
BRUK!
Haala jatuh terduduk sesaat setelah sosok Daxraj hilang dari balik portal berlatar pagi hari. Haala berharap apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi atau halusinasi semata sebab mentalnya yang sudah sangat kelelahan, namun sialnya semua nyata. Tak peduli sekeras apapun Haala menampik, semua yang baru saja terjadi, benar-benar nyata.
Belum terpecahkan teka-teki tentang Gaana* dan pemimpin suku pengembara yang asli, sekarang malah muncul teka-teki baru yang berkali lipat lebih pelik. Merasa sudah sangat muak menerka, Haala pun memutuskan untuk kabur dari kamar tidur Braheim demi bisa sesegera mungkin menemui Daxraj di istana tenggara*.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
*Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam*.
Tetapi sia-sia saja menemui Daxraj dan memberondonginya pertanyaan ini itu, sebab Daxraj hanya membisu sambil memamerkan kerut tanda tanya besar di wajahnya yang luar biasa tampan. Haala kembali jatuh terduduk, menghela napas putus asa, dan mengusir kewarasannya demi bisa mendinginkan otaknya yang mendidih meski hanya setengah detik.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Haala pada Daxraj.
"Apa maksudmu?"
"Sekarang kau ada di hadapanku, tetapi beberapa menit yang lalu kau keluar dari portal masa depan. Bagaimana bisa?" tanya Haala lagi.
"Kurasa kau sangat terpukul karena pernikahan kita dibatalkan. Tunggu di sini, aku akan meminta ramuan penenang pada tabib kerajaan. Agar lebih cepat sebaiknya aku menggunakan jalan ruang bawah tanah."
"Ruang bawah tanah. Benar, ruang bawah tanah. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Pasti ada petunjuk di sana," sela Haala seraya beranjak penuh semangat dari lantai.
"Apa ma--"
"Jangan bicara padaku sampai aku tahu siapa kau sebenarnya. Aku tidak akan segan menebas kepalamu dengan pedang leluhurku jika terbukti selama ini kau hanya bersandiwara," sela Haala lagi.
Jantung Haala berdebar sangat cepat, secepat kuda yang ditungganginya saat ini. Haala sangat yakin akan menemukan petunjuk di ruang bawah tanah yang ditemukan Laasya di masa depan. Ruang bawah tanah berisi harta karun berlimpah yang terletak di bawah kebun labu milik sang ibu, yang sialnya masih berupa kandang kuda di masa lalu.
Haala melompat dari kuda, dan mulai mencari pintu masuk ke ruang bawah tanah tersebut. Setelah membuat belasan kuda milik sang kakek kompak mendengus jengkel, Haala akhirnya menemukan pintu misterius yang sedari tadi dicarinya. Tanpa membuang waktu lagi, Haala pun langsung melompat masuk setelah sebelumnya menyalakan penerangan.
"Sepertinya hanya ruang bawah tanah ini yang tidak berubah. Syukurlah," tutur Haala dalam hati.
Setelah puas mengucap syukur pada Tuhan, Haala langsung melangkah cepat menuju lemari buku. Haala menajamkan pandangannya, mencari sebuah buku bersampul kulit hewan. Dan tak butuh waktu lama, buku terlewat tebal berbahasa Videsh* berisi ramalan suku pengembara yang ditemukan Laasya di masa depan kini sudah ada di genggaman Haala.
*Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit*.
Haala langsung membuka halaman di mana tertulis ramalan suku pengembara, dan tak ada yang berubah. Isi buku itu masih sama. Meski kesulitan menerjemahkan, Haala bersikeras memulainya dari dua puluh tiga lembar halaman pertama, yang mengisahkan tentang Ratu Kumari Kandam pertama yang ternyata berasal dari suku pengembara.
Haala mulai membaca. "Khairiya Patralekha melanggar adat ... Suku pengembara hanya boleh menikah dengan sesama suku ... Kekuatannya dicabut ... Dia bukan lagi bagian dari suku pengembara, selamanya."
"Benar sekali."
Spontan Haala menoleh ke asal suara. "Yang salah adalah, bagaimana bisa kau masuk ke rumah orang tanpa izin?" imbuh Murat.
"Ini, rumahmu?"
"Begitulah. Meski ada di atas rumahmu," balas Murat.
"Jadi semua harta ini, termasuk buku ini juga adalah milikmu?"
Murat berjalan mendekati Haala. "Milik siapa lagi?"
"Dari mana kau mendapatkan buku ini?"
Murat memeriksa buku yang sedang dibaca Haala. "Entahlah. Aku lupa karena sudah lama sekali. Daripada itu, terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena sudah menyelamatkan adikku," jawab Murat.
Haala diam, tampak berpikir. "Jihan putri peternak susu. Dia adalah adikku," tambah Murat.
"Ah, kupikir dia kekasihmu. Pantas saja kau selalu melindunginya."
Murat mendecak, "Tidak akan ada seorang pria pun yang mau menjadikan wanita gila sepertinya sebagai kekasih."
