TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 44


__ADS_3

"Daxraj Natesh."


Perlahan Braheim membuka matanya, beberapa detik setelah menyerukan nama Daxraj dalam hati. Namun sama seperti waktu itu, tidak ada yang terjadi. Ramuan Smrti* terbukti tidak bereaksi pada pemimpin suku pengembara. Tak ada hujan atau pelangi yang muncul sebagai jawaban untuk nama Daxraj yang disebut. Hanya kesunyian, serta terik sang surya yang kian menggeliat.


Smrti* merupakan ramuan pemulih ingatan yang terlupakan. Smrti terbuat dari air mata peri, dan hanya bisa dikonsumsi saat siang hari, karena hasilnya akan langsung muncul dalam bentuk hujan atau pelangi. Jika hujan yang muncul, maka mimpi yang terjadi hanyalah bunga tidur, tetapi jika pelangi yang muncul, maka bisa dipastikan itu adalah ingatan yang terlupakan.


Namun. Fokus semua orang yang berebut menelanjangi angkasa itu mulai terbagi, oleh sebab suara desis yang lambat laun terdengar keras. Tepat di pintu masuk ruang rapat, portal misterius berlatar malam hari mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dan setelah portal berbentuk lingkaran raksasa tersebut terbuka sepenuhnya, sesosok pria beserban hitam muncul.


"Salam. Semoga per--"


Sontak salam semua orang terhenti, karena Braheim yang tiba-tiba mengangkat pedang. "Siapa kau?"


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam. Perkenalkan hamba Aryesh Farorz, wakil pemimpin suku pengembara."


Braheim menurunkan pedangnya, diikuti semua orang. "Aku yakin aku tidak salah menyebut nama."


"Benar, Yang Mulia. Hamba hanya menggantikan pemimpin hamba untuk memenuhi panggilan Anda."


Braheim berjalan mendekati portal, diikuti semua orang. "Alasannya?"


"Bayaran untuk datang ke masa lalu adalah seribu tahun umur beliau. Karena beliau belum boleh mati sebelum memiliki penerus, jadi hamba berinisiatif untuk menggantikan beliau, Yang Mulia."


"Aku mengerti. Karena orang-orangku juga mengkhawatirkan hal yang sama. Daripada itu. Aku memanggilnya untuk menanyakan keikut sertaannya dalam perang melawan Gaana*."


Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.


"Hamba sudah menjawabnya, Yang Mulia."


Braheim diam sesaat. "Jadi dia tidak akan ikut serta. Kalau begitu, apakah mungkin Kumari Kandam memenangkan peperangan tanpa Daxraj Natesh?"


"Seharusnya mungkin mengingat Gaana sudah pernah menang sekali di di masa depan."


"Begitu rupanya. Aku mengerti."


Aryesh kembali membungkuk. "Jika tidak ada lagi yang ingin Anda tanyakan, hamba mohon undur di--"


"Ada. Aku." Menteri hukum keluar dari barisan sambil mengacungkan tangannya. "Itu, apa maksudnya dengan masa lalu dan masa depan? Apa sekarang kami berada di masa lalu dan kau dari masa depan?"


"Tidak. Kita semua datang dari masa depan. Karena terjadi kesalahan di masa depan, akhirnya pemimpin suku kami memutar waktu ke masa lalu."


Semua orang yang ada di ruangan itu kompak mengekspresikan mimik kebingungan. Mereka melihat ke arah satu sama lain, menanyakan pertanyaan yang sama dalam diam. Kesalahan seperti apa yang terjadi di masa depan sampai harus memutar waktu? Lalu siapa yang berbuat salah? Apa lagi-lagi Gaana? Atau Raja Kumari Kandam? Atau malah, pemimpin suku pengembara?


"Apa kesalahan yang dilakukannya adalah membunuh Haala?" tanya Braheim ragu.


"Benar, Yang Mulia."


"Sudah kuduga. Kupikir awal mula kehancuran di masa depan persis seperti saat ini, bukan? Gaana merasuki tubuh adik Haala. Haala melindunginya. Dan aku, atau bahkan pemimpinmu tidak bisa berbuat apapun karena ini." Braheim menyentuh jantungnya.


"Anda benar, Yang Mulia," balas Aryesh.


Braheim menghela napas. "Pergilah. Terima kasih telah menjawab panggilanku."


