TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 55


__ADS_3

"Komandan, utusan pendamping Selir Ghaaliya mengirim hadiah," ujar kepala pengurus istana prajurit.


"Lagi?"


"Benar, Komandan."


Haala hanya menghela napas. "Begitu pun dengan utusan pendamping Selir Jasoda, Selir Hameeda, dan Selir Praveena. Mereka mengirim hadiah un--"


"Kirim kembali hadiah mereka," sela Haala seraya berlalu.


"Sesuai perintah Anda, Komandan."


Segunung hadiah berisikan koin emas, batu permata langka, pedang berkualitas tinggi dan lain sebagainya yang memiliki kuasa membutakan mata hati siapa pun itu merupakan bentuk sogokan untuk Haala agar berbelas kasih mencabut tuntutannya pada mawar berduri tumpul.


Hampir setiap hari sejak Haala mengajukan tuntutan atas sikap kurang ajar mawar berduri tumpul padanya, arak-arakan kereta kuda kiriman mereka tak pernah absen menyesaki istana prajurit. Itu adalah pemandangan langka yang lambat laun menjadi sangat membosankan.


Meski selalu berakhir ditolak, sogokan-sogokan itu akan kembali dikirim keesokan harinya, dengan jumlah berkali-kali lipat. Seperti mawar berduri tumpul yang tak lelah mengirim sogokan ini itu, Haala pun tak bosan menyampaikan penolakannya melalui kepala istana prajurit.


"Benar-benar mengganggu," gumam Haala sembari menutup kasar tirai kamarnya.


Haala melucuti satu per satu senjata yang ada di tubuhnya, pun pakaiannya. Tidak ada latihan hari itu, hanya pesta minum-minum untuk menyambut prajurit baru. Seperti biasa Haala melewatkannya, dan lebih memilih menghabiskan sisa hari itu di balik selimut. Namun.


"Ah, lama tidak bertemu."


Haala mengambil sebuah buku dari impitan buku-buku tebalnya yang lain. Buku yang sempat terlupakan karena terlalu sibuk dengan kepelikan di masa lalu yang baru. Buku itu adalah buku salinan milik suku pengembara yang Haala temukan di ruang bawah tanah rumahnya.


"Sampai di mana terakhir kali?"


Haala membalik buku berbahasa Videsh* itu sambil berusaha mengingat kisah siapa yang terakhir kali diterjemahkannya. Dan entah bagaimana tangan Haala mendadak berhenti di halaman itu, halaman seribu sembilan puluh. Kisah tentang pecundang di malam Shukravaar*.


Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit.


Shukravaar* adalah hari jumat.


SREK


"Sebagian menganggapnya kutukan, tetapi sebagian yang lain, menganggapnya anugerah. Apakah tidak bisa mati adalah benar sebuah anugerah? Mereka yang membutuhkan udara untuk bernapas, sudah pasti milik Tuhan. Jika sebaliknya?"

__ADS_1


SREK


"Pecundang di malam Shukravaar adalah milik iblis. Dia membutuhkan udara hanya untuk dicemari. Dia tidak mati meski sudah melewati kerongkongannya. Dia menyapa ajal sesaat layaknya bayi yang terkejut karena lolongan serigala."


SREK


"Meski begitu dia tetap diciptakan oleh Tuhan. Tuhan berbelas kasih memberikan persinggahan terakhir untuknya. Kelak, ketika dendamnya terbalaskan, Tuhan akan membukakan gerbang neraka, dan menjadikannya sumbu hingga kiamat datang."


SREK


"Pecundang di malam Shukravaar. Milik iblis. Tidak bisa mati. Dendam. Mungkinkah?"


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Kau dan pasukanmu belum lama kembali dari bertugas. Tidakkah itu berlebihan?"


"Ada yang harus hamba pastikan, Yang Mulia," balas Haala pada Braheim.


"Apa itu?"


