TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 29


__ADS_3

Hangat sang senja mulai tak terasa, sebab mulai digantikan sang malam yang dingin. Tampak seorang wanita berpakaian duka masih setia berdiri di tempatnya, mengantar sang senja terlelap sejenak, menyambut sang malam yang bersemangat, sambil memandangi Sungai Dhoosar* yang telah melahap habis abu kremasi penasihat raja Kumari Kandam.


*Sungai Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam*.


Wanita berpakaian duka itu, Haala, masih menolak percaya jika Daxraj Natesh yang sangat hebat mati dengan cara yang sangat konyol. Dan lagi, bukan mati melawan sesuatu yang setara atau lebih hebat dari dirinya sendiri melainkan mati karena tenggelam di sungai yang dangkal, dengan leher yang terlilit akar tanaman herbal. Dipikir bermiliar kali pun, rasanya sulit untuk dipercaya.


Namun pada akhirnya Haala memutuskan untuk percaya, mengingat Daxraj Natesh dari masa lalu memang selemah manusia biasa. Kini yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kematian Daxraj Natesh dari masa lalu berdampak pada Daxraj Natesh dari masa depan. Dan siapakah Daxraj Natesh yang asli di antara penasihat Braheim dan pria beserban hitam yang keluar dari portal misterius.


"Sepertinya kau sangat kehilangan."


Haala menoleh ke asal suara, dan buru-buru membungkuk hormat. "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


"Ikhlaskanlah. Agar dia tenang di sana."


Haala hanya diam. "Ternyata kau memang sangat kehilangan," imbuh Braheim.


"Tidak, Yang Mulia. Hamba yakin dia masih hidup."


Kini berganti Braheim yang diam. "Dia pernah keluar dari sebuah portal dengan waktu yang berbeda. Meski tidak masuk akal, hamba yakin saat ini dia ada di dalam portal itu," tambah Haala.


"Kuharap keyakinanmu hanya dalih dari rasa kehilangan. Daripada itu, tidakkah kematiannya membuktikan jika akulah pemimpin suku pengembara yang asli?"


Haala kembali diam. "Aku memiliki tanda lahir pemimpin suku pengembara dan masih hidup. Itu berarti akulah yang asli, bukan?" tanya Braheim lagi.


Haala masih diam, namun diam-diam mengiyakan semua yang baru saja dikatakan Braheim dalam diam. Tidak hanya itu, di dalam buku kuno peninggalan leluhur suku pengembara pun tertulis jelas jika Braheim memanglah pemimpin suku pengembara. Tapi entahlah. Entah kenapa Haala merasa kesulitan menerimanya meski sekadar berpura-pura.


"Katakan. Kenapa kau masih meragukanku dan meyakini jika dialah pemimpin suku pengembara yang asli? Dia hanya memiliki tanda lahir. Kau pikir itu cukup?"


Haala menggeleng menanggapi Braheim. "Dia tidak hanya memiliki tanda lahir tapi kekuatan yang luar biasa, Yang Mulia. Apakah Anda juga memiliki kekuatan itu?"


Kini berganti Braheim yang terdiam. "Menundukkan singa raksasa, Ghinauna*, bahkan Chhota*. Menyembuhkan segala penyakit, menghapus ingatan, dan memutar waktu. Apakah Anda juga bisa melakukannya, Yang Mulia?"


*Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal*.


*Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng*.


Tidak. Bahkan menumbangkan komandan perang Kumari Kandam yang hanyalah seorang wanita pun Braheim tidak bisa. Apalagi menundukkan hewan supernatural yang membuat bulu kuduk meremang seperti itu. Namun selain memutar waktu, Braheim cukup percaya diri bisa menyembuhkan penyakit dan menghapus ingatan seseorang. Meskipun lewat tangan ajaib tabib kerajaannya.


"Katakan, Yang Mulia. Bagaimana cara Anda melawan Gaana* jika tidak memiliki kekuatan pemimpin suku pengembara?"


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


"Aku tahu caranya. Daxraj sudah memberi tahuku lewat surat," jawab Braheim.


Haala menoleh pada Braheim. "Bagaimana?"


Braheim ikut menoleh. "Hanya perlu menyebut nama Gaana saat dia masih menjadi manusia. Tapi itu hanya akan bereaksi jika disebutkan oleh pemimpin suku pengembara yang asli."

