
Terlihat Haala tengah mengekori seorang penjaga memasuki penjara bawah tanah. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bulan Mulaakaat* pun tiba. Haala tidak sabar untuk menemui sang ayah yang sudah dua bulan dibui. Namun, betapa terkejutnya Haala mendapati kondisi sang ayah yang tidak hanya kurus tetapi juga penuh luka cambukan.
*Mulaakaat* merupakan bulan kunjungan untuk tahanan Kerajaan Kumari Kandam. Mulaakaat jatuh di bulan ke enam. Para pengunjung bebas berkunjung setidaknya empat kali dalam sehari sampai bulan Mulaakaat habis*.
Tidak hanya luka cambuk, Haala bahkan baru mengetahui jika sang ayah dipindahkan ke dalam sel seukuran peti mati. Sel tanpa penerangan dan jendela yang terletak di paling dasar itu sudah lama tidak digunakan sebab sejuta kali lebih mengerikan daripada hukuman penggal. Selain Gaana*, rasanya tidak ada yang pantas mendiami sel tersebut.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
"Ayah, apa yang terjadi?"
Ayah Haala tersenyum menanggapi Haala. "Seperti yang kau lihat. Ayah sedang dihukum."
Tangis Haala pecah. Melalui jeruji tua berkarat, Haala memeluk erat tubuh sang ayah yang penuh luka cambuk. Mengingat perbuatan keji ayah Haala yang telah menculik gadis-gadis untuk dijadikan makanan Gaana, hukuman demikian memanglah setimpal. Tetapi yang Haala tahu, sang ayah tidak dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan tambahan penyiksaan diam-diam.
"Apa Yang Mulia Raja yang melakukan ini pada Ayah?" tanya Haala lagi.
"Mana mungkin. Kau tahu belas kasih Yang Mulia Raja tiada taranya."
Haala melepas pelukannya. "Lalu siapa?"
"Siapa pun itu, ayah pantas menerimanya."
Haala menggeleng. "Tapi ayah bisa mati."
"Bukankah itu lebih baik?"
Haala diam, merasakan air matanya yang kembali bercucuran. "Jangan biarkan ibu dan nenekmu mengetahui kondisi ayah yang seperti ini," imbuh ayah Haala.
Sepanjang waktu kunjungannya, Haala hanya menangis. Haala menyuapi sang ayah yang terlihat sangat kelaparan, juga membalurkan sisa ramuan yang tempo hari diberikan Daxraj. Setelahnya Haala pamit dan berjanji pada sang ayah akan terus datang menjenguk. Dalam perjalanan keluar dari penjara bawah tanah, Haala menatap murka satu per satu penjaga yang bertugas.
Sudah pasti ada yang tidak beres, namun sayangnya ayah Haala bersikeras menggigit lidah. Mau tak mau Haala pun harus mencari tahu dengan caranya sendiri. Ada dua orang yang memiliki motif paling kuat untuk menyiksa ayah Haala. Siapa lagi kalau bukan dua bersaudara Murat Iskender dan Jihan Joozher. Tetapi salah, ternyata pelaku sebenarnya adalah Putri Gaurika.
CTAK! CTAK! CTAK!
"Tuan putri, tolong hentikan."
Spontan Putri Gaurika menghentikan aksinya mencambuk ayah Haala. "Tolong ampuni ayah hamba," tambah Haala.
"Di tempat asalku, manusia keji sepertinya harus berdarah setiap hari."
"Ampuni hamba tapi hukum di Narak berbeda dengan hukum di Kumari Kandam, putri," balas Haala.
"Aku tahu. Tapi aku tetap bisa melakukannya karena aku sudah menggunakan hakku."
Haala diam sebab tidak memahami perkataan Putri Gaurika. "Para putri lahir dengan diberi satu hak istimewa untuk melakukan apapun. Dan aku memutuskan menggunakan hakku untuk menyiksanya sampai mati," imbuh Putri Gaurika.
Haala tiba-tiba bersimpuh. "Mohon belas kasih Anda, putri."
"Apa itu belas kasih, komandan?"
"Hamba akan menggantikan hukuman untuk ayah hamba."
Spontan ayah Haala berteriak, "Tidak, Haala. Pergilah. Hanya ayah yang pantas menerimanya."
Haala bersujud. "Jika memang harus berdarah setiap hari, biarlah darah hamba yang melumuri cambuk itu, putri. Tapi tolong, ampuni ayah hamba."
Putri Gaurika berjalan mendekati Haala. "Tawaran yang menarik. Tapi aku enggan terlibat masalah dengan kekasih gelap Raja Kumari Kandam."
"Hamba berjanji hanya akan memberitahukannya pada Tuhan."
