
" ... Pemimpin suku pengembara berdiri di tengah-tengah laut, sedang menghalau ombak setinggi tiga puluh meter yang hendak meratakan rumah penduduk di pesisir."
Apa yang dikatakan Menteri Luar Benua sudah tercerna dengan baik di kepala Braheim, sebagai lelucon. Ya, lelucon, dan lelucon macam apa itu? Daxraj Natesh bangkit dari kubur? Bukan tidak mungkin memang jika itu Daxraj Natesh yang dianugerahi kekuatan maha dahsyat. Tetapi untuk tujuan apa? Apa dia kesal putranya dijahili? Atau kesal diusir Dewa Krpaya* dari surga karena terlalu berlebihan menggoda para bidadari?
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Ada yang tidak benar di sini. Entah itu penglihatan Menteri Luar Benua atau isi kepala Braheim yang mulai dirajai kekhawatiran akan kembali kehilangan sang kekasih. Entah satu dari itu atau keduanya pun yang lain, yang pasti, benar-benar ada yang tidak benar. Jika pun Daxraj Natesh memang bangkit dari kubur, hal pertama yang akan dilakukannya pastilah melihat Vinder, bukan malah bermain-main dengan ombak setinggi Puncak Kerajaan Kumari Kandam.
"Apa hanya kau ya--"
"Yang Mulia," sela seorang pelayan istana baru* yang kembali menerobos ruang kerja Braheim.
Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Putra Komandan Haala kembali menangis seperti kemarin, Yang Mulia," imbuh pelayan tersebut.
Braheim bergeming. Padahal semua orang mengira Braheim akan langsung berlari menuju istana baru. Sebaliknya Braheim malah kembali duduk di singgasananya. Berbeda dengan apa yang dipikirkan semua orang tentang Braheim yang mungkin sedang sangat terkejut dan berusaha menenangkan diri, yang dipikirkan Braheim saat ini adalah siapa suku pengembara yang kembali dalam bahaya? Jika itu terjawab, maka tangis Vinder akan berhenti dengan sendirinya.
"Murat."
Murat berlari dan membungkuk di hadapan Braheim. "Beri hamba perintah, Yang Mulia."
"Seberapa mungkin Adikmu melukai Aryesh Farorz?"
Murat tampak terkejut, seketika paham maksud dari pertanyaan Braheim. "Sangat mungkin mengingat sifatnya yang mudah goyah, Yang Mulia."
"Kau benar. Orang yang menyukai kejahatan kadang tidak butuh alasan untuk berbuat jahat." Braheim memutar kursinya menatap jendela. "Tapi Jihan Joozher selalu butuh alasan."
"Mohon beri hamba izin untuk memastikannya sekarang juga, Yang Mulia?"
Braheim memutar kursinya menghadap Murat. "Tidak. Aryesh Farorz baik-baik saja. Jika pun terjadi sesuatu padanya, itu tidak lebih dari pergelutan panas dengan Adikmu."
Murat tak menampik, meski sangat ingin. Adik perempuan semata wayangnya memang sudah kecanduan berahi.
"Bagaimana dengan Sayee? Aku tidak melihatnya sejak interogasi terakhir," tambah Braheim.
Spontan Murat mengangkat kepalanya, menangkap keyakinan di sorot mata Braheim. Murat pun bergegas menuju ruang interogasi, setelah berteriak memerintahkan para prajurit untuk mengekorinya. Sementara Braheim, melanjutkan kegiatan hari itu dengan pintu ruang kerjanya yang sengaja dibuka lebar, demi memudahkan pembawa kabar menyampaikan kabar tentang Sayee atau tentang Vinder yang sudah berkenan diberi botol susu.
Namun kabar yang dinanti Braheim itu tak kunjung datang, meski lautan manusia yang berdesakan di ruang tunggu semakin berkurang. Jelas saja. Karena Vinder belum berhenti memamerkan tangis pilunya, dan Sayee juga belum melewati masa kritisnya. Rupanya keyakinan Braheim sangat tepat. Sayee ditemukan tak sadarkan diri di ruang interogasi setelah menggores pergelangan tangannya sendiri. Murat pun langsung membawa Sayee ke istana utara*.
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
KLEK
"Bagaimana?"
Tabib kerajaan yang baru saja keluar dari ruang darurat itu melepas kopiahnya. "Ini adalah mukjizat yang diberikan Allah untuknya."
Murat menghela napas lega. "Kau sudah bekerja keras, Tabib. Terus awasi dia. Aku mengandalkanmu."
"Baik, Penasihat."
Segera Murat meninggalkan istana utara, berniat menyampaikan kabar baik itu langsung pada Braheim. Tak disangka kedatangan Murat bertepatan dengan kedatangan Kepala Pengurus istana baru, yang jika dilihat dari air mukanya, kemungkinan besar juga membawa kabar baik.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam." Murat dan Kepala Pengurus istana baru kompak mengucap salam pada Braheim.
