TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 33


__ADS_3

PREVIOUS CHAPTER


"Gaana*. Anda telah dikendalikan oleh Gaana."


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


"Ya, kau benar. Di masa depan pun, dia berhasil mengendalikan adikmu," sahut Putri Gaurika.


"Apa? Laasya?"


Putri Gaurika mengangguk. "Bahkan pada akhirnya raga adikmu menyatu dengan Gaana. Itulah tujuan sebenarnya Daxraj Natesh memutar waktu. Karena dia tidak bisa membunuh Gaana yang bersemayam di tubuh adikmu."


Haala diam, kehilangan kata-kata. "Aku melihat masa depanmu melalui masa depannya, komandan."


Haala semakin kehilangan kata-katanya. "Meski dipenuhi kabut yang sangat tebal, kau akan bahagia bersamanya," tambah Putri Gaurika.


DEG! DEG! DEG!


Jantung Jihan terdengar menggema memenuhi ruangan gelap, sesak, dan lembap itu, ketika aksi mengupingnya malah mengundang berjuta pikiran buruk. Bagaimana tidak, ternyata selama ini Gaana berkeliaran di sekitar Jihan dan menuntut balas melalui raga Putri Gaurika. Dan lagi, ternyata Gaana tidak hanya berkuasa membuat seseorang menjadi bisu tetapi juga mengendalikan pikiran hanya lewat suara.


Pikiran buruk Jihan perlahan memaksanya menghadapi ketakutan. Ketakutan yang membuat Jihan tak mengindahkan jika Daxraj Natesh masih hidup, waktu yang dijadikan bahan lelucon, serta akhir bahagia yang akan didapatkan Haala kelak. Isi kepala Jihan hanya disesaki oleh nasibnya sebagai kaki tangan Gaana yang sudah pasti tidak akan berbeda dengan nasib ayah Haala dan Putri Gaurika.


Keinginan untuk hidup membuat kaki Jihan yang semula terpatri, kini kembali mantap berpijak. Gaana ada di dalam Kerajaan Kumari Kandam, dan jika Jihan hanya berkutat pada ketakutannya, sudah pasti Gaana akan menyeretnya pada akhir yang tragis. Dengan langkah tergesa Jihan keluar dari penjara bawah tanah, hendak mengemis pertolongan pada sang kakak, Murat Iskender.


"Selama ini Putri Gaurika telah dikendalikan oleh Gaana, dan aku yakin saat ini Gaana sedang mencari korban yang baru."


Murat menghela napasnya. "Apa tidak sebaiknya kau menemui tabib kerajaan?"


"Apa?"


"Kau harus menanyakan semacam ramuan untuk penyakit gilamu yang bertambah parah itu," balas Murat.


"Kau akan menyesal karena tidak memercayaiku."


Murat kembali menghela napas. "Jika sudah selesai kembalilah ke istanamu. Aku benci desas-desus."


"Tidak. Jika aku sendirian, Gaana akan mendatangiku."


Spontan Murat menghentikan gerak sibuk tangannya membuka gulungan kertas. "Aku, bersekutu dengan Gaana," imbuh Jihan.


"Apa?"


Jihan diam cukup lama. "Karena cemoohan mereka, aku mendatangi Gaana. Aku berniat membunuhnya dengan air suci yang kuperoleh dari kuil. Tapi dia malah mengembalikan suaraku, bahkan menjadikanku Ratu Kumari Kandam dalam hitungan detik."


"Apa maksudmu? Kau menjadi Ratu Kumari Kandam karena kecantikan, kecerdasan, dan latar belakang keluargamu yang luar biasa. Bagaimana ka--"


"Gaana telah membuatmu dan semua orang di Kumari Kandam berpikir seperti itu. Ya, benar. Karena dia tidak hanya bisa memutar waktu, tapi juga bisa mengendalikan pikiran siapa pun yang dikehendakinya," sela Jihan.


"Kurasa kau benar-benar membutuhkan ramuan pe--"


"Tolong aku. Jangan biarkan aku sendiri. Aku bisa mati," sela Jihan lagi.


Murat terdiam, merasakan isi kepalanya yang kian campur aduk. Sejujurnya Murat sudah kehilangan kesabaran dan ingin segera mengusir Jihan dari ruang kerjanya. Tetapi kata-kata minta dikasihani yang terucap dari mulut angkuh Jihan, membuat Murat langsung tersadar jika adik semata wayangnya itu tidak tengah berucap omong kosong karena penyakit gilanya yang bertambah parah.


