TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 77


__ADS_3

Lima tetes ramuan terlarang yang diklaim Sanjeev Rajak mampu membangkitkan kembali jiwa yang sudah mati itu memang tidak berhasil membangkitkan jiwa Gaana, tetapi jiwa yang lain. Jiwa itu adalah jiwa mereka-mereka yang tidak dikebumikan secara layak di masa yang sudah terlupakan. Mereka bangkit menuntut tempat peristirahatan terakhir kepada siapa pun yang mereka temui.


Dengan wujud tengkorak tak utuh serta sisa pakaian yang tak lenyap diombang-ambingkan zaman, mereka berjalan mengikuti aroma jiwa-jiwa yang masih hidup. Braheim dan rakyatnya menyaksikan pemandangan itu dengan ngeri, sekaligus iba. Rupanya kejadian seperti itu pernah terjadi satu kali di Kumari Kandam, yakni saat masa pemerintahan kakek buyut Braheim.


Solusi untuk kejadian yang terkenal dengan sebutan kebangkitan massal itu diwariskan secara turun-temurun, agar setiap pewaris tahta Kumari Kandam bisa bersiap ketika hari kebangkitan massal kembali terulang. Dan Braheim tak menyangka jika hari itu terulang di saat masa kepemimpinannya. Tanpa membuat semua orang merasa ngeri lebih lama lagi, Braheim pun menurunkan perintah.


"Murat, Aswin."


"Beri hamba perintah, Yang Mulia." Penasihat serta Wakil Komandan Perang Kumari Kandam itu kompak membungkuk pada Braheim yang masih setia menatap lautan tengkorak dari puncak.


"Perintahkan semua orang untuk menyucikan diri, membunyikan benda apapun sekuat mungkin, dan pergi ke Dhoosar* dengan tenang."


Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.


Ya. Solusi ampuh untuk kebangkitan massal itu adalah Dhoosar. Sedangkan menyucikan diri dan membunyikan benda-benda hanyalah solusi sementara agar membuat mereka tidak mendekat. Dhoosarlah tempat peristirahatan terakhir yang mereka tuntut itu. Mereka akan menyatu dengan Dhoosar, dan naik ke Daraar* dengan bantuan doa para pengiring.


Daraar* dipercaya sebagai alam roh.


"Kita tidak mengenal siapa mereka, tetapi sudah pasti mereka adalah orang-orang berjasa yang sudah melindungi tanah Kumari Kandam ini. Semoga Dhoosar bisa membuat mereka mengikhlaskan urusan duniawi, dan semoga gerbang Daraar terbuka lebar untuk mengantarkan mereka ke surgawi."


"Semoga Dhoosar bisa membuat mereka mengikhlaskan urusan duniawi, dan semoga gerbang Daraar terbuka lebar untuk mengantarkan mereka ke surgawi." Rakyat Kumari Kandam kompak mengulang ucapan Braheim.

__ADS_1


Proses pengebumuian itu berjalan lancar dengan diiringi air mata berkabung yang ambigu. Satu per satu jiwa-jiwa yang diusik oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu menenggelamkan dirinya ke dasar Dhoosar. Namun di detik sebelum tubuh mereka tenggelam sepenuhnya, mereka tiba-tiba berubah menjadi manusia. Mereka tersenyum pada Braheim, rakyat Kumari Kandam, dan pemimpin suku pengembara.


Dan berakhir sudah prosesi pengebumian yang sangat dramatis itu. Semua orang berniat kembali, pun Daxraj dan wanita dalam gandengannya, Haala. Meski pandangannya diganggu orang yang tak henti berlalu-lalang, Braheim yakin betul mata emas itu kini tengah menatapnya. Dan ketika tidak ada lagi penggangu, Braheim tersenyum membalas senyum cantik yang dirindukannya setengah mati itu.


Namun nyatanya senyum itu tak berkenan tinggal lebih lama. Bukan. Bukan karena sosok Haala yang semakin menjauh, tetapi karena Saree*nya yang tidak sengaja tertiup angin mempertontonkan perutnya yang tengah mengandung. Sejak saat itu hujan di Kumari Kandam turun semakin deras, seolah ikut serta merasakan kedukaan rajanya yang berhati lemah.


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.


" ... Jadi tolong lebih serius lagi mengobati diri Anda, Yang Mulia."


Braheim menerima obat-obatan yang disodorkan Murat, dan menelannya cepat. "Bukankah yang seharusnya mendengar itu tabib kerajaan?"


Murat menghela napas sambil memberikan Braheim segelas air. "Tabib kerajaan tidak bisa menyembuhkan luka hati, Yang Mulia."


"Karena faktanya memang demikian. Jika hati Anda sembuh, hujan akan berhenti, dan semua urusan di luar kerajaan bisa diselesaikan tanpa hambatan, Yang Mulia."


"Jika hambatan yang kau maksud adalah dingin, maka panggillah penjahit untuk membuatkan mereka jubah yang lebih tebal."


Murat mengatur napasnya yang mulai digelitik amarah. "Hamba tahu apa yang Anda pikirkan. Ya, Anda tidak salah melihat, Yang Mulia. Komandan Haala memang tengah mengandung."


Spontan Braheim menghentikan gerak sibuk tangannya mencoret-coret gulungan laporan.

__ADS_1


"Hamba mengerti secara pribadi Anda tidak menginginkan ini terjadi, tetapi Anda sudah melakukan sesuatu yang benar sebagai seorang raja di--"


"Murat," sela Braheim.


Murat buru-buru membungkuk. "Beri hamba perintah, Yang Mulia."


"Aku akan mengangkat Putri Chadna menjadi ratu."


Murat diam cukup lama. "Pilihan yang tepat, Yang Mulia," jawab Murat akhirnya.


"Tawarkan posisi selir untuk Putri Shrila dan Putri Lavali. Jika mereka menolak, antarkan mereka pulang dengan hadiah yang mewah."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Braheim memutar kursinya menghadap jendela. "Lalu, ada yang harus kau lakukan."


"Beri hamba perintah, Yang Mulia."


"Ini tentang Firdoos Shyamali. Cari tahu apapun tentangnya di masa ini."


"Boleh hamba tahu alasannya, Yang Mulia?"

__ADS_1


"Firasatku buruk. Sangat buruk."


__ADS_2