
Kemarau masih setia melanda delapan benua. Pun yang tak kalah setia, para penjarah air bersih. Seolah tak peduli seberat apapun hukuman yang menagih pertanggungjawaban para penjarah di akhir, mereka tetap mengenakan tudung hitamnya dan beraksi pada tengah malam. Salah satu raja dari delapan benua yang putus asa mengatasi para penjarah, Braheim Bhaavesh, bahkan sampai menuruti usulan konyol salah seorang menterinya untuk mendatangkan pawang hujan.
Namun alih-alih rintik hujan, malah korban jiwa yang berjatuhan keesokan harinya. Untuk yang kesejuta kali, benar apa kata Vinder. Abu jasad-jasad yang dibangkitkan paksa dalam perang kebinasaan menyelimuti bumi serta langit, sehingga berkah berupa hujan dari Tuhan tidak mungkin sampai sebelum seratus tahun berlalu. Dan mereka yang dianugerahi kemampuan lebih seperti Mausam* dan pemimpin suku pengembara, telah terlilit sumpah untuk tidak melakukan apa-apa.
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
Jadi mau tak mau. Mereka yang percaya laknat Tuhan akan senantiasa menyertai para pelaku bunuh diri, harus bertahan di tengah musim ganjil yang kian hari kian menggerogoti kewarasan. Tak masalah meski harus menjadi penjarah, setidaknya mereka masih memiliki hasrat untuk bertahan hidup. Padahal Vinder yang seringkali memberi ramuan prnyembuh pada para penjarah yang sekarat, selalu berpesan pada mereka untuk mensyukuri apa yang mereka dapat. Tetapi tetap saja.
"Apa itu hujan?"
"Seperti ini." Vinder memercikkan air dengan lembut ke wajah Nazzaha.
Nazzaha memiringkan kepalanya. "Aku tidak mengerti."
"Aku tidak pandai menjelaskan. Jadi begini saja." Vinder merapalkan mantra, dan perlahan portal suci pun terbuka. "Itulah hujan."
Nazzaha tampak takjub, pun sang adik, Nazeeya. Wajar saja. Mereka lahir di tengah musim kemarau. Bahkan anak cucu mereka saja sudah bisa dipastikan tidak akan pernah melihat hujan. Terlihat di dalam portal suci, Balavaan* dan kawan-kawannya tengah menghindari hujan di bawah pohon sejenis maple.
Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.
"Hujan adalah air yang jatuh dari tempat Dewa Krpaya*," gumam Nazzaha.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Kakak Vinder, aku ingin ke sana." Nazeeya menunjuk ke dalam portal suci.
"Haruskah?"
"Ya." Nazeeya dan Nazzaha menjawab kompak sambil melompat-lompat di atas tempat tidur.
Namun, Balavaan dan kawan-kawannya langsung beranjak ketika Nazzaha dan Nazeeya yang ada dalam gendongan Vinder itu tiba di mulut portal suci. Vinder tak mengerti, tetapi reaksi yang ditunjukkan hewan-hewan peliharaan mendiang Daxraj Natesh itu sudah jelas mengisyaratkan penolakan.
"Apa yang kalian lakukan di–"
Balavaan mengaum, menjeda tanya dingin Vinder. Spontan Nazzaha dan Nazeeya yang terkejut pun kompak menangis histeris, membuat para penjaga pintu terpaksa mendobrak kamar tidur Vinder. Vinder lalu mendudukkan Nazzaha dan Nazzeya di ranjang setelah sebelumnya menutup portal suci.
"Pangeran, se–"
"Panggilkan pengasuh," sela Vinder pada salah seorang penjaga.
"Sesuai perintah Anda, Pangeran."
Alih-alih buru-buru menenangkan dua adik kembarnya itu, Vinder malah membuka portal yang lain. Benar, portal ke Minciuna. Di mana manusia, Chhota*, serta makhluk supernatural lainnya hidup berdampingan layaknya sebangsa. Entah apa tujuan Vinder atas aksinya, hanya dirinya seorang yang tahu.
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
__ADS_1
"Yang Mulia Ibu. Aku mau Yang Mulia Ibu." Nazeeya tiba-tiba melompat dari ranjang dan berlari keluar dari kamar tidur Vinder, tak lama setelah beradu tatap dengan salah satu Chhota yang ada di dalam portal.
Namun jauh berbeda dengan sang kakak, Nazzaha, yang seketika berhenti menangis dan kembali memamerkan tatapan takjubnya. Chhota di dalam portal tersenyum pada Nazzaha, pun sebaliknya. Vinder yang menyaksikan itu langsung jatuh terduduk, dan mematung seolah jiwanya baru saja dihisap habis oleh Gaana.
"Makhluk apa yang baru saja kulihat, Kakak? Kenapa dia sangat indah?" Nazzaha berjongkok di hadapan Vinder.
"Tidak. Ini tidak benar." Vinder menggeleng-geleng. "Firasat sialan ini. Hah, sialan. Aku membencinya. Sialan!"
Seruan tanpa sadar Vinder membuat Nazzaha kembali terkejut dan menangis. Vinder pun buru-buru meraih tubuh mungil itu untuk menenangkannya, namun di luar dugaan Nazzaha dengan cepat menepis. Menyusul sang adik, Nazzaha pun berlari keluar dari kamar tidur Vinder sambil menyerukan nama Braheim berulang kali.
