
Braheim terlihat sama sekali tidak fokus menjalankan semua agendanya hari itu. Bagaimana tidak, pinangan orang nomor satu di Kumari Kandam tersebut baru saja ditolak oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Haala. Tidak cukup dengan dibuang di masa depan, ternyata di masa lalu pun Braheim kembali dibuang.
Sesungguhnya mudah saja bagi seorang Braheim Bhaavesh menyelamatkan harga dirinya dengan cara menjatuhi hukuman penggal pada siapa pun yang menentang kehendaknya. Namun entah kenapa hati Braheim terus menjerit berkata, tak apa harga diriku tercoreng asalkan Haala terus bisa dijangkau mata ini.
Braheim merasa terlalu terburu-buru, tetapi juga enggan lebih lama menunggu. Andai saja Daxraj tidak memiliki tanda lahir pemimpin suku pengembara, mungkin saat ini Kumari Kandam sudah memiliki penerus tahta. Kegusaran mulai merajai Braheim, dan membuatnya ingin sekali bertemu Daxraj dari masa depan.
"Daxraj Natesh," ujar Braheim seraya menenggak ramuan Smrti*.
*Smrti* merupakan ramuan pemulih ingatan yang terlupakan. Smrti terbuat dari air mata peri, dan hanya bisa dikonsumsi saat siang hari, karena hasilnya akan langsung muncul dalam bentuk hujan atau pelangi. Jika hujan yang muncul, maka mimpi yang terjadi hanyalah bunga tidur, tetapi jika pelangi yang muncul, maka bisa dipastikan itu adalah ingatan yang terlupakan*.
Gelap. Hanya itu yang terlihat di alam bawah sadar Braheim. Berbeda dengan cara kerja ramuan Smrti yang biasanya langsung membawa Braheim pada kenangan-kenangan yang terkubur atau terlupakan. Kini ramuan buatan tabib tersohor Kumari Kandam, Sanjeev Rajak, tidak bereaksi saat nama Daxraj disebut.
"Daxraj Natesh. Daxraj Na--"
"Apa?"
Spontan Braheim membuka matanya. "Waktuku tidak banyak. Jadi jangan berbasa-basi," imbuh Daxraj.
Braheim beranjak, dan berjalan menghampiri Daxraj yang berdiri memunggunginya. "Kau, Daxraj Natesh? Dari masa depan? Tunggu. Lalu siapa Daxraj Natesh yang selama ini menjadi Penasihatku?"
"Sungguh, Braheim, waktuku tidak banyak."
"Apa? Bukan Yang Mulia tapi Braheim? Lancang sekali. Lupakan saja. Daripada itu, apakah kau benar-benar nyata?" tanya Braheim lagi, sambil memandangi Daxraj dari ujung kepala sampai kaki.
Daxraj tak menjawab. "Baiklah biar kubuktikan sendiri saja," tambah Braheim sembari meninju tubuh Daxraj.
BUG!
BUG!
BUG!
BRAK!
Braheim melayang menabrak lemari buku di pojok ruangan dengan sangat keras, setelah Daxraj membalas tinju bertubinya. Mendengar kegaduhan dari dalam ruang kerja Braheim, para pengawal yang berjaga pun langsung menerobos masuk. Para pengawal itu sangat terkejut mendapati Braheim tersungkur di lantai dengan batuk kesakitan.
Terlebih, mendapati pria mencurigakan beserban hitam dengan perawakan raksasa yang kini berdiri memunggungi mereka. Para pengawal yang yakin jika Daxraj adalah mata-mata, berniat menyerang Daxraj, namun Braheim memerintahkan mereka untuk kembali berjaga dan sebisa mungkin tidak membuat kegaduhan yang lebih parah.
Braheim beranjak. "Sakit sekali."
"Aku hanya menggunakan dua persen kekuatanku."
Barheim mendecak, "Apa kau sedang pamer?"
"Tidak karna belum kugunakan seratus persen."
Braheim kembali mendecak, "Apa kau manusia? Dan apakah kau ada di pihak Kumari Kandam?"
"Aku sudah menjawabnya di masa depan."
"Kuanggap jawabanmu sesuai harapanku. Lalu bagaimana bisa kau ada di masa lalu dan masa depan? Siapa sebenarnya Daxraj Natesh yang asli?" tanya Braheim.
"Bukan itu yang penting sekarang. Aku harus segera pergi, jadi dengarkan baik-baik."
Braheim diam. Diam bukan karena sudi mematuhi perintah Daxraj, tetapi diam karena menolak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sebuah portal berlatar malam hari perlahan terbuka, menampakkan pemandangan malam menakjubkan yang dikuasai rembulan berwarna merah menyala dengan sinar yang meneduhkan mata.
