
Tangis Vinder pecah, bersamaan dengan kedatangan ayah palsunya. Ya, ayah palsu. Bukankah itu panggilan yang paling cocok untuk para penjiplak? Ternyata wujud asli di balik sosok Daxraj Natesh yang sangat tampan itu adalah Sanjeev Rajak yang sudah menyatu dengan Gaana. Seisi Kerajaan Kumari Kandam pun langsung heboh. Mereka berbondong menuju puncak gerbang Kerajaan Kumari Kandam, berebut mengintip sosok yang telah bangkit dari kubur itu.
Terlihat Sanjeev tengah berdiri mematung di depan gerbang Kerajaan Kumari Kandam. Mantan tabib itu seperti takjub memandangi sesuatu yang tidak bisa dipandang semua orang. Ternyata ada pelindung yang mengelilingi Kerajaan Kumari Kandam. Pelindung yang berjuta kali lipat lebih kuat dari pelindung portal suci. Terbukti dari telunjuk Sanjeev yang tidak hanya terbakar tetapi berubah menjadi abu setelah mencoba menyentuh pelindung itu.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan padanya, Penasihat?" Aswin memandang Sanjeev.
"Entahlah, Aswin. Aku sendiri pun bingung harus memerintahkanmu untuk menyerang atau membuka gerbang."
"Hamba bisa mengerti itu, Penasihat. Setiap putra Komandan Haala menangis, itu adalah pertanda buruk." Aswin diam sesaat. "Jika Sayee baik-baik saja, lantas siapa di antara Aryesh Farorz dan suku pengembara yang sedang dalam bahaya?"
"Suku pengembara," balas Murat.
Aswin menoleh pada Murat. "Apa yang membuat Anda seyakin itu?"
"Mereka berendam di Baadal*. Adikku mendengar teriakan mereka saat menguping pembicaraan bawahan Ghanzafer El-Amin."
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
"Bawahan Tuan Ghanzafer? Kenapa mereka ada di sana?"
"Ghanzafer menawarkan kerja sama pada suku pengembara untuk menyingkirkan putra Komandan Haala."
Aswin terlalu terkejut hingga tak tahu harus memberi respon apa.
"Aku juga tidak percaya saat pertama kali mendengarnya, Aswin. Yang kutahu Ghanzafer El-Amin hanya tertarik menyusun strategi pertahanan," imbuh Murat.
"Yang terpenting beliau sudah mendapat hukumannya. Lalu daripada itu, bukankah sebaiknya kita segera memastikan kondisi Aryesh Farorz dan suku pengembara?"
__ADS_1
"Ya, aku setuju." Murat menunjuk Sanjeev yang masih sibuk memandang pelindung. "Tapi kita harus melewatinya terlebih dahulu untuk bisa memastikan kondisi mereka."
"Beri hamba perintah, Penasihat."
"Sebaiknya kita tunggu saja apa yang akan dilakukannya."
Aswin mengangguk. "Jujur saja hamba tidak sepenuhnya percaya pada fenomena bangkit dari kubur."
"Sayangnya kau harus percaya." Murat menghela napas. "Adikku berhasil membongkar liang lahad Daxraj Natesh, tetapi yang ditemukannya bukan jasad orang dewasa melainkan jasad seukuran bayi."
Lagi. Lagi-lagi Aswin tak tahu harus memberi respon apa karena terlalu terkejut. Orang yang tidak percaya pada fenomena bangkit dari kubur dipaksa percaya oleh sebab fakta yang tidak dapat terbantahkan. Ketika Aswin sibuk berdebat melawan fakta, Sanjeev terlihat menyudahi aktivitasnya memandang pelindung berbentuk gelembung air itu. Sanjeev lalu berjalan ke arah matahari terbit sambil menggumamkan kata yang hanya didengarnya seorang.
"Sepertinya aku harus memakan lebih banyak jiwa suci. Apa boleh buat. Ternyata musuhku sangat kuat," gumam Sanjeev.
