang umur untukmu Raja Braheim, yang selalu membuat orang beribadah."
Braheim membalas pelukan tiba-tiba Raja Jvaala, mengembalikan doa panjang umur raja berwajah garang tersebut, dan hilang bersama-sama ditelan pintu utama Rona*. Keenam raja dari enam benua langsung menyudahi kegiatannya masing-masing, ketika Raja Jvaala masuk ke ruangan dengan diekori Braheim. Setelah bergantian mengucap salam panjang umur pada satu sama lain, langsung dimulailah rapat darurat rahasia hari itu.
Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.
Sejak rapat darurat yang mereka gelar di Rona saat masa-masa siaga perang melawan Gaana di masa lalu, kini Rona menjadi tempat yang memiliki dua fungsi. Fungsi sebenarnya sesuai tradisi leluhur yakni sebagai tempat untuk mengadili matahari dan bulan tiap-tiap benua, serta fungsi baru yakni sebagai tempat menggelar rapat darurat rahasia sekaligus tempat saling bertukar aib antara kedelapan raja.
"Tidak cukup dengan Ratu Chamakadaar yang kacau tetapi penjara bawah tanahnya juga?"
"Oh ayolah. Jangan ingatkan aku pada wanita tak tahu berterima kasih itu." Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir, melempar anggur yang hendak dilahapnya pada Raja Hathelee.
"Baiklah-baiklah aku mengasihanimu, Raja Arshaq. Tapi sungguh, aku penasaran siapa ayahnya."
"Hentikan pembahasan ini atau akan kuusir orang-orangmu yang berdagang di Chamakadaar."
Spontan Braheim dan para raja tertawa bersamaan menikmati candaan Raja Hathelee pada Raja Arshaq. Dan dimulailah rapat darurat rahasia kedelapan raja, setelah para pelayan selesai memenuhi aneka hidangan di atas meja bundar berukuran raksasa tersebut. Masalah yang akan mereka diskusikan kali ini adalah tentang siapa lawan mereka dalam perang kebinasaan di masa depan jika Sanjeev Rajak dihukum mati.
__ADS_1
"Sebelum dihukum mati, bukankah harus ditangkap terlebih dahulu?"
Raja Shushk mengangguk-angguk menanggapi Raja Padachihn. "Dia jelas menggunakan ramuan aneh. Mustahil manusia biasa bisa menggali lubang sepanjang itu hanya dalam dua menit."
"Lalu ke mana kira-kira dia menyembunyikan diri?" tanya Raja Garjan.
"Lubang itu berakhir di sekitar Raseela*. Tapi kudengar Raja Braheim sudah melakukan pencarian besar-besaran dan tidak menemukannya di mana pun." Raja Lagaam menoleh pada Braheim.
Raseela* nama desa yang ditinggali Haala dan Jihan di masa lalu.
"Aku tahu di mana dia bersembunyi. Sayangnya ini masih dugaan."
Spontan keenam raja ikut menoleh pada Braheim, namun Braheim tak kunjung melanjutkan ucapannya. Braheim ragu. Ragu jika dugaannya itu hanya hasil dari prasangka buruknya pada Jihan yang tidak pernah luruh. Atau yang lebih parah, karena pendiriannya sebagai seorang raja yang netral, perlahan mulai dicemari. Siapa pun bebas menduga, tetapi khusus untuk seorang raja, dugaan mereka tidak bisa sembarangan diutarakan.
"Hari itu ada kebangkitan massal di Kumari Kandam."
"Apa? Maksudmu, mayat yang bangkit dari kuburnya sendiri?" Raja Arshaq hampir beranjak dari kursinya.
Raja Jvaala menggeleng. "Innalillahi. Benarkah ada kejadian seperti itu? Tapi bagaimana mungkin?"
"Ada yang membangkitkan mereka."
Raja Hathelee ikut menggeleng. "Tidak-tidak. Jangan katakan, Sanjeev Rajak?"
"Itu masih dugaan."
"Katakanlah lebih detail, Raja Braheim." Raja Garjan mendesak.
