
Tatapan kelaparan kawanan serigala liar itu tak lepas dari Braheim. Naluri mereka terus mendesak untuk segera memangsa, namun sosok beserban hitam yang ada di samping Braheim membuat mereka ragu. 'Mati'. Entah kenapa satu kata tersebut semakin keras terngiang, ketika mereka mendekati Braheim meski hanya setengah langkah.
Kawanan serigala liar itu pun hanya bisa kembali menahan lapar, sambil memandangi Braheim yang berhasil keluar dari wilayah kekuasaan mereka. Setelah berkuda selama enam jam tanpa istirahat, Braheim pun tiba di gua tempat Haala bersembunyi selama ini. Pengawal bayangan Braheim yang lain langsung membungkuk menyambut kedatangannya.
Braheim memaksa mengamati sekitar meski tak leluasa karena cahaya yang terbatas. Gua itu benar-benar aman. Jangankan serigala, Nishir Dak* sekalipun tak akan sudi menginjakkan kakinya di sana. Braheim tersenyum puas, kini dirinya bisa fokus menyelesaikan segala urusan kerajaan karena sudah memastikan sendiri Haala berada di tempat yang aman.
Nishir Dak* adalah salah satu hantu yang ada di India. Tidak banyak yang tahu tentang wujud asli hantu ini, karena siapa pun yang melihat wujud aslinya tidak akan selamat. Hantu ini menarik perhatian korban dengan cara memanggil korban dengan suara yang serupa dengan orang terdekat korban.
Braheim menoleh pada pengawal bayangannya. "Pergilah selesaikan tugasmu. Aku akan menunggu di sini."
Pengawal bayangan Braheim hanya membungkuk, lalu kemudian menghilang. "Apa yang dilakukannya setiap hari?" tanya Braheim pada pengawal bayangannya yang lain.
"Menatap langit, bersembahyang dan mandi, Yang Mulia."
"Mandi? Lalu di mana kau berada saat dia sedang mandi?"
"Tepat di sampingnya, Yang Mulia."
"Jadi maksudmu kau melihat semuanya?"
"Benar, Yang Mulia."
"Beraninya kau menjawab sepercaya diri itu?"
"Itu karena hamba tidak memiliki nafsu, Yang Mulia."
Braheim diam, sembari memandangi pengawal bayangannya dari ujung kepala sampai kaki. "Apa kau memiliki ini?" Braheim menunjuk 'miliknya' sendiri.
Pengawal bayangan Braheim berganti diam. "Sungai itu dihuni oleh Daant*, Yang Mulia. Hamba tidak memiliki pilihan selain menampakkan diri demi mencegah serangan," jawab pengawal bayangan Braheim akhirnya.
Daant* buaya yang biasanya menghuni sungai yang masih belum terjamah manusia.
"Tetap saja aku tidak suka. Pikirkan cara lain untuk mencegah serangan tanpa harus menemaninya mandi."
Pengawal bayangan Braheim membungkuk. "Sesuai perintah anda, Yang Mulia."
"Lalu, benarkah itu? Jika ayahnya sudah mati."
"Benar, Yang Mulia."
"Sejak kapan?"
"Sejak Gaana* menyiksanya di penjara bawah tanah, Yang Mulia."
Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.
"Begitu. Sulit dipercaya karena dia benar-benar tampak seperti manusia. Bisa kau jelaskan lebih rinci?"
"Dia meminjam tubuh orang lain, dan mengubah rupanya dengan Dikhavaat, Yang Mulia."
"Meminjam?"
"Benar, Yang Mulia. Si pemilik tubuh meminjamkan tubuhnya dengan syarat."
__ADS_1
"Syarat seperti apa?"
"Biasanya syarat yang berkaitan dengan balas dendam, Yang Mulia."
"Aku mengerti. Jadi mereka membuat kesepakatan. Lalu apa itu Dikhavaat? Aku baru pertama kali mendengarnya?"
"Dikhavaat adalah ramuan yang bisa mengubah rupa seseorang, Yang Mulia."
Braheim menganguk-angguk. "Kita bicarakan lebih lanjut soal ini nanti. Aku akan melihatnya sebentar. Perintahkan temanmu untuk menghadapku jika dia sudah kembali."
"Sesuai perintah anda, Yang Mulia."
Braheim menghela napas lega, karena akhirnya waktu yang dinantikannya tiba. Waktu di mana dirinya bisa melihat sosok itu. Sosok wanita yang begitu dicintainya, Haala. Terlihat Haala sudah tidak terjaga. Dengan hati-hati Braheim pun mulai mendekat. Mendekat dengan harap tidak membuat suara yang bisa membangunkan pedang leluhur Haala.
Braheim menatap lekat wajah yang tengah sangat berduka itu. Dibenahinya selimut yang menutupi tubuh Haala yang penuh bekas luka cambuk, dan dikecupnya bibir Haala yang terasa hangat dengan penuh cinta. Ingin rasanya Braheim ikut berbaring, karena mendadak diserbu rasa kantuk yang sudah dua pekan ditahannya mati-matian. Namun.
"Yang Mulia, hamba sudah kembali."
"Baiklah," sahut Braheim seraya beranjak enggan. "Bagaimana dengan tugasmu?"
"Hamba sudah mengamankan mereka, Yang Mulia."
"Bagus. Lalu tentang desas-desus itu?"
"Ternyata itu bukan sekadar desas-desus, Yang Mulia. Para calon selir yang dipulangkan sedang dalam perjalanan kembali ke Kumari Kandam."
Braheim tersenyum. "Kalau begitu kita harus segera kembali, dan menyiapkan banyak Laddu*."