"Tapi, Yang Mulia. Bukankah masih banyak yang harus kita ketahui darinya?"


"Itu benar, Yang Mulia. Kita harus menanyakan apapun selagi dia berada di sini," timpal menteri sosial pada menteri politik.


"Hamba setuju, Yang Mulia. Karena bayaran untuk memanggilnya adalah kesakitan tanah Kumari Kandam, kita tidak boleh menyia-nyiakannya," imbuh menteri pertahanan.

__ADS_1


"Aku yang akan menjawab semua pertanyaan kalian. Aryesh Farorz, pergilah."


Aryesh membungkuk. "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Aryesh pun kembali masuk ke dalam portal. Namun anehnya portal berlatar masa depan itu belum juga menghilang meski Braheim sudah menghitung sampai angka sepuluh. Braheim berniat melangkah mendekati portal untuk memeriksa, diikuti semua orang. Tetapi seketika langkahnya terhenti, ketika sosok yang dipanggilnya dengan ramuan Smrti akhirnya muncul, tanpa serban.


"Salam. Semoga perlindungan Dewa Krpaya* selalu menyertaimu." Semua orang, kecuali Braheim kompak membungkuk pada sosok itu, Daxraj.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Apa? Ingin pamer?"


"Ingin memberimu hadiah," sahut Daxraj seraya berjalan keluar dari portal.


Braheim ikut berjalan mendekati portal, sendirian. "Mencurigakan sekali. Katakanlah."


"Tapi tidak perlu berterima kasih."


"Yang be--"


BRAK!


"Yang Mulia!" seru semua orang sembari berlarian menghampiri Braheim yang terpental hingga balkon.


Braheim terbatuk. "Tidak apa-apa. Sifat aslinya memang sangat buruk. Turunkan senjata kalian."


"Sepertinya kau sudah tahu di mana letak kesalahanmu."


Braheim masih terbatuk. "Apa boleh buat. Bibirnya terlalu menggoda meski tengah tertidur."


"Apa sebaiknya kubuat kau bertemu dengan Dewa Krpayamu itu saja? Kita bukan binatang, Braheim. Bersainglah dengan kesungguhan hati, bukan berahi."


...¤○●¤○●¤○●¤...


Ketakjuban tak berhenti sampai di sana. Karena setelah memasuki air terjun tersebut, ada banyak sekali rumah pohon yang sangat subur. Benar-benar menakjubkan, sekaligus ganjil. Berdasarkan penuturan pengawal bayangan Braheim, tempat itu dulunya adalah tempat tinggal sementara suku pengembara.


Kini tempat tersebut dijadikan tempat persembunyian rakyat Kumari Kandam yang terdiri dari wanita dan bayi. Saat diberitahu pengawal bayangan Braheim bahwa akan datang gempa bumi, Haala langsung keluar dari persembunyiannya, demi mengamankan rombongan calon selir yang tiba-tiba kembali ke Kumari Kandam.


"Ya Dewa! Pergi! Jangan mendekat! Dasar bawahan iblis!"


"Putri, cepat pergi dari sini. Dia adalah bawahan Gaana!"


"Benar, Putri. Dia sedang mengumpulkan kita untuk kemudian dijadikan makanan Gaana."


"Dewa Krpaya, tolong selamatkanlah kami dari bawahan iblis itu."


"Ya Dewa. Ya Dewa. Ya Dewa Krpaya."


"Beraninya kalian bicara seperti itu? Dasar lancang!" seru Chitrali, salah seorang calon selir yang dipulangkan.


"Itu. Itu memang benar, Putri. Dia adalah bawahan iblis. Dia kabur bersama Gaana saat insiden istana tenggara*. Dan sekarang dia sedang mengumpulkan para wanita dan bayi untuk dijadikan makanan Gaana."


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


"Omong kosong macam apa itu? Komandan Haala adalah pahlawan. Komandan Haala bahkan mengawal kami sampai ke pelabuhan karena khawatir Gaana akan menyerang."


Selir lain mengangguk-angguk menimpali Chitrali. "Tidak hanya itu saja. Komandan Haala juga membekali kami sebotol air suci."

__ADS_1


"Benar-benar. Lalu bagaimana mungkin orang yang ada bersama kami bisa muncul di istana tenggara?"