"Sepertinya aku harus menjadi pemimpin suku pengembara sungguhan."
...•▪•▪•▪•▪•...
Halaman utama istana tenggara* dan istana selatan* mendadak menjadi gempar. Bagaimana tidak? Tangisan histeris putri kembar Braheim dan Haala seolah menembus semua tembok yang ada di kerajaan. Entah apa penyebabnya. Mereka kompak tidak mengatakan sepatah kata, tak peduli sekeras apapun Braheim dan Haala membujuk. Anak perempuan berkuncir kuda itu hanya langsung berhenti menangis sesaat setelah pelukannya dibalas Braheim dan Haala.
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik? Jadi bolehkah ibu tahu apa yang membuatmu menangis?"
Nazeeya mengangguk menanggapi Haala. "Kakak Vinder."
"Hm? Kakak Vinder? Jadi Kakak Vinder yang membuatmu menangis?"
Haala mengusap air mata Nazzeya. "Begitu rupanya. Ibu mengerti. Lalu bolehkah ibu tahu apa yang dilakukan Kakak Vinder sampai kalian menangis?"
"Singa raksasa," balas Nazzaha.
Nazeeya menoleh pada sang kakak yang baru saja tiba bersama Braheim, pun Haala. "Bukan singa raksasa tapi makhluk mengerikan yang bersinar seperti kunang-kunang."
"Mereka tidak mengerikan. Mereka sangat indah."
"Apa yang salah dengan penglihatanmu?" Nazeeya tiba-tiba melompat dari pelukan Haala, diikuti Nazzaha yang melepas gandengan tangan Braheim. "Jika berbicara sesuatu yang indah, lihatlah Yang Mulia Ibu, atau Yang Mulia Ayah, atau Kakak Vinder. Atau, dia." Nazeeya menunjuk Ejlaal dari kejauhan.
"Penglihatanmulah yang salah." Nazzaha mendorong adiknya hingga terjatuh.
Nazeeya melempar tanah kering pada sang kakak. "Penglihatanmu yang salah."
"Cukup-cukup." Haala membantu Nazeeya berdiri. "Kemari, ayo minta maaf." Haala meraih sebelah tangan Nazzaha.
"Itu bukan sikap yang dilakukan oleh seorang tuan putri." Braheim membersihkan pakaian Nazzaha. "Ayo minta maaf."
Dan di tengah upaya Braheim dan Haala mendamaikan putri-putrinya yang marah, Vinder muncul dari dalam portal suci. Spontan Haala langsung bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai Nazzaha dan Nazeeya menangis sehisteris itu. Vinder tak segera menjawab, hanya duduk di mulut portal suci sembari menganyunkan kakinya. Yakin telah terjadi sesuatu yang buruk, Braheim pun berganti melempar tanya pada putra sambungnya itu.
__ADS_1
"Ada masalah, benar?"
Vinder hanya mengangguk membalas Braheim.
"Apa sangat serius?" tanya Braheim lagi.
Vinder kembali mengangguk.
"Apa ini menyangkut Kumari Kandam."
Vinder menghela napas. "Bahkan juga tujuh benua."
"Katakan."
Vinder melirik adik-adiknya yang kini berada di pelukan Haala. "Penglihatanku salah."
Braheim diam, tampak sangat serius mendengarkan.
"Dalam penglihatanku, si mulut pedas akan menjalin kasih dengan Ejlaal Awlya dan si tidak masuk akal akan menjalin kasih dengan putra Rodion Szilard. Tapi entah bagaimana semuanya menjadi terbalik," imbuh Braheim.
"Apa? Nazzaha akan menjalin kasih dengan siapa?" Haala bertanya dengan nada suara setengah berteriak.
"Dengan putra Rodion Szilard yang merupakan bangsa Chhota."
Haala tak membalas, hanya menoleh pada Nazzaha dan menatap mata polos sang putri yang hanya akan berubah antusias ketika melihat buah persik itu.
"Dan mereka ditolak portal suci," tambah Vinder.
"Apa?" Suara Braheim hampir tidak terdengar.
Vinder beranjak seraya menghela napas. "Itu artinya mereka sudah melakukan sesuatu yang salah tanpa kita sadari. Aku juga tidak lagi bisa melihat masa depan seperti sebelumnya. Di mana itu artinya, perang kebinasaan lain bisa saja terjadi dan aku, belum tentu akan menjadi pemenangnya."
...~ THE END ~...
...HALO SEMUA, INI SEUL YE....
...TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI KARYA INI SAMPAI AKHIR....
...SAYA TETAP BERSEMANGAT MESKIPUN KARYA INI TIDAK MEMILIKI PEMINAT SEBANYAK KARYA SAYA SEBELUMNYA....
...JUJUR SAYA INGIN MENGAKHIRI KARYA INI DI EPISODE 200, NAMUN SAYA SEDANG FOKUS MENGIKUTI LOMBA....
...UNTUK ITU SAYA AKAN MEMPERTIMBANGKAN SEASON 2 KARYA INI BERDASARKAN JUMLAH SUBSCRIBER....
...SEKALI LAGI TERIMA KASIH UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN....
__ADS_1
...SAYA AKAN MENGHUBUNGI LANGSUNG PARA PEMENANG YANG BERHAK MENDAPATKAN HADIAH SEPERTI JANJI SAYA....
...SAMPAI JUMPA DI KARYA SELANJUTNYA ❤...