TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 27


__ADS_3

Atmosfer di ruang rapat Kerajaan Kumari Kandam terasa terlampau gaduh, melebihi aksi demo penduduk Raseela* dan Bheed* tempo hari. Rapat siang itu membahas tentang siapa kandidat yang paling cocok untuk menggantikan posisi ayah Haala sebagai komandan perang Kumari Kandam, dan posisi Daxraj Natesh sebagai penasihat raja.


*Raseela* nama desa yang ditinggali Haala dan Jihan*.


*Bheed* nama desa di seberang Raseela*.


Berbeda dengan ayah Haala yang dilucuti gelarnya secara tidak hormat karena telah mengabdi pada musuh Kumari Kandam. Pria rupawan yang di masa depan menyandang gelar sebagai pemimpin suku pengembara itu melucuti gelarnya sendiri dengan alasan ingin fokus mencari siapa pemimpin suku pengembara yang asli dan sesegera mungkin menyelamatkan dunia.


Sejujurnya rapat di siang yang sangat terik itu bisa berjalan dengan lancar jika saja sebagian dari para menteri tidak terbutakan kekuasaan. Mereka menolak jika posisi komandan perang Kumari Kandam digantikan oleh Haala yang adalah seorang wanita. Sebab mereka sudah menyiapkan kandidat yang tidak lain adalah anak-anak mereka sendiri.


Menteri pertahanan berdeham, "Di mana Anda akan meletakkan harga diri seorang pria jika yang memimpin baris terdepan medan perang adalah seorang wanita, Yang Mulia?"


"Meski belum pernah terjadi dalam sejarah, tapi kita harus tetap menjaga adat istiadat."


"Benar, Yang Mulia. Karena sejak beratus tahun silam, kursi komandan perang Kumari Kandam hanya pantas diduduki oleh keturunan Yusef Bahadir," timpal menteri sosial pada menteri agama.


Menteri hukum menoleh pada menteri sosial. "Apakah putri mantan komandan Perang Kumari Kandam yang diam-diam bersekutu dengan iblis masih bisa disebut pantas? Bagaimana jika dia mengikuti jejak ayahnya?"


"Menurut pendapat hamba, siapa pun bisa menjadi komandan perang Kumari Kandam, Yang Mulia. Lalu yang paling penting di sini adalah kepercayaan rakyat. Nama baik Yusef Bahadir sudah tercoreng, jadi tidak ada gunanya lagi menjaga adat."


Menteri agama menggeleng menanggapi menteri politik. "Hanya karena kekuasaan kau melanggar adat yang sudah ratusan tahun dijaga nenek moyang kita dan Raja-raja Kumari Kandam terdahulu?"


Spontan menteri politik berseru, "Apa maksudmu hanya karena kekuasaan! Daripada mengatakan hal-hal yang tidak berguna, pikirkan setidaknya satu solusi! Bagaimana mungkin seorang wanita memimpin! Dan apa kau akan bertanggung jawab jika nantinya rakyat menjadi tidak patuh pada Yang Mulia Raja?"


"Cukup."


Menteri politik buru-buru membungkuk pada Braheim, lalu kembali duduk di kursinya. "Mohon ampuni ketidaksopanan hamba, Yang Mulia."


"Aku tidak ingin melanggar adat, tapi aku juga tidak ingin rakyat menjadi tidak patuh karena dosa yang diperbuat mantan komandan perang kita. Ada satu solusi dariku."


"Beri kami perintah, Yang Mulia." Suara para menteri kompak menggema memenuhi ruang rapat megah itu.


Braheim beranjak. "Umumkanlah sampai ke pelosok Kumari Kandam tentang Vinaash. Barang siapa yang bisa melewati Vinaash, maka dialah yang pantas menduduki kursi kehormatan komandan perang benua ini."


Semua orang yang hadir dalam rapat tampak sangat terkejut. Bagaimana tidak, daripada disebut sekadar ujian, akan lebih tepat jika menyebut Vinaash sebagai metode bertemu Tuhan yang merepotkan. Namun tidak ada yang berani menentang keputusan Braheim. Sebab faktanya keputusan itu memanglah yang paling tepat dari segala aspek.


Empat ratus tahun silam, ujian yang diperuntukkan bagi calon komandan perang Kumari Kandam bukanlah duel maut, praktik menyusun startegi perang, atau kelihaian menggunakan beragam senjata. Melainkan, Vinaash. Dan sejak ujian bertemu Tuhan itu dibuat, hanya keturunan Yusef Bahadir saja yang bisa melewatinya.


Vinaash dimulai dengan Raja Kumari Kandam yang akan dengan sengaja menceburkan dirinya ke dalam lumpur hidup beracun yang penawarnya bahkan tidak bisa dibuat oleh tabib kondang mana pun. Sang raja harus bertahan sampai calon komandan perang Kumari Kandam yang diadang seribu prajurit pilihan datang menyelamatkannya.


"Ada pertanyaan?" imbuh Braheim.