Segera setelah sosok Sanjeev tidak lagi terlihat, Murat langsung memerintahkan Aswin dan Jihan untuk memastikan langsung kondisi Aryesh Farorz serta suku pengembara. Terlepas siapa pun dari mereka yang saat ini tengah meregang nyawa, yang paling penting adalah membuat tangis Vinder berhenti secepat mungkin. Karena demi apapun, tangis penerus pemimpin suku pengembara itu jauh lebih mendebarkan dari genderang perang. Namun.
"Apa? Katakan sekali lagi kepala siapa yang kau lempar?" Murat berjalan mendekati sang adik.
"Daxraj Natesh. Kenapa?"
Murat mengatur napasnya. "Apa kau sudah mencoba masuk ke dalam portal suci?"
"Apa aku harus memperlihatkan punggungku yang membiru setelah terpental menabrak pohon oak?"
Murat masih mengatur napasnya. "Kau yakin Aryesh Farorz baik-baik saja?"
"Oh ayolah, Kakak. Harus berapa kali aku mengatakannya?" Jihan menunjuk ranjang Vinder. "Aku yakin dia menangis karena semua sukunya mati dimakan Ghinauna*."
__ADS_1
Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.
"Kau pikir yakin saja cukup?" Murat berjalan cepat meninggalkan kamar tidur Vinder. "Aswin, pergilah untuk memastikan langsung kondisi suku pengembara. Aku akan mengirim surat pada Yang Mulia Braheim dan Komandan Haala agar segera kembali ke Kumari Kandam. Mungkin saja mereka bisa masuk ke dalam portal suci untuk memastikan langsung kondisi Aryesh Farorz."
"Sesuai perintah Anda, Penasihat."
...•▪•▪•▪•▪•...
Namun saat Aswin tiba di Hutan Mook, tepatnya di mana portal suci berada, tidak ada apapun di sana. Aswin berkeliling Hutan Mook beberapa kali, berharap dirinya berkuda terlalu cepat sehingga melewatkan portal suci tersebut. Faktanya tidak. Aswin tidak berkuda terlalu cepat, pun tidak ada yang dilewatkannya. Salah satu pohon oak yang seringkali menjadi bantalan orang-orang kotor yang ditolak oleh portal suci benar ada di sana. Portal suci menghilang.
"Sial." Aswin menoleh pada para prajurit. "Kita ke Baadal."
Aswin dan para prajurit pun tiba di Baadal yang berjarak cukup dekat dengan portal suci. Tetapi lagi-lagi Aswin dibuat terkejut. Danau yang dikeramatkan itu berubah menjadi danau darah. Terlihat ratusan suku pengembara berjejalan mengapung di sana. Sementara bawahan Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin, tenggelam di sela gelagah dengan luka di sana sini. Aswin pun langsung memerintahkan pasukannya untuk melakukan evakuasi.
"Cepat. Bawa mereka semua ke istana utara*," teriak Aswin.
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
"Maaf, Wakil Komandan. Tapi itu, mmm, apakah semuanya itu termasuk suku pengembara?"
Spontan Aswin menoleh pada salah satu prajurit. "Apa aku perlu menjawab itu?"
"Mohon ampuni kekurangan kami, Wakil Komandan. Tapi kami tidak berani melangkah lebih dekat lagi." Prajurit itu menunjuk Ghinauna yang baru saja menampakkan dirinya.
"Sial," decak Aswin. "Kirim tanda hitam pada Penasihat Murat. Sekarang!"
Sesuai perintah dari Aswin, tanda hitam pun ditembakkan ke langit Kumari Kandam. Murat yang sedari tadi sengaja berdiri di dekat jendela seketika kehilangan keseimbangannya tak lama setelah melihat warna tanda yang dikirimkan untuknya itu. Di Kumari Kandam, hitam adalah pertanda duka. Tanda itu mengabarkan jika ada ratusan rakyat Kumari Kandam yang tewas dan tidak bisa segera dikebumikan karena terhalang sesuatu.
__ADS_1
"Demi Tuhan, Braheim Bhaavesh, kembalilah dan selesaikan masalah yang tidak ada habisnya ini." Murat berlari meninggalkan ruangannya.