TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 84


__ADS_3

Sepuluh hari berlalu sejak kepergian pemimpin suku pengembara, Daxraj Natesh. Tidak ada yang ganjil, semuanya masih berjalan sama monotonnya. Padahal banyak orang memprediksi jika alam akan mengamuk sebagai ungkapan bela sungkawanya. Tetapi sebaliknya, hujan yang sepanjang tahun membasahi tanah Kumari Kandam itu mulai mereda. Dan sedikit demi sedikit, matahari Kumari Kandam pun mulai memamerkan teriknya.


" ... Oleh karena itu di festival akhir tahun nanti, hamba ingin memberikan kesempatan pada para pedagang di pelosok untuk memperkenalkan dagangannya, Yang Mulia."


Braheim mengangguk-angguk menanggapi Menteri Perdagangan, sambil mencoret-coret laporan. "Sudah banyak pedagang kain dan permata di festival. Terlalu banyak persaingan juga berbahaya. Lalu pedagang jubah bulu memang masih sedikit, tapi pertimbangkan juga dampak jangka panjangnya."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


"Selanjutnya."


"Silakan, Yang Mulia. Ini laporan bulanan dari Menteri Pertanian." Murat menyerahkan sebuah gulungan pada Braheim.


" ... Permintaan untuk Kaanch* pasti akan meningkat menjelang festival akhir tahun. Hamba tidak ingin ada rakyat yang tidak bisa menikmati Kaanch seperti festival tahun lalu. Jadi hamba berencana menanam tanaman tebu secara besar-besaran dari jauh hari, Yang Mulia."


Kaanch* adalah manisan berbahan dasar utama tebu yang hanya akan dijumpai saat festival akhir tahun. Kaanch tidak diperjualbelikan, tetapi wajib ada di meja makan selama festival akhir tahun.


"Ide bagus. Lakukan sesuai yang kau tulis di sini. Lalu bicarakan pada Menteri Keuangan perihal biaya pupuk tanaman tebu," balas Braheim pada Menteri Pertanian.


"Terima kasih, Yang Mulia."


Menteri Keuangan berdeham, "Mohon izin berbicara, Yang Mulia."


Braheim hanya mengangguk sembari memberikan gulungan laporan yang telah selesai dibacanya pada Murat.


"Harga satu kantong pupuk tanaman tebu setara dengan sepuluh peti sedang emas batang. Hamba rasa itu sedikit berlebihan, Yang Mulia."


"Aku tahu. Aku akan menanggung sembilan puluh lima persen biayanya, sebagai permintaan maaf."


Murat dan para Menteri saling melihat ke arah satu sama lain, bingung. Ada yang mereka lewatkan. Tapi apa? Apa yang mereka lewatkan sampai-sampai orang nomor satu di Kumari Kandam itu meminta maaf?


"Aku tahu ada beberapa dari rakyat kita yang tidak bisa menikmati Kaanch di festival tahun lalu. Aku sudah memiliki solusi. Tapi karena terlalu banyak masalah, aku melupakannya. Dan tanpa kusadari festival tahun ini sudah di depan mata," imbuh Braheim.


Murat dan para Menteri masih saling melihat ke arah satu sama lain, masih bingung. Benarkah ada solusi untuk masalah yang hampir tidak terpikirkan solusinya itu? Meski semua Menteri sudah mengeluarkan semua isi kepalanya?

__ADS_1


"Ada banyak Chhed* di Kumari Kandam. Kurasa masih tersisa ruang untuk menyimpan sepiring Kaanch untuk festival di tahun mendatang. Benar?"


Chhed* adalah sumur yang memiliki air sangat jernih, tidak surut meski di musim kemarau, dan bisa menyimpan makanan serta minuman selama belasan tahun tanpa membuatnya basi.


Spontan Murat dan para Menteri mengangguk kompak seraya tersenyum kagum pada Braheim.


"Selanjutnya."


"Laporan bulanan dari Menteri Pertanian adalah yang terakhir, Yang Mulia," balas Murat.


"Benarkah? Kalau begitu aku tutup rapat hari ini." Braheim beranjak.


Para menteri ikut beranjak seraya kompak membungkuk pada Braheim, "Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Ku--"


"Ah. Ada yang ingin kutanyakan," sela Braheim sembari kembali duduk di kursinya, diikuti para Menteri. "Apa yang dipikirkan oleh wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya pada pria yang tiba-tiba mengajaknya menikah?"


Murat menggeleng menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Berbeda dengan Murat yang sudah kesekian kali mendengar pertanyaan itu dari Braheim, para Menteri malah baru pertama kali mendengarnya. Mereka paham siapa wanita dan pria yang dimaksud Braheim. Siapa lagi jika bukan Haala dan Braheim sendiri. Tetapi siapa pria lain yang mati? Para Menteri tidak peduli, dan memilih menggunakan kesempatan itu untuk kembali mendesak Braheim mencari kandidat ratu yang baru.


"Benar, Yang Mulia. Hamba setuju. Putri Gaurika Chander adalah kandidat terbaik. Baik hati, berjiwa sosial tinggi, dan ditambah lagi seorang Jyostishee*. Sempurna," timpal Menteri Sosial pada Menteri Hukum.


Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.