"Katakan."
"Putra Komandan Haala sudah berhenti menangis, Yang Mulia. Sekarang putra beliau tertidur setelah menghabiskan dua botol susu," papar Kepala Pengurus istana baru.
__ADS_1
"Tentu saja. Biar bagaimanapun pahlawan kita adalah manusia. Dia jelas mempunyai rasa lelah dan haus." Braheim menoleh pada Murat. "Jadi benar penyebabnya kali ini adalah Sayee?"
"Benar, Yang Mulia."
"Aku mulai memahami benang merahnya." Braheim beranjak. "Karena satu masalah sudah teratasi, sekarang mari selesaikan masalah yang lain. Panggil Menteri Luar Benua. Aku tak sabar membahas leluconnya."
...•▪•▪•▪•▪•...
Pembahasan tentang Daxraj Natesh yang bangkit dari kubur digelar di Milaan*, dengan mengundang pilar-pilar Kumari Kandam yang ada di tempat. Ternyata bukan ide buruk menggelar pembahasan sensitif itu di luar ruangan. Aroma segar kuncup mawar yang tercium dari segala penjuru sepertinya cukup ampuh untuk meredam emosi.
Milaan* adalah sebuah taman yang ditumbuhi ratusan bunga mawar liar berwarna hijau.
" ... Saat itu terjadi, hamba sedang dalam perjalanan kembali ke Kumari Kandam. Jika saja bukan karena pemimpin suku pengembara, kapal yang hamba naiki pasti sudah menjadi puing."
Haala menggeleng menanggapi Menteri Luar Benua. "Itu tidak mungkin. Dia sudah mati."
"Hamba bersumpah, Komandan. Hamba bersumpah demi Dewa Krpaya."
"Aku pun berani bersumpah demi Dewa Krpaya. Dia mati di samping Vinder setelah sepenuhnya berubah menjadi pria tua. Aku bahkan melihat prosesi pemakamannya dari awal hingga akhir," jawab Haala dengan nada suara setengah berteriak.
"Bukan hanya hamba saksi yang melihatnya, Komandan. Angin laut yang mengamuk menerbangkan serban hitamnya, perlahan menampakkan wajah yang tersembunyi di baliknya. Itu pemimpin suku pengembara."
"Tidak mungkin." Haala kembali menggeleng.
"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
Braheim hanya mengangguk menanggapi Murat.
"Tentang saksi yang kau katakan, apakah kau bisa menghadirkannya, Menteri?" tanya Murat pada Menteri Luar Benua.
"Tentu saja, Penasihat. Mayoritas para saksi adalah pedagang dari Shushk yang berdagang di Lagaam. Hamba sedang memproses perizinan mereka untuk memasuki Kumari Kandam. Mereka akan hadir paling lambat lusa."
Semua orang yang duduk mengitari meja bundar itu kompak memasang wajah tak percaya, sesaat setelah menangkap apa yang dikatakan Haala, tanpa terkecuali.
"Maaf, Komandan. Mengganggu istirahat orang yang telah wafat adalah perbuatan zalim."
Haala menoleh pada Menteri Agama. "Lalu dengan apa aku harus membuktikan ucapanku, Menteri? Andalah yang telah berbuat zalim karena percaya orang yang telah mati bisa hidup kembali."
Menteri Agama tergagap, pun rekan sesamanya.
"Aku setuju. Ucapan memang tidak akan ada artinya tanpa bukti. Jika Menteri Luar Benua membuktikan ucapannya dengan menghadirkan saksi saat kejadian, maka tidak salah jika Komandan Haala membuktikan ucapannya dengan cara yang zalim itu. Kecuali kalian bisa menyumbang cara yang lain?" Braheim menatap Menterinya satu per satu.
"Menurut hamba tidak masalah melakukan pembongkaran liang lahad demi kepentingan keamanan, Yang Mulia."
"Hamba setuju, Yang Mulia. Benua Jvaala yang mengebumikan jenazah tanpa kremasi bahkan tak jarang melakukan pembongkaran liang lahad ketika dibutuhkan untuk kepentingan interogasi." Timpal Menteri Hukum pada Menteri Sosial.
Hampir sebagian orang tampak setuju melakukan pembongkaran pada makam Daxraj Natesh. Tetapi sebagian yang lain terutama Menteri Agama tampak bingung. Braheim pun melakukan pemungutan suara, dan hasilnya tiga belas orang menyatakan persetujuannya, kemudian sisanya memilih tidak memberikan suara termasuk Menteri Agama.
"Di mana dia dikebumikan?"
"Di dalam portal, Yang Mulia," jawab Haala pada Braheim.
"Maka yang bisa melakukannya hanya satu orang." Braheim menoleh pada Murat.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Apa katamu?" Jihan bertanya dengan mulut penuh kunyahan apel.
