TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 114


__ADS_3

Terlihat Jihan tengah menyenandungkan lagu cinta, sambil menyiram aneka tanaman herbal milik mendiang sang kekasih. Jihan tampak bahagia, pun tanaman-tanaman yang sudah dirawatnya selama beberapa hari terakhir. Namun kebahagiaan itu terjeda sesaat, karena Jihan kedatangan tamu. Entah siapa tamu yang bayangannya terlihat dari celah pintu itu, yang pasti bukan Murat. Sebab Murat yang Jihan kenal bukan hanya penjahat kelam*in tetapi juga tidak tahu cara bertamu.


KLEK


"Ah."


"Selamat malam, Putri." Kepala Sipir membungkuk pada Jihan.


"Murat yang memberitahumu?"


"Tidak, Putri. Ada seorang tahanan."


Spontan Jihan berbalik, hendak menanyakan orang sinting mana lagi yang terlibat dengannya. Namun Kepala Sipir membungkam bibir tanpa pulasan itu, membuat Jihan tak hanya bisa bertanya tapi juga bernapas. Jihan mencoba melepaskan diri, tetapi Kepala Sipir malah kian menjadi-jadi, berpikir bahwa itu adalah bagian dari permainan panas mereka. Jihan mengancam akan membunuh Kepala Sipir jika berani mendekat namun pria berkulit putih susu itu malah menanggalkan pakaiannya satu per satu.


"Demi Tuhan aku akan membunuhmu!" seru Jihan.


"Oh, Putri. Kau membuatku gila. Sepertinya ini akan menjadi permainan kita yang paling sempurna."


Jihan berlari ke kebun dan mengambil sekop. "Aku sungguh sangat terlatih menggunakan ini. Mendekatlah jika kau benar-benar sudah bosan hidup. Dan bercintalah dengan Sannidhi Hessa di jahanam."


"Hamba datang, Putri." Kepala Penyidik berlari setelah menanggalkan pakaian terakhirnya.


"Demi Tu–"


KLEK


Terlihat Faakhir Samama, adik Firdoos Shyamali muncul di mulut pintu. Aroma segar tanaman herbal seketika tergantikan Goan Feni*. Faakhir mulai meracau, membuat Kepala Sipir yang sangat berahi itu kesal dan berniat menendang Faakhir keluar. Namun tak disangka Faakhir lebih unggul dalam bela diri dan Kepala Sipirlah yang malah ditendang keluar. Faakhir terbahak menyaksikan Kepala Sipir menjadi tontonan penduduk. Setelah puas menempelkan wajahnya di jendela, Faakhir berganti menyerang Jihan.


Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.


"Avantika." Faakhir tiba-tiba menghambur memeluk Jihan.


"Apa? Siapa? Avantika? Hei, lepaskan aku."


"Kenapa kau membohongiku?" Faakhir melepas pelukannya dan menatap Jihan. "Jika tidak mencintaiku kenapa kau mengatakan sebaliknya? Kenapa? Kau butuh uang? Maka katakan kau butuh uang. Aku akan mencarikannya untukmu, Avantika."


"Saudara kandung memang mirip. Bahkan kebodohannya pun mirip de–"

__ADS_1


"Kau menyukai Firdoos? Jika menyukai Firdoos kenapa kau mengatakan cinta padaku? Seharusnya kau datangi pusaranya di sana." Faakhir menunjuk sembarang arah.


Jihan diam. Bukan karena cemburu dengan perempuan bernama Avantika itu melainkan karena mulai terhibur dengan racauan Faakhir.


"Kau bilang aku mahir bercinta dan kau menyukainya. Tapi kenapa setelah itu kau malah berkata tidak mencintaiku? Bukankah yang seharusnya kau katakan adalah pernikahan? Tega sekali," imbuh Faakhir.


