
"Bersediakah kau mengenakan mahkota Ratu Kumari Kandam dan berjanji tidak akan melepaskannya selamanya, Haala Anandmayee?"
Haala enggan menjawab melalui kata. Dijatuhkannya pedang keramat itu ke tanah, lalu dengan langkah tak sabar menghampiri Braheim, menciumnya serakus ular yang akhirnya menemukan oasis. Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak bibir dingin Haala menyentuh bibir Braheim yang tak kalah dingin. Mereka tak peduli. Selama apapun itu, asalkan rasa yang mereka tahan selama ini bisa tersampaikan dengan benar.
"Apa ini jawaban lain dari setuju?"
Haala menggeleng menanggapi Braheim.
"Demi Tuhan. Sulit sekali mendapatkanmu, Komandan," imbuh Braheim.
"Jawaban hamba saat ini hanya untuk sementara, Yang Mulia."
"Apa maksudmu?"
"Hamba akan mempersiapkan Laasya sebagai pengganti hamba. Ketika Laasya sudah benar-benar siap, begitu pula dengan hamba, Yang Mulia."
"Laasya? Ah, Benar. Bodoh sekali. Aku melupakan Laasya karena masih terbayang masa lalu. Sama sekali tidak terpikirkan olehku jika Laasya masih hidup di masa depan." Braheim menggeleng. "Jadi apa rencanamu?"
"Hamba berencana mengikutsertakan Laasya dalam ajang Vinaash*, Yang Mulia."
Vinaash* merupakan ujian yang dibuat oleh Yusef Bahadir dengan keyakinan bahwa hanya keturunannya saja yang bisa melewatinya. Vinaash tidak dibuat dengan maksud kecongkakan, karena nyatanya puluhan orang biasa yang pernah mencobanya selalu berakhir menemui ajal.
Mengikutsertakan adik semata wayang yang baru saja pulih dari sakit menahun ke dalam ajang yang lebih tepat disebut bunuh diri? Siapa yang tidak akan terkejut mendengar itu? Namun Braheim yakin wanita yang baru saja membuat pakaian bawahnya kian sesak itu memiliki alasan yang masuk akal. Laasya masih empat belas tahun, dia juga belum pernah mendapat pelatihan barang sekali. Dan lagi, Laasya sangat membenci darah.
" ... Kita tidak bisa membiarkan banyak orang tewas di ajang tersebut, Yang Mulia. Kita harus membuat mereka sadar dengan menunjukkan kemampuan lain dari keturunan Yusef Bahadir yang juga wanita."
"Aku mengerti maksudmu. Tapi apakah Laasya pernah mendapat pelatihan sepertimu?"
Haala tersenyum pada Braheim. "Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Hamba hanya membutuhkan satu pekan untuk melatih Laasya."
"Aku bisa mengundur penyelenggaraan Vinaash jika satu pekan kau rasa kurang. Maksudku, aku tidak meragukan kemampuanmu dalam melatih siapapun itu. Aku hanya tidak ingin kau bersedih jika pada akhirnya hal buruk menimpa Laasya."
"Hamba bahkan hanya memerlukan tiga hari untuk menjatuhkan pedang Salmalin Josha. Terima kasih tapi Anda benar-benar tidak perlu khawatir, Yang Mulia."
Braheim mengangguk, meski dengan raut kekhawatiran yang tidak berkurang sedikit pun.
" ... Dengan begitu, mau tidak mau mereka akan mengakui kemampuan wanita yang memang lebih unggul. Kita tidak perlu sampai melanggar adat istiadat, dan hamba bisa menerima mahkota Ratu Kumari Kandam tanpa beban."
Benar. Tampaknya tidak ada cara yang lebih brilian dari itu. Bagaikan membunuh dua burung dengan satu batu. Hanya dengan mengikutsertakan Laasya dalam ajang Vinaash, masalah harga diri laki-laki yang tidak terima dipimpin wanita itu selesai. Lalu Haala bisa menjadi Ratu Kumari Kandam tanpa melanggar adat karena posisinya tetap diduduki keturunan lain Yusef Bahadir. Tetapi bagaimana jika Laasya gagal?
" ... Tapi hamba berharap ada yang bisa melewati Vinaash selain Laasya. Dengan begitu Laasya bisa hidup normal sebagai wanita, dan posisi Komandan Perang Kumari Kandam bisa diduduki oleh laki-laki seperti yang diinginkan Aswin dan yang lain," tambah Haala.
"Beri aku waktu untuk mempertimbankannya. Kau pasti mengerti maksudku. Bukan tidak memercayaimu. Aku hanya memikirkan dampak yang akan terjadi jika pada akhirnya Laasya benar-benar gagal."
