TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 100


__ADS_3

Benua Lagaam kembali dihebohkan dengan kemunculan pemimpin suku pengembara, Daxraj Natesh. Rumor tentang dirinya yang bangkit dari kubur lambat laun mulai meluruh, digantikan fakta mutlak. Sosok raksasa dengan dandanan khas itu kembali membuat alam kehilangan wibawanya. Setelah ombak setinggi tiga puluh meter, kini giliran kobaran api yang tampak rakus melahap seratus hektar ladang sagu.


Para petani yang ada di tempat kejadian hanya bisa meraung menyaksikan api putih meratakan sepetak lahan yang memberi mereka satu buah kantong koin emas setiap bulannya. Sampai sosok berpakaian serba hitam itu muncul, menggerakkan tangannya seolah meminta sang api menyudahi raungan para petani. Dan tak butuh lama, kobaran api yang sama tingginya dengan ombak tempo hari itu pun mulai tenang, dan perlahan, menghilang.


Semua orang di ladang sagu itu tak kuasa menggerakkan bibirnya meski untuk sepatah kata wajib yang seharusnya dihadiahkan pada sang pahlawan. Mereka terlalu dalam terhanyut dalam takjub. Bahkan hingga sosok yang mereka teriaki pahlawan dalam hati itu hilang di tengah sisa-sisa asap, mereka tetap membisu sambil merasakan debaran jantungnya yang salah tingkah meski hanya disuguhi pundak kokoh sang pahlawan.


"Meski aku belum pernah melihat langsung, aku memutuskan untuk memercayainya mulai hari ini." Seorang penduduk asli Chamakadaar memulai obrolan.


"Hei, bahkan semut saja sudah pernah melihatnya." Rekannya menimpali.


"Menyebalkan sekali. Kenapa aku terus mendengar cemoohan yang sama? Kemarin istri dan anakku, lalu sekarang kau."


"Itu karena semua orang sudah pernah melihatnya. Pemimpin suku pengembara benar-benar bangkit dari kubur, berkeliling ke delapan benua, dan membebaskan kita semua dari kesulitan."


"Ya, aku percaya. Karena bukan hanya kau yang pernah melihatnya tapi juga semua orang di delapan benua. Bahkan Yang Mulia Arshaq pun melihatnya."


"Benar-benar. Kudengar beliaulah satu-satunya orang yang melihatnya dari dekat."


"Benarkah? Bagaimana cerita detailnya?"


"Yang kudengar Yang Mulia Arshaq sedang berburu. Namun saat beliau mengincar buruannya, seekor beruang tiba-tiba muncul dan berbalik mengincarnya. Lima pengawal beliau tewas, dan kemungkinan besar beliau juga akan masuk dalam hitungan jika saja pemimpin suku pengembara tidak datang dan membuat beruang itu mencium kakinya."


"Ya Dewa. Itu menegangkan sekali. Syukurlah beliau selamat. Lalu apa kabar itu benar? Tentang Komandan Perang Kumari Kandam yang hendak melakukan pembongkaran liang lahad pemimpin suku pengembara?"


"Entahlah. Kupikir tindakannya itu tidak diperlukan. Bukankah sudah jelas apa yang akan didapatkannya? Tak akan ada jasad siapa pun di dalam liang lahad itu. Aku sampai bingung harus membenci atau mengaguminya."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku cintanya pada Raja Kumari Kandam yang tidak pernah luntur itu. Bukankah wanita pada umumnya akan goyah dan memilih pemimpin suku pengembara? Aku mengagumi kesetiaannya. Tapi niatnya untuk membongkar liang lahad suaminya bukankah terlalu berlebihan?"


"Kupikir itu wajar mengingat dia sangat mencintai Raja Kumari Kandam. Saat ini dia pasti sedang mengusahakan segala cara untuk membuktikan bahwa pemimpin suku pengembara sudah mati. Karena dengan begitu barulah hubungannya dengan Raja Kumari Kandam bisa terus berjalan."


"Kenapa dia menempuh jalan yang sulit? Akan lebih baik jika dia sadar akan posisinya, pun Raja Kumari Kandam sendiri. Jika dia benar memikirkan rakyatnya, bukankah dia tidak akan membiarkan singgasana ratunya kosong sampai selama ini? Bagaimana jika dia berada di posisi Yang Mulia Arshaq? Pergi berburu, diserang beruang, dan tewas tanpa meninggalkan penerus?"


"Bukankah Chamakadaar juga tidak memiliki penerus? Kudengar itu bukan anak Yang Mulia Arshaq melainkan pria lain ya--"


"Hei, kau ingin hidup tanpa lidah?"


"Aku hanya mengatakan apa yang mereka katakan."

__ADS_1


"Dasar si bodoh ini. Daripada itu, aku senang akhirnya kita tidak perlu khawatir pada penerus pemimpin suku pengembara yang kabarnya tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Ayahnya hidup kembali. Jadi tak peduli kapan pun perang kebinasaan datang, kita bisa tidur dengan nyenyak karena sudah jelas siapa yang akan menjadi pemenangnya."


