TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 74


__ADS_3

"Ke Svarg*," ujar Jihan pada kusir.


Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.


"Baik."


Akhirnya kereta kuda itu melaju menuju selatan, setelah lebih dari dua jam hanya berdiam di tengah hutan, seolah sengaja menantang kawanan perampok bengis. Sejak melepaskan mahkota Ratu Kumari Kandam, Jihan pergi ke berbagai tempat dengan tujuan yang hanya satu, bertemu dengan pria yang telah mencuri hatinya di masa lalu, Firdoos Shyamali.


Namun nihil. Di mana pun itu, tidak ditemukan pria bernama Firdoos Shyamali. Akhirnya Jihan memutuskan pergi ke Svarg, tempat dirinya bertemu dengan Firdoos pertama kali. Jujur saja sejak awal Jihan berniat langsung ingin pergi ke sana, hanya saja dirinya tidak yakin jika Firdoos di masa depan jugalah seorang penjaja berahi.


Jihan tak sabar, rasa rindunya pada Firdoos benar-benar sudah mencapai batas. Entah dari mana keyakinannya itu datang, tetapi hatinya terus berkata jika pria yang mencuri hatinya ada di Svarg. Ya, memang benar. Namun sayangnya tidak ada lagi Svarg ataupun rumah-rumah bordil di masa depan. Braheim sudah menggusurnya diam-diam.


"Tidak-tidak. Kumohon. Ku--"


Bibir pucat Jihan tak lagi bisa berkata-kata, saat mendapati sebuah bangunan yang kini terpampang tepat di depan matanya bukan lagi bangunan itu, Svarg. Perasaan khawatir mulai merajai Jihan, hingga membuatnya bertingkah seperti orang gila. Jihan bertanya kepada semua orang yang ada di sana, menanyakan tentang nasib para pekerja di Svarg.


"Mungkin mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing."


"Di mana? Beritahu aku semua kampung halaman mereka. Cepat," balas Jihan pada seorang pedagang.


"Para pekerja di Svarg ada ratusan orang, jadi mana mungkin aku tahu kampung halaman mereka semua? Aku hanya pedagang yang lewat. Kenapa tidak menanyakannya langsung pada Yang Mulia Braheim?"


Jihan enggan menjawab, dan memilih mengakhiri percakapannya dengan pedagang kain sutra itu. Sambil mengutuki Braheim dalam hati, Jihan terus menanyakan pertanyaan yang sama pada setiap orang. Tak ada yang luput dari tanya memaksa mantan Ratu Kumari Kandam tersebut, bahkan sekali pun bayi-bayi yang hanya tahu mengisap jempolnya.


"Sialan. Braheim Bhaavesh sialan. Ternyata saat itu dia membutuhkan stempel dariku untuk menggusur tempat ini. Pantas saja. Sialan. Sialan. Sialan," batin Jihan.

__ADS_1


" ... Ada seseorang yang mungkin tahu. Dia pernah bekerja di Svarg."


Jihan menggoyang-goyangkan tubuh lawan bicaranya. "Siapa? Katakan cepat."


"Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu dia tinggal seorang diri di Raseela*. Tapi dia terkena penyakit menular. Itulah mengapa kami menjauhinya."


Raseela* nama desa yang ditinggali Haala dan Jihan di masa lalu.


Spontan Jihan menoleh ke barat, ke arah di mana Raseela terlihat.


Jihan mengangguk mantap. "Aku akan ke sana."


"Sungguh? Kubilang dia terkena penyakit me--"


"Firdoos Shyamali. Ya, aku mengenalnya. Tapi kami tidak memiliki hubungan yang dekat. Dia pria yang aneh."


Jihan sengaja tak memberi respon. Bukan karena penciumannya yang sangat terganggu dengan bau amis di mana-mana, melainkan karena tak sabar ingin segera mendapatkan petunjuk penting dari pria itu.


"Padahal banyak sekali pelanggan yang sengaja datang untuk menghabiskan waktu dengannya."


"Keanehan seperti apa yang kau maksud?" tanya Jihan akhirnya.


"Dia sering berbicara sendiri. Tak jarang juga menangis histeris, bahkan berteriak-teriak sambil melukai orang lain."


"Apa katamu?"

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba menoleh pada Jihan. "Kenapa kau mencarinya?"


"Bukan urusanmu. Daripada itu, apa kau pernah mendengar apa yang dikatakannya?"


Pria itu hanya mengangguk, tetapi tidak segera memberi jawaban pada Jihan.


"Semua orang bahkan mengingat setiap katanya. Karena hanya itu yang dia katakan setiap kali membuka mulut."


"Beritahu aku."


"Jangan membuatku bersedih. Tunggulah saatnya sambil memutihkan hati. Percayalah rasaku hanya untukmu meski di sini ada terlalu banyak bidadari yang menempel. Ubah takdirmu seperti waktu itu. Aku menunggumu dengan sabar, kekasihku."


Jantung Jihan berdebar, berdebar terlampau hebat sampai-sampai terasa nyeri. Rangkaian kata-kata Firdoos memang terdengar begitu manis, tetapi entah mengapa Jihan malah merasa itu seperti sebuah salam perpisahan. Jihan beranjak, berusaha menenangkan jantungnya yang jelas-jelas tengah memberi isyarat duka cita.


"Mungkinkah itu sebuah pesan? Untukmu ya--"


"Di mana dia?" sela Jihan.


Pria kurus kerontang itu hanya menunjuk ke sana, ke tempat di mana hanya ada tanaman bunga kamboja dan, batu nisan.


Jihan menggeleng-geleng. "Tidak mungkin."


"Saat hari penggusuran, penyakit anehnya mendadak kambuh. Dia menyerang para prajurit yang sedang bertugas, dan berakhir mati mengenaskan setelah para prajurit berbalik menyerangnya."


DEG DEG DEG

__ADS_1


__ADS_2