TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 79


__ADS_3

Braheim mengangguk berulang kali mendengarkan penjelasan dari Penasihatnya, Murat Iskender. Satu per satu lembar berisi informasi tentang Firdoos Shyamali itu dibaca dengan lantang oleh Murat. Mulai dari informasi umum seperti usia, hingga informasi tak umum seperti letak tanda lahir di tubuh Firdoos Shyamali.


" ... Baik di masa lalu pun di masa depan, Firdoos Shyamali adalah seorang budak di Svarg*, Yang Mulia. Lalu ...."


Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.


Braheim masih setia mengaduk-aduk isi kepalanya, sampai informasi yang sangat diharapkannya itu menggema. Spontan Murat menghentikan kegiatan yang membuat mulutnya mati rasa itu, ketika Braheim tiba-tiba memutar kursi menghadapnya. Braheim menatap Murat, menatap dengan tatapan misteriusnya yang demi Tuhan tidak pernah bisa dibaca oleh Murat.


Tatapan Braheim seperti tak sabar mendengar kelanjutan informasi yang terjeda itu, tetapi juga seperti perintah mutlak agar Murat menggigit lidahnya. Pada akhirnya Murat memberanikan diri untuk bertanya perihal apa yang rajanya itu inginkan. Sebab sungguh, Murat ingin segera angkat kaki dari ruangan itu dan mengompres mulutnya yang mati rasa.


"Yang Mulia, jika Anda be--"


"Apakah Firdoos masih hidup?" sela Braheim pada Murat.


Spontan Murat melanjutkan membaca laporannya yang terjeda dalam hati, dan sesegera mungkin membalas, "Tidak, Yang Mulia. Menurut informasi yang hamba dapatkan, Firdoos Shyamali telah meninggal empat tahun yang lalu."


"Penyebabnya?"


"Perihal penyebabnya adalah karena terlibat perkelahian dengan prajurit yang saat itu sedang bertugas melakukan penggusuran di Svarg."

__ADS_1


"Bawa prajurit yang terlibat dengannya ke hadapanku."


"Apakah hamba boleh mengetahui alasannya, Yang Mulia?"


Braheim menghela napas kasar. "Tidak ada laporan korban jiwa saat itu."


"Hamba akan segera mengurusnya, Yang Mulia."


Braheim tak menjawab, hanya kembali memutar kursinya menghadap langit Kumari Kandam yang senantiasa meneteskan air mata.


"Apakah ada yang membuat Anda khawatir, Yang Mulia?" imbuh Murat.


"Mengetahui apa yang Anda pikirkan sama mustahilnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami, Yang Mulia."


"Ini tentang hubungan Firdoos Shyamali dan Adikmu di masa lalu."


Murat mengernyitkan dahinya, karena kesulitan mencerna maksud perkataan Braheim. Ternyata yang dimaksud Braheim adalah hubungan asmara. Ya, Firdoos dan Jihan saling mencintai. Braheim mulai menyadarinya saat Firdoos secara sukarela ingin pergi menggantikan Murat melindungi Jihan yang saat itu tengah menjalankan hukuman pengasingan.


Demi Tuhan. Ingin sekali rasanya Murat menampik, tetapi jika bukan karena cinta, karena apalagi sampai seorang pria mau secara sukarela pergi ke luar di tengah teror Gaana yang berkeliaran dan perang yang bisa pecah kapan saja? Walau bagaimanapun Jihan tetaplah manusia, dan sebagaimana manusia pada umumnya, mereka memiliki hati yang siap untuk mencinta dan dicinta.

__ADS_1


" ... Saat itu Firdoos sangat antusias. Jadi kupikir mereka baru pertama kali bertemu di masa lalu. Namun terlepas dari itu, fakta bahwa secara tidak langsung aku telah membunuh Firdoos pasti membuatnya marah. Dan kebangkitan massal waktu itu, bisa jadi berkaitan dengan kemarahannya."


"Tidak mungkin, Yang Mulia. Dengan cara apa dia melakukan itu?" Murat bertanya dengan nada suara setengah berteriak.


"Ya, mungkin bukan dia yang melakukan itu tapi sekutunya. Seperti Sanjeev Rajak? Bukankah dia berhasil melarikan diri dari penjara tingkat tinggi Chamakadaar?"


Lagi. Lagi-lagi Murat tak kuasa menampik meski sangat ingin. Braheim bukan orang yang akan menjatuhkan meski hatinya diselimuti dendam. Tetapi Jihan? Jika itu Jihan Joozher yang menyimpan dendam karena cinta sepihak, mungkin Murat bisa menyiapkan antisipasi. Namun bagaimana jika itu Jihan Joozher yang menyimpan dendam karena cinta berbalas?


"Mohon izinkan hamba untuk pergi menemuinya, Yang Mulia."


Braheim menggeleng. "Jika dugaanku benar, berarti ada Sanjeev Rajak bersamanya. Nyawamu bisa dalam bahaya. Aku akan menulis surat undangan makan malam. Segera kirimkan padanya."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Singkat cerita surat dari Braheim pun sampai di Sitaara, tempat di mana Jihan kini berada. Jihan membaca surat bertali emas itu cepat, meski berniat membuat si pengirim menunggu selamanya. Jihan tertawa, tak menyangka akan datang hari di mana dirinya membaca tulisan tangan Braheim yang diperuntukkan bukan untuk urusan pekerjaan.


Jihan bergumam sambil menulis surat balasan. "Dia bertanya apa aku marah? Pertanyaan canggung macam apa itu? Tentu saja tidak. Aku tidak marah. Karena aku bukan lagi aku di masa lalu yang asli atau di masa lalu yang palsu. Aku juga bukan aku di masa depan yang lalu."


Gerak anggun jari-jemari Jihan terhenti, pun gumaman bibirnya yang dipoles gincu merah jambu, karena selembar kertas kusut yang tak sengaja disentuhnya. Jihan kembali tertawa, sesaat setelah membaca apa yang tertulis di sana. Percobaan kedua belas untuk membangkitkan Gaana dan percobaan keenam untuk menjadi Gaana.

__ADS_1


Jihan masih bergumam, seraya melanjutkan tulisannya. "Aku yang sekarang adalah aku di masa depan setelah masa lalu."


__ADS_2