Namun, ketika Murat baru akan memaksa dirinya untuk mencerna satu per satu perkataan Jihan yang tidak masuk akal, Braheim tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Spontan Murat beranjak, dan buru-buru membungkuk hormat seraya mengucap salam. Braheim menerima salam dari Murat dengan senyum ambigu yang sukses membuat Murat dibayangi hukuman penggal.


"Ada yang bisa hamba bantu, Yang Mulia?"

__ADS_1


"Temani aku bermain catur," balas Braheim pada Murat.


Murat berjalan tergesa meninggalkan ruang kerjanya. "Hamba akan segera menyiapkannya, Yang Mulia."


Jihan berjalan mendekati Braheim. "Kau mendengar semuanya, bukan?"


"Secara tidak sengaja."


"Seberapa banyak yang kau dengar?" tanya Jihan lagi.


"Sangat banyak."


Jihan berjalan menuju pintu keluar. "Ya, tidak masalah. Sama seperti penasihatmu, kau juga pasti tidak akan memercayai perkataanku."


"Sayangnya aku memercayainya."


Spontan Jihan menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Braheim. "Apa?"


"Karena makhluk terkutuk itu tidak berhasil mengendalikan pikiranku."


Jihan menggeleng-geleng. "Tidak mungkin. Kau pasti hanya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menceraikanku agar bisa bersama Haala."


"Bagaimana bisa bercerai jika tidak pernah menikah? Hah, seharusnya waktu itu kau telan saja cemoohan mereka, dan hidup dengan tenang sebagai putri peternak susu."


DEG!


"Hari itu aku sedang menikmati pemandangan yang cantik dari puncak istanaku, tapi tiba-tiba waktu terhenti, dan pemandangan cantik itu berubah menjadi bencana. Bencana berwujud Ratu Kumari Kandam palsu," imbuh Braheim.


DEG! DEG!


Braheim beranjak. "Kuberi dua pilihan. Menggantikan hukuman Putri Gaurika Chander, atau, menjalankan peran Ratu Kumari Kandam palsu yang sebenarnya."


DEG! DEG! DEG!


...¤○●¤○●¤○●¤...


Alasan pengawal bayangan Braheim tiba-tiba muncul meski tidak dipanggil di hari penyambutan Putri Gaurika adalah, karena mereka sudah mengetahui jika pikiran dan raga sang putri telah dikendalikan sepenuhnya oleh Gaana. Mereka pun langsung menyerang Putri Gaurika tak lama setelah acara penyambutan berakhir.


Namun di luar dugaan, Gaana yang mengendalikan Putri Gaurika terlampau kuat. Pengawal bayangan Braheim pun terpaksa mundur. Kekalahan pengawal bayangan Braheim juga menjadi alasan Putri Gaurika bisa masuk dengan mudah ke kamar tidur Braheim dan melancarkan sebuah pertunjukan gila yang hampir mendekati sempurna.


"Di mana makhluk terkutuk itu sekarang?" tanya Braheim pada pengawal bayangannya.


"Kami tidak merasakan keberadaannya, jadi pasti dia ada di luar Kerajaan Kumari Kandam, Yang Mulia."


Braheim diam sesaat. "Kemungkinan besar dia memang sedang mencari korban yang baru."


"Benar, Yang Mulia," jawab pengawal bayangan Braheim kompak.


"Di lain kesempatan jangan bertindak sebelum kuperintahkan. Cukup beritahu aku jika ada orang di sekitarku yang dikendalikan oleh makhluk terkutuk itu."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Braheim kembali diam. "Firasatku mengatakan jika korbannya yang baru adalah Jihan Joozher. Awasi wanita gila itu diam-diam, dan segera laporkan padaku jika firasatku benar."


"Baik, Yang Mulia."


Braheim menghela napas. "Aku tidak ingin jatuh lebih banyak korban. Aku harus segera membunuh makhluk terkutuk itu."

__ADS_1


"Hanya pemimpin suku pengembara yang bisa melakukannya, Yang Mulia."


Spontan Braheim menoleh pada pengawal bayangan yang sedari tadi dipunggunginya. "Apa maksud kalian?"


"Hanya pemimpin suku pengembara berdarah murni yang bisa melakukannya, Yang Mulia."


Braheim tidak kuasa lagi menyembunyikan kebingungannya. Namun sialnya pengawal bayangan Braheim tidak mengatakan apa-apa lagi setelah melontarkan sebaris kalimat penuh teka-teki itu. Selama ini Braheim merasa tenang karena sudah mengantongi kelemahan Gaana lewat surat terakhir yang dikirimkan Daxraj Natesh sebelum mati.