"Tunggu. Bukankah itu aneh? Pemimpin suku pengembara sudah mewariskan kekuatan pada penerusnya, lalu dari mana dia mendapatkan kekuatannya yang sekarang?"


"Apa? Ya, mmm, mungkin dia menyisakan sedikit kekuatannya."


"Itu malah semakin aneh me--"


"Lupakan saja, dan nikmati kedamaian ini. Kita tidak perlu khawatir lagi akan datangnya perang kebinasaan dan masalah besar lainnya karena pemimpin suku pengembara ada di sekitar kita."


...•▪•▪•▪•▪•...


Di tengah suka cita akan kabar kebangkitan pemimpin suku pengembara, suku pengembara sendiri malah merasakan ketakutan yang luar biasa. Sebab kepercayaan yang mereka anut melaknat siapa pun yang mengiyakan kebangkitan sebelum hari akhir. Namun dibandingkan kepercayaan, yang lebih membuat ketakutan kian bersemangat mengekori mereka adalah masa lalu. Memang benar mereka telah disesatkan oleh rasa berkabung yang tidak wajar, namun sungguh, mereka masih ingat jalan untuk kembali.


"Celakalah kita," ucap salah seorang dari suku pengembara.


"Apa yang harus kita lakukan? Aku ingin kembali."


"Aku juga ingin kembali. Lagipula sejak awal aku tidak ingin mengikuti kalian. Karena aku yakin Pemimpin kita yang baru bukanlah ancaman seperti yang kalian katakan."


"Kau mengatakan itu setelah semua ini terjadi? Nasi sudah menjadi bubur."


"Padahal setiap hari aku berdoa agar Tuhan terus menjaga cahaya di hatiku. Tapi apa yang sudah kulakukan? Aku terbutakan amarah dan menapaki jalan yang salah. Oh, Tuhan, bagaimana jika kejadian hari itu kembali terulang."


Birousk beranjak. "Kejadian hari itu sudah terulang."


"Itulah kenapa kita harus kembali."


"Benar. Birousk, ayo kita kembali. Walaupun harga yang harus kita bayar adalah kematian, itu akan sepadan jika Pemimpin kita yang baru dan Wakil Pemimpin sudah memaafkan kita."


"Ya, baiklah. Ayo kembali."


"Tunggu. Tapi bagaimana jika Wakil Pemimpin sudah tiada? Apa kalian lupa? Kita sudah meracuni Wakil Pemimpin dengan bisa ular viper."


"Bagaimana mungkin aku melupakan itu? Keinginan untuk memotong kedua tanganku yang sudah mencampurkan bisa ular viper ke dalam gelas Wakil Pemimpin saja masih sangat besar sampai detik ini."


"Kita juga tidak akan bisa memasuki Kerajaan Kumari Kandam setelah Farasat melakukan penyerangan."


"Tenanglah. Kita harus memikirkan jalan keluar, bukan malah menutupnya dengan hambatan-hambatan."

__ADS_1


"Karena itu memang hambatan, Zerdad."


"Kesampingkan dahulu hambatan-hambatan yang kalian bicarakan. Karena yang utama yang harus kita lakukan saat ini adalah menyucikan diri dan kembali ke portal."


"Menyucikan diri? Maksudmu, di Baadal*?"


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


"Apa ada tempat lain yang bisa menandingi kesucian Baadal?"


"Oh, Tuhan. Kita hanya akan mati."


"Maka anggap itu sebagai hukuman karena kita sudah tersesat. Tapi jangan khawatir. Kita adalah suku pengembara. Meskipun kecil, masih ada kemungkinan Ghinauna akan menerima kita."


"Benar. Tidak ada cara lain selain yakin. Kita harus melakukan apapun jika tidak ingin melihat hari itu terulang. Kemunculan iblis serupa mendiang Pemimpin adalah pertanda, sama seperti hari itu."


DEG DEG DEG


...•▪•▪•▪•▪•...


"Hei, kalian. Berhenti. Apa kalian suku pengembara?"


Spontan rombongan suku pengembara menghentikan langkah terburunya, setelah tiba-tiba diadang sekelompok pria berkuda. Seorang pria turun dari kudanya, tak sabar mendengar jawaban yang sudah dua kali ditanyakannya pada rombongan bertudung hitam itu. Pria yang tak lain adalah bawahan dari Menteri Pertahanan Kumari Kandam, Ghanzafer El-Amin, mendekati orang yang berdiri paling dekat dengannya.


"Jangan takut. Aku mengabdi untuk Raja Kumari Kandam." Bawahan Ghanzafer menunjukkan lencananya.


"Kami sedang terburu-buru."


"Begitu pun kami," balas bawahan Ghanzafer sembari mencoba mengintip wajah pria yang tengah bercakap dengannya.


"Maka cepat katakan."


"Aku membawa pesan dari Tuanku, Ghanzafer El-Amin."


"Kami tidak mengenalnya."


"Kalian akan segera mengenalnya." Bawahan Ghanzafer mendekat pada pada pria itu dan berbisik, "Tuanku ada di pihak kalian. Beliau siap memberi bantuan untuk menyukseskan misi kalian dalam menyingkirkan ancaman."


DEG

__ADS_1


__ADS_2