__ADS_1
Namun fokus Braheim langsung tertuju kembali pada Daxraj ketika Daxraj membeberkan sesuatu yang sangat ingin diketahuinya sejak lama. Tentang siapa sebenarnya sosok wanita berparas cantik yang memperkenalkan dirinya sebagai Gaana, yang selalu hadir di mimpi Braheim dan menebar teror kematian mengerikan.
"Dia adalah selir favorit ayahmu. Dia menuntut balas pada ibumu yang telah menjatuhi hukuman pengasingan padanya. Dia memuja iblis demi hidup abadi dan demi menuntaskan dendamnya."
Braheim tampak terkejut. "Jadi maksudmu, dendam itu kini ditujukan padaku?"
Daxraj mengangguk. "Meski sangat sulit untuk membunuhnya di masa depan, dia akan tetap mati di tanganku. Tapi dia tidak ditakdirkan mati sebelum bisa membalas dendam padamu."
"Aku tidak me--"
"Tidak ada yang bisa memutar waktu selain Yang Maha Kuasa. Aku menggadaikan seribu tahun umurku untuk memutar waktu dan mengelabui Gaana. Jadi sekarang selesaikan bagianmu, Braheim Bhaavesh. Karena ini pertarunganmu," sela Daxraj seraya berbalik dan masuk ke dalam portal.
"Tunggu. Bagaimana cara un--"
Ucapan Braheim terjeda, karena seluruh perkakas yang ada di ruangannya tiba-tiba bergetar. Getaran yang semula ramah, perlahan menjadi getaran dahsyat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kumari Kandam dihantam gempa bumi. Gempa bumi yang bukan disebabkan oleh murka Tuhan, tetapi ramuan Smrti.
"Jangan coba-coba memanggilku dengan ramuan itu lagi. Karena bukan hujan atau pelangi yang akan kau lihat setelahnya."
"Hei. Kuperintahkan kau untuk kembali, Daxraj Natesh!" seru Braheim.
BRAK!
"Yang Mulia. Anda harus segera berlindung ke tempat yang aman," ujar satu dari belasan pengawal yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Braheim.
...¤○●¤○●¤○●¤...
"Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu. Aku berjanji akan membunuh Gaana untukmu. Sekarang minumlah ini lagi," ujar Murat sembari menyuapi Jihan ramuan penyembuh.
Tentu saja Jihan tidak bisa merespon Murat, yang sejak dua malam lalu terus menyambangi kamar tidurnya secara diam-diam. Sambil menyerapahi Gaana, Murat menyuapi Jihan ramuan penyembuh yang dibelinya dengan tujuh buah kantong koin emas. Meski tahu hanya ramuan penyembuh milik suku pengembara yang bisa mengembalikan Jihan seperti sedia kala, Murat tidak ingin melewatkan segala kemungkinan.
Meski sudah merasa jauh lebih baik, Jihan masih sering mengalami mimpi buruk tentang Gaana yang menangkapnya dan hendak menyerap sesuatu secara paksa dari dalam tubuhnya. Mimik wajah kelaparan Gaana serta suara tawanya yang membuat bergidik, tidak bisa Jihan lupakan. Dan yang paling tidak terlupakan adalah, keberadaan ayah Haala yang hanya berdiri mematung menonton Jihan yang menjerit meminta pertolongannya.
Merasa tidak tahan lagi dengan mimpi buruk yang mendatanginya hampir setiap malam, Jihan pun berniat melakukan sesuatu. Sesuatu yang di masa depan membentuk kepribadian Jihan menjadi wanita yang tidak bisa puas hanya dengan satu orang pria. Sesuatu yang di masa lalu memang dianggap sebagai cara termanjur untuk melepaskan diri dari jerat mimpi buruk dan dari incaran Gaana yang konon hanya memakan jiwa gadis-gadis suci.
"Apa ini pertama kalinya untukmu?" tanya seorang pria dari Svarg*.
*Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem*.
Jihan mengangguk. "Beruntung sekali," imbuh si pria.
"Siapa namamu?"
Jihan menulis sesuatu di kertas dan menunjukkannya pada si pria. "Jihan Joozher."
"Ah, kau tidak bisa berbicara rupanya."
Jihan kembali menulis. "Kenapa? Kau hanya mau bercinta dengan gadis yang bisa berbicara?"
Si pria tertawa. "Tidak juga. Kupikir para pria sudah cukup dengan mendengar erangan. Tapi bukankah akan lebih baik jika kau memberikan pengalaman pertama bercintamu pada orang yang kau sukai?"
"Cintaku berakhir sepihak," jawab Jihan dengan tulisan.
