TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 78


__ADS_3

"Karena usia kandungan Anda terus bertambah, tidak heran jika kaki Anda menjadi bengkak seperti ini." Seorang wanita muda dari suku pengembara mengolesi punggung kaki Haala dengan minyak.


"Aku baik-baik saja."


"Kami yang melihatnya yang tidak baik-baik saja, Nyonya," balas wanita muda lain pada Haala.


Haala tersenyum. "Daripada itu, kalian terlihat senang sekali. Apa ada hal baik selain kehamilanku?"


"Ah, itu. Sejujurnya kami senang bisa merasakan perapian. Terutama di cuaca seperti sekarang ini."


Haala tak menjawab, sengaja agar segera mendapatkan penjelasan atas ketidakpahamannya.


"Untuk menghasilkan perapian dibutuhkan beberapa potong kayu, dan untuk memperoleh beberapa potong kayu haruslah menebang setidaknya satu pohon terlebih dahulu. Menebang pohon yang tidak sakit, sama saja dengan menyakiti."


"Karena itulah sampai sebelum hari ini, kami hidup tanpa perapian. Ini benar-benar yang pertama kalinya di suku kami."


"Benar, Nyonya. Makanan dan minuman ini juga. Ini pertama kalinya dapur suku kami memasak selain umbi dan sayuran hijau."


"Itu karena kami terbiasa berpuasa. Kami berpuasa sehari dan bebas di hari berikutnya."


Haala mengangguk-angguk. "Jadi selama ini kalian hanya memakan umbi dan sayuran hijau?"


"Benar, Nyonya. Makhluk hidup selain manusia sudah kami anggap seperti saudara kandung. Selain mengobati mereka, berarti kami telah berbuat dosa."


"Aku mengerti. Sepertinya aku adalah yang paling berdosa di sini."


Seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam tenda tertawa. "Hamba sudah melayani Nyonya suku ini selama empat generasi, dan Andalah yang paling ramah, Nyonya. Silakan."


"Terima kasih," jawab Haala sembari menerima segelas susu.


"Tolong jangan terlalu khawatir, Nyonya. Ini bukan yang pertama kali. Anak-anak ini saja yang belum lahir. Jika berbicara dosa, bukankah kami juga berdosa karena ikut merasakan perapian ini?"

__ADS_1


Spontan Haala tertawa membalas wanita paruh baya itu, Sayee. Menurut Sayee yang mengaku sudah melayani para nyonya suku pengembara selama empat generasi, baru di masa kepemimpinan Daxraj Natesh saja perapian dinyalakan. Padahal di masa itu ada salah satu nyonya pemimpin suku pengembara yang juga mengandung di tengah musim hujan. Tetapi tetap saja perapian tidak pernah dinyalakan, meski sekali.


Karena dosa berburu hewan selama sembilan bulan saja sudah sangat berat ditanggung. Bagaimana jika ditambah dengan menebang pohon untuk waktu yang sama lamanya? Belum lagi pemimpin suku pengembara tidak hanya menanggung dosanya seorang melainkan juga dosa semua orang yang ikut serta dalam perburuan. Bayangkan bagaimana cara untuk menebusnya? Apakah akan cukup sampai sebelum penerusnya lahir?


Sayee berkata ini adalah kali pertama dirinya melihat cinta di mata sang pemimpin. Sementara empat pemimpinnya yang telah berpulang, hanya menganggap nyonyanya masing-masing sebagai malaikat maut yang membawa kematian melalui penerusnya. Berbeda dengan Daxraj. Demi membuat Haala nyaman, Daxraj tidak hanya berburu domba dan telur unta setiap hari tetapi juga menebang pohon berkualitas tinggi.


"Bagaimana, Sayee?"


"Hamba rasa masih belum cukup. Cuacanya terlalu dingin. Cepat atau lambat Nyonya pasti akan terserang hipotermia seperti yang lain. Andai saja hujan bisa sedikit menenangkan dirinya."