"Yang Mulia, apa Anda pernah mendengar Komandan Perang Kumari Kandam gugur dalam perang? Mereka sangat kuat sampai-sampai masih bisa mengayunkan pedang meski raga dan rohnya sudah terpisah."
__ADS_1
Braheim diam, raut kekhawatiran di wajahnya yang basah kuyup mulai terlihat samar.
"Laasya tidak akan gagal, Yang Mulia. Jadi mohon jangan menambah masalah dengan mengulur waktu. Vinaash akan digelar di waktu yang sudah ditetapkan, dan Laasya akan siap sebelum itu. Percayalah pada hamba, Yang Mulia. Kita bisa bersatu, tanpa perlu melepas beban di pundak masing-masing."
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
Hati Braheim sedang berbunga, tetapi entah kenapa alam malah menunjukkan ketidaksukaannya. Malam itu hujan tiba-tiba saja turun sangat deras, diiringi kilat yang sesekali mendatangkan terang dalam gulita, pun petir yang seolah menyerukan makian entah pada siapa. Braheim pun terbangun dari istirahat singkatnya karena terusik oleh makian sang petir, pun karena mimpi buruk, perasaan gelisah, dan suara itu, suara gaduh di depan pintu kamarnya.
Setelah menenggak beberapa teguk air untuk membuat rileks mulutnya yang akhir-akhir ini kehilangan sopan santun, Braheim menampakkan dirinya dari balik pintu kamar mewah itu. Kepala Istana Selatan* berikut para pelayan serentak langsung membungkuk. Namun belum sempat Braheim membuka mulut untuk menuntut kegaduhan malam itu, suasana di istana baru yang terlihat dari tempat Braheim berdiri saat ini membuat Braheim melupakan tuntunnya.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
Perasaan gelisah kian bersemangat mengekori Braheim, ketika tangis asing yang sama hebatnya dengan hujan malam itu menyambut kedatangannya di istana baru. Putra Daxraj Natesh yang bahkan tidak menangis di hari pertamanya melihat dunia itu menangis? Pertanda buruk. Ya, karena Daxraj Natesh bukan manusia biasa, begitu pula dengan sang putra. Braheim menambah langkahnya, menghiraukan pemandangan kacau balau di sekitarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Braheim.
Haala menggeleng dengan wajah putus asa. "Vinder tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Hamba pikir dia terkejut karena petir. Tapi tak lama dia mulai menangis ...."
Braheim mendengarkan, dengan tanpa melepas tatapannya dari Vinder yang menolak diberi botol susu bahkan sisir favoritnya.
Braheim menyelisik seisi ruangan, mencari keberadaan pria berpakaian serba putih. "Aku tidak melihat tabib."
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
Braheim menoleh ke asal suara, tepatnya ke Kepala Istana Selatan. "Apa katamu? Dia lebih takut pada cuaca daripada keselamatan pahlawan masa depan? Seret dia ke hadapanku sekarang juga atau aku bersumpah akan menggantungnya di alun-alun besok!"
Seruan Braheim menggelegar mengalahkan seruan sang petir, membuat semua orang yang ada di kamar tidur itu saling bahu-membahu agar sumpah Braheim tidak benar-benar terlaksana esok hari. Dan dalam kurun waktu kurang dari satu menit, Tabib Kerajaan Kumari Kandam berikut semua orang-orang kepercayaannya sudah berdesakan bersujud di kaki Braheim, kompak memberi salam dengan suara yang mereka sangsikan eksistensinya.
"Tidak ada yang salah pada Putra Komandan Haala, Yang Mulia. Hamba berani menjaminnya dengan nyawa hamba yang tidak berharga ini. Kondisi putra Komandan Haala benar-benar sehat," ujar Tabib Kerajaan pada Braheim.
"Apa kau akan makan jika tidak merasa lapar? Lalu apa kau tidak akan menangis jika aku membuat esok menjadi hari terakhirmu? Semua terjadi dengan sebab."
"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia." Tabib Kerajaan membungkuk mengikuti gerak kaki Braheim.
"Tidak sebelum kau membuatnya kembali tenang meski terjaga."
Tabib kerajaan semakin dalam membungkukkan badannya. "Hamba akan menyalakan aroma terapi yang sering digunakan untuk mengatasi gangguan tidur. Untuk saat ini, hanya cara itu yang bisa dilakukan, Yang Mulia. Putra Komandan Haala masih terlalu kecil untuk diberi obat-obatan."
"Lakukan."
