
Atmosfer suka cita terasa begitu kuat menyelimuti salah satu rumah di Desa Raseela. Rumah sederhana itu tampak disesaki orang-orang yang sibuk membantu pemiliknya mempersiapkan pesta pernikahan. Namun kemewahan segala rupa yang tersaji di depan mata seketika terlihat biasa saja saat sang Penguasa Kumari Kandam turun dari kereta kudanya, dan melangkah gagah memasuki rumah tersebut.
Si pemilik rumah yang tak lain adalah keluarga besar Haala langsung buru-buru membungkuk hormat pada Braheim yang datang berkunjung tanpa pemberitahuan itu. Jelas sekali telah terjadi sesuatu jika diterka dari mimik wajah tampan Braheim yang dihiasi urat-urat kekesalan. Sesuatu yang mereka harap tidak berkaitan dengan Haala, calon menantunya, atau pesta pernikahan megah keduanya esok hari.
Tetapi sia-sia saja mereka berharap, sebab maksud kedatangan Braheim nyatanya memang untuk menyingkirkan satu per satu harapan yang mereka harapkan. Dengan suara lantang dan penuh penekanan di setiap katanya, Braheim Bhaavesh yang merupakan orang nomor satu di Benua Kumari Kandam memerintahkan pembatalan pesta pernikahan Haala dan Daxraj yang hanya tinggal menghitung jam.
"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
Braheim mengangguk menanggapi kakek Haala. "Tapi apa alasan pernikahan mereka sampai harus dibatalkan?" imbuh kakek Haala.
"Entahlah. Aku hanya menuruti apa yang hati ini katakan."
"Mungkinkah mereka telah membuat kesalahan yang fatal, Yang Mulia?"
"Mungkin saja," balas Braheim.
"Jika Anda tidak keberatan, bolehkan hamba mengetahui kesalahan fatal seperti apa yang telah mereka perbuat, Yang Mulia?"
Braheim diam sesaat. "Sepertinya aku dan Haala Anandmayee memiliki hubungan rahasia yang romantis. Kami pernah menaiki kuda bersama, berpelukan, berciuman, bahkan mungkin menghabiskan malam bersama."
Kakek, nenek, serta ibu Haala tampak sangat terkejut hingga tak kuasa berucap sepatah kata pun. "Aku sedang berpikir apakah aku dikhianati atau dibuang olehnya. Dan apakah hukuman mati sudah yang paling pantas untuknya yang telah berani mempermainkan hatiku," tambah Braheim.
Spontan kakek Haala bersujud pada Braheim. "Mohon ampuni nyawa penerus kami, Yang Mulia. Biarlah nyawa hamba yang tidak berharga ini yang menggantikannya."
Nenek Haala ikut bersujud. "Hamba pun bersedia menukar nyawa hamba, Yang Mulia. Tapi mohon belas kasih Anda."
"Tidak, Yang Mulia. Ambil saja nyawa hamba yang telah salah mendidik putri hamba ini." Ibu Haala bersujud seraya menangis histeris.
Braheim beranjak dari kursi. "Jika dia membuangku karena kesalahanku, tentu nyawanya layak diampuni. Tapi jika dia terbukti mengkhianatiku, nyawa seribu orang pun kurasa tidak akan bisa menggantikan nyawanya."
KLEK!
Haala yang baru saja kembali dari menyelesaikan sembilan sari sebelas ritual calon pengantin wanita terkejut mendapati kondisi keluarganya yang tengah kompak bersujud dan menangis di hadapan Braheim. Entah apa sebab situasi kacau balau yang saat ini terjadi, namun Haala berharap bukan sebab Braheim mengingat sesuatu tentang masa depan. Tetapi lagi-lagi, sia-sia saja apa yang baru saja diharapkan Haala dalam hati.
"Panjang umur, dan te--"
"Tutup mulutmu," sela Braheim pada Haala.
DEG!
"Satu jawaban untuk nyawa mereka semua," imbuh Braheim.
DEG! DEG!
Braheim masih melanjutkan. "Apakah kita pernah saling mencintai?"
