TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 30


__ADS_3

Satu jam yang lalu, seorang putri dari Kerajaan Narak, Gaurika Chander, menggemparkan Kumari Kandam tidak hanya dengan kecantikan dan keinginannya menjadi selir pertama Braheim Bhaavesh saja, tetapi juga dengan kemampuannya sebagai Jyotishee, penerawang masa depan yang sejak beratus tahun silam selalu diperebutkan sebab hanya ada sedikit sekali di dunia.


Hasil terawangan Putri Gaurika tentang umur Ratu Kumari Kandam yang hanya akan sampai pada angka tiga puluh lima tahun, serta pemilik singgasana Raja Kumari Kandam yang sebenarnya bukan Braheim, langsung mengundang provokasi. Namun di luar dugaan, Braheim tampak tenang. Bahkan sangat tenang hingga membuat penasihatnya yang jeli kesulitan mengartikan ketenangan itu.


Semua orang tahu Jyotishee tidak akan salah menerawang. Oleh karenanya reaksi yang dutunjukkan Braheim haruslah panik, bukan sebaliknya. Karena posisi Braheim dalam bahaya. Orang-orang yang tunduk setengah hati pada Braheim akan mulai bersatu untuk menggulingkannya dari tahta. Dan kemungkinan besar, mulai hari ini perintah dari Braheim Bhaavesh tidak akan diindahkan lagi.


"Jadi begitu. Ratu yang sangat kucintai akan berpulang di usia yang masih sangat muda."


"Benar, Yang Mulia," balas Putri Gaurika pada Braheim.


Braheim mengangguk-angguk. "Lalu, apa maksudmu jika singgasana ini bukan milikku?"


"Ada baiknya jika hanya Anda dan hamba yang mengetahuinya, Yang Mulia."


"Tidak, itu tidak baik. Aku tidak ingin memberi satu kesempatan pun pada orang-orang yang gila tahta untuk menyusun siasat kotor." Braheim memandangi menterinya satu per satu.


"Jika itu yang Anda inginkan, Yang Mulia."


Braheim masih asyik memandangi wajah menterinya yang mulai salah tingkah. "Anda bukan pemilik singgasana Raja Kumari Kandam karena yang seharusnya Anda duduki adalah singgasana pemimpin suku pengembara," imbuh Putri Gaurika.


"Apa ada bukti jika aku adalah pemimpin suku pengembara?"


"Tanda lahir emas, pengawal bayangan, dan kematian seseorang bertanda lahir hitam," jawab Putri Gaurika.


"Kurasa itu belum cukup untuk membuktikanku sebagai pemimpin suku pengembara."


Putri Gaurika tampak terkejut. "Apa maksud Anda, Yang Mulia? Hamba sudah melihat masa depan. Anda adalah pemimpin suku pengembara."


"Aku tidak bisa menundukkan makhluk supernatural, menghapus ingatan seseorang, dan meramu ramuan penyembuh segala penyakit. Bahkan meski aku bisa melakukan satu dari yang kusebutkan, aku sama sekali masih belum layak disebut pemimpin suku pengembara."


Putri Gaurika terdiam. "Tanpa bermaksud menyangsingkan hasil penerawanganmu, putri. Tapi mungkin kau melakukan sedikit kesalahan karena masih terlalu muda," tambah Braheim.


"Mustahil Jyotishee melakukan kesalahan meski masih terlalu muda, Yang Mulia."


Braheim beranjak. "Kalau begitu biar kubuktikan jika Jyotishee juga bisa melakukan kesalahan meski masih terlalu muda."


Suasana di ruang pertemuan yang semula digaduhi bisik-bisik itu kini kembali tenang, bahkan lebih tenang dibandingkan kuil-kuil pemujaan di hari Shukravaar*. Perlahan Braheim beranjak dari singgasana megahnya, lalu menghampiri Putri Gaurika yang berada tak jauh darinya. Kini dua makhluk yang diciptakan Tuhan dengan berlebihan itu saling menelanjangi dengan tatapan.


*Shukravaar* adalah hari jumat*.


"Ada orang yang sangat ingin kutemui meski untuk menemuinya sangat sulit. Tapi aku mantap untuk menemuinya dalam beberapa hari ke depan setelah semua persiapan selesai. Beritahu aku siapa orang itu, putri?" tanya Braheim.


Putri Gaurika tidak menjawab, hanya tiba-tiba menutup rapat kedua matanya. Tampak butiran peluh mulai membasahi dahi cantik Putri Gaurika. Meski hanya asal menebak, semua orang yang ada di ruang pertemuan itu yakin jika Jyotishee yang sejak beratus tahun silam tersohor akan ketepatannya dalam hal menerawang, kini tengah membutuhkan bantuan.


Putri Gaurika membuka matanya. "Ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."


"Tidak. Justru karenamu aku menjadi tahu jika orang menjengkelkan itu masih hidup."