"Ada seorang pria yang kukenal di masa lalu, Firdoos Shyamali. Dia mati di hari aku menurunkan perintah untuk menggusur rumah-rumah bordil, Svarg* dan sejenisnya ...."
Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.
Ketujuh raja terlihat sangat tegang, meski apa yang kini tengah dikatakan Braheim masih sebatas dugaan.
__ADS_1
" ... Firdoos dan Jihan saling mencintai. Aku melihatnya di mata Firdoos saat dia mengatakan ingin melindungi Jihan, pun sebaliknya. Aku melihat cinta di mata Jihan saat dia tanpa ragu melepaskan mahkota Ratu Kumari Kandam," imbuh Braheim.
"Jadi maksudmu Jihan tengah menuntut balas atas kematian pria bernama Firdoos Shyamali itu, begitu?"
"Tidak masuk akal. Seperti yang dikatakan Raja Braheim, dia baru mengenal Firdoos Shyamali di masa lalu, jadi bukan salahnya jika Firdoos Shyamali di masa depan mati," timpal Raja Padachihn pada Raja Shushk.
Raja Lagaam mengangguk berulang kali. "Lalu apa kaitan semua itu dengan Sanjeev Rajak dan kebangkitan massal?"
"Lubang terakhir yang digali Sanjeev Rajak ditemukan di Raseela, dan di hari yang sama, Jihan juga ada di sana. Seorang mantan pekerja rumah bordil yang tinggal di Raseela bersaksi telah didatangi Jihan, dan ditanyai ini itu seputar Firdoos Shyamali."
"Itu artinya besar kemungkinan mereka bertemu, bertegur sapa, menyatukan tujuan, dan bersekongkol." Raja Shushk bersandar lemas di punggung kursi.
"Kalau begitu tidak diragukan lagi. Sanjeev Rajak ada bersama Jihan. Bagaimana? Haruskah kita menangkapnya sekarang juga? Kurasa delapan ribu prajurit sudah lebih dari cukup."
"Aku terkesan dengan semangatmu, Raja Arshaq. Tapi mari pikirkan rencana penangkapan yang lebih matang," sahut Raja Garjan.
"Baiklah. Masalah Sanjeev Rajak sudah selesai, dan anggap saja kita berhasil menjatuhinya hukuman mati. Lalu siapa? Maksudku musuh kita dalam perang kebinasaan di masa depan?"
Hening. Tak ada jawaban untuk pertanyaan yang baru saja dilontarkan Raja Padachihn. Karena Braheim beserta keenam raja pun menanyakan hal yang sama dalam benak masing-masing. Katakanlah Sanjeev Rajak dan Jihan yang berpotensi paling besar membawa kesengsaraan pada Kumari Kandam dan sekitarnya sudah dieksekusi. Lalu? Siapa yang menggantikan mereka? Siapa lawan mereka dalam perang kebinasaan?
"Kurasa pemimpin suku pengembara bisa memberi kita jawaban. Mari pergi temui dia. Semakin cepat semakin baik. Raja Braheim pasti tahu di mana dia tinggal." Suara antusias Raja Lagaam seketika memecah keheningan.
"Hutan Mook. Tapi kita tidak bisa sembarangan masuk. Tempat itu selain tidak menerima benda-benda peninggalan orang mati juga tidak menerima orang kotor."
"Apa? Oh ayolah yang benar saja, Raja Braheim. Tidak ada orang suci. Bahkan sekali pun itu bayi yang baru saja dilahirkan," sahut Raja Hathelee.
"Aku tahu. Oleh karenanya kita harus menyucikan diri. Di Badaal*."
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
"Astaghfirullah, itu tidak ada bedanya dengan bunuh diri," gumam Raja Jvaala.
Braheim beranjak. "Sama seperti di masa lalu. Perang bisa pecah kapan saja, dan musuh bisa jadi tidak hanya satu orang. Tidak ada cara lain. Kita harus menemui Daxraj Natesh, dengan cara apapun."
__ADS_1