Braheim lalu bergegas keluar dari kamar tidur Haala, tak sanggup melihat wajah putus asa sang kekasih, terlebih, tak sanggup melihat air mata Vinder yang terus berjatuhan seakan tengah berlomba dengan hujan.
Sementara para tabib berusaha mencari penyebab tangis Vinder, Braheim sibuk memanjakan rasa gelisahnya. Sambil menatap langit menjelang fajar yang ganjil, Braheim bertanya pada dirinya sendiri akan petaka apa yang tengah mengintai di depan sana. Andai saja kematian Daxraj Natesh hanya lelucon. Meski tidak bisa sesuka hati meluapkan tanya, fakta bahwa pemimpin suku pengembara itu masih hidup cukup membantu mengurangi rasa gelisah.
__ADS_1
"He vaphaadaar thandee aatmaon, milane aana. Tumhaara maalik bula raha hai, shaasak Kumaaree Kandam ne pukaara," gumam Braheim.
T/N: Wahai jiwa-jiwa dingin yang setia, datanglah. Tuanmu memanggil, penguasa Kumari Kandam memanggil.
"Beri perintah pada jiwa-jiwa dingin ini, wahai penguasa Kumari Kandam yang diberkati." Dua pengawal bayangan Braheim tiba-tiba muncul dan langsung bersimpuh.
"Beritahu aku apa yang kalian lihat di depan sana?"
Salah satu pengawal bayangan Braheim menjawab, "Bencana, Yang Mulia."
"Apa Kumari Kandam bisa menghalaunya?"
"Ya, Yang Mulia." Pengawal bayangan Braheim yang lain menjawab.
Braheim menghela napas lega. "Aku ingin mendengar lebih tentang bencana yang kalian maksud itu."
"Malaikat maut tengah berdiri di samping seseorang yang sangat berjasa dalam perang kebinasaan di masa depan, Yang Mulia."
Spontan Braheim berbalik, menatap pengawal bayangannya bergantian, menuntut jawaban sesegera mungkin. "Siapa?"
"Wakil pemimpin suku pengembara, Yang Mulia." Pengawal bayangan Braheim yang lain menimpali.
"Apa? Aryesh Farorz?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Di bawah guyuran hujan yang menggila, tampak seorang pria tengah merangkak keluar dari portal berlatar siang yang mendung. Pria itu, Aryesh, berusaha menahan sukunya yang meninggalkannya seorang diri. Meski pandangannya mulai kabur, dan rasa dingin sudah menjalari separuh tubuhnya, Aryesh bersikeras. Tidak boleh. Suku pengembara tidak boleh menginjak bumi untuk tujuan selain mengembara.
"Kalian pikir apa yang sedang kalian lakukan?" Teriakan Aryesh lolos, lolos di sisa-sisa kesadarannya yang sudah diincar malaikat maut.
Namun derasnya hujan membuat teriakan Aryesh tak lebih dari serdawa bayi. Sukunya semakin jauh, pun kesadaran Aryesh. Aryesh pun menutup matanya dengan membawa kegagalan. Entah dari mana semuanya bermula. Aryesh hanya ingat dirinya terkapar di tanah setelah menenggak beberapa teguk air. Dan sambil merasakan tenggorokannya yang seperti ditusuk belati, Aryesh melihat tatapan dendam di mata sukunya untuk pertama kali.
Saat itu terjadi, malaikat maut baru saja membuka gerbang Daraar*, sehingga Aryesh masih memiliki cukup waktu untuk memahami maksud dari tatapan sukunya yang dipenuhi dendam itu. Ternyata selama ini suku pengembara tidak benar-benar mengikhlaskan kematian Daxraj yang tiba-tiba. Bagi mereka Daxraj adalah pemimpin paling sempurna yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun meski itu penerusnya yang sah.
Daraar* dipercaya sebagai alam roh.
" ... Jelas-jelas dia bukan penerus tetapi ancaman. Tapi Wakil Pemimpin malah membiarkannya kabur begitu saja." Salah satu dari suku pengembara bersuara dengan penuh amarah.
"Benar sekali. Kupikir Wakil Pemimpin merasakan apa yang kita rasakan, tetapi dia tak lebih dari seorang pengecut."
"Sungguh pilihan yang tepat memberinya racun agar tidak menjadi penghalang tujuan kita."
"Itu benar. Sekarang kita harus bergegas. Ancaman itu ada di sana. Kita harus membunuhnya agar bisa menjalani hidup dengan tenang."
Suku pengembara pun serentak menambah langkahnya yang bersemangat menuju ke sana, ke Kerajaan Kumari Kandam.
__ADS_1