
Gaana masih mematung di tempatnya, sambil memandangi punggung Braheim. Melalui punggung kokoh berbalut zirah merah menyala itu Gaana berharap bisa mendapatkan sedikit petunjuk dari maksud perkataan Braheim. Ada prajurit lain di medan peperangan itu tapi di mana? Kenapa Gaana tidak bisa melihatnya? Dan siapa sebenarnya prajurit yang dimaksud Braheim?
Gaana menduga jika Braheim hanya sedang memancing ketakutannya saja. Tetapi tidak mungkin. Tidak mungkin keturunan Khair Elhasiq menyamarkan ketakutannya dengan cara licik seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang terlampau bersih hingga membuat risih. Gaana masih fokus mencari petunjuk, sampai tidak sadar jika Braheim sudah mengangkat pedangnya.
Raja Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim.
Gaana pun menyerah, mengacuhkan berjuta tanya dalam benaknya. Akhirnya perang yang terus tertunda itu pecah, sesaat setelah Gaana ikut mengudarakan senjatanya. Pasukan tempur Gaana dan Braheim sama-sama bersemangat mengikis jarak, tetapi tidak dengan Gaana. Langkahnya melambat, kehilangan semangat, oleh sebab sesuatu yang samar-samar mulai terlihat.
"Sialan! Bawa kepala Braheim Bhaavesh padaku atau kepala kalian yang akan jadi gantinya!" seru Gaana.
Murka Gaana tumpah, setelah tanya dalam benaknya yang akhirnya terjawab lewat pemandangan itu. Ternyata prajurit lain yang dimaksud Braheim adalah sepasang pengawal bayangan milik raja dari lima benua. Pantas saja Braheim terlihat sangat tenang. Bahkan tidak hanya pengawal bayangan, Jyostishee* yang menjaga puncak menara pun ikut bergabung dalam perang.
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
__ADS_1
"Bunuh mereka semua!" seru Gaana lagi.
Beragam senjata tak henti saling beradu, pun jerit ketakutan yang bercampur dengus kesakitan yang tak henti mengukir trauma. Perang baru saja dimulai, namun Gaana berikut pasukannya hampir berhasil dipukul mundur. Sihir pengendali pikiran yang mengikat para pelindung mulai hilang, karena para Jyostishee yang dipimpin Firdoos Shyamali sukses mematahkannya.
Braheim pun sulit disentuh, karena para pengawal bayangan yang memerisainya. Satu per satu pelindung yang kesadarannya kembali pun mulai berbalik menyerang Gaana. Belum lagi hujan buatan berupa Gandh* yang mulai membuat Gaana kesakitan. Gaana terpojok karena melupakan prajurit tambahan Braheim. Namun tentu saja, hanya terpojok, bukan kalah.
Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Kuakui keberuntungan selalu memihakmu, Braheim Bhaavesh. Tapi cukup, cukup sampai di situ saja." Gaana menyeringai, sembari merapalkan sebuah mantra.
"Jika aku jadi kau, aku akan menyisakan setidaknya satu pengawal bayangan bersamaku. Kenapa? Karena manusia sepertimu sama sekali bukan tandinganku."
"Aku akan membunuhmu. Jika terjadi sesuatu padanya aku bersumpah akan membunuhmu." Braheim mengayunkan pedangnya.
__ADS_1
"Ya ya ya. Aku menantikannya. Tapi bagaimana ini? Sepertinya aku yang akan membunuhmu lebih dulu." Gaana menyeringai sambil menangkis serangan Braheim.
Braheim tak membalas, hanya berkonsentrasi menghindari serangan balasan dari Gaana yang sangat cepat. "Semua karena ayahmu yang tolol itu. Beraninya dia mencampakkanku dan memilih ibumu yang sedikit pun tidak mencintainya," imbuh Gaana.
"Apa?"
"Ya. Ibumu tidak mencintai ayahmu. Karena akulah yang mencintainya. Tapi sayangnya dia tidak hanya terlalu tolol tapi juga keras kepala. Dia dibutakan cinta ibumu yang sebenarnya tidak pernah ada."
Braheim kembali bungkam, tangkisannya mulai goyah. "Menyedihkan. Tidak ayahmu pun ibumu, mereka sangat menyedihkan. Andai saat itu mereka mati di tanganku, semua tidak akan menjadi semerepotkan ini. Cih," tambah Gaana.
DUAR
Suara ledakan yang jelas sekali terdengar dari arah tenggara membuat duel sengit antara Braheim dan Gaana berakhir seri karena keduanya yang sama-sama terpental ke arah berlawanan. Fokus Braheim yang teralihkan hanya pada langit di tenggara, memberikan kesempatan emas pada Gaana. Gaana berjalan mendekati Braheim, tak sabar untuk mencekik leher yang sudah sangat lama diincarnya itu. Namun.
__ADS_1
"Kau? Sialan!" Gaana memundurkan langkahnya.