TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 92


__ADS_3

Demi kemudahan interogasi, Jihan berikut semua orang yang datang bersamanya dari Sitaara, ditahan di Kerajaan Kumari Kandam sampai pada waktu yang tidak ditentukan. Sejak membuka mulut perihal rencana Sanjeev Rajak, hampir setiap hari Jihan terus diinterogasi. Baik itu oleh ketiga Kepala Penyidik atau langsung oleh Braheim dan sang kakak. Oleh siapa pun itu, yang jelas tidak ada yang bersedia melakukan interogasi empat mata dengan Jihan, apalagi di ruangan selain ruang pertemuan. Sebab sungguh, Jihan adalah ancaman, terutama ancaman untuk berahi.


"Apa? Lagi?"


"Benar, Tuan Putri."


Jihan melempar gelas berisi Goan Feni*. "Jika tahu akan begini, seharusnya kubuat dia menunggu surat balasanku selamanya. Cih."


Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.


Jihan pun terpaksa menyudahi waktu bersantainya yang bahkan belum dimulai itu, dan bergegas mengikuti pelayan Kumari Kandam menuju ruang pertemuan. Entah siapa yang akan menginterogasinya hari ini, yang jelas Jihan berencana bungkam. Namun di tengah perjalanan, langkah Jihan melambat mendapati pemandangan asing di sana, di Milaan*. Ada sebuah kereta bayi. Tetapi benar-benar hanya kereta bayi dan mungkin bayi itu sendiri saja. Jihan menyelisik sekitar, namun tetap tidak menemukan orang gila yang meninggalkan makhluk yang hanya tahu botol susu itu seorang diri.


Milaan* adalah sebuah taman yang ditumbuhi ratusan bunga mawar liar berwarna hijau.


"Putri, kita harus bergegas."


"Apa aku berhalusinasi? Atau sebaliknya? Sungguh kau tidak melihat itu?" Jihan menunjuk kereta bayi.


"Hamba melihatnya, Putri."


"Lalu?"


"Maaf, Pu--"


"Lalu bagaimana bisa kau melewatinya begitu saja? Apa kau iblis? Aku akan memakluminya jika kau mengiyakan," sela Jihan.


"Mohon ampuni ke--"


"Sampaikan pada siapa pun penginterogasi hari ini bahwa aku akan datang terlambat." Jihan menunjuk pelayannya. "Kau, ikut aku."


Jihan melangkah santai, meski hatinya ingin segera meraih kereta bayi itu. Jihan berharap siapa pun yang bertanggung jawab pada kereta bayi itu segera menampakkan batang hidungnya. Namun masih tidak ada siapa pun yang muncul, bahkan hingga kini Jihan sudah berdiri di belakang kereta bayi tersebut. Dilihat dari dekat, ternyata kereta bayi itu sangat mewah. Tak terhitung ada berapa banyak potong emas murni yang menempel di badan kereta bayi itu. Tiba-tiba saja terlintas sebuah nama dalam benak Jihan, Vinder. Ya. Sudah pasti kereta bayi itu milik Vinder, putra angkat Braheim.


DEG DEG DEG


Bak tambur perang yang ditabuh terlewat bersemangat, gambaran debaran jantung Jihan saat ini persis seperti itu. Binar terpesona di mata Jihan benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi. Makhluk mungil berbalut selimut bulu Ragamuffin itu sungguh tak main-main tampannya. Spontan tangan Jihan bergerak dengan sendirinya, berniat memastikan sosok tak nyata itu. Mata berwarna emas pekat itu mengikuti gerak tangan Jihan, sampai sebelum sebuah belati melesat menggoresnya. Jihan pun berteriak sejadinya, meluapkan rasa sakit yang tidak pernah dirasakannya selama hidup.


"Menjauh dari sana dasar iblis!"


...•▪•▪•▪•▪•...


Braheim dan Haala yang hari itu sedang sama-sama sibuk terpaksa menyudahi kesibukannya masing-masing. Kabar bahwa Jihan terluka parah dan tidak sadarkan diri langsung menyebar cepat. Banyak desas-desus yang beredar sejak kabar itu menyebar. Mulai dari Jihan yang hendak memakan jiwa suci Vinder, Sayee yang menjadi kaki tangan Haala untuk melukai Jihan, dan Vinder yang bukan menjadi sekadar ancaman tetapi juga pembawa sial. Yang mana pun itu, yang pasti Sayee adalah tersangka utamanya.

__ADS_1


"Vinder."


Braheim menoleh pada Haala yang baru saja tiba dengan napas tersengal. "Dia baik-baik saja."


"Syukurlah. Terima kasih, Dewa." Haala menghela napas lega. "Apa yang terjadi, Yang Mulia?"


"Masih belum pasti."


"Lalu bagaimana kondisi Tuan Putri Jihan?"


"Masih belum sadar. Dia kehilangan banyak darah. Belati milik Sayee benar-benar hampir memutus pergelangan tangannya."


"Ya Dewa," balas Haala seraya kembali menghela napas.


"Kepala Penyidik Kumari Kandam sedang menginterogasi Sayee. Jadi sampai hasil interogasi keluar, jangan dulu menyalahkannya."


"Sayee tidak akan melukai jika tidak dihadapkan pada situasi yang mengancam. Tapi kadang apa yang diyakininya memang terlalu berlebihan, Yang Mulia."


"Dia mengemban tugas yang berat, Komandan. Di sini Vinder dianggap sebagai ancaman, dan selayaknya ancaman, siapa pun pasti akan berniat menyingkirkannya."


