
Haala terus membungkuk, hingga wewangian biji kopi itu tidak lagi memprovokasi indra penciumannya yang sensitif. Dengan terburu Haala pun menghirup udara segar pagi itu, tak lama setelah si pemilik wewangian biji kopi, Braheim, menghilang sepenuhnya dari pandangannya yang nanar. Haala lalu menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi taman, sambil merasakan rasa sesak yang melilit hatinya, yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Apa boleh buat," gumam Haala.
Ya. Apa boleh buat. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Daxraj, hubungan Haala dan Braheim perlahan mulai merenggang. Entah siapa yang pantas dijadikan dalang atas kerenggangan itu, namun secara alami Braheim dan Haala mulai menghindari satu sama lain. Menghindar tanpa perdebatan, tanpa kode, dan tanpa keraguan. Hanya terus menghindar dengan keyakinan waktu akan mengulurkan bantuan klasiknya, kelahiran kembali.
Braheim dan Haala bersepakat menolak menyaksikan kebinasaan dunia, meski kesepakatan itu sepakat mereka sepakati hanya dalam diam. Lalu mereka juga memiliki alasan lain yang hanya Dewa Krpaya* yang tahu. Sebuah alasan memalukan yang ternyata menggerogoti jiwa pahlawan mereka selama ini. Sebuah alasan yang perlahan namun pasti membinasakan berahi. Sebuah alasan yang memutus ikatan batin, dan membuat kebas yang disebut rasa.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Braheim menyadari jika di kehidupan kali ini dirinya harus mengikhlaskan Haala untuk Daxraj. Karena Braheim adalah seorang raja. Bukan raja tanpa isi kepala tetapi raja yang bahkan sudah bisa menghafal undang-undang di usia dua tahun, bukan raja di satu wilayah tetapi di satu benua, dan bukan benua biasa tetapi benua dengan pasukan tempur terkuat sejagat. Jadi tak peduli sebesar apapun cinta Braheim untuk Haala, dirinya harus lebih mencintai rakyat.
Demikan juga dengan Haala yang sadar harus mengikhlaskan Braheim untuk ratu dan selir-selirnya. Meski terpaksa, tidak memilih Daxraj adalah kebodohan. Seorang pria yang rela menukar seribu tahun umurnya hanya untuk memberikan obat penghilang rasa sakit. Seorang pria yang tak segan membuat maut balik kanan demi wanita yang memiliki pria lain. Seorang pria yang berusaha menyelamatkan dunia dengan mempertimbangkan perasaan wanitanya.
"Sayangnya aku memang bodoh," gumam Haala lagi.
"Ya Dewa. Pengakuan jujur macam apa itu?"
"Syukurlah akhirnya kau menyadari kebodohanmu. Tapi apakah biasanya seseorang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari kebodohannya?"
"Tapi menurutku dia tidak bodoh. Dibuang Yang Mulia Raja, tidak bisa menikah, dan diberikan tugas menjaga Ghinauna*, bukankah seharusnya dia menjadi gila?"
Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.
__ADS_1
"Benar sekali. Jika ada di posisi itu aku pasti sudah menjadi gila."
Haala hanya beranjak enggan menanggapi empat wanita cantik yang entah sejak kapan sudah berdiri mengelilinginya. Sejak keberadaan Gaana tidak lagi terdeteksi dan dianggap mati, Kumari Kandam kembali aman, dan ujian pemilihan selir yang tertunda pun dilanjutkan. Lalu terpilihlah tujuh orang selir dari tujuh kerajaan berpengaruh di tujuh benua.
Selir Chadna dari Benua Chamakadaar, Selir Ghaaliya dari Benua Garjan, Selir Hameeda dari Benua Hathelee, Selir Jasoda dari Benua Jvaala, Selir Lavali dari Benua Lagaam, Selir Praveena dari Benua Padachihn, dan Selir Shrila dari Benua Shushk. Sementara dari Benua Kumari Kandam sendiri, tidak ada selir yang terpilih.