"Apa ma--"


"Dengar baik-baik. Aku tidak membutuhkan selir, dan terutama, orang-orang yang memiliki kekurangan. Antar Putri Gaurika Chander kembali ke Narak. Pertemuan selesai," sela Braheim pada Putri Gaurika seraya meninggalkan ruang pertemuan.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Terlihat Haala baru saja keluar dari gerbang lapangan latihan, berniat melepas lelah sejenak setelah seharian penuh melatih pasukan tempurnya. Terik mentari yang tertutup awan kelabu, angin yang membawa aroma musim semi, dan sosok indah pria terkasih yang menyendiri di puncak istana raja, terasa sudah lebih dari cukup mengusir lelah Haala.


Sosok indah itu, Braheim, entah kenapa tampak murung. Tanpa sadar kaki-kaki Haala bergerak dengan sendirinya. Bergerak menuju pria terkasihnya. Ketika tiba di puncak istana raja, Haala hanya bersembunyi di balik tembok, memandangi punggung Braheim. Lewat punggung kesepian itu Haala baru menyadari jika hubungannya dengan Braheim di masa lalu yang baru, hancur lebur.

__ADS_1


Sepertinya benang takdir memang enggan mellilit Haala dan Braheim, baik di masa lalu, masa depan, masa lalu yang baru, pun masa depan yang sebenarnya. Bahkan meski kematian Daxraj bisa membuat Haala dan Braheim bisa bersatu dengan mudah, entah kenapa takdir seolah mencegahnya dengan segala cara. Jika sudah demikian, menyerah kadang menjadi keputusan paling bijak.


"Apa yang Anda lakukan di sini, Yang Mulia?"


Spontan Braheim berbalik. "Melihatmu."


"Ya?"


Braheim kembali berbalik. "Dari sini aku biasa melihatmu melatih dan berlatih."


"Ah, jadi benar jika selama ini hamba merasa ada yang mengawasi."


"Katakan saja jika kau tidak suka," sahut Braheim.


"Ya, hamba tidak suka. Karena hanya Anda yang bisa melihat hamba."


Braheim menoleh pada Haala. "Apa kau sedang menggodaku?"


"Anda bisa menganggapnya begitu. Karena sekarang hamba tidak tahu lagi apa tujuan hamba berada di masa ini."


"Mengingat kau sangat terkejut saat tahu ayahmu menjadi kaki tangan Gaana*, sepertinya di masa depan kau tidak tahu apa-apa. Anggap saja tujuanmu berada di masa ini untuk mengetahui itu," balas Braheim.


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


"Ya, Anda benar. Hamba jadi tahu tentang misteri penyakit adik hamba, tentang Gaana, dan tentang Anda."


Braheim kembali menoleh pada Haala. "Mohon ampuni hamba, Yang Mulia. Karena telah kembali ke masa ini tanpa persetujuan Anda," imbuh Haala.


"Jika kau bersedia memelukku saat aku sedang diserang sakit kepala seperti sekarang, akan kupertimbangkan untuk memberimu sedikit pengampunan."


"Jika Daxraj Natesh ternyata masih hidup, apa kau akan kembali ke masa depan bersamanya?"


"Ya, Yang Mulia," jawab Haala mantap.


"Entah bagaimana aku bisa menyukai wanita sepertimu. Kau sangat jahat tapi aku merasa sesak saat kau hilang dari pandanganku meski sesaat."


Haala hanya tersenyum menanggapi Braheim. "Bagaimana jika ternyata ramalan leluhur suku pengembara yang kau dan Daxraj Natesh yakini selama ini sudah diubah?"


"Ramalan itu tertulis di sebuah buku kuno yang bahkan tidak terbaca saat terkena terik matahari. Jadi mustahil isinya bisa diubah dengan mudah, Yang Mulia."


Braheim menggeleng. "Tidak ada yang mustahil untuk iblis seperti Gaana. Dia bisa mengubah apapun karena bisa mengendalikan pikiran siapa pun."


*FLASHBACK ON*


Haala membuka halaman ketiga yang akan diterjemahkannya. Masih tentang kisah Ratu Kumari Kandam pertama, Khairiya Patralekha, yang ternyata berasal dari suku pengembara. Khairiya jatuh cinta pada Raja Kumari Kandam pertama. Karena adat suku pengembara melarang pernikahan dengan manusia biasa, Khairiya pun diusir dan kekuatannya dicabut.


Haala mulai membaca. "Saat penerus Raja Kumari Kandam pertama lahir, saat itu jugalah ramalan suku pengembara digemakan. Berhati-hatilah kalian anak cucu kami, pada tipu dayanya. Dan ketahuilah satu hal. Dia tidak berhasil mengendalikan apa-apa."


*FLASHBACK OFF*


"Jadi Dia yang tertulis di buku kuno adalah Gaana."


"Apa maksudmu?" tanya Braheim.