Murat menyodorkan sekop. "Ambil ini dan gali liang lahad Daxraj Natesh."
__ADS_1
"Apa kau sedang menyamakanku dengan Sanjeev Rajak?"
Murat mengatur napasnya yang mulai terasa panas. "Ini keadaan darurat."
"Apa peduliku? Di sini tidak darurat," balas Jihan seraya meludahi wajah Murat dengan kulit apel.
Aswin mulai memasang kuda-kuda, sebab yakin Murat akan segera menendang portal itu dan terpental menabrak barisan prajurit. Namun di luar dugaan, hari ini Murat sedikit bisa mengendalikan amarahnya. Setelah kembali mengatur napas dan menyeka bekas lemparan kulit apel di wajahnya, Murat berjalan selangkah mendekati portal berlatar malam hari itu.
"Firdoos Shyamali memiliki seorang adik."
Spontan langkah Jihan terhenti, lalu perlahan, kunyahan rakusnya mulai terdengar samar.
"Dia bekerja di pelelangan. Aku memberinya sekantong koin emas untuk menceritakan tentang Firdoos Shyamali, dan dia mengantarku ke sebuah kamar," imbuh Murat.
Jihan tak menjawab, namun kembali menggigiti apelnya, sambil berjalan mendekati portal.
"Di kamar itu rasa rindumu pada Firdoos Shyamali bisa terobati."
"Di mana?" tanya Jihan akhirnya.
"Akan kuberitahu setelah kau mulai menggali." Murat kembali menyodorkan sekop.
"Cih. Lemparkan."
Murat menuruti pinta Jihan, tetapi anehnya sekop itu terpental, bahkan hampir menancap di dahi salah satu prajurit. Ternyata begitu. Tidak hanya orang kotor dan benda-benda peninggalan orang mati saja yang tidak bisa menembus portal tempat tinggal suku pengembara, melainkan juga benda yang telah disentuh oleh orang kotor.
Jihan terbahak. "Ternyata Penasihat Raja Kumari Kandam sangat kotor."
"Semua rakyat Kumari Kandam sedang kalut dan kau malah tertawa?"
"Itu karena aku sangat senang. Sekarang aku percaya jika kita saudara." Jihan mengusap sudut-sudut matanya yang berair. "Baiklah-baiklah. Akan kulakukan. Tapi apa alasannya?"
"Apa itu penting?"
"Aku butuh alasan untuk melakukan sesuatu, Kakak."
Murat diam sesaat, tiba-tiba teringat ucapan Braheim. "Ternyata benar, Jihan Joozher selalu butuh alasan."
"Bicara apa kau?"
Murat berjalan menjauhi portal. "Daxraj Natesh bangkit dari kubur. Menteri Luar Benua melihatnya sedang menghalau ombak setinggi tiga puluh meter yang hendak meratakan rumah penduduk di pesisir."
Jihan kembali terbahak. "Dan kalian memercayainya? Termasuk Raja Kumari Kandam yang berotak cemerlang itu?"
"Perhatikan ucapanmu. Ada banyak telinga di sini."
"Kenapa? Aku tidak merasa mengatakan sesuatu yang salah. Justru kaulah yang salah. Dasar tolol. Berkacalah dan pandangi wajah tolomu itu, Murat Iskender."
Spontan Aswin melompat menahan Murat yang akhirnya kembali dikendalikan amarah.
"Putri, mohon kerja sama Anda."
"Ya ya ya baiklah. Aku akan mulai menggali, Aswin. Meski dengan kondisi tangan seperti ini." Jihan mengangkat tangannya yang diperban sembarangan. "Tapi, Aswin, apa kau juga memercayai apa yang dikatakan Menteri Luar Benua?"
"Hamba belum bisa menjawabnya sekarang, Putri."
"Itu adalah jawaban lain dari kau yang percaya, Aswin." Jihan menghela napas. "Tuhan tidak mengambil nyawa seseorang sebelum waktunya, pun tidak akan berubah pikiran jika sudah waktunya. Jadi tidak mungkin ada orang yang bangkit dari kubur. Jika pun mungkin, sudah pasti bukan Tuhan yang melakukannya."
Semua orang diam, mulai goyah dengan kepercayaannya tentang pemimpin suku pengembara yang bangkit dari kubur.
"Anggap saja yang melakukannya manusia. Bukankah dia harus melewati portal itu terlebih dahulu untuk membangkitkan Daxraj Natesh yang dikebumikan di dalam sini? Lalu Jika kalian yang melakukan kejahatan seperti membunuh saja tidak bisa melewati portal ini, bagaimana mungkin dia yang melakukan kejahatan jauh di atas kalian bisa melewatinya?" Jihan berlalu seraya menggeleng-geleng. "Benar-benar sekumpulan idiot."
__ADS_1