Dari ketujuh selir tersebut, empat orang dikenal sebagai mawar berduri tumpul. Dua orang dikenal sebagai madu dalam cawan, dan satu orang dikenal sebagai patung dewi kahyangan. Dan saat ini Haala tengah berurusan dengan Selir Ghaaliya, Selir Hameeda, Selir Jasoda serta Selir Praveena, sekumpulan mawar berduri tumpul.
"Mungkin aku tidak akan segila itu jika hanya dibuang oleh Yang Mulia Raja saja. Tapi sampai tidak bisa menikah? Memang ada wanita yang bisa hidup tanpa seorang pria?" Selir Ghaaliya tertawa.
"Para pria pun pasti akan berpikir panjang. Daripada menikahi wanita sisa Raja Kumari Kandam, akan lebih aman jika mereka bermain dengan wanita penghibur seumur hidup."
"Lalu tentang tugas yang tak ada bedanya dengan bunuh diri itu. Bukankah itu membuktikan jika cinta Yang Mulia Raja sudah benar-benar tidak tersisa untuknya?" timpal Selir Hameeda pada Selir Jasoda seraya ikut tertawa.
"Salam," sela Haala pada Selir Praveena.
Spontan kumpulan mawar berduri tumpul itu terdiam. "Semoga matahari Kumari Kandam selalu menyinari Anda sekalian. Sebelumnya terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Tapi daripada membuang waktu melakukan itu, kurasa akan lebih baik jika kalian mempelajari struktur kedudukan kerajaan."
"Apa katamu? Kau meminta kami yang terpelajar ini untuk mempelajari apa? Struktur kedudukan kerajaan?"
"Benar. Karena sepertinya kalian perlu untuk mempelajarinya jika ingin lebih lama tinggal di sini," balas Haala pada Selir Ghaaliya.
"Apa kau sedang mengancam kami?"
__ADS_1
Haala menoleh pada Selir Hameeda. "Itu bukan ancaman. Itu bentuk rasa kasihanku pada kalian yang baru sebentar menikmati status baru."
"Beraninya si bodoh ini. Kau pasti jauh lebih tahu jika hukum di Kumari Kandam sangat kejam. Bagaimana bisa kau seberani itu?"
Selir Jasoda mengangguk-angguk menanggapi Selir Praveena. "Jika kami melaporkan tindakan kurang ajarmu itu pada Yang Mulia Raja, kau pikir beliau masih akan melindungimu?"
Haala menghela napas. "Komandan perang ada di urutan kelima dalam struktur kedudukan Kerajaan Kumari Kandam."
"Lalu kenapa? Memangnya di mana masalahnya?"
Selir Hameeda menggandeng Selir Jasoda. "Sudahlah. Jelas sekali dia hanya sedang mengancam kita. Ayo pergi dan laporkan saja pada Yang Mu--."
"Masalahnya kalian ada di urutan keenam."
Spontan sekumpulan mawar berduri tumpul itu terkejut. "Bahkan saat masa kepemimpinan Raja Bhaavesh I, komandan perang ada di urutan setelah raja," imbuh Haala.
"Lalu? Memangnya kenapa? Persetan tentang struktur kedudukan yang kau bicarakan itu. Kami akan tetap melaporkanmu pada Yang Mulia Raja."
"Benar. Kau pikir ancamanmu itu akan membuat kami takut? Kau malah terlihat menyalahgunakan kedudukanmu dasar bodoh." Selir Praveena menimpali Selir Ghaaliya.
"Ini bukan tentang kedudukan siapa yang paling tinggi, tetapi tentang mereka yang berkedudukan tinggi yang memang memiliki kuasa menjatuhi hukuman mati pada kedudukan di bawahnya."
Air muka kumpulan mawar berduri tumpul itu mendadak berubah pucat. "Contohnya seperti aku yang ada di urutan kelima yang bisa menjatuhi hukuman mati pada kalian yang ada di urutan keenam," tambah Haala.
__ADS_1
Air muka kumpulan mawar berduri tumpul itu semakin pucat. "Jujur saja aku belum pernah menjatuhi hukuman mati pada siapa pun. Haruskah aku mencobanya? Pada kalian?"