DEG! DEG! DEG!
Sorot mata itu, Haala mengenal betul sorot mata itu. Sorot mata pria yang sangat kesakitan sebab menyadari dirinya telah dibuang oleh wanita yang didamba. Sorot mata yang sering Haala tangkap di mata indah Daxraj Natesh dari masa depan. Ingin rasanya Haala menghambur memeluk erat Braheim, mengubah sorot mata yang tak pantas Braheim tunjukkan padanya yang sampai kapan pun akan terus mendambanya.
Dan ingin rasanya Haala menjawab iya, atau sekadar menganggukkan kepalanya untuk pertanyaan yang mempertaruhkan nyawa keluarganya yang tak berdosa. Sesuatu yang mati-matian Haala pendam mulai naik ke permukaan, menggoyahkan hatinya, bersamaan dengan ingatan tentang panggung megah Tamaasha* berikut raut wajah orang-orang yang tak sabar melihat kepalanya terlempar ke tanah bagai sampah.
*Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat*.
"Tidak, Yang Mulia. Kita tidak pernah saling mencintai," jawab Haala akhirnya, dengan suara bergetar.
...¤○●¤○●¤○●¤...
__ADS_1
"Benarkah kau melihat Yang Mulia Raja datang diam-diam mengunjungi Haala setiap malam?"
"Tidak ada yang sudi menaiki panggung Tamaasha hanya untuk mengarang cerita," balas Jihan pada salah seorang temannya.
Kedua teman Jihan yang lain mengangguk-angguk menyetujui Jihan. "Kupikir cinta Yang Mulia Raja bertepuk sebelah tangan. Karena setiap kali berkunjung Beliau terlihat sangat sedih," imbuh Jihan.
"Benarkah? Ya Tuhan kasihan sekali. Kenapa Haala sangat kejam pada Yang Mulia Raja kita?" Teman kedua Jihan bertanya dengan nada suara tinggi.
"Jika aku ada di posisi Haala, aku pun akan memilih untuk menjadi orang yang kejam."
"Kenapa?" tanya Jihan pada teman ketiganya.
Teman ketiga Jihan, gadis paling tua di antara Jihan dan para gadis lainnya di Raseela beranjak, sembari menunjuk Kerajaan Kumari Kandam yang terlihat sangat kecil. Gadis ketiga tersebut berkata jika menduduki singgasana ratu bukan perihal mudah. Sebab sang ratu tidak hanya dituntut menjadi ibu untuk seluruh rakyat, tetapi juga menjadi ibu untuk selir-selir raja.
Jihan tersentak mendengar apa yang baru saja dikatakan teman ketiganya. Entah bagaimana air mata Jihan mendadak mengalir deras, seolah mengerti betul rasanya menjadi ibu untuk para selir. Hati Jihan mulai terasa nyeri, nyeri oleh sebab yang tak dimengertinya sama sekali. Sempat terbesit perasaan menyesal, ketika Jihan meminta Haala untuk menyambut cinta Yang Mulia Raja.
Perasaan menyesal itulah yang pada akhirnya menggerakkan langkah Jihan menuju kediaman Haala. Jihan berniat memberitahu Haala jika dirinya tidak akan mengganggu Daxraj lagi asalkan Haala melupakan suruhannya untuk membalas cinta Yang Mulia Raja tempo hari. Namun Jihan terpaksa menunda niatnya, sebab kedatangannya bersamaan dengan kedatangan Daxraj yang terlihat marah.
"Apa yang dikatakan Yang Mulia Raja benar? Bahwa kalian memiliki hubungan rahasia?"
Haala tak menanggapi Daxraj. "Beri aku penjelasan, Haala," imbuh Daxraj.
"Apa kau akan memercayai apapun yang kukatakan?"
Daxraj mengangguk mantap. "Apapun."
"Aku datang dari masa depan."
Daxraj hanya mengernyit. "Seharusnya aku sudah mati," tambah Haala.
"Jadi di masa depan kau tidak mencintaiku?"