Spontan Jihan menghapus air mata Faakhir, namun air mata itu malah kian deras menetes. Jihan cukup terkejut, sebab itu kali pertama dirinya melihat seorang pria menangis. Terlebih karena menangisi wanita yang salah.


"Avantika. Kau kembali." Faakhir mengecup punggung tangan Jihan berulang kali.


Jihan buru-buru menarik tangannya. "Pulanglah."


"Kenapa? Terbawa suasana?"


Spontan Jihan berbalik menatap Faakhir yang kini tengah berjalan ke dapur tanpa langkah terhuyung sedikit pun. "Kau? Jadi semua yang baru saja terjadi hanyalah sandiwara?"


Faakhir mengusap kasar sisa air di mulutnya. "Aku mantan pemain teater keliling."


"Apa? Aku? Kau sedang berbicara tidak sopan padaku?"


"Oh, ayolah itu melelahkan. Lagipula hanya ada kita berdua di sini," balas Faakhir seraya meninggalkan dapur.


"Aku sedang lewat dan tidak sengaja mendengar teriakan wanita yang ingin membunuh. Tidak kusangka, ternyata kau suka bermain-main sebelum bercinta."


Jihan menghela napas. "Pulanglah."


"Mau mencobanya denganku?" Faakhir menunjuk ke luar, di mana terlihat Kepala Sipir tengah kembali ke rumahnya, dengan pakaian yang entah didapatkannya dari mana. "Dia tidak akan pergi selama tahu kau hanya seorang diri di sini. Aku harus bermalam di sini. Tapi perlu kau tahu, aku tidak pernah melewati malam tanpa bercinta."


"Ternyata kalian tidak mirip." Jihan mulai melucuti Saree*nya.


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.


Faakhir ikut melucuti pakaiannya. "Ingin melanjutkan permainan kalian yang tadi?"


Jihan hanya tertawa menanggapi Faakhir. Kini Jihan sudah bertelanjang bulat, berbeda dengan Faakhir yang sengaja menyisakan pakaian bawahnya. Jihan duduk di meja makan, dan perlahan membuka kedua kakinya lebar. Tentu saja Faakhir menerima undangan menggoda itu, dan memimpin permainan. Kepala Sipir yang menyaksikan pergelutan panas itu pun ikut memanas. Demi apapun berahi Kepala Sipir sudah sampai di ubun-ubun, sampai membuatnya berpikir pelayan rendahan pun tidak masalah.


"Sialan!" Kepala Sipir menendang pintu rumah Jihan sebelum pergi dengan langkah setengah berlari.

__ADS_1


Sementara itu Jihan dan Faakhir masih berada di sana, di dapur. Keduanya tak henti bahu-membahu membawa satu sama lain ke nirwana. Bagi Jihan itu pengalaman bercinta terhebat, sebab ada rasa dalam setiap sentuhan Faakhir. Entah apa sebutan yang pas untuk rasa itu, yang pasti Jihan juga merasakannya saat menyatu dengan Firdoos. Tak terhitung sudah berapa kali wajah Firdoos muncul dalam bayangannya. Jihan tak peduli, yang dirinya inginkan saat ini hanya fajar yang datang terlambat.


"Satu lagi yang perlu kau tahu."


Jihan tak menjawab, bahkan tak bisa mendengar apa-apa. Karena sungguh, kesadaran Jihan sudah tercuri sepenuhnya oleh sesuatu yang luar biasa liar di bawah sana.


"Aku tidak pernah bercinta dengan wanita yang tidak membuatku penasaran," tambah Faakhir.


...•▪•▪•▪•▪•...


Cuaca di Kumari Kandam mendadak berubah semakin aneh. Hujan lebat yang biasa turun sepanjang hari, tiba-tiba hilang dan digantikan terik yang ekstrem, lalu digantikan lagi oleh angin p*ting beliung, dan terakhir, badai salju. Aneh, bukan? Salju di Kumari Kandam? Sekali pun buta geografi, semua orang setidaknya pasti tahu Kumari Kandam pun ketujuh benua hanya memiliki hujan dan kemarau.


