TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 118


__ADS_3

Lolongan serigala malam itu terdengar begitu pilu. Entah apa artinya. Karena berduka atas kepergian setengah kawanannya yang beberapa waktu lalu terpaksa ditumpas habis oleh Vinder, atau karena dia. Benar, dia. Si iblis penjiplak, Sanjeev Rajak, yang akhirnya pulih setelah bertapa. Terlihat Sanjeev tengah berdiri memandang jauh ke luar jendela, tepatnya ke dalam pelindung Kerajaan Kumari Kamdam. Urat-urat kekesalan di rupa yang dijiplaknya itu mulai membentuk koloni.


Respon seperti yang ditunjukkan Sanjeev adalah wajar terlepas dari makhluk apapun, manusia atau iblis sekali pun. Semua orang bersenang-senang di dalam pelindung, bahkan sepertinya mereka sedang mempersiapkan pesta yang sangat besar. Sementara Sanjeev? Berada di luar pelindung seorang diri, dengan sisa-sisa sakit di sekujur tubuhnya. Padahal Sanjeev sudah berbuat baik. Entah sudah berapa banyak bencana yang dihalaunya untuk rakyat di delapan benua.


"Tapi aku tidak menyalahkan mereka sepenuhnya. Karena perbuatan baik yang kulakukan memang hanya bagian dari rencanaku untuk menjadi pemenang dalam perang kebinasaan." Sanjeev menendang rumah milik salah satu penduduk di Desa Raseela, dan melangkah keluar.


Sanjeev menoleh, memandang lagi wajah bahagia semua orang di dalam pelindung. Rasanya ingin sekali Sanjeev menembus pelindung itu dan membuat Braheim menyaksikan langsung kekejaman malaikat maut memburu rakyatnya. Tetapi Sanjeev harus menahan diri, sedikit lagi. Jika hanya menuruti rasa menggebunya yang sudah tak tertolong, Sanjeev hanya akan membuang waktu untuk memulihkan diri. Rencana Sanjeev jauh lebih penting, oleh karenanya Sanjeev berbesar hati membiarkan kebahagiaan itu lebih lama.


"Tahan. Abaikan. Pasukanmu sudah terlalu lama menunggu, Sanjeev. Ayo bangkitkan pasukanmu yang tak terkalahkan. Dan setelah itu, barulah kau bisa duduk manis menunggu mereka memakan umpanmu." Sanjeev menyeringai.


Mereka? Ya, mereka. Pasukan Sanjeev yang ada di dalam pelindung yang tidak disadari siapa pun termasuk musuhnya yang dipaksa tumbuh lebih cepat itu. Mereka adalah orang-orang yang pernah menenggak Vakr*. Ramuan yang dulu diciptakan Sanjeev untuk menjilat belas kasih Jihan itu ternyata memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang, dan efek jangka panjang itulah yang akan membuat Sanjeev bisa duduk manis. Celakanya, efek Vakr untuk jangka panjang benar-benar sangat berbahaya.


Vakr* merupakan ramuan yang bisa membuat mata batin seseorang terbuka.


"Mereka akan menjadi bonekaku meski aku hanya memberi perintah melalui bisikan." Sanjeev masih menyeringai. "Hah, aku benar-benar sudah tidak sabar."


Perlahan seringai Sanjeev pun berubah menjadi tawa tak berkesudahan. Sungguh, rupa tampan mendiang Daxraj Natesh benar-benar hanya dijadikan bahan lelucon oleh Sanjeev. Mungkin benar apa yang dikatakan Braheim, jika Daxraj yang saat ini menguasai surga tengah sibuk mengumpat setiap saat. Bersantai di surga tapi seperti berendam di neraka. Siapa memangnya yang tidak akan jengkel? Andai Daxraj masih mempunyai urusan di dunia, dia pasti akan menyelesaikannya sekaligus menguliti penjiplaknya.


"Bersenang-senang hingga lupa diri memang pertanda khas dari orang-orang yang akan menerima akhir hidup yang nahas." Sanjeev hilang ditelan kegelapan Hutan Mook.


...•▪•▪•▪•▪•...


...Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka....


"Ada apa?"

__ADS_1


"Apa kau juga mendengarnya?" Jihan menoleh ke sana ke mari, mencari-cari asal suara.


Faakhir beranjak malas, lalu bersandar di punggung ranjang. "Maksudmu suara perutmu?"