"Pun di masa lalu," balas Haala.
"Aku tahu. Tak masalah meski kau tidak mencintaiku. Setidaknya kita memiliki tujuan mulia yang sama."
Haala mengangguk seraya bergumam dalam hati. "Dan setidaknya dia akan baik-baik saja karena tidak mengingat apapun tentang kenangan kami."
Daxraj beranjak. "Pernikahan kita harus tetap terlaksana demi keselamatan dunia. Aku akan menemui Yang Mulia Raja dan memberitahu tentang ramalan suku pengembara."
"Kurasa Beliau tidak akan memercayainya begitu saja."
"Aku akan menunjukkan tanda lahirku pada Beliau sebagai bukti. Aku akan pergi sekarang." Daxraj keluar dari kamar Haala.
Haala memandangi Daxraj yang memasuki kereta kuda dengan langkah terburu, diantar oleh seluruh keluarga besarnya. Kereta kuda berkecepatan tinggi itu hilang bersamaan dengan hujan deras yang datang tanpa permisi. Haala tidak berniat menyangkutpautkan fenomena alam tersebut dengan pertanda akan datangnya bencana besar, tetapi tampaknya memang demikian.
Jika saja Daxraj Natesh yang tengah dalam perjalanan melawan perintah Braheim saat ini adalah Daxraj Natesh yang datang dari masa depan, mungkin Haala bisa merasa sedikit tenang. Namun entah bagaimana nasib Daxraj Natesh dari masa lalu jika berani melawan Braheim Bhaavesh yang bisa menjatuhkan hukuman apa saja hanya dalam sekali anggukkan.
Ketidaktenangan Haala kian menjadi, dan dirinya mantap untuk menyusul Daxraj. Namun di tengah perjalanan Haala mendengar suara jeritan yang berasal dari dalam hutan. Haala yang yakin jika pendengarannya tidak salah, akhirnya memutar langkah kuda milik sang kakek memasuki hutan. Dan betapa terkejutnya Haala ketika mendapati Jihan tergeletak di tanah bersimbah darah.
"Yang Mulia Ratu? Yang Mulia, sadarlah."
"A-A-A-Ayahmu," ujar Jihan sebelum jatuh tak sadarkan diri.
"Yang Mulia? Yang Mulia Ratu? Yang Mulia?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
__ADS_1
Hujan turun semakin lebat, diiringi semilir gaduh angin malam, ketika Daxraj tiba-tiba menanggalkan jubahnya di hadapan Braheim. Anehnya tidak tampak mimik terkejut di wajah tampan Braheim, sedikit pun. Seolah apa yang sedang disuguhkan Daxraj pada Braheim saat ini merupakan pemandangan biasa yang dilihat Braheim sehari-hari.
Meski dibuat jengkel dengan sikap acuh Rajanya, Daxraj tak henti berupaya. Daxraj menjelaskan perihal tanda lahir bertinta hitam pegam yang terukir berantakan di kulit putih susunya, dan terutama perihal ramalan suku pengembara akan kebinasaan dunia. Namun Braheim masih saja mengacuhkan apapun yang dikatakan Daxraj.
Hingga akhirnya habis sudah kesabaran Daxraj, kesabarannya yang terkenal luas. Tanpa ragu Daxraj berkata akan tetap melangsungkan pernikahan dengan Haala meski setelahnya akan dipecat secara tidak hormat dari posisinya, atau bahkan diseret ke panggung Tamaasha. Ungkapan tak takut mati itulah yang ternyata berhasil mengubah sikap acuh Braheim.
"Apa yang membuatmu begitu percaya diri jika dirimulah pemimpin suku pengembara?"
"Karena tanda lahir di tubuh ini, Yang Mulia," balas Daxraj pada Braheim.
"Bagaimana jika aku juga memiliki tanda lahir itu?"
Daxraj tampak terkejut. "Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Yang hamba tahu hanya pemimpin suku pengembara yang dianugerahi tanda lahir seperti ini. Lalu tidak mungkin ada dua orang pemimpin dalam satu suku."