"Malang sekali. Malam ini aku akan memberikanmu banyak cinta, dan kau tidak perlu membayarnya."
Jihan hanya menoleh pada si pria. "Karena ini hari ulang tahunku," tambah si pria.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun. Tapi mintalah bayaran jika pelangganmu lebih dari dua orang," Jihan buru-buru menulis.
Si pria kembali tertawa, sembari mengecup punggung tangan Jihan. "Kurasa hari ini akan menjadi ulang tahun terbaikku. Aku banyak tertawa, dan mendapat pelanggan seorang gadis yang sangat cantik."
Dan begitulah akhirnya Jihan memberikan pengalaman pertama bercintanya pada seorang pria misterius dari Svarg. Jihan tidak menyangka jika aktivitas panas itu begitu luar biasa hingga membuatnya menjadi orang hilang karena terus berada di Svarg sampai satu pekan lamanya. Dan jika bukan karena kemahiran para pria dari Svarg, sudah pasti Jihan akan kembali ke Raseela* dalam keadaan berbadan dua.
*Raseela* nama desa yang ditinggali Haala dan Jihan*.
"Ke mana saja kau? Semua orang mencarimu."
Jihan mengabaikan Murat dan membanting tubuhnya ke ranjang. "Hei, jawab aku," imbuh Murat.
"Ke mana kau pergi selama satu pekan ini?"
Jihan beranjak, mengambil peralatan menulis untuk menjawab Murat. "Aku pergi mencari cara untuk menjauhkan Gaana dariku."
"Apa maksudmu?"
"Aku pergi ke Svarg," jawab Jihan dengan tulisan.
"Apa?"
Jihan menulis dengan malas. "Aku sudah bukan gadis suci lagi jadi Gaana tidak akan mengincarku."
"Rupanya kau semakin gila."
"Terserah apa katamu. Yang pasti aku sudah tidak bermimpi buruk lagi tentang Gaana. Daripada itu, kenapa kau sangat peduli padaku? Ayahku saja tidak sepeduli itu." Jihan menunjukkan jawabannya di kertas.
"Karena dia bukan ayahmu."
Jihan menghentikan Murat yang hendak keluar melalui jendela kamarnya sembari terus menulis. "Apa maksudmu dia bukan ayahku?"
"Ayahmu seorang pedagang gula. Dia mati tenggelam saat hendak menuju utara. Lalu ibumu juga mati, satu jam setelah upacara pemakaman suaminya. Dan kakak laki-lakimu, meninggalkanmu di depan rumah seorang peternak susu karena tidak bisa membelikanmu susu."
Jihan tampak sangat terkejut, namun masih berusaha menorehkan tinta di atas kertas. "Kau, kakakku?"
"Kenapa? Ingin memakiku? Simpan saja karena sekarang aku bahkan bisa membeli harga diri Raja Kumari Kandam."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Siang itu Desa Raseela dibuat gempar, sebab tiba-tiba saja didatangi belasan penduduk dari desa tetangga, Bheed. Penduduk Bheed mengaku sedang mencari anak-anaknya yang hilang. Karena tertinggal jejak kaki kuda yang mengarah ke Raseela, mereka pun yakin jika pelakunya berasal dari desa penghasil susu dan jagung tersebut.
Namun tentu saja penduduk Raseela menampik tuduhan telah menyembunyikan penculik anak-anak. Situasi mulai memanas, ketika satu di antara belasan orang dari Bheed tiba-tiba saja melayangkan tinju murkanya pada kakek Haala yang dipercaya sebagai penengah. Dan aksi saling tinju pun tidak bisa lagi terhindarkan.
Hingga Murat yang tidurnya terganggu datang, dan melerai aksi anarkis dua penduduk desa itu dengan teriakan terlampau menggelegar. Dengan penuh emosi Murat berkata jika penculik anak-anak yang sebenarnya ada di dalam Hutan Mook. Penculik yang tidak bisa dilawan dengan senjata apapun karena memiliki kekuatan iblis.
"Omong kosong apa yang baru saja kau katakan? Penculik anak-anak kami adalah manusia, bukan iblis," ujar salah seorang penduduk dari Bheed.
"Benar. Kami memiliki buktinya. Ini, lihatlah," timpal penduduk Bheed yang lain sembari menunjukkan sebuah kancing baju.
Murat mengambil kancing tersebut. "Tidak mungkin. Kancing ini."
"Kenapa? Kau tahu siapa pemilik kancing itu? Cepat katakan pada kami siapa pemiliknya!" seru pria yang meninju Kakek Haala.
Murat menoleh pada kakek, nenek, serta ibu Haala. "Kancing ini, milik komandan."
__ADS_1