"Hamba belum yakin. Tapi jika benar Gaana mengendalikan pikiran untuk mengubah isi ramalan, maka tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Karena di buku kuno tertulis, Gaana tidak berhasil mengendalikan apa-apa."


Braheim diam sesaat. "Masih masuk akal jika pikiran suku pengembara dan Daxraj Natesh tidak bisa dikendalikan oleh Gaana. Tapi bagaimana dengan manusia biasa seperti kita?"

__ADS_1


DEG!


"Dunia akan binasa karena penerus sumpah setua Yusef Bahadir memberikan hatinya pada orang yang salah. Coba pahami. Tidakkah itu terdengar ganjil? Jika aku memang orang yang salah, lalu kenapa orang yang benar haruslah Daxraj Natesh?" tanya Braheim lagi.


DEG! DEG!


Braheim masih melanjutkan, "Apakah karena diramalkan oleh leluhur suku pengembara maka orang yang benar haruslah pemimpin suku pengembara?"


DEG! DEG! DEG!


"Gaana berhasil mengubah isi ramalan, dan mengendalikan pikiranmu untuk meyakini jika Daxraj Natesh adalah orang yang benar. Tujuannya jelas. Untuk membalas dendam padaku yang merupakan anak dari orang yang mengasingkannya, dan untuk membalas dendam pada Daxraj Natesh yang sudah membunuhnya di masa depan," tambah Braheim.


DEG! DEG! DEG! DEG!


...¤○●¤○●¤○●¤...


Gemerincing gelang yang melingkar di kedua pergelangan kaki Ratu Kumari Kandam terdengar menggema memecah kesunyian salah satu lorong di istana tenggara*. Lorong menuju kamar tidur tamu-tamu penting dari luar Kumari Kandam itu kini diisi oleh Putri Gaurika Chander dari Kerajaan Narak beserta dayang pribadi, juru masak pribadi, puluhan pengawal, dan kusir.


*Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam*.


Kedatangan Ratu Kumari Kandam, Jihan Joozher, ternyata sudah dinanti oleh Putri Gaurika. Terlihat Putri Gaurika tengah bersantai di balkon kamar tidurnya sambil menikmati secangkir minuman panas di tengah siang yang tak kalah panas. Jihan mengabaikan rutinitas aneh Putri Gaurika, dan tanpa berbasa-basi menyampaikan maksud kedatangannya.


"Kumari Kandam memang memiliki pemandangan yang indah, tapi sayang sekali sekali kau harus segera enyah."


Putri Gaurika beranjak, lalu membungkuk hormat pada Jihan. "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, bulan Kumari Kandam."


Jihan meninggalkan balkon. "Semoga perjalananmu menyenangkan."


Putri Gaurika kembali duduk di tempatnya. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Tapi masih ada urusan yang harus hamba selesaikan di sini."


Spontan Jihan menghentikan langkahnya. "Maka selesaikan urusan yang kau maksud itu sekarang juga."


"Tidak bisa karena suasana hati hamba sedang buruk."


"Persetan dengan suasana hatimu. Segera enyah dari hadapanku dasar jala*g," balas Jihan.


Putri Gaurika tertawa. "Benar, Ratu Kumari Kandam memang jala*g. Jala*g rendahan yang bahkan mau digagahi tanpa alas."


Jihan ikut tertawa. "Dan putri terhormat dari Narak ternyata adalah penonton diam-diam jala*g rendahan."


"Hamba tidak bisa menampik. Daripada itu, ketahuilah jika kita bukan musuh, Yang Mulia."


"Posisiku terancam karena permohonan tiba-tibamu untuk menjadi selir dan kau berkata kita bukan musuh?" tanya Jihan dengan nada suara setengah berteriak.


"Benar, Yang Mulia. Karena hamba sama sekali tidak tertarik untuk merebut posisi Anda."


"Lalu kenapa kau memohon untuk menjadi selirnya?" Jihan masih bertanya dengan nada suara setengah berteriak.


"Karena hamba membutuhkan kekuasaan. Dan posisi selirlah yang tersisa meski dengan kekuasaan yang tidak seberapa."


Jihan tak menjawab, hanya memasang raut wajah penasaran. "Ada dendam lama yang harus hamba balaskan, Yang Mulia," imbuh Putri Gaurika.


"Pada siapa?"


Putri Gaurika hanya tersenyum menanggapi tanya Jihan yang terdengar sangat penasaran. Dengan elegan Putri Gaurika meletakkan cangkir minumannya, lalu perlahan beranjak seraya menunjuk puncak istana raja. Tanpa sadar Jihan mengekori ke arah telunjuk lentik Putri Gaurika menunjuk, dan betapa terkejut dirinya mendapati Haala dan Braheim yang tengah terhanyut dalam pelukan terlewat mesra.


"Pada salah satu dari mereka," jawab Putri Gaurika.

__ADS_1


__ADS_2