
"Tuan Putri, surat balasan dari Yang Mulia Braheim sudah datang."
"Apa dia membuat pesta sambutan terlebih dahulu sampai baru mengirimkan surat balasan sekarang?" Jihan beranjak dari duduknya. "Membuat firasatku semakin buruk saja. Ayo berangkat."
Bicara tentang firasat, terutama firasat buruk memang melelahkan. Sesuatu yang belum pasti akan terjadi tetapi terus bergumul di dalam benak seolah telah terjadi, dan parahnya membuat makan pun tidur bagaikan hukuman. Namun firasat, terutama firasat buruk memang tak jarang benar-benar terjadi, meski tidak sepersis itu. Seperti firasat buruk Jihan yang mengatakan kedatangannya akan disambut dengan pesta, nyatanya memang benar terjadi. Meski bukan pesta sambutan yang wajar.
"Ternyata ini alasan kenapa dia baru mengirimkan surat balasannya," gumam Jihan sembari menggeleng tak percaya, memandangi ribuan panah yang kini menyambutnya. "Sungguh pesta sambutan yang sangat meriah. Aku tersentuh."
"Kami melakukan ini untuk berjaga-jaga. Mohon pengertian Anda, Tuan Putri."
Jihan mendecak menanggapi Wakil Komandan Perang Kumari Kandam, Aswin Nadeem. "Inilah kenapa orang jahat yang sedang berusaha bertobat malah berubah menjadi semakin jahat."
"Mohon maaf, Putri. Kami tidak memiliki pilihan lain."
"Ya ya ya aku sudah sering mendengar itu." Jihan berjalan selangkah, diikuti mata panah. "Aku tidak menyembunyikan senjata apapun. Ah tentu saja kalian tidak akan percaya. Maka haruskah aku melepaskan Saree* ini? Di sini? Sekarang juga?"
Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.
Semua orang yang berdiri tepat di mulut gerbang utama Kumari Kandam itu salah tingkah. Kecuali Braheim dan Murat yang malah menggigit lidahnya menahan geram.
Aswin berdeham, "Anda tidak perlu melakukan itu karena kami berjaga-jaga untuk hal yang lain."
"Ah, aku tahu. Rupanya kalian berjaga-jaga untuk tamu yang bukan manusia." Jihan kembali berjalan selangkah, pun kembali diikuti mata panah. "Kalau begitu, kenapa kalian tidak memastikannya dengan Gandh*?"
Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Memang itulah yang akan kami lakukan, Putri," balas Aswin.
Jihan menoleh pada pelayannya dengan senyum angkuh. "Tepat, bukan? Kebutuhan yang kuminta untuk satu pekan?"
"Kami akan melakukannya sekarang, Putri. Pada Anda juga pada semua orang yang Anda bawa dari Kerajaan Sitaara."
Jihan terus memprovokasi ribuan mata panah itu dengan terus menambah langkahnya ke depan. "Maka lakukanlah. Aku sudah bersiap untuk ini sejak dua pekan lalu."
Pasukan pemanah serentak menurunkan panahnya, digantikan para pelayan yang sudah memegang cawan berisi Gandh. Setelah mendapat persetujuan dari Braheim, senjata yang terlihat seperti air biasa itu pun langsung disiramkan pada Jihan. Kain Saree berwarna serupa kulit itu seketika kuyup, memamerkan lekuk tubuh Jihan yang membuat siapa pun akan salah paham mengiranya tengah bertelanjang bulat. Namun, tak tampak reaksi apapun yang ditunjukkan Jihan selain menggigil dan, mengumpat.
"Sialan. Dasar sekumpulan idiot."
...•▪•▪•▪•▪•...
Jihan masih mengumpat, meski sudah diizinkan memasuki Kerajaan Kumari Kandam dan meski sudah berganti Saree. Alih-alih dibiarkan beristirahat di ranjang empuk sambil menikmati minuman hangat layaknya tamu, segera setelah berganti pakaian Jihan malah diperintahkan untuk menuju ruang pertemuan. Kesal? Sudah tentu. Tapi tujuan Jihan datang ke tempat ini memang untuk diinterogasi kapan pun Braheim ingin. Ya, tak peduli meski itu diinterogasi di akhir sepertiga malam. Jihan pun tiba di ruang pertemuan.
