
Suara samar mulut-mulut yang tengah asyik menggunjing semakin jelas terdengar seiring dengan semakin dekatnya langkah kaki Haala menuju panggung megah hukuman mati. Meski demikian, masih ada cukup banyak mulut-mulut yang terkunci, di mana itu artinya masih ada cukup banyak pula orang-orang yang memercayai Haala walau tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk membela.
Namun mulut para penggunjing itu perlahan ikut terkunci, ketika angin berkekuatan sedang berhembus membungkam mereka. Mereka ingat betul yang sedang mereka lakukan saat ini adalah meringkuk ketakutan di tempat aman sambil terus memanjatkan doa pada Dewa Krpaya* agar Kumari Kandam bisa memenangkan perang melawan Gaana. Tapi situasi macam apa ini?
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Hanya tersisa beberapa langkah sampai kepala Haala menggelinding di tanah alun-alun kota yang lembap, namun dua orang pengawal menghentikan langkahnya dan menghadapkannya ke arah utara, ke arah Jihan berada. Seolah tak suka melihat Haala menikmati cuaca sejuk pagi itu lebih lama, spontan Jihan pun beranjak, berniat menanyakan pertanyaan klasik perihal pesan terakhir calon orang mati.
"Ada ramuan penyembuh yang hamba tinggalkan di penjara tempat hamba ditahan. Tolong berikan ramuan itu pada Yang Mulia Ra--"
Spontan Haala menjeda ucapannya sendiri, karena sadar dirinya tidak lagi berada di masa lalu. Ini adalah masa depan. Haala yakin akan itu, pun Jihan yang tengah memandangnya dari kursi penonton paling tinggi. Tampaknya semua yang ada di tempat eksekusi itu butuh waktu lebih lama untuk mencerna situasi. Mereka saling memandang satu sama lain, bingung.
"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan kita tidak seharusnya berada di sini tetapi di tempat aman?"
"Kupikir aku seorang yang menjadi gila. Kita memang berada di tempat aman. Kita ketakutan setengah mati mendengar suara iblis lain yang serupa Gaana."
"Ternyata saat itu kita benar-benar ada di masa lalu. Hebat sekali. Apa kalian masih mengingat rupa pemimpin suku pengembara? Juga portal berlatar siang hari?"
"Bagaimana bisa aku melupakan itu. Itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup."
__ADS_1
"Aku bahkan masih mengingat semua yang dikatakan pemimpin suku pengembara."
"Jadi benar ini adalah masa depan. Kalau begitu syukurlah. Berarti Gaana sudah mati."
"Benar. Kita sudah aman. Kumari Kandam sudah aman."
"Tapi tunggu, aku masih belum mengingat alasan kita berada di sini."
"Komandan Haala dijatuhi hukuman mati atas tuduhan percobaan pembunuhan pada Yang Mulia Raja dan para selir."
"Apa? Itu tidak mungkin."
"Bukankah yang paling mungkin melakukan perbuatan seperti itu adalah Yang Mulia Ratu?"
Para penduduk kian bersemangat bernostalgia, seolah hanya ada mereka di sana. Jihan yang tak tahan mendengar itu langsung meninggalkan tempatnya tanpa sepatah kata. Murat pun mengambil alih situasi. Para eksekutor membungkuk menerima perintah Murat untuk melepaskan ikatan di tangan Haala, dan tak lama setelahnya, keluarga Haala berhamburan naik ke atas panggung.
"Ini adalah pertolongan nyata dari Dewa Krpaya. Oh, putriku," ujar ibu Haala sambil memeluk Haala.
Haala membalas pelukan Ibunya. "Ibu."
__ADS_1
"Kakak."
"Laasya." Haala mengusap kepala sang adik.
"Apakah Ayah, Kakek dan Nenek kalian juga ikut dalam rombongan?" Ibu Haala mendongak ke langit.
Spontan Haala beserta adiknya ikut mendongak ke langit, tempat yang dipercaya sebagai rumah untuk roh yang telah mendapat izin tinggal oleh Dewa Krpaya. Haala pun ingin tahu jawabannya. Apakah sang Ayah, Kakek dan Neneknya juga ikut dalam rombongan? Entahlah. Haala menyudahi kegiatan pengundang air mata itu, karena enggan berharap apapun. Hatinya sudah benar-benar lelah.
"Yang Mulia. Yang Mulia, tolong kembali. Kondisi Anda masih belum stabil," teriak kepala pengurus istana selatan*.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
Spontan Haala berlari menghampiri Braheim yang tengah dikejar kepala pengurus istana selatan serta beberapa orang tabib kerajaan. Haala menangkap Braheim yang hampir tersungkur, dibantu semua orang. Ada yang ingin dikatakan Braheim, Haala bisa merasakan itu melalui tatapannya. Namun entah mengapa Haala seperti tidak berkenan untuk mendengar sepatah kata pun dari bibir pucat itu.
"Pergilah, Komandan," lirih Braheim.
Haala diam, sudut-sudut matanya mulai digenangi air mata.
"Ratu Kumari Kandam sudah melakukan yang harus dilakukannya. Begitu pun aku. Pergilah. Takdirmu adalah memberikan pahlawan untuk tanah Kumari Kandam."
__ADS_1
Haala masih diam, namun air matanya yang tak berhasil diajak kompromi sudah cukup memberi jawaban keengganannya pada Braheim.
Braheim mengusap air mata Haala. "Mari bersatu di kehidupan yang lain. Pergilah. Aku merestuimu."