TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 69


__ADS_3

Tubuh Gaana perlahan mengeluarkan asap, sesaat setelah Daxraj menyebut namanya. Kepulan asap berwarna merah itu menebarkan aroma yang mampu mengaduk-aduk isi perut siapa pun. Dan ketika Daxraj menyebut nama Gaana untuk yang kedua kali, tubuh makhluk setengah lintah itu tiba-tiba saja dilahap kobaran api misterius.


Tidak ada perlawanan dari Gaana, bahkan sekadar makian dalam hati pun tidak. Gaana berakhir menjadi abu. Abu yang kemudian dibawa sang angin menuju langit. Semua pasang mata enggan mengantar kepergiaan Gaana, dan lebih memilih memandangi sosok pemimpin suku pengembara dan singa raksasa yang terlihat persis seperti di sampul buku dongeng.


Tak perlu mengenakan zirah, tak perlu memegang erat senjata, pun tak perlu ditamengi jutaan pasukan tempur. Cukup menggerakkan bibirnya untuk menyebut nama Sannidhi Hessa, dan si pemilik nama akan langsung menjadi abu. Luar biasa. Seolah meski sambil bercinta sekali pun, pemimpin suku pengembara bisa memenangkan segala pertempuran.


"Yang Mulia, Anda terluka. Anda harus segera diobati," tutur Murat.


Braheim menunjuk Jihan. "Ratu lebih dulu."


Spontan Murat berlari menghampiri Jihan, diekori Firdoos. "Yang Mulia? Apa Anda bisa mendengar hamba?"


Jihan hanya tersenyum membalas Murat.


"Beliau juga harus segera diobati, Penasihat."


Murat mengangguk pada Firdoos. "Prajurit, bawa Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu ke istana utara* sekarang juga," teriak Murat.


Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.


"Tunggu," perintah Braheim pada dua orang prajurit yang membopongnya. "Hei, pahlawan kesiangan. Kau akan pergi?"


"Kenapa? Masih belum puas memandangi ketampananku?"


Braheim mendecak, "Ada banyak yang ingin kutanyakan. Kurasa mereka juga." Braheim menunjuk ketujuh raja.


Daxraj menoleh pada ketujuh raja. "Aku tidak keberatan. Lagi pula aku juga tidak bisa pergi sendiri."


"Apa ma--"

__ADS_1


Daxraj menghilang, sebelum Braheim sempat merangkai kalimat tanya. Setidaknya Daxraj sudah bersedia, dan Braheim juga sudah tahu ke mana tujuan pria dengan pakaian khas malaikat maut itu. Braheim meminta pada tabib kerajaan agar diobati seadanya, karena harus segera menemui Daxraj. Dan akhirnya, Braheim beserta ketujuh raja sudah duduk bersama Daxraj.


"Kau juga minum teh."


"Aku manusia," balas Daxraj pada Raja Hathelee.


"Berarti kau manusia yang sangat luar biasa."


Daxraj menoleh pada Raja Padachihn. "Penerusku lebih luar biasa."


"Kau memiliki penerus?" tanya Raja Shushk.


"Harusnya."


Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir, ikut bersuara. "Mungkinkah lawan yang belum lahir itu adalah penerusmu?"


"Ya."


Daxraj mengangguk pada Raja Arshaq, sembari menyeruput tehnya.


"Bagaimana bisa? Apakah Gaana tidak benar-benar mati sehingga kembali mengendalikan pikiran ketujuh pelindung?" tanya Raja Lagaam.


"Bukan dikendalikan, tetapi dihasut."


"Dihasut? Oleh siapa?"


"Oleh tabib kerajaan Kumari Kandam," balas Daxraj pada Raja Jvaala.


"Sanjeev Rajak? Tidak mungkin. Dia bawahanku yang paling waras di antara yang lain." Braheim menggeleng.

__ADS_1


"Di masa depan dia bersekongkol dengan Ratu Kumari Kandam untuk menyingkirkan Haala. Dia meminta bantuan Chhota* tapi pada akhirnya gagal. Keberadaannya dilupakan sampai sebelum perang kebinasaan pecah."


Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.


"Jadi dalang perang kebinasaan adalah tabib kerajaan Kumari Kandam. Lalu kapan tepatnya perang kebinasaan terjadi?"


Daxraj menggeleng pada Raja Garjan sembari beranjak. "Kapan pun itu tidak masalah selama ada penerusku. Kita harus pergi."


Spontan ketujuh raja mengurungkan niatnya untuk ikut beranjak.


"Kita?"


"Ya. Kita. Ke masa yang seharusnya. Masa depan," sahut Daxraj pada Braheim.


"Kenapa? Bukankah lebih aman berada di masa lalu? Gaana sudah mati. Lalu perang kebinasaan tidak akan terjadi."


"Aku memutar waktu ke masa lalu untuk menguak misteri yang tidak terpecahkan di masa depan, dan terutama untuk membunuh Gaana. Bukan untuk membuatmu jadi pengecut, Braheim Bhaavesh. Berkumpullah di Aasha*. Aku akan membuka portal di sana."


Aasha* kuil terbesar di Kumari Kandam.


"Ayo bergegas."


"Tunggu. Raja Braheim. Kami tidak mengerti. Masa lalu? Masa depan? Apa maksud dari semua itu?"


Braheim menepuk pundak Raja Garjan. "Aku akan menjelaskannya di masa depan. Semoga dia tidak menghapus ingatan kalian. Ayo."


Aasha tampak seperti kerikil, karena lautan manusia yang mengelilingnya. Tidak ada yang peduli alasan mereka dikumpulkan selama itu perintah dari rajanya. Namun mendadak mereka ingin sekali diberi kesempatan bersuara, ketika sebuah portal dengan latar belakang siang hari mulai terbuka sedikit demi sedikit, menampakkan sosok-sosok berekspresi terlampau dingin.


"Aku tidak akan menghapus ingatan kalian. Semoga itu bisa membuat kalian lebih mudah bekerja sama menghadapi perang kebinasaan. Kalian akan kembali ke menit sebelum Komandan Perang Kumari Kandam dieksekusi."

__ADS_1


Spontan semua orang menoleh pada Haala.


"Ingatlah ketakutan kalian di masa lalu. Kuharap kalian tahu apa yang harus dilakukan di masa depan," imbuh Daxraj sembari menatap bergantian pada Braheim, Haala, dan Jihan.


__ADS_2