TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 59


__ADS_3

Terlihat Firdoos tengah sangat berhati-hati mengikat gulungan kertas kecil di salah satu kaki burung pembawa pesan. Pesan itu ditujukan Firdoos untuk Braheim yang memintanya memberi kabar jika sudah tiba di Desa Pahaad. Sambil memandang burung pembawa pesan yang terbang menuju barat, Firdoos mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Braheim.


Firdoos tak menyangka jika Braheim akan memberinya izin menggantikan Murat untuk menjaga Ratu Kumari Kandam yang sampai hari ini masih menjalani hukuman pengasingan. Saat itu Braheim bertanya tentang alasannya, Firdoos pun tanpa ragu menjawab seirama dengan apa yang digumamkan hatinya. Sebuah jawaban yang membuat Braheim ketagihan menguap.


"Kupikir aku akan dijatuhi hukuman mati," tandas Firdoos dalam hati.


"Tuan, kita sudah sampai."


"Ah, baiklah. Turunkan saja barang-barangnya. Aku akan memberi salam pada Yang Mulia Ratu terlebih dahulu," balas Firdoos pada kusir.


"Baik, Tuan."


Spontan Jihan buru-buru menutup tirai kamarnya, ketika melihat Firdoos keluar dari kereta kuda. Jantung Jihan mendadak berdegup seenak hati, tak lama setelah meyakini jika sesosok pria di luar sana adalah pria itu, pria di masa lalunya, pria pertama yang memilikinya, pria yang dianggapnya pria dari sekian banyak pria yang pernah ditemuinya.


*FLASHBACK ON*


"Apa ini pertama kalinya untukmu?" tanya seorang pria dari Svarg*.


Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.


Jihan mengangguk. "Beruntung sekali," imbuh si pria.


"Siapa namamu?"


Jihan menulis sesuatu di kertas dan menunjukkannya pada si pria. "Jihan Joozher."


"Ah, kau tidak bisa berbicara rupanya."

__ADS_1


Jihan kembali menulis. "Kenapa? Kau hanya mau bercinta dengan gadis yang bisa berbicara?"


Si pria tertawa. "Tidak juga. Kupikir para pria sudah cukup dengan mendengar erangan. Tapi bukankah akan lebih baik jika kau memberikan pengalaman pertama bercintamu pada orang yang kau sukai?"


"Cintaku berakhir sepihak," jawab Jihan dengan tulisan.


"Malang sekali. Malam ini aku akan memberikanmu banyak cinta, dan kau tidak perlu membayarnya."


Jihan hanya menoleh pada si pria. "Karena ini hari ulang tahunku," tambah si pria.


"Selamat ulang tahun. Tapi mintalah bayaran jika pelangganmu lebih dari dua orang," Jihan buru-buru menulis.


Si pria kembali tertawa, sembari mengecup punggung tangan Jihan. "Kurasa hari ini akan menjadi ulang tahun terbaikku. Aku banyak tertawa, dan mendapat pelanggan seorang gadis yang sangat cantik."


Dan begitulah akhirnya Jihan memberikan pengalaman pertama bercintanya pada seorang pria misterius dari Svarg. Jihan tidak menyangka jika aktivitas panas itu begitu luar biasa hingga membuatnya menjadi orang hilang karena terus berada di Svarg sampai satu pekan lamanya. Dan jika bukan karena kemahiran para pria dari Svarg, sudah pasti Jihan akan kembali ke Raseela* dalam keadaan berbadan dua.


*FLASHBACK OFF*


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, bulan Kumari Kandam." Firdoos membungkuk pada Jihan yang baru saja membukakan pintu.


"Kau?"


"Benar, Yang Mulia. Ini hamba. Saat itu hamba tidak sempat memperkenalkan diri. Perkenalkan, hamba Firdoos Shyamali, penasihat raja sementara."


Jihan berbalik, lalu melangkah menuju ruang tamu. "Bagaimana bisa pria yang bekerja di Svarg bisa diterima bekerja di posisi yang paling dekat dengan raja?"


"Sungguh tidak seperti yang Anda pikirkan, Yang Mulia. Hamba benar-benar menempuh ujian yang sulit untuk sampai di posisi ini da--"

__ADS_1


"Buktikanlah jika dirimu bukan jelmaan iblis sialan itu," sela Jihan.


Firdoos mengurungkan niatnya menarik kursi. "Apa yang Anda ingin hamba lakukan untuk membuktikan?"


"Apapun."


Firdoos mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. "Baru-baru ini Kumari Kandam membuat senjata bernama Gandh*, dan iblis sialan yang Anda maksud cukup takut dengan itu. Meski dalam kondisi kuat, jika sedikit saja terkena Gandh, dia akan kesal dan terpaksa menampakkan diri."


Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


"Dari mana aku tahu itu Gandh yang asli?"


Firdoos tersenyum. "Gandh tidak akan bereaksi pada selain iblis sialan yang Anda maksud."


Jihan tak menjawab, hanya memerhatikan Firdoos yang tengah membasuh wajahnya dengan Gandh. "Apa ini sudah cukup, Yang Mulia?"


"Ya, untuk sekarang. Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?"


"Untuk melindungi Anda, Yang Mulia," sahut Firdoos.


"Aku sudah dengar kabarnya dari surat yang dikirimkan Braheim pada Murat. Tapi aku masih tidak mengerti. Apa maksudnya dengan melindungiku?"


"Semua orang dievakuasi ke tempat aman, kecuali Anda, Yang Mulia."


"Ah, aku mengerti. Begitulah. Raja Kumari Kandam memang tidak memiliki belas kasih untuk para pendosa."


"Lalu kenapa Anda menjadi pendosa? Dulu Anda tidak seperti ini. Kenapa Anda tidak menepati janji Anda untuk datang pada hamba saat mengalami kesulitan? Tahukah Anda? Hamba menunggu Anda setiap hari, Yang Mulia."

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2