Spontan Haala tersenyum. "Di masa depan pun kau menyebut Yang Mulia Ratu wanita gila."
__ADS_1
"Apa? Masa depan? Yang Mulia Ratu?"
Haala menggeleng. "Bukan apa-apa. Daripada itu, boleh aku meminjam buku ini?"
"Aku tidak keberatan jika kau tidak memercayaiku, tapi buku itu hanya bisa dibaca di sini. Semua yang tertulis di dalamnya akan langsung menghilang jika terkena sinar matahari."
"Ah, aku mengerti. Kalau begitu, boleh aku datang lagi untuk membaca buku ini?" tanya Haala ragu.
"Bukankah kau sudah datang diam-diam? Kurasa kau tak perlu izin dariku."
...¤○●¤○●¤○●¤...
TOK.. TOK.. TOK..
"Penasihat? Kau di dalam?"
Tak ada jawaban dari dalam ruang bawah tanah yang di masa lalu ternyata menjadi tempat tinggal Murat Iskender. Haala pun memutuskan untuk kembali masuk diam-diam ke ruangan tersebut. Haala sempat terkejut karena kedatangannya langsung disambut beragam senjata yang tercecer di sepanjang tangga, seperti suasana rumah yang baru saja disatroni perampok.
Namun dalam sekejap keterkejutan Haala lenyap. Terlihat di pojok ruangan, tepatnya di atas permadani berbulu lusuh, Murat tengah terlelap bersama dua orang wanita yang meringkuk di sisi kanan serta kirinya tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Haala mengabaikan pemandangan tak senonoh di depannya, dan kembali fokus pada tujuannya.
Haala membuka halaman ketiga yang akan diterjemahkannya. Masih tentang kisah Ratu Kumari Kandam pertama, Khairiya Patralekha, yang ternyata berasal dari suku pengembara. Khairiya jatuh cinta pada Raja Kumari Kandam pertama. Karena adat suku pengembara melarang pernikahan dengan manusia biasa, Khairiya pun diusir dan kekuatannya dicabut.
Haala mulai membaca. "Saat penerus Raja Kumari Kandam pertama lahir, saat itu jugalah ramalan suku pengembara digemakan. Berhati-hatilah kalian anak cucu kami, pada tipu dayanya. Dan ketahuilah satu hal. Dia tidak berhasil mengendalikan apa-apa."
SREK!
Haala membalik halaman selanjutnya. "Dia mati karena dendamnya sendiri. Dendam pada bayi tak berdosa yang baru berumur dua puluh empat hari."
SREK!
"Berhati-hatilah kalian anak cucu kami, ketika malam Shukravaar* tiba. Karena di malam itu Dia akan bertambah sesat," gumam Haala seraya membalik halaman kelima.
*Shukravaar* adalah hari jumat*.
"Kapan kau datang?" tanya Murat pada Haala sambil menguap.
Murat meraih kain, lalu beranjak mendekati Haala. "Aku membaca buku ini hanya di bagian kisah pemimpin suku pengembara. Dia bertubuh tinggi besar. Beserban hitam. Memiliki warna bola mata yang berbeda, dan menunggangi singa raksasa."
"Warna bola matanya tidak berbeda."
Spontan Murat menoleh pada Haala. "Apa?"
Haala menggeleng. "Bukan apa-apa. Kurasa cukup untuk hari ini. Aku akan kembali lagi besok."
"Tunggulah sebentar lagi."
"Kenapa?"
Murat menunjuk langit-langit ruang bawah tanah. "Kau tidak dengar? Ayahmu sedang berada di kandang kuda."
"Dari mana kau tahu?" tanya Haala lagi.
"Ini malam Shukravaar. Ayahmu sedang bersiap untuk berpatroli ke Hutan Mook."
Haala tampak terkejut. Apa yang dikatakan Murat terngiang bersamaan dengan isi halaman terakhir buku yang baru saja diterjemahkannya. Sang ayah yang berpatroli hanya di malam Shukravaar, dan Dia yang entah siapa yang akan bertambah sesat di malam Shukravaar, entah kenapa sangat mengganggu Haala, sebab terasa seperti berkaitan.
Haala berniat membuntuti ayahnya tanpa membuat Murat curiga, dengan menunggu hingga sang ayah pergi seperti yang diusulkan Murat. Baru setelahnya Haala akan membuktikan sendiri benar tidaknya prasangka buruknya tentang sang ayah. Dan saat yang sangat dinanti pun tiba. Haala nekat membuntuti sang ayah yang tengah memasuki Hutan Mook.
Namun ketika Haala sudah tiba di pintu masuk Hutan Mook, sang ayah yang jelas-jelas memimpin perjalanan, menghilang. Dan andai saja sang ayah tidak muncul, Haala Anandmayee, komandan perang Kumari Kandam dari masa depan, sungguh tidak akan ragu untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan yang sudah merenggeut masa depan adik serta ratunya itu.
"Kau tidak seharusnya berada di sini."
"Ayah juga tidak seharusnya berada di sini," balas Haala pada sang ayah.
