
Keindahan langit senja yang selalu sukses menghipnotis setiap pasang mata, tampak berbeda hari ini. Sang senja seolah tak leluasa memamerkan sinar indahnya. Karena sosok itu. Sosok pemimpin suku pengembara yang terus menatapnya. Sang senja dibuat salah tingkah hingga memaksa awan hitam untuk segera menutupinya. Menutupi sinar merahnya yang kian memerah karena tak kuasa baradu tatap dengan pria tertampan sejagat.
"Kenapa? Kau merasakan Gaana* kembali berulah?" tanya Aryesh Farorz, wakil pemimpin suku pengembara.
Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.
"Ya. Dia baru saja menghancurkan istana tenggara*."
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
Aryesh menggeleng-geleng. "Kuharap makhluk terkutuk itu segera diseret ke jahanam."
Daxraj tak menjawab. "Daripada itu. Bukankah dia benar-benar hebat? Tidak hanya berhasil mengubah isi ramalan tapi juga mengelabuimu," imbuh Aryesh.
Daxraj masih membisu. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Haala memberitahuku," jawab Daxraj akhirnya.
*FLASHBACK ON*
"Apa yang terjadi?"
"Kau baru saja selamat dari kematian karena Ghinauna tidak begitu lapar," jawab Daxraj.
Haala diam sesaat. "Jadi seharusnya aku mati?"
"Ya. Jika saja aku terlambat satu detik."
"Lalu kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Haala lagi.
"Tugasku memang menyelamatkan dunia."
Haala kembali diam. "Jadi benar yang tertulis di buku itu jika dunia akan binasa karena aku salah memberikan hati?"
Daxraj terdiam cukup lama. "Meski kau terlihat tidak senang, sayangnya aku harus menjawab iya," balas Daxraj akhirnya.
*FLASHBACK OFF*
"Begitu rupanya. Maka berterima kasihlah padaku yang saat itu menyarankannya pergi ke Baadal*."
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
"Kau tidak akan menyarankan itu jika aku tidak memberitahumu alasan kenapa saat itu aku menolak menemuinya."
Aryesh mendecak, "Benar-benar tidak mau mengalah. Lalu aku sangat penasaran. Apa Gaana tahu saat kau pergi ke masa lalu? Atau saat kau, Yang Mulia Raja, Haala atau yang lain membicarakannya?"
__ADS_1
"Tidak. Aku mempercepat waktu setiap kami atau Braheim serta Haala membicarakan apapun yang berkaitan dengannya dan masa depan."
"Apa? Tunggu. Bukankah bayaran untuk bermain-main dengan waktu adalah seribu tahun umurmu?"
"Apa boleh buat."
"Jika aku tahu saat di mana kau mengurung diri adalah saat kau sedang bermain-main dengan waktu, aku pasti akan mengacaukannya. Hah, persetan dengan Gaana."
Daxraj hanya tersenyum menanggapi wakilnya. "Apa kau juga akan membantu saat perang melawan Gaana? Kumohon katakan tidak."
Tak ada jawaban, pun tak terbaca apa yang sedang dipikirkan oleh mahakarya Tuhan yang terlampau menyilaukan mata itu. Aryesh terus mendesak, juga memohon. Tetapi hanya senyum yang kembali pemimpinnya itu suguhkan. Sebuah senyum menjengkelkan yang seakan mengandung semacam sihir jahat, yang entah bagaimana bisa tiba-tiba meredakan amarah yang semula tak terbendung.
"Braheim Bhaavesh tidak ditakdirkan menang melawan Gaana. Baik di masa lalu ataupun di masa depan," gumam Daxraj seraya berlalu.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Atmosfer ganjil kembali menguasai istana selatan*. Para calon selir yang diizinkan tinggal di sana sejak istana tenggara diporak-porandakan Gaana, mulai gencar mencari perhatian Braheim. Bahkan pagi ini, saat Braheim baru saja keluar dari kamar tidurnya, mereka langsung mengekor. Mereka menanyakan ini itu sambil berlomba menempel pada Braheim, menempel seperti lintah yang kelaparan berabad-abad.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Semoga rapat hari ini berjalan lancar, Yang Mulia."
"Ya," sahut Braheim pada salah seorang calon selir.
"Sebuah kehormatan bisa mengantar kepergian Anda. Hamba berharap bisa terus melakukan ini kedepannya, Yang Mulia."
Spontan Braheim menghentikan langkahnya. "Andai kau bisa menyimpan saja rasa penasaranmu itu, bukan tidak mungkin aku menerima undanganmu."
Untuk sesaat, atmosfer di istana selatan kembali seperti sedia kala. Bersamaan dengan langkah Braheim yang terhenti, jantung sekumpulan wanita bak dewi itu pun ikut terhenti. Baru semalam mereka mengirim orang untuk mencari tahu siapa wanita yang ditemui Braheim, tapi langsung ketahuan. Padahal orang yang mereka kirim adalah yang terbaik. Jelas saja. Siapa yang bisa membodohi pengawal bayangan Braheim yang memiliki kekuatan hampir setara Daxraj Natesh?
"Mata-mata itu sudah kukirim ke tempat asalnya untuk mendapatkan hukuman. Kenapa? Karena di sini, di Kumari Kandam, hukuman paling setimpal untuk orang yang memata-matai raja hanyalah Tamaasha*."
Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.
"Mohon ampuni kelancangan hamba, Yang Mulia." Seorang calon selir tiba-tiba bersujud, diikuti oleh calon selir yang lain.
"Bangunlah."
"Belas kasih Anda tiada tara, Yang Mulia," jawab semua calon selir kompak.
"Aku hanya akan mengatakan ini sekali jadi ingatlah baik-baik. Kalian diundang ke sini untuk membantuku melawan Gaana. Jadi nikmati saja kemewahan yang kuberikan tanpa mengharap kasih sayang atau semacamnya."
Semua calon selir masih kompak menjawab, "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
"Dan satu hal lagi. Di sini, di Kumari Kandam, hak mutlak yang kalian jadikan perisai itu tidak berlaku. Jadi berhati-hatilah pada apa yang kalian bicarakan, pikirkan dan lakukan. Murat!"
__ADS_1
"Beri hamba perintah, Yang Mulia." Murat buru-buru membungkuk di hadapan Braheim.
"Mulai hari ini sampai pemilihan calon selir selesai, aku akan berada di istana timur*."
Istana timur* adalah istana khusus prajurit laki-laki yang sedang mengikuti pelatihan untuk bergabung di pasukan tempur Haala.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Semua orang di ruang rapat megah itu langsung buru-buru beranjak dari kursi masing-masing dan kompak mengucap salam kehormatan, ketika mendapati kedatangan orang nomor satu di Kumari Kandam. Dilihat dari air muka Braheim yang sangat tidak baik, sudah bisa dipastikan jika rapat hari ini pun akan berjalan sangat pelik.
Benar saja. Rapat yang membahas tentang 'cara membunuh Gaana' itu sudah berlangsung selama dua jam, namun belum ada satu usulan pun yang disetujui oleh Braheim. Dan selama dua jam itu pula, hanya anggukan, gelengan, dan helaan napas kasar yang menjembatani komunikasi antara para menteri dengan Braheim.
Dalam rapat sebelumnya, Braheim memberi perintah untuk mengevakuasi semua wanita dan bayi-bayi yang tersisa yang ada di Kumari Kandam. Mereka kemudian disembunyikan di suatu tempat yang hanya Braheim dan pengawal bayangannya yang tahu. Mereka juga diperintahkan untuk tetap berada di sana sampai turun perintah baru dari Braheim.
" ... Yang Mulia, itu sangat berisiko. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Anda?"
"Itu benar, Yang Mulia. Bahkan jika saat ini Anda memiliki penerus pun itu masih sangat berisiko," timpal menteri sosial pada menteri agama.
"Lalu? Kalian ingin aku menaiki wanita dan membuat penerus sekarang juga, begitu?"
Menteri pertahanan berdeham, "Apakah hanya itu satu-satunya cara untuk membunuh Gaana, Yang Mulia?"
Braheim menghela napas. "Tidak. Masih ada cara yang lain."
"Maka itu pasti cara yang lebih baik, Yang Mulia," sahut menteri keamanan.
"Bujuklah pemimpin suku pengembara agar mau menyebut nama asli Gaana, dan selesai. Kumari Kandam kembali damai."
"Bukankah tidak ada salahnya mencoba, Yang Mulia?"
Braheim menoleh pada menteri hukum. "Entahlah. Bayaran memanggilnya adalah gempa bumi seperti saat itu. Itulah kenapa aku meminta kalian mencari cara lain untuk memanggilnya."
"Saat ini kita tidak sedang berada dalam situasi untuk memilih, Yang Mulia."
Menteri keuangan mengangguk pada menteri sosial. "Hamba setuju, Yang Mulia. Walaupun anggaran yang kita keluarkan demi membangun rumah baru untuk para korban kebakaran akan sia-sia karena tersapu gempa bumi, tidak ada pilihan lain."
"Hamba tidak setuju, Yang Mulia. Kita tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan pemimpin suku pengembara. Tentu bagus jika dia setuju, tapi bagaimama jika sebaliknya?" tanya menteri politik.
"Menurut hamba, apapun hasil dari peperangan ini rakyat akan tetap menderita, Yang Mulia. Lalu yang lebih penting dari semuanya adalah keselamatan anda."
Menteri keamanan mengangguk-angguk menanggapi menteri agama. "Hamba setuju, Yang Mulia. Hamba siap berperang sampai titik darah penghabisan daripada membiarkan Anda yang jelas-jelas bukan pemimpin suku pengembara menghadapi Gaana seorang diri."
Braheim diam cukup lama, lalu beranjak memunggungi meja rapat sambil berkata, "Murat, kirim pesan pada kerajaan lain untuk bersiap akan datangnya gempa bumi. Aswin, evakuasi semua penduduk. Sanjeev, bawakan Smrti* sekarang juga."
__ADS_1
Smrti* merupakan ramuan pemulih ingatan yang terlupakan. Smrti terbuat dari air mata peri, dan hanya bisa dikonsumsi saat siang hari, karena hasilnya akan langsung muncul dalam bentuk hujan atau pelangi. Jika hujan yang muncul, maka mimpi yang terjadi hanyalah bunga tidur, tetapi jika pelangi yang muncul, maka bisa dipastikan itu adalah ingatan yang terlupakan.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Murat, Aswin, dan Sanjeev kompak menjawab sembari membungkuk pada Braheim.