Tetapi pada akhirnya sepucuk surat tersebut hanya berakhir salah alamat, sebab penerima surat yang benar adalah pemimpin suku pengembara berdarah murni. Meski tidak mungkin ada dua orang pemimpin dalam satu suku, pemimpin berdarah murni yang dimaksud pengawal bayangan Braheim sudah pasti Daxraj Natesh dari masa depan.


Braheim berbalik, bersandar pada punggung balkon kamar tidurnya. "Sepertinya kalian sedang ingin banyak bicara. Baiklah, akan kugunakan kesempatan ini dengan baik."


Pengawal bayangan Braheim kompak membisu. "Apa darah murni yang kalian maksud adalah Daxraj Natesh?"


"Benar, Yang Mulia."


Braheim kembali mengangguk-angguk. "Masuk akal. Mungkin itulah alasan dia bisa menjadi sangat hebat. Lalu, aku ini apa?"


"Darah campuran. Darah campuran tidak abadi, dan tidak akan mampu menerima kekuatan turun-temurun pemimpin suku pengembara."


Braheim tampak berpikir dengan serius. "Jadi benar ada dua pemimpin dalam satu suku. Rumit sekali. Daripada itu, apa benar makhluk terkutuk itu telah mengubah isi ramalan leluhur suku pengembara?"


"Benar, Yang Mulia.


Braheim tersenyum. "Katakan. Apa isi ramalan yang benar?"


"Perang kebinasaan akan terjadi dalam waktu dekat. Bukan Raja Kumari Kandam yang akan menghentikan perang itu, melainkan putra dari pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir."


Braheim kembali tersenyum. "Bukan aku yang menghentikan perang kebinasaan tapi putra dari pemimpin suku pengembara. Bukankah itu artinya tidak masalah Haala bersama siapa? Karena aku dan dia sama-sama pemimpin suku pengembara."


...¤○●¤○●¤○●¤...


Tangis histeris para pelayan pribadi Putri Gaurika Chander menguasai kedamaian pagi, ketika tubuh kaku sang putri dibawa keluar dari penjara bawah tanah. Putri Gaurika ditemukan tak bernyawa satu hari sebelum masa hukumannya berakhir. Haala yang merupakan satu-satunya orang yang mengunjungi Putri Gaurika pun langsung dijadikan tersangka.


Motif Haala sebagai tersangka memang sangat kuat. Haala menghabisi Putri Gaurika karena tidak terima sang ayah diperlakukan layaknya binatang yang dihukum karena menggigit ekor tuannya. Tidak hanya dijebloskan ke dalam sel seukuran peti mati, ayah Haala bahkan hanya diberi roti dan susu basi, serta dicambuk setiap hari.


Seperti biasa, sebaris kalimat dari Braheim langsung membungkam tuduhan yang hanya berdasar pada kebetulan-kebetulan itu. Braheim menyembunyikan Haala dengan penjagaan dari salah satu pengawal bayangannya. Sementara pengawal bayangan Braheim yang lain, ikut bersama Braheim mengantarkan jenazah Putri Gaurika ke Kerajaan Narak.


Kedatangan Braheim di Narak ternyata tidak lebih cepat dari kabar burung. Hal itu terbukti dari perlakuan tidak ramah keluarga besar Putri Gaurika pada Braheim. Dan sesuai terkaan Braheim, sesaat setelah keluarga besar Putri Gaurika melihat jenazah sang putri yang dipenuhi luka cambuk, Narak langsung meminta Braheim menyerahkan Haala.


Sudah tentu Braheim menolak. Situasi pun mulai memanas, ketika Braheim kembali ke Kumari Kandam dengan membawa serta bendera perang. Para menteri mendesak Braheim untuk menyerahkan Haala pada Narak karena rakyat mulai ketakutan akan terjadi perang. Pilihan yang sangat sulit, untuk raja yang telah membagi hatinya pada rakyat, dan kekasih.


"Beri hamba perintah, Yang Mulia." Haala sudah kesekian kali mengulang ucapannya.


"Sebagai pria yang setiap hari memimpikanmu atau sebagai pria yang kau campakkan?"


"Sebagai raja yang hamba layani."


Braheim terdiam sesaat. "Doa keselamatan tak akan pernah putus kupanjatkan pada Tuhan sampai rambut emasmu tampak dari kejauhan, mengalihkan pandanganku dari indah sang senja," jawab Braheim akhirnya.


...Halo, ini Seul Ye....


...Beribu maaf karena baru update new chapter....


...Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di real life jadi schedule update mingguan tergeser hari ini....


...Karya ini akan terus update....

__ADS_1


...Mohon dukungannya ya ❤...


__ADS_2