
"Cih. Sudah kuduga. Membuang-buang waktu saja."
"Tunggu-tunggu. Tunggu dulu."
Jihan diam, sibuk merasakan deretan giginya yang saling beradu menahan jengkel. Bagaimana tidak? Dengan wajah cabul yang tersamarkan keangkuhan, Sanjeev berkata bahwa dirinya telah berhasil membuat ramuan yang bisa membangkitkan Gaana. Namun pada akhirnya tidak terjadi apapun. Tanah terakhir yang diinjak Gaana di masa lalu bahkan tetap tenang meski berulang kali ditetesi ramuan berwarna keunguan itu.
"Gaana adalah iblis, wajar saja jika sulit dibangkitkan," imbuh Sanjeev pada Jihan.
"Minggir atau ku--"
"Bagaimana jika manusia? Ya. Manusia. Seperti kekasihmu yang sudah mati itu misalnya? Benar. Bagaimana jika aku membangkitkannya? Hm?"
Jihan masih membisu, tapi manik mata cantiknya yang bergetar itu cukup memberi Sanjeev jawaban iya.
"Tapi kau tahu tidak mudah untuk membuat ramuan terlarang seperti itu, bukan? Aku butuh tembok. Tembok yang sangat kokoh."
"Asal kau bisa menjamin keberhasilannya dengan nyawamu itu," balas Jihan akhirnya.
Spontan Sanjeev bersimpuh di hadapan Jihan. "Dengan senang hati akan kupersembahkan nyawa yang tidak berharga ini untukmu seorang, Tuanku."
Jihan berlalu tanpa sepatah kata. Meski begitu Sanjeev tahu jika dirinya diizinkan ikut serta pulang bersama Jihan, ke sana. Ke sebuah kerajaan penghasil mesiu terbaik di delapan benua, Kerajaan Sitaara. Meski hanya putri angkat dari Raja dan Ratu Sitaara yang sama-sama divonis penyakit mandul, bagi mereka Jihan adalah harta karun yang sejuta kali lipat lebih berharga dari mahkota turun-temurun Raja Kumari Kandam.
"Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak diikutsertakan di masa lalu. Menurutmu kenapa?"
Jihan menghela napas. "Menurutmu aku tertarik? Tanyakan saja pada Daxraj Natesh."
"Ah, pemimpin suku pengembara, benar?"
__ADS_1
Jihan kembali bungkam. Hawa dingin mulai menggelitik tulang-tulangnya.
"Sejujurnya aku sedikit khawatir."
"Apa maksudmu?" tanya Jihan cepat.
"Kita semua tahu hanya Dewa yang bisa membangkitkan sesuatu yang sudah mati, bukan?"
Spontan Jihan menghentikan langkahnya, berbalik, dan menatap Sanjeev dengan sorot mata mengancam.
"Ya Dewa, tenanglah. Maksudku, ada kemungkinan kekasihmu tidak bisa dibangkitkan. Itu karena dia hanya manusia biasa ya--"
"Jika tidak bisa membangkitkan iblis dan manusia biasa lalu siapa lagi yang bisa kau bangkitkan sialan?"
Sanjeev menyeringai. "Manusia setengah dewa."
"Apa?"
"Rupanya keangkuhan itu membuatmu menjadi tidak waras. Daxraj Natesh bahkan hanya membutuhkan setengah detik untuk membunuh Gaana, dan apa katamu? Kau ingin membangkitkannya? Itu berarti kau harus membunuhnya lebih dulu. Ya, bunuhlah dia. Bunuhlah dengan keangkuhanmu itu, Sanjeev Rajak."
"Dia akan mati tanpa perlu bersusah payah kubunuh."
Apa yang baru saja dikatakan Sanjeev membuat Jihan tanpa sadar membulatkan mulutnya.
"Saat penerusnya berumur tiga tahun, pemimpin suku pengembara harus mewariskan semua kekuatannya. Dan setelah itu, hidup abadinya berakhir. Kupikir setidaknya kau tahu tentang ini dari masa lalu," tambah Sanjeev.
"Lalu dari mana kau tahu?"
__ADS_1
"Buku dongeng."
"Omong kosong. Tidak ada pernyataan seperti itu di sana."
"Tentu saja tidak ada jika kau mencarinya di dalam buku dongeng yang sudah dirombak."
"Apa?"
"Penasaran? Akan kutunjukkan padamu buku dongeng yang belum dirombak sambil menikmati secangkir teh." Sanjeev mempersilakan Jihan memimpin perjalanan.
Dan, dua orang yang membuat Dewa sakit kepala itu hilang ditelan lebatnya hujan. Sementara itu, tanah yang menjadi saksi binasanya Gaana di masa lalu, perlahan mulai bergetar, merespon ramuan terlarang milik Sanjeev Rajak. Getaran makam musuh nomor satu Kumari Kandam itu tidak hanya membuat penghuni malam meredup takut, tetapi juga membuat Daxraj terpaksa turun dari ranjangnya yang porak-poranda.
"Dari arah tenggara?"
Daxraj hanya mengangguk menanggapi wakilnya, Aryesh.
"Dia bangkit? Sungguh? Tidak. Tidak mungkin perang kebinasaan pecah secepat ini, bukan?" tanya Aryesh lagi.
"Dia membangkitkan yang lain."
"Yang lain?"
Daxraj menoleh pada Aryesh. "Ya. Yang lain."
"Mungkinkah? Oh, ayolah. Yang benar saja. Semuanya bangun! Sucikan diri kalian dan pukullah benda apapun! Hasilkan bunyi sekuat mungkin! Cepat!" Aryesh berteriak mengulang ucapannya.
Daxraj mendongak, tersenyum pada para penghuni malam yang ketakutan. "Jangan khawatir. Kali ini Braheim Bhaavesh bisa mengatasinya sendiri."
__ADS_1