"Hamba baru bisa menjawab setelah memastikannya, Yang Mulia."


"Benar, Yang Mulia."


"Apa rencanamu?"


"Hamba akan memeriksa tiap-tiap danau dengan cara yang sedikit berbeda. Hamba akan menaburkan Gandh* dan menunggu sampai hamba rasa cukup."


Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


Barheim mengangguk-angguk. "Kalau begitu bawalah pasukan yang cukup."


"Hamba hanya akan membawa sepuluh orang prajurit pilihan, Yang Mulia."


"Bukankah akan lebih aman jika hanya membawa Aswin?"


"Serangan bisa terjadi kapan saja, Yang Mulia. Jadi seperti biasa Aswin akan tinggal menggantikan hamba di sini."

__ADS_1


Braheim diam cukup lama. "Maka pergilah."


"Terima kasih, Yang Mulia. Kalau begitu hamba mohon undur diri."


Braheim tak menjawab, meski sekadar anggukan pencitraan. Braheim memutar kursi kerjanya bersamaan dengan Haala yang memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan yang dipenuhi tumpukan laporan itu. Setelah terdengar suara pintu yang tertutup, salah satu pengawal bayangan Braheim langsung berpindah ke hadapan Braheim, bersimpuh, menanti diberi perintah seperti biasanya.


Braheim mendecak, "Apa kekhawatiranku terlihat sejelas itu?"


"Benar, Yang Mulia," jawab pengawal bayangan Braheim.


Braheim kembali mendecak, "Maka lain kali langsung pergi ikuti dia tanpa menunggu perintah dariku."


Dan pengawal bayangan Braheim pun hilang dalam sekejap, tanpa menjawab apa-apa meski sekadar anggukan pencitraan, sama persis seperti tuannya. Pengawal bayangan Braheim mengekori Haala, menyatu dengan bayangannya tanpa sepengetahuannya, melindunginya dari gangguan orang, roh serta ilmu sihir yang jahat. Ke mana pun, di mana pun, dan kapan pun.


"Lapor, Komandan, kita sudah sampai di Jvaala."


"Baiklah," jawab Haala pada salah seorang prajurit.


Seperti yang Haala sampaikan pada Braheim, dirinya ingin memastikan sesuatu yang berkaitan dengan Gaana. Haala berniat memeriksa tiap-tiap danau di delapan benua yang merupakan tempat tinggal Ghinauna* dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya. Dimulai dari Benua Jvaala yang paling jauh dengan Kumari kandam.


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


"Lapor, Komandan. Kami sudah melemparkan Gandh ke dalam danau sesuai perintah Anda."


Haala mengangguk. "Kita akan menunggu selama satu jam. Selama itu, pertajam semua panca indra kalian."


"Sesuai perintah Anda, Komandan," jawab sepuluh orang prajurit kompak.


Dan satu jam pun berlalu, begitu juga dengan benua kedua, ketiga, dan ketujuh. Tidak terasa dua bulan mencari kepastian berjalan sangat cepat. Meski begitu, Haala belum berhasil memastikan apapun. Tetapi Haala tetap bergerak menuju benua terakhir. Karena percaya pada apa yang tertulis di dalam buku kuno milik suku pengembara tentang pecundang di malam Shukravaar.


"Lapor, Komandan, kita sudah sampai di Chamakadaar."


"Lakukan seperti biasa," balas Haala.


"Sesuai perintah Anda, Komandan."


Satu jam hampir berlalu. Sama seperti sebelumnya, tidak ada yang aneh. Ikan-ikan raksasa itu hanya muncul sesaat untuk melihat orang tolol mana yang berani memasuki wilayahnya. Dan setelahnya, mereka tidak muncul lagi. Chamakadaar adalah benua terakhir. Jika tidak terjadi apapun juga di sana, Haala sudah berniat membakar buku kuno milik suku pengembara. Namun.

__ADS_1


"Ah, kau menemukanku."


__ADS_2