Haala menekan pelipisnya, berharap bisa pula menekan sedikit pikiran buruknya. "Hamba akan mengingat itu, Yang Mulia."


"Kembalilah jika pikiranmu sudah tenang."


Namun alih-alih menenangkan pikirannya, Haala malah menjejalkan beban yang lebih berat. Ya. Pada akhirnya Haala enggan menunggu hasil interogasi dan pergi menemui Sayee. Terlihat Kepala Penyidik Kumari Kandam baru saja meninggalkan penjara bawah tanah, Haala pun menambah kecepatan langkahnya. Sayee langsung menghampiri Haala dan bersimpuh dari balik jeruji besi. Tak ada kata selain maaf yang terus Sayee gumamkan. Perlahan Haala ikut bersimpuh, menenangkan Sayee, dan dengan lembut menanyakan sebab perbuatannya.


" ... Putra Anda sangat suka ketika rambutnya di sisir. Hamba lupa membawanya dan pergi dengan cepat untuk mengambil itu ...."


Haala tampak serius mendengarkan.


"Saat hamba kembali, dia sudah ada di sana. Hamba yakin dia hendak melukai putra Anda, Nyonya. Bukankah itu mungkin mengingat apa yang pernah dilakukannya di masa lalu?"


"Jadi lagi-lagi itu hanya keyakinanmu yang berlebihan?" Haala berbalik melempar tanya.


"Tidak, Nyonya. Hamba bersumpah melihat dengan mata kepala hamba sendiri dia hendak menyentuh putra Anda."


"Lalu apa yang salah dengan itu, Sayee?"


"Tentu saja itu salah, Nyonya. Hamba tidak bisa membiarkan putra Anda disentuh oleh orang kotor seperti dia."


"Apa?"

__ADS_1


"Anda pun pasti tidak akan membiarkannya, bukan? Ma--"


"Sayee, cukup," sela Haala.


"Tolong dengarkan hamba, Nyonya. Hamba tidak akan pernah membiarkan putra Anda disentuh oleh orang-orang kotor ya--"


"Lalu kau pikir aku suci?" Haala menggeleng-geleng. "Andai kau tahu jika akulah yang paling kotor di dunia ini, Sayee."


"Apa yang Anda katakan? Itu tidak benar, Nyonya."


"Kau hanya mencintai seorang pria dalam hidupmu, tetapi kau mengkhianatinya dan menikahi pria lain. Sementara pria yang kau cintai? Dia tetap setia menjaga hatinya. Lalu ketika kau kembali, dia mencintai buah pengkhianatanmu seperti putranya sendiri. Bukankah wanita seperti itulah yang paling kotor?"


"Nyonya," lirih Sayee.


"Dan kau tahu siapa wanita itu, Sayee? Benar. Itu adalah wanita yang berdiri di depanmu sekarang. Itu aku, Sayee. Itu aku."


Sayee tak kuasa berkata-kata. Fakta yang baru diketahuinya itu sungguh, terlampau mencabik-cabik hatinya.


"Aku mencintainya, Sayee. Aku mencintainya dengan semua rasa yang kumiliki. Dan apa kau juga tahu? Berapa banyak umurku berkurang karena terus membohongi perasaanku sendiri? Sungguh, Sayee, mati masih lebih baik daripada berada di dekat orang yang kau pilih namun tidak dipilih takdir. Sungguh."


"Nyonya," lirih Sayee lagi, sembari memandangi Haala yang berlalu menyembunyikan air matanya.


...•▪•▪•▪•▪•...


Haala berjalan setengah berlari menuju ke mana pun, asalkan hanya ada dirinya seorang di tempat tersebut. Air mata itu tidak boleh dipergoki siapa-siapa, sekali pun oleh Dewa Krpaya*. Komandan Perang Kumari Kandam tidak memiliki air mata. Meski harus kalah dalam pertempuran dan bersimpuh di kaki musuh, air mata dan belas kasih adalah kegagalan.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Namun sayang, hari ini Haala telah gagal. Gagal menjaga sumpah leluhurnya, gagal menjadi Komandan Perang, gagal menjadi perisai, dan gagal menjadi pedang Raja Kumari Kandam. Haala merasakan isaknya yang kian sesak. Segala emosi seakan tumpah serentak, saling mendahului untuk membebaskan diri. Haala pun pasrah, membiarkan air mata hebatnya menari sesuka hati.


Namun di tengah isak sesaknya itu, perasaan akan kehadiran seseorang membuat Haala segera tersadar. Orang itu berada di jarak yang sangat dekat, tepatnya di belakang Haala. Tanpa ragu Haala pun mengayunkan pedangnya. Pedang keramat itu bergerak mengikuti emosi sang pemilik, dan demi apapun, menghindari maut yang terselip di dalam pedang itu hanyalah kemustahilan.


"Yang Mulia?" Haala buru-buru membungkuk. "Mohon am--"


"Angkat kepalamu," potong Braheim.


Haala hanya mengikuti perintah Braheim.


"Aku akan meminta ini untuk yang terakhir kali. Tetapi jika kau masih bersikeras, maka kau tidak akan pernah mendapatiku sebagai orang yang sama."


Perlahan, Haala mengangkat kepalanya, membalas tatapan Braheim.

__ADS_1


"Bersediakah kau mengenakan mahkota Ratu Kumari Kandam dan berjanji tidak akan melepaskannya selamanya, Haala Anandmayee?"


__ADS_2