Putri Gaurika tersenyum. "Kalau begitu, apa boleh buat."
__ADS_1
CTAK! CTAK! CTAK!
Dan begitulah rutinitas malam Haala yang biasanya ditemani kepelikan menerjemahkan buku kuno peninggalan leluhur suku pengembara, tergantikan dengan ditemani keperihan cambuk milik Putri Gaurika Chander dari Kerajaan Narak. Meski demikian Haala merasa tenang, sebab sang ayah telah dikembalikan ke sel semula dan mendapat jatah roti dan susu layak setiap harinya.
CTAK! CTAK! CTAK!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Hari ini adalah hari kunjungan Braheim ke desa-desa. Braheim melakukan kunjungan setiap satu tahun sekali di waktu yang dirahasiakan, untuk memastikan langsung orang-orangnya bekerja dengan baik dalam menyejahterakan rakyatnya. Dan seperti biasa, kegiatan kunjungan tahunan Braheim selalu dikawal oleh komandan perangnya dan beberapa orang prajurit terpilih.
Braheim membuka tirai jendela kereta kuda. "Prajurit."
"Beri hamba perintah, Yang Mulia."
"Di mana Komandan Haala?" tanya Braheim.
"Beliau ada di barisan paling belakang, Yang Mulia."
Braheim diam sesaat. "Tidak seperti biasanya."
"Benar, Yang Mulia. Akhir-akhir ini pun Beliau tidak bersemangat melatih seperti biasanya."
"Mungkinkah dia sudah tahu tentang insiden aku dan Putri Gaurika tidur bersama?" tanya Braheim lagi, dalam hati.
"Apa perlu hamba memanggil Komandan Haala, Yang Mulia?"
"Tidak perlu. Akan berbahaya jika sampai dia menarik pedangnya karena dugaanku benar," balas Braheim seraya menutup tirai jendela kereta kuda.
Braheim kian terhanyut dalam dugaan salah kaprahnya. Bahkan Braheim berniat menyudahi agenda kunjungannya demi bisa sesegera mungkin menginterogasi kepala pengurus istana raja dan Murat Iskender yang diduganya telah memberitahu Haala perihal insiden tak masuk akal beberapa waktu lalu. Padahal alasan di balik sikap berbeda Haala adalah, luka cambuknya yang semakin parah.
Tanpa terasa agenda kunjungan Braheim pun selesai dengan aman, dan kini rombongannya tengah beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Kumari Kandam. Terlihat beberapa orang pelayan sedang sibuk menyiapkan kudapan untuk Braheim. Sementara Braheim sendiri, sibuk mengintip sesuatu dari balik tirai jendela kereta kuda.
Braheim menyudahi kegiatan tak bermartabatnya. "Pelayan."
Braheim meneguk minuman. "Panggilkan Komandan Haala."
"Komandan Haala sedang beristirahat dan meminta untuk tidak diganggu, Yang Mulia," jawab pelayan kesatu Braheim.
"Dia benar-benar tidak seperti biasanya."
"Itu karena Beliau sedang sakit, Yang Mulia." Pelayan kedua Braheim menimpali.
"Sakit?"
"Benar, Yang Mulia. Tubuh Beliau sangat panas. Se--"
"Di mana dia sekarang?" sela Braheim pada pelayan kesatunya seraya beranjak.
"Beliau beristirahat di bawah pohon ara di dekat sungai, Yang Mulia."
Braheim langsung menghampiri Haala di tempat yang diberitahukan para pelayannya. Terlihat dari kejauhan Haala sedang bersandar di bawah pohon ara, dengan dijaga kuda hitam jantan turun-temurun milik komandan perang Kumari Kandam. Dengan langkah penuh hati-hati Braheim mendekati Haala. Braheim lalu berjongkok di samping Haala yang tertidur sambil merintih itu.
Gerak tangan Braheim yang hendak menyentuh dahi Haala terhenti, ketika Haala tiba-tiba mengubah posisi tidurnya. Ujung pakaian Haala yang sedikit tersingkap mengejutkan Braheim. Bagaimana tidak, ada luka cambuk parah yang terukir di sana. Tanpa ragu Braheim pun membuka pakaian Haala, dan keterkejutannya kian menjadi saat melihat luka cambuk yang tidak terhitung jumlahnya itu.
"Yang Mulia? Panjang umur dan ter--"
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Braheim pada Haala.
Spontan Haala beranjak dan membenahi pakaiannya. "Ah, luka ini tidak seberapa, Yang Mulia."
Braheim ikut beranjak. "Jihan Joozher atau, Gaurika Chander?"
__ADS_1
Haala tampak terkejut. "Tidak perlu menjawabnya, karena akan kuseret mereka semua ke hadapan Tamaasha*," imbuh Braheim.
*Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat*.
"Tidak, Yang Mulia. Hamba bersalah, jadi hamba pantas menerima hukuman."
"Siapa pun yang menginjakkan kakinya di tanah Kumari Kandam, hanya aku yang pantas menyatakannya bersalah atau tidak! Dan hanya aku yang pantas memberinya hukuman!" seru Braheim.
"Ampuni kelancangan ha--"
BRUK!
Ucapan Haala terjeda, sebab kesadarannya yang tiba-tiba direnggut rasa sakit yang tidak tertolong lagi. Dan ketika sadar, Haala sudah berada di kamar tidur mewah yang asing, dengan Braheim yang sibuk membalurkan obat pada tubuh polosnya. Haala yang beranjak sambil buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut, membuat obat-obatan yang ada di ranjang seketika berserakan di lantai.
"Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba bisa melakukannya sendiri."
Braheim beranjak, mengambil obat-obatan di lantai. "Tidak perlu. Aku sudah melakukannya untukmu."
"Yang Mulia Ratu tidak ada hubungannya dengan luka hamba, Yang Mulia."
"Aku tahu. Dia memang gila, tapi dia penuh perhitungan," balas Braheim.
"Putri Gaurika pun tidak ada hubungannya, jika saja hamba tidak memintanya."
Braheim diam. "Semuanya salah hamba. Jadi tolong lupakan saja masalah kali ini, Yang Mulia," tambah Haala.
Braheim menghampiri Haala. "Baiklah. Akan kulupakan enam hari lagi."
"Ya?"
"Bukankah kau dicambuk selama enam hari? Akan kulupakan saat hari itu tiba. Saat dia sudah mendapat cambukan sebanyak yang kau dapatkan," jawab Braheim.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Bulan Mulaakaat masih berlangsung, dan seperti janjinya, Haala terus menjenguk sang ayah di penjara bawah tanah. Namun hari ini Haala melalui lorong-lorong gelap dan sesak penjara bawah tanah bukan untuk menjenguk ayahnya melainkan Putri Gaurika. Putri dari Kerajaan Narak itu sudah tiga hari meringkuk di sel seukuran peti mati dengan hanya ditemani luka cambukan.
Tak jauh berbeda dengan kondisi ayah Haala ketika dijebloskan ke dalam sel peti mati, Putri Gaurika pun terlihat mengenaskan. Hanya dalam waktu tiga hari sang putri kehilangan banyak berat badannya dan, harga dirinya sebagai seorang putri yang datang dari kerajaan pembuat senjata perang terhebat sepanjang masa. Pesona luar biasa Putri Gaurika seolah ditelan habis oleh kesakitan.
Dan perubahan yang paling mencolok dari Putri Gaurika adalah, sorot matanya yang jauh berbeda dengan yang pertama kali Haala tangkap. Sorot mata tenang, ikhlas, dan pasrah. Haala meletakkan bungkusan makanan serta ramuan penghilang rasa sakit di depan sel peti mati. Putri Gaurika hanya menoleh pada Haala, mengangguk dengan susah payah sembari mengucap terima kasih.
"Sungguh, bukan aku yang melakukan ini semua."
Haala kembali berjongkok. "Apa maksud Anda, putri?"
"Waktu itu aku hanya menolongnya. Tapi dia malah melakukan sesuatu yang buruk padaku."
"Dia siapa yang sedang Anda bicarakan?" tanya Haala lagi.
"Seorang wanita. Dia berkata ingin memberi kejutan pada kaki tangannya yang tidak becus dan, memberi Raja Kumari Kandam akhir yang mengerikan."
Haala tampak sangat terkejut. "Aku masih tidak menyangka pikiranku berhasil dikendalikan oleh suaranya. Suaranya yang terus terngiang memerintahkanku untuk melakukan ini dan itu," imbuh Putri Gaurika.
"Gaana. Anda telah dikendalikan oleh Gaana."
"Ya, kau benar. Di masa depan pun, dia berhasil mengendalikan adikmu," sahut Putri Gaurika.
"Apa? Laasya?"
Putri Gaurika mengangguk. "Bahkan pada akhirnya raga adikmu menyatu dengan Gaana. Itulah tujuan sebenarnya Daxraj Natesh memutar waktu. Karena dia tidak bisa membunuh Gaana yang bersemayam di tubuh adikmu."
Haala diam, kehilangan kata-kata. "Aku melihat masa depanmu melalui masa depannya, komandan."
__ADS_1
Haala semakin kehilangan kata-katanya. "Meski dipenuhi kabut yang sangat tebal, kau akan bahagia bersamanya," tambah Putri Gaurika.