Terlihat Braheim, Murat, Aswin serta Kepala Penyidik dari tiga benua sudah menunggu Jihan. Jihan tersenyum puas melihat raut wajah bosan semua orang yang ada di ruang pertemuan itu. Kecuali Braheim dan sang kakak, Murat. Seperti biasa Braheim memang sulit diprovokasi, jadi wajar jika ekspresi wajahnya datar-datar saja. Berbeda dengan ekspresi wajah sang kakak yang tampak ingin sekali membunuhnya. Jihan kembali tersenyum, berniat membuat Murat semakin naik darah.
Jihan asal menjatuhkan tubuhnya di kursi, sengaja agar Sareenya berantakan dan bagian tubuh yang hanya dimiliki kaum hawa itu semakin jelas terlihat. Namun tidak cukup dengan Saree, mantan Ratu Kumari Kandam itu juga sengaja memilih posisi duduk yang menggoda. Benar, kedua kaki Jihan sengaja dibuka lebar. Dan tidak cukup pula dengan Saree serta posisi duduk, setiap kata yang keluar dari bibir bergincu merah jambu itu pun benar-benar hanya ditujukan untuk memancing berahi.
"Apakah hamba boleh menyalakan Shisha*, Yang Mulia?" tanya Jihan pada Braheim.
Shisha* merupakan metode merokok asal Timur Tengah menggunakan tabung berisi air, mangkuk, pipa, dan selang. Di dalam tabung tersebut terdapat tembakau khusus yang dipanaskan dan ditambahkan perasa atau aroma, misalnya buah-buahan.
"Tidak. Asapnya bisa terbang sampai ke istana baru dan mengganggu pernapasan Vinder."
__ADS_1
Jihan memiringkan kepalanya. "Vinder?"
"Putraku."
"Putra?"
"Ya. Putra angkatku," sahut Braheim.
"Kenapa tidak membuat putra sendiri? Darah daging saja bisa membelot apalagi darah orang lain? Tapi tentu masih lebih baik daripada tidak memiliki darah. Hamba ucapkan selamat, Yang Mulia."
Braheim hanya mengangguk menanggapi wanita setengah telanjang yang kemungkinan besar meninggalkan tata kramanya di Sitaara itu.
"Lalu, hamba dengar Anda akan menggelar Vinaash* dalam waktu dekat."
Vinaash* merupakan ujian yang dibuat oleh Yusef Bahadir dengan keyakinan bahwa hanya keturunannya saja yang bisa melewatinya. Vinaash tidak dibuat dengan maksud kecongkakan, karena nyatanya puluhan orang biasa yang pernah mencobanya selalu berakhir menemui ajal.
"Itu benar."
Jihan menoleh pada Aswin. "Kenapa?"
"Maaf, Putri?"
"Aku bertanya kenapa kau mencoba sesuatu yang hasilnya sudah jelas? Tidak peduli meski kau lebih kuat dari Gaana, kau hanya akan mati sia-sia jika tidak ada darah Yusef Bahadir di tubuhmu. Tamak sekali." Jihan menggeleng-geleng. "Bukankah lebih baik bercinta denganku? Seperti waktu itu?"
Aswin tampak terkejut, pun ketiga Kepala Penyidik. Tapi lagi-lagi, kecuali Braheim dan Murat. Kepala Penyidik dari Benua Chamakadaar yang sudah tidak sanggup lagi mendengar basa-basi tak bermoral Jihan pun akhirnya meminta izin pada Braheim untuk memulai interogasi.
"Terima kasih, Yang Mulia." Kepala Penyidik Chamakadaar membungkuk pada Braheim, lalu menoleh pada Jihan. "Saat kami meringkus para pelayan Anda, kami langsung melakukan interogasi di tempat. Tapi sayangnya tidak satu pun dari mereka yang mau membuka mulut. Anda pasti memerintahkan mereka ke suatu tempat, bukan?"
"Boleh hamba tahu ke mana itu, Putri?"
"Ke pasar. Membeli Goan Feni*."
Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.
"Maaf?"
"Kenapa? Bukankah kau butuh Goan Feni saat suasana hatimu buruk? Saat itu suasana hatiku bertambah buruk karena ada tamu yang datang di pagi buta," jawab Jihan pada Kepala Penyidik Chamakadaar.
Spontan Kepala Penyidik Chamakadaar membuang pandangannya ke sembarang arah, malu. Kepala Penyidik dari Benua Jvaala pun mengambil alih.
"Sekali lagi kami memohon pengertian Anda untuk ketidaksopanan kami hari itu, Putri."
Jihan tak menjawab, mulai lelah mempertahankan posisi duduknya yang tak senonoh dan tak biasa dilakukannya.