Murat kembali menggeleng, setelah melihat perubahan sorot mata Braheim. Catur. Ya. Yang bisa melindungi telinga para Menteri dari kata-kata tak bermoral Braheim saat ini, benar-benar hanya papan catur. "Mohon maaf, tapi sebentar lagi Raja Garjan akan datang menghadap Ya--"


"Raja Garjan? Ah, aku juga harus menemuinya, Penasihat. Aku ingin bertanya perihal alasan belum dikirimnya obat kutu air yang kuminta sejak dua pekan lalu," potong Menteri Kesehatan.


"Apa Raja Hathelee juga akan datang menghadap Yang Mulia Raja? Aku juga ingin menanyakan sesuatu karena suratku tidak kunjung dibalas oleh beliau. Tentang rapat pertukaran pelajar berbakat Kumari Kandam dan Hathelee. Aku pernah menceritakannya pa--"


Braheim menyela Menteri Pendidikan sembari memutar kursinya menghadap jendela. "Garjan, Hathelee dan Padachihn tidak lagi bekerja sama dengan Kumari Kandam."


Mendadak bisik tanya ini itu memenuhi ruang rapat. Para Menteri berebut meminta penjelasan dari Braheim. Namun Braheim bungkam, benar-benar tidak berhasrat mengatakan sepatah kata. Akhirnya Murat mengambil inisiatif, sebelum semua orang di ruangan itu dijatuhi hukuman mati karena tanpa sadar beranjak sebelum diperintahkan. Situasi pun langsung kembali kondusif, setelah Murat menggebrak meja.


"Anda semua yang ada di sini adalah orang-orang bermartabat tinggi, jadi tolong jaga itu. Hamba akan menggantikan Yang Mulia Raja untuk menjelaskan situasinya."

__ADS_1


Mulai dari kematian Daxraj Natesh, kelahiran Devraaj Narvinder hingga kedelapan benua yang terpecah menjadi kubu pro, kontra dan netral, Murat menjelaskan tanpa ada yang terlewat. Seperti yang dikatakan Braheim, Benua Garjan, Hathelee dan Padachihn tidak lagi bekerja sama dengan Kumari Kandam karena mereka adalah kubu kontra. Sementara Benua Shushk dan Lagaam masuk dalam kubu netral.


" ... Lalu tiga benua tersisa termasuk Kumari Kandam adalah kubu pro," terang Murat.


"Lalu apa alasannya kita kembali terpecah, Penasihat?"


Murat menoleh pada Braheim, sebelum menjawab tanya Menteri Pertahanan. "Pemimpin suku pengembara wafat setelah mewariskan kekuatannya pada sang putra. Tapi putranya diprediksi tidak bisa mengendalikan kekuatannya, karena satu-satunya yang bisa mengajarkan itu hanyalah pemimpin suku pengembara ...."


Air muka sekumpulan orang bermartabat tinggi itu seketika berubah sepucat mayat. Mayat yang terombang-ambing di lautan es selama berhari-hari. Biru.


" ... Raja Garjan, Raja Hathelee dan Raja Padachihn sepakat mengusir Komandan Haala berikut putranya dan suku pengembara. Sementara Yang Mulia Raja, Raja Arshaq Zamir serta Raja Jvaala, memilih merawat anak itu dan mencarikannya guru," tambah Murat.


"Benar. Itulah pilihan yang tepat. Kita harus merawat anak itu. Karena seperti yang dikatakan mendiang pemimpin suku pengembara, dia akan menjadi pahlawan dalam perang kebinasaan di masa depan."


"Kau melupakan bagian yang paling penting di sini. Anak itu tidak bisa mengendalikan kekuatannya," balas Menteri Hukum pada Menteri Pertahanan.


"Bukankah Yang Mulia Raja beserta Raja Arshaq Zamir dan Raja Jvaala akan mencarikan guru untuk anak itu? Itu ide yang bagus. Tidak ada yang mustahil. Anak yang baru saja dilahirkan hanyalah selembar kertas putih."


Menteri Perencanaan menggeleng menanggapi Menteri Sosial. "Lalu bagaimana jika kita malah mencarikan guru untuk anak yang pada akhirnya benar-benar akan menjadi musuh?"


"Cukup."


Satu kata yang menggema penuh tekanan itu seketika mengembalikan suasana yang seharusnya tercipta di ruang rapat. Perlahan, Braheim memutar kembali kursinya menghadap meja rapat.


"Sebutkan satu saja kesalahanku selama aku mengenakan ini." Braheim menunjuk mahkota di kepalanya. "Jika memang ada. Aku bersedia melakukan apapun yang kalian inginkan. Baik itu menikahi Putri Gaurika Chander, membangun kerja sama kembali dengan Garjan, Hathelee serta Padachihn, atau bahkan mengusir Haala Anandmayee berikut putranya dan suku pengembara."


Tak ada jawaban. Para Menteri hanya kompak menunduk menatap ujung alas kakinya masing-masing. Braheim dan kesalahan adalah ibarat dua magnet yang tidak pernah bisa dipertemukan ujungnya. Jangankan satu kesalahan, setengahnya saja mustahil Braheim lakukan. Bahkan harta, tahta, dan wanita yang hampir selalu sukses membuat orang dirangkul rasa bersalah saja tidak mampu mengiming-imingi nurani Braheim.


"Masalah ratu benua ini dan terutama putra Daxraj Natesh. Jangan lagi berani ikut campur jika kalian tidak bisa menemukan satu saja kesalahanku. Murat!"


Murat terlonjak, namun buru-buru membungkuk pada Braheim. "Beri hamba perintah, Yang Mulia."


"Siapkan papan caturku."

__ADS_1


__ADS_2