Laddu* kue manis berbentuk bola-bola kecil. Laddu dibuat dari tepung dan gula yang dicampur dengan berbagai bahan seperti kacang mede, almond atau kismis. Beberapa jenis laddu juga dibuat dari kacang dan wijen lalu dicampur dengan sirup gula.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
Kegaduhan di istana selatan dipicu oleh ulah Gaana, rengekan calon selir-selir yang menjengkelkan, dan rasa bersalah Braheim pada mereka. Braheim tidak bisa memulangkan para calon selir karena ujian pemilihan selir masih berlangsung, dan terutama karena Gaana yang diyakini berkeliaran di luar Kumari Kandam.
Mau tak mau Braheim pun menanggapi rengekan itu dengan syarat. Para calon selir hanya boleh menggunakan sisi kanan istana selatan. Dengan alasan segenting apapun, hanya kepala pengurus istana selatan, penasihatnya, dan orang-orang yang dikehendaki Braheim saja yang diizinkan memasuki sisi kiri istana selatan.
"Lihatlah. Hari ini pun calon suami kita bermalam di luar." Calon selir keenam puluh menunjuk Braheim dari kejauhan.
"Sebenarnya siapa wanita beruntung yang selalu didatangi Yang Mulia Raja selama dua pekan ini?"
"Tentunya bukan Yang Mulia Ratu," balas calon selir ketujuh puluh pada calon selir kedelapan puluh sambil tertawa.
Calon selir kesembilan puluh ikut tertawa. "Daripada itu. Yang Mulia Raja benar-benar sangat gagah, bukan? Aku masih ingat saat memeluk Yang Mulia Raja malam itu."
"Benar sekali. Rasanya aku rela melakukan apapun asalkan bisa memeluk Yang Mulia Raja setiap saat."
"Bukankah masih ada istana selatan, timur, barat dan utara? Dosakah aku jika berharap Gaana kembali menghancurkan empat istana yang tersisa?" timpal calon selir keeenam puluh pada calon selir ketujuh puluh.
"Itu dosa yang sepadan jika bayarannya adalah tubuh gagah Yang Mulia Raja." Calon selir kedelapan puluh kembali tertawa.
"Daripada itu. Aku benar-benar penasaran siapa wanita beruntung itu."
__ADS_1
Calon selir keenam puluh menoleh pada calon selir kesembilan puluh. "Aku juga. Rasanya aku ingin sekali mengirim seseorang untuk mencari tahu."
"Kalau begitu lakukan saja."
Spontan calon selir keenam puluh menoleh pada calon selir ketujuh puluh. "Aku masih ingin hidup."
"Apa kau lupa? Kita ini tuan putri. Kita lahir dengan dianugerahi satu hak mutlak. Jika pada akhirnya timbul masalah, gunakan saja hak itu."
"Ah, benar juga." Calon selir kedelapan puluh mengangguk-angguk pada calon selir ketujuh puluh.
Calon selir keenam puluh tiba-tiba beranjak. "Kalau begitu, bagaimana rencananya? Hanya sekadar mencari tahu atau, sekaligus disingkirkan?"
"Bukankah saingan kita sudah terlalu banyak?" Calon selir kesembilan puluh menyeringai.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Terlihat malaikat pencabut nyawa tengah mengitari kamar tidur Ratu Kumari Kandam. Sang ratu, Jihan Joozher, memang sedang berada di ambang kematian. Bagaimana tidak, kini Gaana tengah mencekiknya. Makhluk dari jahanam itu merasa terlalu berbelas kasih pada kaki tangannya yang lagi-lagi tak tahu cara berterima kasih.
" ... Bahkan meskipun terpaksa, aku tidak sudi memakan jiwamu yang beraroma menjijikan itu, Jihan Joozher."
"A-a-aku b-b-bersumpah t-t-tidak m-m-menjebakmu," ujar Jihan dengan susah payah."
"Omong kosong! Kau mencariku dan membuka gerbang istana tenggara*! Tapi pada akhirnya kau berencana untuk membunuhku!"
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
"T-t-tidak. A-a-aku b-b-bersumpah."
"Tutup mulutmu! Jika bukan karena tipu dayamu, perutku pasti sudah terisi penuh dengan jiwa-jiwa rombongan calon selir yang dipulangkan! Dasar sialan!"
"T-t-tidak s-s-suci."
Gaana mengendurkan cekikkannya. "Tidak suci? Siapa? Rombongan calon selir yang dipulangkan?"
Jihan mengangguk. "Katakan lebih jelas," imbuh Gaana seraya melepas cekikkannya.
"Rombongan calon selir yang dipulangkan itu tidak suci. Para calon selir yang masih suci ada di istana tenggara. Mereka gagal dalam ujian tahap kedua karena terbukti masih suci."
Gaana diam. Tampak berpikir. "Lalu aku bersumpah aku tidak membebaskan ayah Haala. Aku juga tidak tahu ada jalan rahasia di istana tenggara," tambah Jihan.
Gaana masih diam. "Ayah Haala sudah mati."
Gaana tampak terkejut. "Apa?"
"Salah satu orangku yang kukirim untuk mengikuti Braheim tidak sengaja menemukan jasad ayah Haala."
Spontan Gaana tertawa. "Cerdas. Dia memang cerdas. Sialan aku sampai tidak menyadarinya."
"Apa maksudmu?"
"Ada dua cara untuk membunuhku. Karena pemimpin suku pengembara sudah mati, dia sedang mencoba cara yang terakhir."
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Gaana berjalan mendekati Jihan. "Untuk apa calon bangkai repot-repot mengetahuinya?"