TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 86


__ADS_3

Lampu gantung raksasa di tiap-tiap istana menyala serentak, membuat para penghuninya terpaksa melompat dari kereta mimpi. Apakah hari ini Raja Kumari Kandam berulang tahun? Atau akhirnya pesta pernikahan yang mereka nanti-natikan sudah tiba? Atau, salah satu raja dari tujuh benua kembali datang untuk menyampaikan langsung perihal pemutusan hubungan kerja sama dengan Kumari Kandam? Selarut ini?


Mana mungkin? Bahkan orang rendahan saja tahu kapan waktu yang tepat untuk menghadap Raja Kumari Kandam. Mereka pun keluar dari kamar masing-masing, setelah melilit tubuhnya dengan jubah musim dingin. Terlihat Braheim tengah berjalan terburu menuju harem, dengan diekori beberapa orang prajurit dan kepala istana selatan* yang kewalahan menyejajarkan langkahnya. Braheim Bhaavesh mengunjungi harem?


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


Ya, mungkin saja. Mungkin pada akhirnya Braheim menyerah melawan berahi, jadi wajar jika tempat yang ditujunya saat ini adalah harem. Di tempat itu Braheim akan dimanjankan oleh wanita-wanita yang menggilainya setengah mati. Namun apa yang mereka pikirkan itu salah, salah kaprah. Braheim memang menemui wanita di harem, tetapi bukan sekumpulan wanita kesepian yang lupa cara berpakaian dengan benar itu.


"Kau datang," tutur Braheim sambil berlari memeluk Haala.


Kepala pengurus harem, Leyla, kepala pengurus istana selatan berikut Sayee dan semua penghuni harem yang menyaksikan pemandangan langka itu kompak membelalakkan matanya. Berbeda dengan para prajurit yang memasang mimik wajah datar sebab pernah menyaksikan yang lebih dari itu. Ya. Dulu. Di masa lalu.


"Maaf, Yang Mulia. Banyak mata yang melihat. Dan lagi, Nyonya adalah wanita yang sudah menikah."


Spontan Braheim melepas pelukannya, dan menoleh pada Sayee, mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.


"Perkenalkan hamba Sayee dari suku pengembara, Yang Mulia," imbuh Sayee sembari membungkuk.


Braheim melihat sekeliling, di mana terlihat sangat jelas selir-selirnya yang kini sedang berebut mengintip. "Jika kalian menganggapku tontonan, maka jangan beranjak selangkah pun. Tapi jika sebaliknya, cepat tutup pintu dan panggil penjahit."


Spontan Leyla dan para selir membungkuk seraya kompak berkata, " Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Braheim menoleh pada Sayee. "Bagaimana?"

__ADS_1


"Anda sudah melakukan hal yang benar tetapi itu tidak berarti Anda boleh kembali memberi pelukan pada wanita yang sudah menikah, Yang Mulia." Sayee kembali membungkuk.


"Sayang sekali. Padahal itulah tujuanku mengusir mereka." Braheim berjalan menghampiri Sayee, melirik Vinder yang terlelap di gendongannya. "Daripada itu, aku akan memindahkanmu ke istana selatan untuk sementara waktu, Komandan."


"Maaf? Istana selatan? Jika tebakan hamba benar, bukankah itu adalah tempat di mana Anda tinggal, Yang Mulia?"


Braheim mengusap-usap kepala Vinder yang tak lebih besar dari mangkuk bubur gandum. "Benar."


"Maaf, Yang Mulia. Tetapi itu juga bukan hal yang benar untuk dilakukan. Wanita yang sudah menikah tinggal bersama pria yang belum menikah? Bukankah akan lebih tepat jika menempatkan Nyonya di kamar tamu?"


Kepala pengurus istana selatan berdeham, "Hamba setuju, Yang Mulia. Sampai proses pembangunan istana khusus untuk Komandan Haala dirampungkan, istana tenggara* adalah pilihan yang paling tepat."


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


Kepala istana selatan mengangguk pada Sayee. "Benar. Istana khusus yang dikhususkan untuk Komandan Haala dan putranya."


Sayee tampak terkejut, hingga tak sempat melontarkan sepatah kata pun untuk kembali beradu debat dengan Braheim atau kepala pengurus istananya. Ada sesuatu. Mulai dari kontak fisik yang diumbar Braheim tanpa ragu sampai membangun sebuah istana khusus. Jelas ada sesuatu. Wanita yang Sayee panggil Nyonya itu memiliki sesuatu dengan penguasa Kumari Kandam. Sesuatu yang Sayee yakini sebagai cinta. Cinta terlarang?


"Ini kamar yang bagus, Nyonya." Sayee kembali menutup tirai kamar.


"Ya. Kamar ini biasa digunakan oleh para tamu."


"Apakah Anda tidak merasa sebagai tamu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Aku adalah perisai tanah Kumari Kandam ini, dan juga pedang Yang Mulia Raja," balas Haala.


"Sungguh? Hanya pedang?"


Haala menoleh pada Sayee. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Sayee?"


"Ah. Bukan apa-apa, Nyonya." Sayee tersenyum paksa. "Hamba akan menyiapkan aroma terapi kesukaan Anda."


"Tidak perlu. Hari sudah larut. Pergilah istirahat. Kau terlihat sangat lelah, Sayee."


"Tidak masalah, Nyonya. Hamba akan segera kembali."


Sayee berlalu. Berlalu ke arah yang tidak seharusnya. Sayee berniat menemui Braheim dan membuatnya sadar bahwa seratus ribu selir lebih mulia untuk dimiliki daripada seorang wanita yang masih terikat sumpah pernikahan dengan suaminya. Haala datang bukan untuk mengganti statusnya sebagai selir kesekian ratus Braheim, tetapi sebagai seorang ibu yang memohon belas kasih untuk nyawa putra kecilnya. Namun.


" ... Komandan Haala juga harus bersiap dengan kebencian para selir serta orang-orang yang ada di kubu kontra. Dan yang lebih penting dari itu semua adalah, nyawa putranya yang akan terancam mulai hari ini."


Braheim hanya mengangguk-angguk menanggapi Murat.


"Anda juga harus bersiap, Yang Mulia," tambah Murat.


Braheim masih mengangguk-angguk, seraya memperlambat langkahnya, dan perlahan menghentikan langkah lebar itu sepenuhnya. Tiba-tiba Braheim berbalik, menatap koridor istana tenggara yang seperti tak memiliki ujung. Spontan Sayee semakin membenamkan tubuhnya ke sela-sela tiang penyangga, ketika mata tajam Braheim menangkapnya basah, pun dua pengawal bayangannya yang tiba-tiba menampakkan diri.


"Aku sudah bersiap, Murat. Aku sudah bersiap bahkan sebelum aku mengikhlaskannya untuk Daxraj Natesh," balas Braheim akhirnya.

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2