"Hei, aku bersungguh-sungguh."


"Aku tahu, Putri. Aku tahu. Akan segera kubuatkan sarapan." Faakhir beranjak, mencari pakaian yang berserakan di lantai, mengenakannya dan keluar dari kamar tidurnya.


"Sepertinya hanya perasaanku saja." Jihan ikut beranjak.


Tidak. Itu bukan sekadar perasaan. Efek jangka panjang Vakr mulai memengaruhi Jihan. Berbeda dengan yang lain yang menenggak Vakr lebih dulu, mereka sudah sepenuhnya terpengaruh. Layaknya boneka seperti yang dikatakan Sanjeev, mereka benar-benar hanya berhasrat pada perintah Sanjeev. Lain daripada itu, mereka hanya akan berbaring dan terlelap sepanjang hari.


"Makshi? Ya Tuhan, ada apa dengan anak ini? Hei, bangun dan bantulah pemilik rumah. Sadarlah kita ini hanya penumpang." Ibu Makshi menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Makshi. "Kita harus meninggalkan kesan baik sebelum kembali ke Lagaam da–"


Teguran ibu Makshi seketika tertahan, karena Makshi yang tiba-tiba beranjak dari ranjang, memelototi sang ibu sambil merampas selimutnya dan kembali berbaring. Ibu Makshi tertegun, karena sungguh itu kali pertama dirinya melihat Makshi seperti orang lain. Meski memang kerapkali dimarahi, tetapi Makshi bukanlah anak yang akan melawan. Makshi adalah anak yang sangat baik, bahkan demi membantu kedua orang tuanya, Makshi bersedia menenggak Vakr yang dihargai berkantong-kantong koin emas.


Dan nahasnya tidak hanya Makshi yang bersedia menenggak Vakr demi berkantong-kantong koin emas itu. Masih ada enam orang lagi. Entah siapa yang pantas disalahkan di sini. Yang pasti enam orang itu dan Makshi sudah memakan habis umpan yang dilempar Sanjeev. Kini mereka hidup hanya dengan satu tujuan, menjalankan perintah dari Sanjeev. Dan sepertinya lawan Sanjeev, Vinder, masih belum mengetahui apa-apa. Itu terbukti dari Vinder yang sampai hari ini masih sibuk bermain raja dan pelayan.


"Kenapa?"


"Itu bukan tempat bermain untuk anak-anak," jawab Braheim pada Vinder.


"Memang aku terlihat seperti anak-anak?"


Spontan Braheim menghentikan kesibukannya membaca laporan, dan perlahan melihat ke arah Vinder yang sedari tadi bersandar di pintu ruang kerjanya. Ya, memang. Dengan tinggi badan yang hampir menyamai pintu dan tubuh kekar yang membuat antrian orang-orang di ruang tunggu tidak terlihat itu memang memperlihatkan Vinder yang dewasa. Tapi dalam penglihatan Braheim, Vinder tetaplah bayi berusia tiga bulan yang selalu tersenyum tak jelas ketika rambut emasnya disisir.

__ADS_1


"Harem itu milik Murat Iskender."


Vinder berjalan mendekati Braheim. "Oh ayolah, matahari. Harem adalah imbalanku karena telah menyelamatkan para pengecut itu dari Serigala Jaadoo."


Braheim menghela napas. "Ibumu yang menyelamatkan mereka."


"Memang kau tahu situasi sebenarnya? Jika aku tidak datang mereka semua akan mati."


"Itu tidak akan terjadi jika saat itu Ibumu tidak mengenakan Saree*."


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.


Vinder duduk di meja Braheim, memunggunginya. "Tetap saja aku pahlawannya."


"Cari saja wanitamu daripada bermain-main di harem."


"Tidak ada."


"Pasti ada."


"Tidak ada wanita yang ditakdirkan untuk penerus pemimpin suku pengembara yang memicu masa kelam." Vinder tiba-tiba beranjak dan menghadap Braheim dengan berkecak pinggang. "Jadi cepat berikan harem untukku."


"Tidak ada wanita yang ditakdirkan untukmu? Itu artinya kau akan menjadi pemimpin suku pengembara selamanya?"


Vinder mengangguk-angguk. "Jadi cepat berikan harem untukku, matahari."

__ADS_1


"Berhenti memanggilku matahari."


"Bhaavesh DCCLXXXVIII, cepat berikan aku harem."


__ADS_2