Tentu saja tidak akan ada pertanyaan, dan tidak akan ada seorang menteri pun yang akan membiarkan anak-anaknya berurusan dengan Vinaash. Karena lagi-lagi hanya keturunan Yusef Bahadir yang bisa membuat Vinaash bertekuk lutut. Haala pun diangkat menjadi komandan perang Kumari Kandam, menggantikan sang ayah yang kini mendekam di penjara.


Kabar diangkatnya Haala menjadi komandan perang Kumari Kandam yang baru disambut dengan respon beragam oleh rakyat. Sebagian dari mereka setuju karena menurut adat istiadat memang demikian. Lalu sebagian yang lain, menjadi tidak patuh, persis seperti yang diprediksikan oleh menteri politik.


Namun Braheim tidak terlalu memusingkan, dan memercayakan ketidakpatuhan sebagian rakyatnya itu pada waktu. Saat ini Braheim hanya sibuk membujuk Daxraj untuk tetap menduduki posisinya. Dan sudah pasti, sia-sia saja. Akhirnya Braheim kembali mengumumkan perihal kursi penasihat raja yang kosong dan membutuhkan pemilik secepatnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kerajaan? Kemarin komandan perang kita, lalu sekarang penasihat kita," ujar seorang penduduk yang tengah membaca lowongan pekerjaan penasihat raja yang tertempel di papan pengumuman.

__ADS_1


"Yang kutahu, kehidupan di dalam kerajaan itu sangat mengerikan. Bahkan setiap posisi didapatkan dengan cara membunuh satu sama lain. Lebih baik angkat kaki jika tidak mau mati atau dihukum mati. Sudah, ayo pergi," balas penduduk yang lain


SREK!


Murat merobek satu dari lima selebaran yang tertempel di papan pengumuman. "Penasihat raja? Kebetulan sekali. Aku jadi memiliki banyak kesempatan untuk menghabisinya."


...¤○●¤○●¤○●¤...


BRUK!


Jihan jatuh terduduk, ketika akhirnya menemukan tempat persembunyian penghuni Hutan Mook, Gaana*. Rasa ingin menuntut balas pada Gaana yang telah membuat Jihan menjadi bahan ejekan oleh seluruh penduduk Raseela bahkan sang ayah, masih bergejolak hebat hingga beberapa menit yang lalu, sesaat sebelum Gaana memergokinya bersembunyi di balik pohon beringin.


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


Awalnya Jihan berniat membunuh Gaana dengan air suci dari kuil yang didapatnya dengan cara menjijikkan, namun niat tersebut langsung luruh saat dirinya melihat sosok Gaana yang jauh berbeda dengan sosoknya yang terakhir kali terlihat. Bukan wanita telanjang berlumuran darah dengan kepala lintah, melainkan wanita cantik dengan tatapan tokoh protagonis.


Bahkan tidak hanya tatapannya yang bak tokoh protagonis, tutur katanya pun pasti akan sukses membuat hati siapa saja terenyuh. Namun Jihan buru-buru merangkul kembali kesadarannya, dan tanpa ragu menyiramkan sebotol kecil air suci ke arah Gaana. Berbeda dengan reaksi Gaana yang seharusnya menjerit kesakitan, Gaana berwujud bidadari di hadapan Jihan malah terkejut kedinginan.


"Tidak adakah yang memasuki hutan ini dengan niat selain mengusikku?"


"Kau sa--. Suaraku?" Jihan memegangi lehernya karena tiba-tiba bisa kembali berbicara.


"Ya. Aku mengembalikannya karena sepertinya kita bisa menjadi teman."


"Apa? Teman? Hanya iblis yang mau berteman dengan iblis," balas Jihan.


Gaana tersenyum. "Kau memang tidak takut mati."


Gaana beranjak, lalu berjalan mendekati Jihan. "Jadi menurutmu aku hanya membunuh gadis-gadis suci saja?"


Spontan Jihan memundurkan langkahnya. "Jangan takut. Sudah kubilang aku ingin menjadikanmu teman," imbuh Gaana.


"Kurasa menjadikanku kaki tangan untuk mencarikanmu makanan terdengar lebih masuk akal."


"Ya. Karena itulah gunanya menjadikanmu teman," balas Gaana.


"Lalu apa gunanya menjadikanmu teman?"


Gaana kembali tersenyum. "Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan."


"Apapun? Seperti apa?"


Gaana masih menyunggingkan senyumnya. "Misalnya, menjadi orang nomor satu di Kumari Kandam?"


"Aku tidak tertarik."


"Hidup berlimpah harta seumur hidup, menghukum orang-orang yang mengolokmu, dan menjadikan pria mana pun millikmu. Benarkah kau tidak tertarik?" tanya Gaana.


Jihan diam sesaat. "Bagaimana caranya?"

__ADS_1


"Jadilah Ratu Kumari Kandam."


Ingin rasanya Jihan menertawakan usulan Gaana yang sangat tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin seorang putri angkat peternak susu yang tidak memiliki pengaruh di bidang apapun bisa mengenakan mahkota Ratu Kumari Kandam. Karena terlampau tidak masuk akal, rasanya di kehidupan selanjutnya pun mahkota Ratu Kumari Kandam tidak akan pernah menghiasi kepala Jihan.