"Kembali ke topik pembicaraan kita, Putri. Meski para pelayan Anda tidak mau membuka mulut sampai hari ini, kusir baru Anda akhirnya mau membuka mulut," tambah Kepala Penyidik Jvaala.
"Dia pecandu Goan Feni. Semua yang dikatakannya tidak jelas karena bercampur halusinasi."
"Tapi kali ini dia tidak berhalusinasi. Berkat kesaksiannya kami menemukan banyak mayat di Maan* dan di tempat tinggal Daant*.
Maan* merupakan pohon yang memiliki fungsi seperti pengawet. Di zaman pemerintahan Raja Kumari Kandam I, maan banyak dimanfaatkan untuk menyimpan daging hewan saat hari qurban umat muslim.
__ADS_1
Daant* buaya yang biasanya menghuni sungai yang masih belum terjamah manusia.
Jihan menghela napas menanggapi Kepala Penyidik Kumari Kandam. "Rupanya dia tidak hanya pecandu tetapi juga pembunuh."
"Putri, mohon kerja sana Anda."
"Memang kau pikir apa yang sedang kulakukan sekarang, hah? Aku sudi melihat wajahmu yang bodoh itu karena aku mau bekerja sama."
"Tapi, Putri, se--"
Braheim tiba-tiba mengubah posisi duduknya, membuat ucapan Kepala Penyidik Kumari Kandam menggantung menjadi teka-teki.
"Raja Lagaam mengirimiku surat hari ini. Dia ingin menginterogasimu atas kasus hilangnya tujuh puluh empat rakyatnya, karena mereka hilang bertepatan dengan hari kunjunganmu ke Lagaam. Dan lagi, seorang saksi mengaku telah diberi tiga buah kantong emas untuk menenggak ramuan yang bisa membuka mata batin."
DEG
"Apalagi yang hendak kau lakukan kali ini? Mencari kekasihmu? Sadarlah, dia sudah mati," imbuh Braheim.
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
Raut wajah Jihan mendadak berubah, tak lama setelah mendengar ucapan terakhir Braheim. Mencari kekasihmu? Sadarlah, dia sudah mati. Sialan. Braheim Bhaavesh yang sulit diprovokasi itu memang terbukti mahir memprovokasi. Jihan merapikan Sareenya, mengubah posisi duduknya, lalu membalas tatapan Braheim. Dan interogasi yang sebenarnya pun, dimulai.
"Akan kukatakan," jawab Jihan pada Braheim.
Braheim menghela napas lega seraya kembali bersandar di punggung kursi.
"Dengan syarat."
"Sialan! Sudah berbuat dosa pun masih meminta syarat! Di mana akal sehatmu itu, Jihan Joozher!" Murat berteriak sembari menghampiri Jihan. Beruntung Aswin dengan cepat menahan Murat. Jika tidak, maka sungguh, Penasihat Raja Kumari Kandam itu akan benar-benar membunuh Jihan di tempat daripada membiarkannya tetap hidup hanya untuk menjadi manusia keji.
"Syarat pertama, bebaskan semua pelayanku."
Braheim mengangguk setuju, dan langsung memberi kode pada prajurit penjaga untuk mengabulkan syarat dari Jihan detik itu juga.
"Lalu bebaskan aku, orang-orangku, dan Sitaara dari hukum delapan benua."
"Kau, sialan! Me--"
"Murat. Cukup," sela Braheim. "Ada lagi?"
"Itu saja."
"Baiklah. Sekarang katakan yang sebenarnya."
"Tunggu, Yang Mulia. Anda tidak bisa menyetujuinya begitu saja. Hamba yakin dialah dalang dari semua masalah. Anda bisa kehilangan kepercayaan rakyat jika mereka tahu Anda tidak memberinya hukuman yang pantas da--"
"Hei, Kakak. Ketahuilah masih lebih baik kehilangan kepercayaan rakyat daripada kehilangan semua makhluk hidup di muka bumi ini," potong Jihan pada Murat.
Semua orang melihat ke arah Jihan yang sedang sibuk memandangi cat kuku barunya. Entah benar atau hanya dugaan yang meleset. Maksud dari perkataan Jihan sudah pasti kiamat, kiamat berkedok perang kebinaaaan.
__ADS_1
"Tua bangka gila itu berencana membangkitkan Sannidhi Hessa. Atau yang lebih buruk, bersekutu dengan Gaana yang baru. Gaana laki-laki," imbuh Jihan.