Sejujurnya tidak seaneh itu. Bagi mereka yang tahu, keanehan seperti itu tidak akan berakhir menjadi masalah serius jika segera ditangani. Braheim hanya perlu mengirim salah satu orangnya untuk memberikan surat berstempel emas pada Mausam*. Ya, Mausam. Keanehan itu jelas disebabkan oleh Mausam. Di masa kepemimpinan Raja Khair*, keanehan seperti itu sering sekali terjadi bahkan dua kali dalam sehari.


Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.


Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim.


Saat ini Mausam pasti sedang bertengkar. Sejak dulu mereka memang sering bersilang pendapat tentang banyak hal. Masalahnya saat ini rombongan Raja Jvaala, Raja Lagaam, Raja Shushk dan Raja Padachihn sedang menyeberangi laut Kumari Kandam. Tak masalah jika cuaca berganti dari hujan ke terik, tetapi jelas akan menjadi masalah jika sudah berganti menjadi angin p*ting beliung atau badai salju.


Karena pergantian tiap-tiap cuaca cukup banyak memakan waktu. Saat ini rombongan kapal keempat raja terpaksa berhenti, karena angin p*ting beliung yang seperti sedang mengarah pada mereka. Tak ada jalan keluar. Prajurit penjaga pelabuhan pun tahu akan itu hingga tak ragu melepaskan tanda putih ke udara, tanda yang mengabarkan jika tengah terjadi situasi darurat di sekitar laut Kumari Kandam.


"Jika hujan atau terik tidak segera datang mengusirnya, kita semua akan mati," gumam Raja Padachihn.


Raja Jvaala menggeleng-geleng. "Bersyahadatlah kalian. Setidaknya kita bukan termasuk kaum yang membunuh dirinya sendiri karena ingin."


"Ya Dewa. Selamatkanlah setidaknya keluarga dan semua rakyat kami." Suara Raja Lagaam hampir tidak terdengar.


"Pertolongan Tuhan itu nyata. Teruslah berdoa dalam hati. Yakinlah pada pertolongan Tuhan," teriak Raja Shushk.


Namun di tengah kondisi semua orang yang sudah berserah pada Tuhannya masing-masing itu, pengawal bayangan keempat raja beserta Birousk dan Zerdad tiba-tiba bersimpuh ke arah yang berlawanan dengan datangnya angin p*ting beliung. Semua orang pun berbalik, dan melihat portal suci yang perlahan mulai terbuka. Tak berselang lama, muncul seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.


"Salam untuk Anda wahai pelindung delapan benua, wahai perisai terkuat sejagat, wahai penakluk perang kebinasaan," ujar pengawal bayangan keempat raja bersamaan.


Anak laki-laki itu, Vinder, hanya melihat bergantian ke arah pengawal bayangan keempat raja, Birousk, Zerdad, dan ke arah angin p*ting beliung. Vinder masih asyik menyisir rambut dengan sisir favoritnya, meski tahu semua orang tengah terpana sekaligus ngeri. Dan ketika angin p*ting beliung itu hampir melahap rombongan kapal keempat raja, Vinder tiba-tiba menunjuk sang angin.


"Tidur."

__ADS_1


Seolah mematuhi perintah Vinder, angin p*ting beliung itu perlahan mulai mengecil. Pun terik dan badai salju, semuanya hilang. Cuaca pukul enam sore hari itu kembali seperti semula, meski hujan lebatnya abadi karena hanya bisa dihentikan oleh Raja Kumari Kandam. Semua orang mengucap terima kasih pada Vinder, tetapi Vinder tak mengindahkan dan malah berbalik memasuki portal setelah melempar sisirnya.


"Birosuk Zarar, Zerdad Aalam, masuk. Dan ambil sisirku," imbuh Vinder.


__ADS_2