"Maka dari itu aku bertanya kenapa kau begitu percaya diri jika dirimulah pemimpin suku pengembara. Karena faktanya aku juga diberi anugerah yang sama denganmu."
PLUK!
Pakaian bertabur mutiara berkilauan itu jatuh ke lantai, menampakkan tubuh berharga sang Penguasa Kumari Kandam yang ternyata memang dianugerahi tanda lahir yang konon hanya dimiliki pemimpin suku pengembara. Tanda lahir berbahasa Videsh* yang tampak samar sebab diukir dengan tinta berwarna emas yang menyatu dengan kulit.
*Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit*.
"Jadi, dari mana datangnya rasa percaya dirimu yang tinggi itu, Daxraj Natesh?"
Daxraj tak kuasa menjawab, dan hanya menyibukkan penglihatannya menjelajahi tanda lahir di tubuh Braheim, berharap menemukan satu saja ketidaksamaan. Tapi sialnya selain warna tinta pada tanda lahir mereka, tidak ada satu pun perbedaan yang berhasil ditangkap mata Daxraj. Daxraj pun mulai berpikir sama dengan Braheim, tentang dari mana rasa percaya dirinya itu datang.
"Apa gunanya menyembah Tuhan jika menjadikan ramalan sebagai acuan kehidupan?"
"Hamba hanya merasa jika itu bukan sekadar ramalan, begitu pun Haala. Dia tiba-tiba datang pada hamba dan mengusulkan pernikahan demi menghindari kebinasaan dunia di masa depan," jawab Daxraj.
"Jadi maksudmu, dia tahu tentang ramalan itu tanpa kau memberitahunya?"
Daxraj mengangguk. "Dia mengaku datang dari masa depan, Yang Mulia."
Kini berganti Braheim yang membisu. "Awalnya hamba juga tidak percaya. Tapi akhir-akhir ini dia memang sangat aneh. Dia banyak menanyakan sesuatu yang tidak hamba mengerti. Bahkan dia sampai menyebut salah seorang temannya sebagai Ratu Kumari Kandam," imbuh Daxraj.
Braheim masih membisu. "Dia kembali ke masa lalu untuk berusaha mencintai hamba."
"Jadi orang yang salah yang dimaksud ramalan ini adalah aku, begitu?"
"Benar, Yang Mulia," balas Daxraj.
"Apa sudah terbukti jika masa depan akhirnya binasa karena dia mencintaiku?"
Daxraj tampak bingung. "Dari mana dia tahu jika aku adalah orang yang salah yang dimaksud ramalan ini jika masa depan nyatanya masih baik-baik saja? Lalu kenapa seolah kau sangat yakin jika kaulah orang yang tepat dan juga pemimpin suku pengembara?" tanya Braheim lagi.
Dan lagi-lagi apa yang dipikirkan Braheim membawa serta pikiran Daxraj. Semua yang dipertanyakan Braheim seolah menjadi tamparan keras untuk Daxraj. Karena sudah jatuh hati pada Haala, rasa percaya diri Daxraj mendadak berapi-api. Daxraj mengesampingkan fakta bahwa bisa jadi dirinyalah orang yang salah yang dimaksud ramalan suku pengembara.
Ditambah lagi Braheim juga memiliki tanda lahir yang konon hanya dianugerahkan pada pemimpin suku pengembara. Bisa jadi pula Braheimlah yang ternyata merupakan pemimpin suku pengembara yang sebenarnya. Daxraj tersadar jika dirinya telah bertindak gegabah. Niat Daxraj yang ingin menyelamatkan dunia dari kebinasaan, bisa jadi malah meluluhlantakkannya.
"Hamba akan mencari tahu tentang kebenaran ramalan itu, Yang Mulia," pungkas Daxraj.
"Bukan itu yang ingin kudengar lebih dulu."
Daxraj diam sesaat, mencoba menangkap maksud Braheim. "Hamba akan membatalkan pernikahan hamba dengan Haala."
"Dan jangan berani menyentuhnya sampai semua kebenaran terkuak."
__ADS_1