Ayah Haala menggeleng. "Ayah ditakdirkan berada di sini bahkan sampai mati."
"Apa maksud ayah?"
__ADS_1
"Kembalilah. Ayah tidak memiliki apapun lagi untuk ditukar," jawab ayah Haala.
"Aku tidak mengerti. Ditukar? Apa yang ayah tukar dan untuk apa?"
Ayah Haala berjalan mendekati Haala. "Ayah yang melukai Laasya dan temanmu. Teruslah berpikir seperti itu asalkan kau berjanji akan menjauhi hutan ini selamanya."
"Apa ya--"
BUG!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Haala terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Meski samar, Haala masih ingat percakapan terakhirnya dengan sang ayah sebelum akhirnya jatuh dari kuda. Haala berpikir keras tentang apa yang membuatnya tak sadarkan diri malam itu, dan tentang bagaimana bisa dirinya kembali terkurung di kamar tidur penguasa Kumari Kandam.
Haala memandangi ranjang megah bertirai sutra itu sambil berkhayal. Andai saja tidak ada ramalan suku pengembara. Andai saja hanya Braheim yang memiliki tanda lahir pemimpin suku pengembara. Dan andai saja singgasana ratu benar-benar ditakdirkan untuknya, Haala tidak akan merasa bersalah karena terbangun di ranjang yang bukan milik Daxraj.
Haala beranjak, hendak menemui Braheim di ruangannya. Namun Haala terkejut ketika mendapati pakaian tidur asing yang dikenakannya. Pakaian tidur kuno dengan pernak-pernik mutiara langka di bagian leher itu jelas milik wanita yang kemungkinan besar adalah mendiang Ratu Kumari Kandam terdahulu, Ibu Braheim.
"Kau cocok dengan gaun itu."
Spontan Haala menoleh ke asal suara. "Meski ingin, bukan aku yang memakaikannya," imbuh Braheim.
"Bagaimana hamba bisa berada di sini?"
Braheim duduk di pinggiran ranjang. "Seperti biasa aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Saat itulah aku melihatmu masuk ke dalam hutan. Aku menyusulmu namun kau sudah pingsan."
"Bagaimana dengan ayah hamba?"
"Kupikir kau pergi ke hutan itu sendirian. Karena tidak ada siapa pun selain kau di sana," jawab Braheim.
Haala diam, tampak terkejut. "Daripada itu, apa kau setidakinginnya menikah denganku sampai berniat bunuh diri dengan cara memberikan jiwamu pada Gaana*?"
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
"Anda tahu tentang Gaana?" tanya Haala.
"Sangat tahu."
"Mungkinkah dia yang melukai adik dan Ya--, ah tidak. Adik dan teman hamba?" tanya Haala lagi.
"Kurasa tidak. Sama seperti Ghinauna*, mereka yang sudah melihat wujud asli Gaana pasti mati. Bukankah adikmu masih hidup?"
*Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal*.
Haala hanya mengangguk menanggapi Braheim. Terlihat Haala tengah memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Bagaimana tidak, Haala yang sebelumnya mantap melabeli Gaana sebagai tersangka kini harus melepas label itu dan menempelkannya pada tersangka yang tepat, yang entah siapa dan ada di mana. Meski begitu Haala tetap yakin jika Gaanalah yang ada di balik kepelikan ini.
Braheim beranjak. "Targetnya adalah aku, jadi tidak perlu khawatir."
"Apa maksud Anda?"
Braheim menghela napas. "Entah bagaimana awal mulanya, yang jelas targetnya adalah aku."
"Darimana Anda tahu?"
"Dia terus mendatangiku dalam mimpi. Dia berkata sedang menyusun rencana luar biasa untuk memberikan kematian paling mengerikan untukku," balas Brahrim.
"Mungkinkah di masa depan Anda juga sudah tahu tentang Gaana?"
Braheim menoleh pada Haala. "Mengingat aku gemar menyembunyikan rahasia, mungkin saja."
Lagi-lagi perubahan baru terkuak, menindih perubahan-perubahan lama yang masih belum jelas benang merahnya. Haala berharap di masa depan Gaana sudah mati di tangan Daxraj yang terbukti sebagai pemimpin suku pengembara. Namun sial, firasat Haala berkata lain. Nampaknya antagonis sebenarnya di masa lalu pun masa depan bukanlah Ratu Kumari Kandam melainkan penunggu Hutan Mook, Gaana.
Braheim mendekati Haala. "Sudah kubilang tidak perlu khawatir. Aku sedang berusaha membuat Gaana kelaparan."
"Apa rencana Anda?"
"Aku berencana membuat undang-undang pernikahan dini. Dengan begitu jiwa-jiwa suci yang merupakan makanan Gaana akan langsung berkurang. Maka dari itu, jadilah contoh untuk undang-undang yang akan kuresmikan. Jadilah Ratuku, Haala," sahut Braheim sembari meraih kedua tangan Haala.
__ADS_1
Haala diam cukup lama. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Sampai hamba tahu siapa pemimpin suku pengembara yang asli, hamba tidak akan menikahi siapa pun."