__ADS_1


"Mungkinkah di--"


"Ya. Kurasa Daxraj mencoba membunuh Gaana dengan cara itu tapi tidak berhasil. Karena pemimpin suku pengembara yang asli ada di hadapanmu," sela Braheim.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Helaan napas Braheim kembali membuat beberapa lembar kertas di hadapannya bergeser. Braheim jengkel memikirkan perkataan Haala tempo hari yang kemungkinan besar bukan sekadar luapan rasa kehilangan. Meski sekarang hanya dirinya yang memiliki tanda lahir pemimpin suku pengembara, tetapi Braheim tidak memiliki kekuatan pemimpin suku pengembara.


Braheim beranjak menuju lemari buku. Menarik buku paling besar yang menjadi pembatas buku-buku yang lain, dan mengambil sesuatu yang tak lain adalah botol ramuan Smrti*. Braheim memandangi isi ramuan itu cukup lama, memandang tak yakin. Niat Braheim yang ingin memanggil Daxraj Natesh dari masa depan, harus dibayarnya dengan gempa bumi berkekuatan tak main-main.


*Smrti* merupakan ramuan pemulih ingatan yang terlupakan. Smrti terbuat dari air mata peri, dan hanya bisa dikonsumsi saat siang hari sebelum tidur, karena hasilnya akan langsung muncul dalam bentuk hujan atau pelangi. Jika hujan yang muncul, maka mimpi yang terjadi hanyalah bunga tidur, tetapi jika pelangi yang muncul, maka bisa dipastikan itu adalah ingatan yang terlupakan*.


*FLASHBACK ON*


"Jangan coba-coba memanggilku dengan ramuan itu lagi. Karena bukan hujan atau pelangi yang akan kau lihat setelahnya."


"Hei. Kuperintahkan kau untuk kembali, Daxraj Natesh!" seru Braheim.


*FLASHBACK OFF*


"Tidak, rakyatku bisa dalam bahaya," gumam Braheim sembari meletakkan kembali ramuan Smrti di tempatnya.


Berbeda saat sebelum dirinya tertampar perkataan Haala, kini Braheim juga berharap Daxraj masih hidup di balik portal yang hilang dan muncul seenaknya itu. Sebab sekarang kembali menjadi misteri tentang siapa pemimpin suku pengembara yang asli. Braheim dengan tanda lahir emas dan pengawal bayangan, atau Daxraj dengan tanda lahir hitam dan kekuatan dahsyatnya.


"He vaphaadaar thandee aatmaon, milane aana. Tumhaara maalik bula raha hai, shaasak Kumaaree Kandam ne pukaara."


T/N: Wahai jiwa-jiwa dingin yang setia, datanglah. Tuanmu memanggil, penguasa Kumari Kandam memanggil.



Braheim berbalik, bersandar di punggung balkon ruang kerjanya. "Apa kalian tahu siapa pemimpin suku pengembara yang asli?"


"Ya, Yang Mulia," jawab pengawal bayangan Braheim kompak.


Braheim diam sesaat. "Katakan."


"Tugas kami hanya melindungi Anda dari marabahaya, Yang Mulia."


Braheim berjalan mendekati pengawal bayangannya. "Tidak. Tugas kalian adalah mematuhi perintahku. Dan sekarang kuperintahkan kalian untuk menjawab, siapa pemimpin suku pengembara yang asli?"


"Ampuni kami, Yang Mulia."


Braheim menghela napas. "Baiklah, pertanyaan yang lain. Apa Daxraj Natesh dari masa depan masih hidup?"


"Tugas kami hanya melindungi Anda dari marabahaya, Yang Mulia."


"Demi Tuhan! Setidaknya jawab salah satu dari itu!" seru Braheim.

__ADS_1


"Ampuni kami, Yang Mulia."


Braheim meninggalkan balkon. "Enyahlah."


Suasana hati Braheim hancur sejadinya, ditambah kepalanya yang seperti dihunjam puluhan jarum. Ingin rasanya Braheim kembali ke kamar tidurnya, tetapi langsung diurungkannya saat sosok telanjang Jihan yang menguasai ranjangnya terlintas sesaat. Braheim pun memutuskan untuk berjalan-jalan, berharap suasana hati berikut nyeri di kepalanya sedikit bisa tertolong.