Namun sebaris kalimat penuh percaya diri yang dilontarkan Gaana, menampik ketidakmasukakalan itu dalam setengah detik. Gaana berkata bisa mempermainkan waktu sesuka hatinya. Itu berarti, takdir Jihan yang hanyalah seorang anak angkat peternak susu bisa diubah Gaana menjadi seorang putri dari keluarga kaya raya, bereputasi baik, dan memiliki pengaruh luar biasa.


Sisi putih dalam diri Jihan sirna sudah, digantikan sisi hitam yang dalam sekejap membutakan nuraninya. Tanpa ragu Jihan pun membungkuk pada Gaana, dan bersumpah akan menjadi teman setianya. Tak peduli meski menjilat ludahnya sendiri, Jihan hanya ingin hidup mewah, menghukum mati orang-orang yang telah mengoloknya, dan membuat Daxraj Natesh bersujud di kakinya.


"Beri hamba perintah, Tuanku."


Gaana mengusap kepala Jihan. "Bawakan aku seratus jiwa suci untuk membuatmu menyambut esok hari sebagai Ratu Kumari Kandam."


"Sesuai perintah Anda, Tuanku."


"Kupikir aku akan mati kelaparan dan tidak bisa menuntaskan dendamku padamu. Tapi lihatlah, Ashima Devasree, lagi-lagi iblis mendatangkan bantuan. Akan kubuat putra kesayanganmu mati lebih mengenaskan dari kakaknya," gumam Gaana sembari memandangi Jihan yang berjalan keluar dari Hutan Mook.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Satu pekan menjadi komandan perang Kumari Kandam terasa seperti seribu tahun bagi Haala. Karena tatapan iri serta senyum terpaksa yang selalu menjadi pemandangan pasti Haala setiap hari. Tetapi Haala sudah terbiasa, sebab di masa depan pun dirinya selalu disuguhi tatapan dan senyum seperti itu. Haala tetap menjalankan aktivitasnya sebagai pemimpin dan, penerjemah.


Jadwal melatihnya yang sangat padat membuat Haala tidak lagi leluasa mengunjungi ruang bawah tanah dan menerjemahkan isi buku kuno milik leluhur suku pengembara. Ditambah keanehan buku tersebut yang benar-benar berubah menjadi kertas kosong saat terkena terik matahari. Haala pun mencoba menyalin sebagian isi buku kuno tersebut dan beruntungnya berhasil.


Di sela-sela istirahat seusai melatih pasukan tempurnya, Haala selalu meluangkan waktu untuk menerjemahkan setidaknya tiga sampai empat halaman. Kini Haala masuk pada halaman kedua yang mengisahkan tentang duka. Entah siapa yang berbuat dan dibuat duka, Haala hanya merasa isi kepalanya semakin tidak karuan karena banyaknya nama dan teka-teki yang terlampau rumit.


Haala mulai menerjemahkan. "Duka yang datang ... Ketahuilah Dia tidak berhasil mengendalikan pikiran siapa pun ... Kalian sudah tunduk pada orang yang tepat ..."


SREK!


"Putra Ashima Devasree adalah pemimpin suku pengembara yang asli ... Dilihat dari garis keturunan ..."


DEG!


"Ashima Devasree? Bukankah Beliau adalah ibu Yang Mulia Raja?" tanya Haala dalam hati, seraya buru-buru menerjemahkan halaman selanjutnya.


SREK!


"Khairiya Patralekha adalah pewaris kursi pemimpin suku pengembara ... Penerus tahta Kumari Kandam juga boleh mendudukinya..."


DEG! DEG!


Haala masih menerjemahkan. "Warna emas adalah bukti ... Secara garis keturunan ... Mereka juga adalah pemimpin suku pengembara ... "


DEG! DEG! DEG!


Jantung Haala berdegup hebat mendapati fakta baru yang sangat diharapkannya. Kini sudah terpecahkan teka-teki pelik tentang siapa pemimpin suku pengembara yang asli. Bukan Daxraj, tetapi Braheim. Ya, Braheim, pria yang tetap menguasai hati Haala baik di masa lalu pun masa depan. Haala pun langsung menemui Braheim, berniat menyampaikan kabar suka cita tersebut. Namun.


Seorang wanita dengan kecantikan luar biasa yang tengah berjalan menuju istana raja, seketika membuat langkah bersemangat Haala terhenti. Bukan kecantikan atau tujuan wanita itu yang menghentikan langkah bersemangat Haala, melainkan sesuatu yang berkilau yang bertengger pas di kepalanya, yang tak lain adalah mahkota Ratu Kumari Kandam.


Wanita itu, Jihan Joozher, telah kembali ke posisinya. Entah apa yang Haala lewatkan, namun satu yang pasti, ada campur tangan Daxraj Natesh dibalik semuanya. Atau, orang lain yang sama hebatnya dengan Daxraj Natesh dari masa depan. Haala ingat betul sampai pagi tadi para menteri masih mendesak Braheim untuk segera menikah. Tetapi siang ini, semuanya berubah dalam sekedipan mata.

__ADS_1


"Aku terlambat," gumam Haala.


__ADS_2