"Mmm. Itu. Semua orang berkata begitu ja--"


"Jadi kalian memercayainya begitu saja? Cih. Dasar jelata. Hei, kalian semua. Dengarkan baik-baik. Komandan Haala adalah pahlawan, bukan bawahan iblis. Mengerti?"


"Dan ketahuilah tujuan kami kembali ke Kumari Kandam adalah untuk menjadi saksi atas tuduhan tidak masuk akal yang ditujukan pada Komandan Haala! Jadi renungkanlah kesalahan kalian sebelum aku yang akan berubah menjadi bawahan iblis!" Chitrali masih berseru.


"Putri, sudahlah. Silakan ke sebelah sini. Anda sekalian harus beristirahat."


Chitrali menghela napas. "Kenapa tidak kau katakan sesuatu untuk membungkam mulut para jelata itu? Hah, rasanya aku kesal setengah mati."


"Aku juga sangat kesal. Bagaimana bisa kau diam saja diperlakukan begitu oleh orang berstatus rendah seperti mereka, Komandan? Tidak bisa dipercaya."


"Bukan apa-apa. Se--"


Ucapan Haala terjeda. Karena bumi yang dipijaknya tiba-tiba bergetar. Getaran yang semula ramah, perlahan mulai dipenuhi amarah. Terlihat dari tempat Haala dan yang lain berdiri saat ini, air terjun di luar sana mengalir tak beraturan karena bumi yang mengamuk. Mengamuk setelah diprovokasi ramuan Smrti.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Ayah Haala berdiri memandangi tanah yang baru saja disiksa gempa bumi. Tepat di bawah tanah itu, ada ruang bawah tanah. Dan Ayah Haala tahu jika istri, ayah serta ibu mertuanya tengah bersembunyi di sana. Ingin rasanya Ayah Haala menyapa, karena waktu yang dimilikinya tidak banyak lagi.


Tetapi kedua kakinya seakan dipatri oleh kenyataan yang amat pahit. Kabar tentang kematiannya sudah diumumkan ke seluruh penjuru. Meski masih belum cukup bukti akan kebenaran kematiannya, siapa yang akan menolak memercayai kabar yang diturunkan langsung oleh Raja Kumari Kandam?


"Oh, menantuku. Menantuku. Menantuku masih hidup. Terima kasih, Dewa. Terima kasih atas belas kasihmu." Nenek Haala langsung menghambur memeluk Ayah Haala.


"Suamiku."


"Maaf." Ayah Haala membalas pelukan ibu dan istrinya.


"Semua orang berkata kau sudah mati. Tapi aku tidak percaya. Menantuku tidak akan mati dengan mudah. Be--"


Kakek Haala beranjak. "Dia sudah mati."


"Ayah. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Ba--"


"Benar, istriku. Aku sudah mati. Ini bukan tubuhku."


Spontan ibu dan nenek Haala menjauh ketakutan. "Maafkan aku. Aku terpaksa meminjam tubuh orang lain dan menenggak Dikhavaat*. Karena ada urusan di dunia ini yang belum kuselesaikan," imbuh ayah Haala.


Dikhavaat* ramuan yang bisa mengubah rupa seseorang menjadi rupa orang lain yang diinginkan.


Ibu dan nenek Haala masih membisu, sembari menggeleng tak percaya. "Kalian harus menerimanya. Dia memang sudah mati. Daripada itu. Apa kau dibunuh oleh Gaana?"


"Ya, Ayah. Akhir bawahan iblis hanyalah kematian."


"Kenapa? Kenapa kau menjadi bawahannya?" Ibu Haala menangis histeris.


"Untuk menyelamatkan putri kita, Laasya. Saat itu Gaana menangkap Laasya. Aku tidak memiliki pilihan selain mengabdikan diri. Karena itulah Laasya bisa selamat."


"Ya Dewa. Sebenarnya dosa apa yang telah kami lakukan? Kenapa harus menantu dan cucuku?" Tangis nenek Haala tak kalah histeris.


"Lalu di mana mayatmu?"


"Di Hutan Laal. Arah pukul satu. Ditutupi daun bambu."


"Lalu urusan dunia seperti apa yang belum terselesaikan itu?" tanya kakek Haala lagi.

__ADS_1


"Perang melawan Gaana."


__ADS_2