Namun umpatan-umpatan terlewat menggelegar yang tidak sengaja didengar Braheim di sekitar Milaan*, membuat suasana hati berikut hunjaman brutal di kepalanya seolah mendapat obat tak terduga. Melalui umpatan-umpatan itu Braheim akhirnya mengetahui tujuan si ratu palsu, Jihan Joozher, juga kiamat yang ternyata sudah hampir sampai di pintu masuk utama Kerajaan Kumari Kandam.


*Milaan* adalah sebuah taman yang ditumbuhi ratusan bunga mawar liar berwarna hijau*.


"Sialan! Beraninya makhluk terkutuk itu membunuhnya! Padahal aku baru akan menggunakan kekuasaanku untuk menjadikannya lelakiku!" seru Jihan.


Braheim terlihat serius mendengarkan. "Sebagai balasan atas kematiannya, akan kubuat dia kelaparan! Dan sampai dia bersedia memutar waktu untuk menghidupkannya, aku tidak akan memberi lintah terkutuk itu makanan secuil pun! Sialan!" seru Jihan lagi.


Braheim tampak terkejut. "Sialan! Apa gunanya aku berada di sini jika tidak untuk membuatnya menjadi milikku! Tidak bisa kubiarkan! Pelayan, siapkan kereta kuda ke Hutan Mook sekarang juga!" Jihan meninggalkan Milaan dengan langkah terburu.


"Jadi Gaana juga bisa memutar waktu? Tapi bukankah hanya Daxraj Natesh dari masa depan yang bisa melakukannya? Daxraj Natesh jelas membantu Gaana memutar waktu. Tapi untuk apa?" tanya Braheim dalam hati.


Braheim keluar dari persembunyiannya sembari terus berpikir keras. "Mungkinkah, untuk memberi tahu kami isi ramalan leluhur sukunya yang telah diubah Gaana?"


...¤○●¤○●¤○●¤...


Hari itu Kumari Kandam dibuat gempar oleh kunjungan seorang putri yang berasal dari Kerajaan Narak*. Putri bak wanita yang dideportasi dari kahyangan itu tiba-tiba menghadap Braheim Bhaavesh, dan dengan percaya diri meminta diberi kesempatan untuk menjadi penghuni harem yang pertama.


*Kerajaan Narak* merupakan kerajaan pembuat senjata perang terhebat*.


Spontan Jihan beranjak dari singgasananya, hendak menghampiri sang putri. Namun Braheim mencegah Jihan dan memberinya pilihan untuk keluar dari ruang pertemuan atau kembali duduk dengan wibawa layaknya ratu. Jihan pun memilih meninggalkan ruang pertemuan dengan langkah penuh amarah.


Braheim melirik Haala, juga penasihat barunya, Murat Iskender. Komandan perang Kumari Kandam dan mantan anggota pemburu Shaapit* itu tampak kompak memandang curiga pada sang putri. Pun pengawal bayangan Braheim yang tiba-tiba muncul meski dirinya tidak merapalkan mantra pemanggilan.


*Shaapit* merupakan makhluk supernatural yang jahat*.


"Mohon beri hamba kesempatan untuk membantu Anda menyejahterakan tanah Kumari Kandam, Yang Mulia," imbuh sang putri.


"Biar kutanya pada seseorang, apakah ada dana yang cukup untuk membangun sebuah harem." Braheim menoleh pada menteri keuangan.


"Dana yang kita miliki bahkan cukup untuk membangun seratus harem yang seratus kali lipat lebih megah dari istana Yang Mulia Ratu, Yang Mulia."


Braheim mengangguk menanggapi menteri keuangan. "Bagaimana menurutmu, penasihat?"


"Anda harus memikirkannya dengan matang, Yang Mulia," jawab Murat.


Braheim kembali mengangguk. "Lalu bagaimana menurutmu, komandan?"


"Suatu kehormatan bisa mencoba senjata perang terhebat buatan Kerajaan Narak, Yang Mulia."


Braheim mendecak sembari beranjak. "Kembalilah, putri. Aku tidak membutuhkan selir. Sungguh, Ratu Kumari Kandam sudah lebih dari cukup untukku."

__ADS_1


"Tapi Ratu Kumari Kandam tidak akan hidup lama, Yang Mulia."


Spontan Braheim menoleh pada sang putri. "Dan Anda harus segera kembali ke tempat yang seharusnya karena singgasana Raja Kumari Kandam bukan milik Anda," imbuh sang putri.


__ADS_2