"Bukan hujan yang harus menenangkan dirinya, Sayee. Tapi dia."


Benar. Bukan hujan, tetapi dia. Dia siapa lagi yang dibicarakan di sini jika bukan Braheim Bhaavesh. Segera Daxraj pun bergegas menuju Kerajaan Kumari Kandam. Terlihat Braheim sedang berlatih pedang dengan pengawal bayangannya di bawah guyuran hujan yang hebat. Menyadari kedatangan Daxraj yang tiba-tiba, spontan membuat Braheim kehilangan fokus dan langsung menjatuhkan pedangnya ke tanah.


"Kau tidak membaca peraturan baru? Siapa pun yang hendak menemuiku harus memiliki surat izin masuk berstempel."


"Sungguh? Aku termasuk dari siapa pun yang kau maksud itu?" balas Daxraj pada Braheim.


"Yang Mulia."


Spontan Braheim menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut, dan menatap curiga pada Daxraj.


"Yang Mulia Braheim Bhaavesh," tambah Daxraj.


"Entah kenapa aku seperti sedang mendengar hinaan. Apa? Kenapa?"


"Selain kekuatan maha dahsyat, aku juga dianugerahi hidup abadi. Sampai bertemu dengan wanitaku, sampai mewariskan semua kekuatan pada penerusku, tidak ada yang bisa menumbangkanku."


"Apa?"


"Yang kutahu penerus pemimpin suku pengembara baru mampu menerima kekuatan di atas usia tiga tahun. Jadi, Yang Mulia, bisakah Anda menenangkan diri sampai kurun waktu yang sudah ditetapkan itu?"

__ADS_1


Braheim tak bersuara, namun perlahan menoleh pada Daxraj, menatapnya.


Daxraj membalas tatapan Braheim. "Karena bukan Anda yang akan bersamanya di kehidupan yang akan datang, Yang Mulia."


Braheim memandangi punggung kokoh Daxraj yang mulai mengecil dari pandangannya itu, seraya mencerna ucapan terakhir Daxraj yang semakin lama semakin keras terngiang. Senyum tipis tersungging di wajah tampan Braheim, pun Daxraj, ketika lambat laun hujan hebat itu berubah menjadi gerimis yang ramah. Kabar baik untuk Kumari Kandam yang telah mendapatkan kembali mataharinya, tetapi tidak dengan bulannya.


" ... Setidaknya lakukanlah sesuatu. Dua pekan tidak akan terasa untuk orang-orang yang dikaluti kekhawatiran seperti kita, bukan?"


"Yang Mulia Raja sudah membuat keputusan."


"Lantas? Kau hanya akan menjadi penonton sampai dua pekan itu berakhir, begitu?"


"Tenanglah. Yang Mulia Raja tidak akan menyentuhmu."


"Dan kau pikir aku juga tidak akan menyentuhnya?"


"Apa maksudmu?"


"Bagiku pernikahan adalah kehidupan kedua, Murat. Meski tak lebih dari sekadar pernikahan politik, kau pikir aku akan setuju menjalaninya seperti itu? Ketika seorang pria telah bersumpah atas jiwa dan ragaku, aku miliknya, pun sebaliknya, dia milikku."


Murat terdiam, mempertontonkan mimik wajahnya yang bak disambar petir.


"Karena kau tidak berniat melakukan apa-apa, maka akan kuanggap kau melepaskanku."


"Tidak. Tunggu, Chadna."


Putri Chadna, calon ratu terpilih dari Benua Chamakadaar itu enggan menghentikan langkahnya, namun pelukan erat Murat, menahannya sangat kuat.


"Aku mencintaimu," imbuh Murat.


Spontan Putri Chadna berbalik, menatap Murat. "Maka lakukanlah sesuatu."

__ADS_1


Murat mengangguk. "Akan kupikirkan sebuah cara. Aku berjanji."


__ADS_2