
Seperti hari-hari lalu, senja hari ini pun tampak malu-malu. Jelas saja. Makhluk ciptaan Tuhan mana yang tetap bisa mempertahankan kerasionalannya ketika beradu tatap dengan Daxraj Natesh, pemimpin suku pengembara yang dianugerahi kelebihan yang terlewat lebih pada rupanya, fisiknya, isi kepalanya, dan kekuatan supernaturalnya.
Daxraj memang gemar menghabiskan sorenya bersama senja. Pria yang tersohor dengan serban hitam itu sudah melakukannya sejak kecil. Nenek moyangnya pun memiliki kegemaran yang sama. Jadi bisa dikatakan itu adalah kegemaran yang diwariskan. Meski begitu, sang senja tetap saja kesulitan membiasakan diri. Baik Daxraj kecil pun Daxraj dewasa, sama-sama membuatnya kewalahan menjalankan tugas.
Tetapi tiba-tiba sinar indah sang senja dilahap awan hitam misterius. Dan tak berselang lama, terdengar suara tawa tanpa wujud. Daxraj menghela napas, sebab tahu betul siapa pemilik suara yang menggangu itu. Bersamaan dengan helaan napas Daxraj, singa raksasa yang tengah bermalas-malasan pun beranjaj karena merasakan ada yang mengganggu tuannya.
"Apa kau mendengarku? Ah, pasti kau terkejut. Tapi kejutan memang sudah seharusnya membuat terkejut, bukan? Rasanya aku ingin sekali melihat wajah terkejutmu itu. Pasti tetap tampan bukan main."
Daxraj tak menjawab, hanya menoleh pada singa raksasa yang tengah berlari menghampirinya. "Ah, aroma lezat ini sudah pasti milik hewan kesayanganmu, bukan? Aku jadi lapar. Haruskan kutembus saja portal merepotkan ini dan menjadikannya sarapanku?"
__ADS_1
Daxraj masih tidak menjawab. "Hei, bicaralah. Aku yakin kau mendengarku. Ah, tentu saja. Kau pasti sangat terkejut sampai-sampai tidak bisa menggerakkan mulutmu, bukan?"
Daxraj membelai singa raksasanya yang mulai terpancing. "Jujur saja aku tidak terkejut. Aku tahu kau akan datang, tapi tidak kusangka hari ini. Senja hari ini adalah yang paling indah. Sayang sekali," balas Daxraj akhirnya, pada Gaana.
Gaana tertawa geli. "Aku sudah memastikan kau tidak akan bisa lagi membuka portal sesuka hatimu. Jadi bagaimana mungkin kau bisa tahu?"
Gaana tertawa, semakin geli. "Kau benar. Akulah nomor satu di alam semesta. Tunggu. Kalau begitu aku sudah memenuhi syarat, bukan? Untuk menguasai dunia? Aku sudah menjadi nomor satu, dan kau pun mengakuinya."
Daxraj kembali diam, sibuk menenangkan singa raksasanya yang sudah terpancing. "Ah, karena kejutanku untukmu gagal, aku akan memberi kejutan yang lain. Bagaimana?" imbuh Gaana.
__ADS_1
Gaana masih melanjutkan, "Braheim Bhaavesh sedang mengumpulkan pasukan, jadi aku mengimbanginya. Kau tahu siapa yang akan kujadikan pasukan? Benar. Chhota*."
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
"Tapi tidak hanya Chhota saja. Kau tahu masih ada makhluk jahanam lain yang bersembunyi di Kumari Kandam, bukan? Bagaimama? Kali ini kau pasti terkejut. Tapi bersabarlah. Biar kuratakan kedelapan benua terlebih dahulu. Baru setelahnya aku akan mendatangimu, mencekikmu, da--"
Ucapan Gaana terjeda, karena auman singa raksasa yang sudah tak kuasa lagi menahan murkanya. Auman kemurkaan itu membuat suara Gaana seketika lenyap, dan berganti suara gaduh rakyat suku pengembara yang berhamburan keluar dari tenda masing-masing. Mereka terkejut mendengar auman singa raksasa yang tidak hanya meretakkan tanah tetapi juga menelan seluruh cahaya.
"Takdir Gaana memang tidak lebih dari membalas dendamnya. Namun takdir Chhota dan yang lain berbeda. Mereka bisa memenangkan peperangan karena lawan mereka belum lahir," gumam Daxraj.
__ADS_1